Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Menjadi Ibu

 Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tidak hanya berperan sebagai ibu tapi juga “berkarir” di ranah publik. Berbeda dengan perempuan generasi zaman nenek dan ibu saya yang dibesarkan untuk berperan penuh menjadi ibu.  Berbeda cerita dengan saya, dulu orangtua saya tidak masalah tidak banyak membantu pekerjaan di ranah domestik yang terpenting saya fokus belajar di sekolah. Karena harapan mereka, saya bisa hidup mandiri di masa depan. Yang mana artinya dunia juga sedang membentuk perempuan untuk bekerja di ranah publik. Saya tidak sedang menyalahkan kedua orang tua saya. Karena bagaimanapun mereka tetap orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya. Kini estafet generasi berpindah di tangan saya, yang kendali penuh generasi berikutnya ada di tangan kami. 

 

Hal ini memang sedikit banyak berimbas pada awal berumah tangga utamanya di ranah domestik. Namun Alhamdulillah perlahan saya pun bisa mengatasi hal tersebut. Berusaha menyeimbangkan semua dengan sebaik – baiknya. Saya pun memahami bahwa esensi kita hidup di dunia. Bukan hanya untuk hari ini tapi sesungguhnya kita sedang mempersiapkan “rumah masa depan”. Yuk kita niatkan semua aktivitas untuk beribadah kepada Allah SWT “Lillahi ta’ala”. Insya Allah lelah kita dalam berjuang di dunia seperti mendidik anak, taat kepada suami, beribadah, letih bekerja dimanapun karirmu dan lain sebagainya semoga tercatat sebagai ibadah kepada Allah SWT. 

 

Menjadi ibu bukan untuk berlomba harus menjadi ibu yang sempurna seperti yang disodorkan di sosial media. Tidak pula harus dilengkapi fasilitas yang “wah”. Menjadi seorang ibu yang bahagia itulah yang harus diupayakan. Karena ibu yang bahagia akan mampu mendidik anak-anaknya dengan hati penuh kasih dan sayang. Saya menyadari peran seorang ibu yang berkarir di ranah publik tidak semata bisa dipandang “sukses” di mata orang lain karena sejatinya perempuan berkarir pun memliki banyak kerisauannya sendiri. Apakah suamiku ridho? Apakah anakku sudah tercukupi kebutuhan jiwanya? Bagaimana kelak di masa depan? Atau bagaimanakah kelak ketika kita sudah meninggalkan dunia fana ini sudah adakah bekal dibawa?  dan masih banyak lagi. Kerisauan itu semoga bisa dihapus dengan doa – doa yang saya lantunkan. 

 

Akhir kata, 

Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan saya ini. Jika ada yang kurang berkenan semuanya berasal dari saya dan jika ada kebaikan yang bisa diambil semua berasal dari Allah SWT. 



Selasa, 18 September 2018

Perdebatan Kusir Kaum Ibu Milenial

        Sejak semakin mudahnya kita mengakses media sosial ternyata makin membuat perdebatan kusir kaum ibu milenial di dunia maya dan dunia nyata makin tak terbendung, berikut contohnya. 

1.Persalinan normal vs Persalinan Caesar 
2. Menyusui ASI VS menyusui dengan Susu formula 
3. Vaksin VS Anti vaksin 
4. Full time mom VS Working mom
5. MP-ASI home made VS MP-ASI instan 
6. Badan anak gemuk VS badan anak kurus 
7. Cukup punya anak satu VS punya anak lebih dari satu 
8. Kok Belum hamil VS Lah kok Hamil (lagi)
9. Menikah VS belum/tidak menikah 
Dan masih banyak lagi 

       Untuk semua perempuan terkhususnya kaum ibu tolong berhentilah saling mendebatkan, menghujat dan menilai bahwa satu dan yang lainnya tidak baik. Semua perempuan dan apalagi sudah menjadi ibu pasti melakukan yang terbaik untuk diri, keluarga terutama anaknya. Jadi mari kita saling menghargai tiap keputusan individu. Kan kita tidak tahu bagaimana pergulatan hati dan perjuangannya dalam tiap keputusannya. Fokuslah pada kehidupan masing-masing. Boleh mengingatkan tanpa mengintervensi pendapat bahkan perasaan. Pernahkah kita sedikit memikirkan bagaimana perasaan seseorang bila dinilai A,B dan bla bla blaa blaaa, coba kalau itu berbalik kepada anda. Berempatilah. Bukan mendebatkan dan menghujat bahwa ini yang menurutmu terbaik untuknya. Sekian tulisan pendeknya semoga bisa menjadi bahan perenungan dan pengingat terutama untu diri saya. 


NB : Nanti saya coba bahas satu persatu di tulisan selanjutnya

Senin, 25 Juni 2018

Menjadi Seorang Ibu

Mama & Fatih usia 3 bulan

Hari yang dinanti tiba Kamis, 8 Maret 2018 pukul 10.55 WITA alhamdulillah diamanahi oleh Allah SWT seorang anak laki-laki bernama Muhammad Sulthan Alfatih. Fatih, begitu nama panggilannya. Kehadiran Fatih ditengah keluarga kami sungguh suatu karunia yang amat kami syukuri. Fatih menyempurnakan hidup saya sebagai seorang ibu. Menjadi seorang ibu diawal kelahiran anak sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Ohh begini ya dulu perjuangan yang ibu saya rasakan saat melahirkan saya. Tak terasa mbrebes mili saat melihat ibu. Hiks.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk riya’ tapi hanya sebagai pengingat untuk diri saya tentang pengalaman dan perasaan saya. 

Awal mula menjadi ibu pasti semua juga merasakan bagaimana kita beradaptasi dengan makhluk mungil yang semula di dalam rahim kita selama 9 bulan. Si kecil pun juga tentu sangat asing dengan dunia di luar rahim kita. Rengekan dan tangisan si kecil menjadi hal lumrah sebagai cara berkomunikasi bayi. Rasa sakit sayatan operasi sesar harus saya lawan dengan berusaha mensugesti diri sendiri kalau saya sehat dan segera fokus mengAsihi. Fatih tentu juga sangat membutuhkan sosok ibunya baik secara fisik dan psikis.

Alhamdulillah saya diberikan rezeki dari  Allah SWT untuk bisa mengAsihi Fatih. Tepar rasanya badan pasca operasi sesar butuh waktu pemulihan 3 hari di rumah sakit saatnya pulang ke rumah. Babak baru dimulai dalam hidup saya. Begadang untuk menyusui , ganti popok dan menggendong untuk menidurkannya. Ahh sungguh saya bisa sedikit merasakan begini ya dulu ibu waktu saya kecil. Tentu awalnya tidak mudah harus begadang menyusui bayi yg seakan tidak pernah kenyang, udah mau tertidur eeh ditaruh kasur melek haha. Ulang lagi nenenin sampai dia tertidur. Lelah pasti, nangis iya. Setelah melahirkan sepertinya saya sempat mengalami baby blues ditandai dengan hati yang sensitif, gampang capek, mudah menangis tapi alhamdulillah semua bisa saya lalui dengan dukungan suami dan keluarga tentu dengan melihat Fatih. Proses menyusui ternyata membuat nafsu makan saya berlipat ganda hal lumrah karena asi terbentuk dari nutrisi makanan dan dikonsumsi berdua. Mempelajari apa yang dibutuhkan Fatih tentu suatu keharusan sebagai ibu.

Learning by doing. Menjadi ibu mendorong saya untuk selalu berusaha memberikan dan melakukan yang terbaik untuk Fatih. Yaa namanya seorang ibu pasti semua melakukan hal yang sama. Yap, awal saya tidak berani memandikan fatih lambat laun sudah bisa, berusaha selalu makan makanan yang bergizi demi kualitas asi, rajin stimulus fatih sesuai usianya agar tumbuh kembang baik, rajin baca artikel tentang perbayian, belajar pijat bayi dari youtube, gabung wa grup ibu2 hamil dan menyusui, sharing sm ibu dan teman dan masih banyak lagi lain. Belum lagi drama kalau Fatih lagi rewel hmm rasanya hati galau bingung ini mau apa ya Fatih biar tenang. Apalagi waktu anak sakit rasanya biar kita aja yang ngerasain sakit. Tapi semua peluh dan letih terbayar dengan senyum dan tawa Fatih, tingkah polahnya yang gemesin dan pokoknya semua tentang Fatih deh.

Menjadi seorang ibu ternyata benar-benar mengubah hidup saya. Yang dulunya fokus untuk suami dan diri sendiri sekarang bertambah yaitu anak. Perubahan yang saya rasakan dari segi emosi yang harus menekan ego pribadi. Intinya sekarang prioritas adalah anak apalagi masa golden age (usia emas) dari 0-5 tahun tidak dapat terulang yang menentukan menjadi seperti apa Fatih di masa depan.

Anda memiliki waktu seumur hidup untuk bekerja, namun anak-anak hanya memiliki masa kecil sekali”

Menjadi seorang ibu juga membutuhkan support system dari lingkaran keluarga kita terutama suami. Bagaimana kita menjadi orangtua yang mampu diteladani oleh anak. Mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, peran bapak juga sangat besar membentuk pribadi anak. Dari ibu seorang anak belajar kelembutan dan kasih sayang serta dari seorang bapak anak belajar kemandirian.

It takes a village to raise a child. Begitu pepatah dari Afrika bagaimana sulitnya membesarkan anak. Tak bisa dipungkiri kita membesarkan anak juga pasti berinteraksi dengan lingkungan. Anak-anak tidak bisa hanya ndekem (tinggal) di rumah tanpa bersosialisasi dengan orang lain. Namun kita sebagai ibu berhak memilih di lingkungan seperti apa anak kita bertumbuh, karena jangan kaget ketika anak masih kecil terbiasa berkata kasar padahal di rumah tidak ada yg dicontoh nyatanya teman sepermainannya mudah melontarkan kata kasar. Hmmm… bukankah anak-anak tipikal peniru ulung dari apa yang dilihatnya baik itu tindakan yang baik dan buruk. Jika kita membesarkan anak dengan kasih sayang tentu dia akan menjadi anak yang berkasih sayang dan jangan pernah melabeli anak “nakal” karena kita sendiri yang membesarkannya dengan kekerasan.

Fatih mengajarkan saya menjadi ibu bukanlah proses instan harus belajar seumur hidup. Menjadi pribadi yang lebih baik. Fatih mengajarkan saya untuk merencanakan masa depannya. Menyisihkan uang untuk tabungan pendidikannya. Belajar dan terus belajar ilmu parenting dari berbagai sumber dan media sebagai bekal mendidiknya. Sungguh menjadi ibu mengubah hidup kita.

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang berbeda” -Umar Al-Khattab-



Selasa, 20 Februari 2018

6 Rekomendasi Blog untuk Ibu Zaman Now

      Pasti tiap blogger seperti saya punya blogger favorit untuk dikepoin postingannya. Nggak cuma rajin baca posting di blognya bahkan sampe sosial media lainnya pasti dengan rela hati saya follow. Hehe. Saya mau sekedar berbagi, siapa tahu teman - teman butuh rekomendasi blog untuk Ibu Zaman Now ini versi saya yaa soalnya pasti sering saya kunjungi untuk membaca. Asik lho kalo blog walking gini, bisa nambah pengetahuan, membuka pemikiran dan tentunya bisa dapet inspirasi. Menurut saya konten blog dari tiap perempuan ini bisa selain kita ambil inspirasinya juga bisa diterapkan di kehidupan lho. Yuk kepoin blog Ibu Zaman Now.... Jadi Ibu harus rajin membaca, jangan cuma rajin baca sosial media aja hehehe...

1. GRACE MELIA 


                 
        Sosok Grace Melia awalnya saya kenal dari instagram, seorang ibu yang tinggal di Yogyakarta, LDM (Long Distance Marriage) dengan suaminya Adit yang bekerja di Kedubes Amerika Jakarta, dan dikaruniai dua orang anak (Aubrey dan Aiden). Sebagai mom blogger, mami ubii sapaan khasnya konsisten mengkampanyekan gerakan vaksinasi terutama dari pengalamannya sebagai ibu dari Aubrey yang menderita sakit Rubella. Perannya membawa Grace Melia memiliki komunitas Rumah Ramah Rubella bersama para pejuang agar masyarakat Indonesia mengetahui tentang penyakit Rubella. Awalnya saya juga tidak paham sama sekali tentang penyakit Rubella, tapi dari tulisan mami ubii baik di blog maupun postingan IGnya saya menjadi teredukasi utama tentang Rubella. Vaksinasi itu bukan hanya untuk melindungi anak kita, tapi juga melindungi orang lain. Lho kenapa bisa? Dalam istilah kesehatan ada namanya kekebalan kelompok (Herd Immunity). Seperti yang saya kutip dari depkes.go.id, kekebalan kelompok merupakan situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga berdampak pada terlindungnya kelompok masyarakat yang bukan dari sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan. Jadi, apabila kelompok yang rentan seperti bayi dan balita terlindungi melalui imunisasi, maka penularan penyakit di masyarakat menjadi terkendali. Boleh dibaca tulisan mami ubii ini yaa...

Baca :
 Pesan dari Ibu yang Kena Rubella saat Hamil

Diari Papi Ubii Berhenti Merokok

           Aku termasuk pembaca setia blog mami gesi sapaan akrabnya, bagiku tulisan gaya penulisannya asik dan ketika dibaca ringan mengalir gitu kayak air. Hehe. Di blog mami gesi topiknya juga beragam jadi nggak bosen buat dibaca, yang paling aku suka itu ada tulisan dari Diari Papi Ubii hmmm... menyenangkan sekali ya bisa melibatkan suami dalam menulis di blog istrinya. Saya jadi memiliki sudut pandang yang berbeda dari sisi seorang laki - laki dalam sebuah topik. Oh ternyata gitu ya.. gini yaa setelah saya membaca tulisan dari Adit, suami mami gesi. Boleh juga kepoin dan follow IGnya @grace.melia 


2. ANNISA STEVIANI


         Salut sama salah seorang mom blogger ini Annisa Steviani di sela aktivitas bekerjanya, ibu satu putra (Xylo) ini juga aktif menulis di portal pribadinya. Latar belakangnya sebagai jurnalis membuat bahasa tulisannya dan pemikirannya berbobot tapi sangat ringan untuk dibaca. Membuat saya acapkali mengangguk setuju dengan pemikirannya dan terinspirasi dari tulisannya. Konten blognya juga tidak jauh dari kesehariannya sebagai ibu, parenting, lifestyle dan kecantikan. Selain itu, mom Annisa juga berjiwa seni dari IGnya banyak hasil goresannya melalui gambar digitalnya. IGnya @annisast

Baca : 

Prioritas Kita - Kita Ini


3. DEWI NUR AISYAH



         Dewi Nur Aisyah, ibu satu orang putri bernama Najwa adalah seorang epidemiologist yang sedang menempuh pendidikan S3 di University College London, hebatnya pendidikan S2 di Imperial College London dan S3 nya mendapatkan beasiswa Unggulan Dikti dan Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI).  Bersama sang suami yang juga mendapatkan beasiswa di London untuk pendidikan S3 bidang politik. Alumni Universitas Indonesia ini aktif menulis di portal pribadinya. Yang saya sukai adalah sharenya tentang pola pengasuhan Najwa apalagi selama tinggal di Inggris, kehidupan pernikahannya dan tentunya tentang kesehatan. Selain itu, Dewi Nur Aisyah juga sudah menerbitkan dua judul buku "Awe-Inspiring ME dan Shalihah Mom's Diary".  Boleh difollow ignya @dewi.n.aisyah

Baca :

Belajar Sistem Pendidikan Nursery di Inggris

Wabah Difteri vs Vaksin, Kesehatan adalah Hak Mereka


4. ANDRA ALODITA




         Andra Alodita, mom blogger dari Jakarta yang memiliki portal Alodita.com juga salah satu blogger favoritku. Karirnya sebagai seorang fotografer berimbas pada eyecatching tampilan blognya, yap dari kualitas kamera ciamik sampai teknik pengambilan foto yang terlihat profesional. Mom andra sudah mulai ngeblog sejak tahun 2008. Blog alodita.com membahas topik kecantikan dan gaya hidup. Tulisan mom andra juga asik dan detil, bahkan kadang ada tulisan yang full berbahasa inggris. Konten dari blog mom andra juga variatif selain kecantikan dan gaya hidup  juga cerita travellingnya. Mom andra ibu satu putri (Aura Suri) yang berikhtiar bersama suaminya melalui IVF (in vitro fertilization atau progam bayi tabung untuk mendapatkan keturunan. Padahal kondisi mom andra kedua tuba falopinya harus diangkat. Seperti yang dikutip dari blognya, Mom Andra berkata

"Buat yang punya kasus unik seperti saya, bisa hamil walau kedua tuba falopi saya sudah diangkat tentunya sebuah keajaiban. Aura Suri adalah seorang manusia yang hadir di dunia karena sebuah keajaiban"


5. WINDI TEGUH


         Windi Teguh, mom blogger dari dua putri yang tinggal di Medan dan berprofesi sebagai bankir salah satu bank BUMN terbesar dan tersebar di Indonesia. Sebagai seorang ibu Windi Teguh kerap kali memposting tentang tema parenting, kecantikan dan fashion. Tulisan Windi Teguh juga tak kalah menarik dan detil. Oh iya, mom Windi juga mempunyai konten yang sama dengan mami Gesi yaitu GesiWindiTalk. Jadi di konten ini mereka berbagi tema yang sama tapi dengan penulisan dan pemikiran dari sudut pandang masing - masing. 

Baca :

Pilih - Pilih Breastpump

Menikah dengan yang Selevel

6.  GITA SAVITRI DEVI

http://gitasavitri.blogspot.co.id/



              Gita Savitri Devi, seorang blogger sekaligus vlogger yang sekarang juga udah jadi penulis dari buku Rentang Kisah. Ohya Gita juga udah jadi pembawa acara di salah satu tv swasta lho. Awal kenal sosok Gita dari youtube itupun juga nggak sengaja karena liat vlognya pas nyanyi cover lagu. Lumayan bagus suaranya. Lanjut ternyata nonton vlognya tentang kehidupannya sebagai mahasiswa S1 Kimia Murni dan sekarang sedang melanjutkan studi S2nya di Jerman. Akhirnya kepo juga baca - baca tulisan di blognya.Tulisannya memang anti mainstream dan cenderung menampilkan pemikiran kritis Gita. Bagiku sosok Gita itu inspiratif. Melalui tulisan di blog, buku, dan vlognya yang menuturkan sudut pandang dari Gita.  Follow juga IGnya @gitasav

Baca :
Generasi Tutorial

Kesederhanaan yang Dirindukan


               Yapp, sekian rekomendasi blog untuk Ibu Zaman Now semoga bermanfaat ya. Boleh dishare juga lho blogger favorit kalian dan sampai ketemu di tulisan selanjutnya.




With love,
Puput

Selasa, 13 Februari 2018

Megahnya RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng yang dibangun Sang Professor

       
Tampak depan RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng (Dokumen Pribadi)
             Selama ini pemikiran kita tentang fasilitas kesehatan milik daerah pasti terkesan dengan bangunan lawas, sirkulasi udara yang singup, hingga personil kesehatannya yang terkesan kurang ramah. Namun, hal sebaliknya saya temui di RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng. Penamaan nama RSUD dilatar belakangi dari salah seorang putra daerah dari Bantaeng yaitu Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu yang merupakan guru besar di Fakultas Kedokteran UNHAS bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin. Keberadaan RSUD ini tidak terlepas dari kiprah Bupati Kab. Bantaeng Prof. H. M. Nurdin Abdullah untuk menyulap kawasan kumuh, tidak bernilai ekonomi dan tak menarik dengan reklamasi. Reklamasi di kawasan pantai Seruni berdampak pada peningkatan ekonomi daerah, naiknya kunjungan wisata bahkan menekan tingkat perceraian di Kab. Bantaeng sebagai imbas tersedianya ruang publik bagi warga. 
Kawasan Pantai Seruni Bantaeng dari bidikan drone (Sumber http://makassar.tribunnews.com/2017/11/07/foto-drone-indahnya-kawasan-pantai-seruni-bantaeng-saat-malam-hari)

            Gedung RSUD Bantaeng berlantai 8 dengan desain bangunan modern juga bertaraf internasional. Jika kita berkunjung ke Kab. Bantaeng Sulawesi Selatan, satu - satunya bangunan yang tinggi menjulang hanya gedung RSUD. Sekilas jika kita tidak membaca papan nama rumah sakit pasti mengira gedung ini layaknya sebuah mall di kota - kota besar. Tempatnya pun sangat strategis dan mudah dijangkau. RSUD Bantaeng menyajikan pemandangan laut dan alun - alun. Seyogyanya pasien yang sedang dirawat di RSUD Bantaeng lekas sembuh karena bagi saya rumah sakit ini jauh dari hiruk pikuk kota, bisa melihat pemandangan laut dengan sunset sebagai daya tariknya dan aktivitas warga di alun - alun yang dikelilingi pepohonan rindang. Saya yang telah resmi berKTP Bantaeng tentu merasa tenang dan bangga dengan keberadaan RSUD Bantaeng. Karena jarak Kabupaten Bantaeng dengan Kota Makassar sekitar 120 km dan butuh waktu 4 jam perjalanan darat. Tentu akan sangat butuh waktu dan biaya jika kita membutuhkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang pelayanannya baik dan lengkap. Fasilitas pendukung seperti ambulans canggih dan ada dokter dan perawat dapat kita telepon 24 jam tinggal tekan 113, ambulans siap menjemput kita di rumah jika ada situasi darurat. Semua gratis. Asik kan ! Hebatnya ambulans ini didapatkan dari bantuan hibah pemerintah Jepang lho. Konsep seperti ini juga mulai diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Semoga banyak daerah yang segera menyusul ya memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakatnya. 
Suasana ruang tunggu pendaftaran
pasien di RSUD Bantaeng
(Dokumen pribadi)


           Intronya panjang banget yaa.. hehe maklum lagi semangat banget nulisnya nih. Selama ini kan aku pernah periksa kandungan di praktek dokter kandungan, bidan dan RSIA. Nah gimana prosedur pemeriksaan di RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng ? Berikut aku buat runtutannya yaa... hmm sayang masih kurang dokumentasiku 

1. Memasuki gedung rumah sakit, di sebelah kanan terdapat meja resepsionis. Sebagai pasien baru kita diwajibkan mengisi formulir pendaftaran yang berisi biodata dan jenis pembayaran (umum, bpjs, asuransi) dan untuk pasien lama wajib membawa kartu berobat untuk kemudian mendapatkan nomer antrian.
2. Pasien baru menyetorkan formulir dan nomer antrian di konter "Pasien Baru", menunggu sejenak agar petugas menuliskan biodata kita di buku rekam medis dan berkas rekam medis itu kita tanda tangani. Setelah itu, saya mendapatkan kartu berobat yang berlaku seumur hidup, wajib dibawa ketika berobat dan tidak boleh hilang. 
Konter pendaftar pasien baru (Dokumen Pribadi)
3. Jika kita melakukan pemeriksaan dengan pembiayaan BPJS Kesehatan harus membawa surat rujukan ya dari Fasilitas Kesehatan tingkat I maupun dokter yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jika tidak membawa ya otomatis pembayarannya berlaku umum.
4. Setelah itu kita mendapatkan kuitansi pembayaran administrasi sebesar Rp 30.000  yang dibayarkan via loket pembayaran Bank Sulselbar yang terletak di depan konter Pasien Baru.

5. Kemudian saya menuju ke poli kandungan dengan menunjukkan kuitansi pembayaran dan menyampaikan akan melakukan pemeriksaan USG. Perawat meminta saya untuk cek tensi dulu dan saya lupa untuk timbang berat badan. Hehe. Setelah itu, perawat memberikan selembar kertas yang berisi tulisan pembayaran untuk USG sebesar Rp 120.000. 
6. Balik lagi ke loket pembayaran Bank Sulselbar untuk membayar biaya pemeriksaan dan setelah itu kuitansi diserahkan ke perawat di poli kandungan.
7. Setelah masalah administrasi selesai tinggal menunggu antrian pemeriksaan dokter kandungan. 
8. Jangan lupa untuk membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) pada saat pemeriksaan kandungan ya di tiap fasilitas kesehatan. 

Kartu Berobat dan Kartu
BPJS Kesehatan (Dokumen
Pribadi)

Saya belum mengeksplor keseluruhan dari RSUD Bantaeng jadi sementara penilaian saya masih di seputar lantai 1. Di lantai 1 terdapat beberapa ruangan poli pemeriksaan sesuai dengan penyakit, IGD, ruang instalasi radiologi, konter pasien baru dan lama, loket pembayaran, konter BPJS Kesehatan, apotek dan toilet. Untuk pelayanan pemeriksaan RSUD Bantaeng sudah baik ditunjang fasilitas baik itu ruangan, dokter, petugas medis dan peralatan kesehatan. Pemeriksaan dokter di tiap poli dilakukan dari hari Senin - Sabtu pukul 08.00 - 11.00 WITA.  Keberadaan RSUD Insya allah saya berencana akan melahirkan di RSUD Bantaeng, mohon doanya semoga persalinan berjalan lancar serta ibu dan bayi dalam keadaan sehat. Aamiin. 
Suasana di ruang tunggu poli pemeriksaan (Dokumen Pribadi)



With love, 
Puput




Senin, 05 Februari 2018

Perempuan (wajib) Melek Finansial

         Setelah menikah dan kesibukan di ranah domestik menuntut saya dan perempuan lainnya yang sudah berganti status sebagai "istri dan ibu" memiliki beragam profesi sekaligus. Menjadi manajer keuangan, chef, ahli gizi, guru,  baby sitter, guru mengaji dan masih banyak lainnya seorang ibu dan istri dituntut untuk menguasai beragam peran tersebut. Menjelang usia satu tahun pernikahan kami, saya menyadari peran saya sebagai seorang istri dan insya allah segera menjadi Ibu masih belum optimal. Obrolan sore itu dengan ibu saya via telepon yang mengingatkan bahwa kita sebagai manajer keuangan keluarga haruslah pandai dan bijak mengatur keuangan keluarga. Karena bagaimanapun kesejahteraan keluarga terletak dari pengaturan keuangannya. Nah, inilah kelemahan saya yang saya akui masih amburadul urus keuangan keluarga. 

        Jujur saja, saya sendiri baru memulai laporan keuangan bulanan. Hahaha. Yaa baiklah lebih baik terlambat memulai daripada tidak memulai sama sekali bukan. Setelah mendapatkan pengalaman pengaturan keuangan ala Ibu saya, langsung deh jelajah google dengan kata kunci "melek finansial ibu rumah tangga". Selama kurang lebih satu jam membaca beragam artikel membuat saya mengganggukkan kepala dan berkata ya ya ya itu benar tanda sepakat dengan isi tulisan tersebut.

Berikut poster idealnya kita mengatur pendapatan bulanan. 


sumber : brighterlife.co.id


Gaji bulanan kita terbagi untuk 

1. Pos pengeluaran rutin (kebutuhan mendasar seperti makan, listrik, transportasi, telepon dan internet) sebesar 40% 
2. Pos cicilan (cicilan rumah, kendaraan yang wajib dibayarkan tiap bulan) sebesar 20%
3. Pos investasi (tabungan, investasi, dan kebutuhan jangka menengah atau panjang) sebesar 10%
4. Pos asuransi (keperluan asuransi untuk melindungi anda dan keluarga) sebesar 10%
5. Pos dana darurat (untuk pengeluaran - pengeluaran yang tidak terduga) sebesar 5%
6. Pos sosial (kepentingan sosial, memberi santunan kepada mereka yang membutuhkan)
sebesar 5%


Detail Ilustrasi peruntukkan gaji bulanan untuk tiap pos pengeluaran

Lantas apa sih maksud dari Melek Finansial?
Mampu membaca, memahami dan mengatur hal - hal yang berhubungan dengan masalah keuangan.

Bagaimana kondisi "Melek Finansial" bagi perempuan di Indonesia?
Pada tahun 2016, survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia hanya sebesar 25%, sementara laki - laki sebesar 33%. Padahal 75% keuangan rumah tangga dikelola perempuan. 

         Ketika status masih single dan bekerja, saya sendiri cenderung menghabiskan sebagian dari penghasilan untuk kebutuhan dasar dan gaya hidup. Ya intinya untuk kesenangan diri sendiri. Hehe. Setelah berumah tangga, skala prioritas penghasilan dipergunakan untuk keperluan rumah tangga. Apalagi kami akan segera dikaruniai anak yang menjadi tanggung jawab dan amanah yang diberikan Allah untuk kita. Mulai dari sekaranglah kami sebagai orangtua merencanakan dan mengatur keuangan dengan bijak dan tepat. 

Alhasil bukan saatnya lagi kita berfoya - foya tapi mengencangkan ikat pinggang. 


       Sebagai orang tua tentu kita menginginkan dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk kehidupan anak - anak. Seperti dalam hal pendidikan, dimana dan seperti apa pendidikan yang kelak akan mereka dapatkan. Pendidikan biasa saja atau yang terbaik ? Akankah kami sebagai orangtuanya bisa memenuhinya ? Itu semua bergantung pada pilihan dan upaya kita. Karena kami berdua meyakini bahwa bekal ilmu akan lebih kekal dan bermanfaat dalam kehidupan dibandingkan dengan bekal harta kekayaan. Apalagi kehidupan di masa depan tidak bisa kita prediksi, yang dimana mana semua keluarga selalu mengharapkan, mengupayakan dan berdoa agar keluarganya selalu sejahtera. 

Untuk itu persiapan dana pendidikan anak lebih baik dipersiapkan semenjak dari kelahirannya. Waoww, apa itu nggak terlampau jauh dan cepat?! Bagi saya tidak, malah baik jika bisa dipersiapkan sedari awal. Anak usia sekolah misalkan Sekolah Dasar, tapi dana pendidikan sudah dicicil dari umur 0 bulan tentu lebih ringan menabungnya dibanding harus keteteran nabung setahun sebelum bersekolah. Nggak percaya ? Yuk kita hitung dulu :)

Plan A (menabung dana pendidikan anak sejak 0 bulan - 7 tahun)
Misalkan kita sisihkan gaji tiap bulan untuk dana pendidikan anak sebesar Rp 200.000 x 84 bulan = Rp 16.800.000. 

Plan B (menabung dana pendidikan anak umur 6 tahun)
Untuk memenuhi target Rp 16.800.000 : 12 bulan = Rp 1.400.000/bulan uang yang harus kita sisihkan. 

Hmmm... lebih berat yang plan B untuk dilaksanakan yaa... kecuali kita ada pendapatan tambahan selain mengandalkan gaji bulanan seperti penghasilan dari usaha sampingan. Nominal dana pendidikan yang kita alokasikan fleksibel semakin besar yang kita sisihkan tentu saja besar pula nominal akhirnya. Yang terpenting disini adalah konsisten dan komitmen untuk selalu "memaksa diri" menabung tiap bulan dan nggak boleh diambil untuk pendanaan yang lain yaa :))). Ketika anak kita bersekolah dasar, kita punya waktu untuk menabung dana pendidikan untuk sekolah menengahnya dan berikut seterusnya menabung untuk dana kuliah. Ini ilustrasi untuk anak satu, kalau anak lebih dari satu otomatis nih berlipat alokasi dana tabungan pendidikan. Hehehe. 


Langkah apa saja yang akan saya lakukan untuk mengatur keuangan rumah tangga?

1. Buat laporan keuangan rumah tangga tiap bulan 
2. Alokasikan dana tabungan pada awal bulan 
3. Pisahkan uang sesuai dengan pos pengeluaran 
4. Atur skala prioritas dalam kegiatan belanja dan gaya hidup

Yuk sharing gimana cara teman - teman mengatur keuangan rumah tangga ? Supaya saya juga bisa belajar dari pengalaman kalian. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ...


With Love,
Puput



Rabu, 17 Januari 2018

Ceritaku tentang Hidup Merantau



Matahari terlihat dari pesawat (Dokumen Pribadi)

Ketika kita sudah memutuskan untuk hidup merantau, tentu saja yang paling kita rindukan adalah tanah kelahiran kita. Rumah dan keluarga menjadi alasan untuk kita selalu merindu. Merindu ingin pulang di tengah hangatnya suasana rumah dan kasih sayang keluarga. Hidup merantau memang pilihan hidup tiap orang. Sama halnya orang yang memutuskan untuk hidup di tanah kelahirannya.  Alasan untuk hidup merantau bagi tiap orang juga beragam. Hidup merantau demi memenuhi  kebutuhan hidup, menuntut ilmu, berkeluarga dan lain sebagainya. Hidup di perantauan sangatlah berbeda dengan "zona nyaman" yang dapat kita nikmati dengan mudahnya. Sebagai individu manusia yang notabene makhluk sosial, perantau dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jika tidak, sungguh akan sangat sulit untuk mengembangkan kehidupan di perantauan. 

Sama halnya dengan keadaan yang saya alami saat ini. Hidup di perantauan karena alasan berkeluarga. Keputusan saya untuk menikah dengan laki - laki yang saya cintai yang berasal dari Makassar berimbas pada lompatan kehidupan saya selanjutnya, yaitu merantau. Merantau sebenarnya bukan hal asing bagi saya, semenjak lulus SMK saya pernah bekerja di Jakarta dan Surabaya. Seakan  hidup merantau bukan hal asing bagi saya. Mungkin bagi sebagian orang mengganggap untuk apa pergi jauh dari tanah kelahiran untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Bukannya di kota sendiripun bisa saja kita peroleh. Berikut sedikit cerita tentang hidup merantau saya....

Hidup merantau pasca lulus sekolah

Saya menulis ini sambil mengingat memori sewaktu hidup merantau di Jakarta. Baru saja saya melepas status seragam putih abu - abu dan masih berusia belia tidak menyurutkan niat saya untuk bekerja di Jakarta setelah dinyatakan lolos tes kerja di sebuah perusahaan percetakan. Memang awalnya berat untuk kedua orang tua saya mengizinkan anak gadisnya bekerja di Jakarta. Tapi semua mampu saya petik hikmahnya. Bagaimana di usia belia  saya memiliki keinginan kuat untuk merasakan bekerja. Jakarta, kota yang kerap kali saya datangi ketika liburan sekolah dan sekarang saya datang untuk bekerja. Hidup di perantauan ketika itu membuat saya melek. Ternyata kehidupan di Jakarta sudah sangat berkembang dengan pesatnya. Menuntut manusia di dalamnya hidup dengan penuh perjuangan. Saya belajar hidup mandiri, ya mandiri. Dulunya untuk masalah makanan pasti sudah tersedia di meja makan rumah, sekarang waktunya beli makanan di warteg dan sengaja masak nasi di kos supaya hemat. Waktu itu saya sewa kos bersama dengan dua orang teman sekolah saya, ingat sekali bagaimana rasanya kita tiap makan pagi dan malam kerap kali sepiring bertiga (makan siang di kantin kantor), saling berbagi kamar mandi dan tidur berhimpitan di satu kasur. Hehe. Menuju ke kantor, tidak ada motor ataupun angkutan antar jemput yaa jalan kaki setidaknya butuh waktu 20 menit dari kos ke kantor. Dari yang berangkat wangi, nyampe kantor kaki udah capek dan berkeringat. Hahaha. Masalah kerjaan di kantor yang masih sangat awam untuk kami yang baru lulus sekolah juga menjadi makanan sehari - hari. Bagi saya masalah pekerjaan masih bisa diatasi dengan kemauan untuk belajar tapi yang paling saya rasakan saat itu adalah ternyata dunia kerja itu keras. Saling sikut-sikutan. Bukan tentang fisik ya, tapi kompetisi antar individu di pekerjaan untuk mengejar prestasi. Waow banget deh bagi saya yang masih anak bau kencur. Hahaha. 

Jadi bisa saya simpulkan pengalaman hidup merantau saya sewaktu lulus sekolah dulu lebih kepada menuntut diri untuk hidup mandiri, memacu kemampuan hardskill dan softskill serta belajar memahami karakter orang lain. 

Hidup merantau pasca lulus kuliah

Bekerja pasca lulus kuliah tentu tingkat psikologis lebih matang dan kemampuan saya sudah cukup baik dibandingkan semasa lulus sekolah. Kehidupan perantauan saya di Kab. Probolinggo lebih bersahabat dibandingkan saat di Jakarta. Menjalani rutinitas pekerjaan yang terkadang bagi saya agak membosankan. Untuk mengatasi kebosanan itu, alhamdulillah lingkungan kerja saya memberikan kesempatan untuk terus menggali kemampuan diri. Seperti rutin menyampaikan materi pekerjaan kepada peserta training, berkesempatan mengikuti pelatihan, dan diskusi ilmiah. Tidak perlu munafik ketika kita bekerja tentu kita berharap mendapatkan keuntungan seperti salary, fasilitas, dan yang paling penting menurut saya adalah kenyamanan dalam bekerja.  Kenyamanan dalam bekerja tidak hanya tentang pekerjaan yang kita nikmati tapi juga rekan - rekan kerja yang membuat kita betah dan malah menjadikan pribadi menjadi lebih baik. Ketika kita nyaman dan menikmati pekerjaan insya allah hasil yang kita dapatkan akan sebanding malah di luar ekspektasi. 


Hidup merantau pasca menikah
Ketika memutuskan untuk menikah saya tentu memahami konsekuensi selanjutnya yaitu hidup merantau bersama suami. Karena akan sangat sulit bagi kami ketika sudah berumah tangga, harus hidup terpisah. Saya bekerja di Jawa, sedangkan suami di Sulawesi. Wah tentu itu BIG NO buat kami. Memang berat memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang saya sukai, tapi hidup berumah tangga juga menjadi ladang ibadah untuk kami. Kendala yang saya hadapi hidup di perantauan yang beda dengan hidup di Pulau Jawa yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa daerah Makassar. Jujur saja,  saya belum menguasai bahasa Makassar yang menjadi bahasa sehari - hari. Walaupun Bahasa Indonesia tetap dipergunakan dalam keluarga dan lingkungan tapi pasti lebih baik lagi jika saya bisa belajar bahasa Makassar bukan. Ya itulah PR terbesar untuk saya hehehe. Untuk masalah kultur budaya tentu juga berbeda dengan di Jawa. Namun saya menganut dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Otomatis saya menyesuaikan dengan kultur yang ada di Makassar. Bagi saya itu tidak masalah, malah kesempatan baik untuk saya belajar kultur yang berbeda dengan Jawa. Hmmm... hidup merantau jauh dari Pulau Jawa membuat saya juga selalu merindukan masakan khas Jawa. Ya kadang rindu sedikut terobati dengan mencoba memasak sesuai kemampuan saya. Hehe. Kalau ada bahan yang sulit ditemukan tentu saja tinggal minta tolong kirimkan ibu saya hehehe. Bahkan cuma liat foto masakannya aja, hati bisa sedikit terhibur. hahaha. Yaa begitulah suka dukanya merantau yaa. 

Kalau rindu dengan keluarga dan sahabat - sahabat saya, tentu saja obrolan lewat sambungan telepon, chat, video call itu menjadi rutinitas yang bisa saya lakukan. Di perantauan sebisa mungkin mengupayakan untuk berinteraksi dengan orang - orang di lingkungan. Jangan sampai menutup diri. Mulailah dengan seulas senyum dan sapa ramah ketika bertemu bisa berlanjut pada obrolan. Karena fitrah manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri bukan. 

Baiklah, sepertinya sudah terlampau panjang cerita saya kali ini. 
Gimana hidup perantauan kalian? Boleh berbagi dengan saya. 
Sharing is caring.


With love,
Puput 

Rabu, 03 Januari 2018

Siapkah saya untuk menjadi seorang Ibu?

          
Permandian Eremerasa, Kab. Bantaeng (Doc.Pribadi/01/01/2018)

       Di awal tahun 2018 ini saya sangat bersyukur atas segala hal baik dan membahagiakan dalam hidup yang terjadi pada tahun 2017 ini. Alhamdulillah alhamdulillah wa syukurillah tahun 2017 saya resmi menjadi seorang istri, merasakan hidup di perantauan bersama suami dan menikmati masa kehamilan. Tentu banyak suka duka yang saya alami tapi semua sebanding dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada kami. Bulan Desember 2017, kehamilan saya menginjak trisemester ketiga. Yang saya rasakan selama kehamilan tentu selain perubahan fisik juga psikologi. Perubahan fisik ibu hamil tentu hal yang lumrah bagi seorang perempuan seperti perubahan pada payudara, adanya pigmentasi kulit, tubuh yang makin terlihat gendut, dan lain sebagainya. Perubahan psikologis biasanya yang saya alami adalah mood swing, yaa gampang berubah gitu moodnya. Cepat sekali perubahan mood dalam satu waktu dari mood yang happy ke perasaan kesal. Hehehe. Kalau udah seperti itu sebisa mungkin harus memperbaiki mood dengan melakukan aktivitas yang bisa buat happy lagi :D. Ya begitulah yang harus kita alami selama masa kehamilan, jangan pernah mengeluh tapi jadikanlah rasa syukur untuk kita. Karena sesosok manusia kecil tengah tubuh dalam tubuh kita. Tentu itu sangat membahagiakan bukan. 
              Di akhir trisemester ketiga ini tentu saya sedang menghadapi masa penantian menuju persalinan. Perasaan bahagia tentu mendominasi hati tapi ada rasa kekhawatiran ketika kelak ananda lahir status saya disempurnakan menjadi seorang ibu. Siapkah saya menjadi seorang ibu? Ibu merupakan sosok yang luar biasa dalam hidup kita. Luar biasa mulia dalam mendidik dan menyayangi kita sepanjang masa. Figur seorang ibu dibutuhkan seorang anak dalam membentuk karakter dan kecerdasan akhlak intelektualnya. Maka dari itu saya sangat setuju dengan pernyataan Dian Sastrowardoyo "Entah akan berkarir atau ibu rumah tangga, seorang wanita  berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu – ibu cerdas akan menghasilkan anak – anak cerdas”. 
              Sosok seperti apakah yang saya harapkan ketika menjadi seorang ibu? Itulah sebaris pertanyaan yang saya renungkan dalam diri dalam waktu belakangan. Dalam benak saya tentu sangat ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak -  anak. Dorongan untuk menjadi orang tua yang baik tentu saja mengharapkan kelak anak - anak kita menjadi pribadi yang lebih baik dari segi karakter, kepribadian, intelektual, serta spiritual. Figur orangtua yang baik bagi tiap orang tentu berbeda yang bisa saja terbentuk dari kenangan masa kecil kita tentang kedua orangtua, pengamatan terhadap orangtua lainnya, nasehat dari keluarga dan teman, buku dan ahli kesehatan. Melihat banyak sosok ibu dan perempuan hebat yang menginspirasi untuk diikuti role modenya. Dari buku yang saya baca, pada intinya metode parenting yang akan kita terapkan pada anak adalah mengamati kecenderungan dan reaksi alamiah diri kita. Tak lupa pentingnya respon anak terhadap cara pengasuhan kita. Karena tiap anak - anak akan bereaksi terhadap gaya pengasuhan dan pengajaran yang berbeda. 

Sudah siapkah saya menjadi seorang Ibu?
           
           Harus siap, insya allah atas seizin Allah SWT. Menjadi seorang Ibu tentu berimbas pada waktu untuk diri sendiri akan sangat berkurang. Rutinitas yang dulunya sangat mudah kita jalani sebelum kehadiran anak seperti menikmati makan dengan damai, menjalankan hobi seperti membaca dan menulis seperti saya, belanja dan bahkan mandi adalah aktivitas yang harus kita lakukan dengan secepat kilat dan bahkan sampai melupakan hobi kita. Yaah untuk saat ini memang belum saya alami tapi dari pengamatan saya itulah yang akan dihadapi sebagai ibu baru. Yap, berdamai dengan keadaan adalah cara terbaik untuk tetap waras. 
Menjalani kehidupan sebagai seorang ibu berarti kita harus siap mengalami hari - hari menyenangkan maupun tidak, untuk itu sebagai ibu kita membutuhkan dukungan dari suami dan keluarga.  Peran suami tidak melulu tentang mencari nafkah keluarga saja, tapi juga berperan dari segi dukungan moril kepada istrinya dan perannya dalam mendidik anak. Selain itu, ketika kelak menjadi seorang ibu tidak serta merta melupakan kebahagiaan diri. Ya sangat perlu menyediakan waktu untuk diri sendiri dalam melakukan hal - hal yang membuat kita bahagia seperti melakukan hobi, merawat diri, atau sekedar bepergian. 
       Harapan saya mampu menjadi seorang ibu yang menyayangi, mendidik dan menginspirasi anak - anak saya kelak.  Tentu saja itu butuh waktu perjuangan yang tak sebentar. Menjadi seorang ibu merupakan proses belajar seumur hidup dalam universitas kehidupan. Terlihat sederhana memang tapi saya harus memiliki rencana jangka pendek, menengah dan panjang untuk kebahagiaan diri saya dan keluarga. Semoga Allah selalu meridhai dan menguatkan dalam tiap kehidupan kita dan keluarga. Aamiin.
               

                                                                                                             With love,
                                                                                                  Puput

       



Kamis, 21 Desember 2017

Cuti Ayah untuk Kelahiran Anak

         
Masih foto berdua... coming soon foto bertiga sm dedek ya :)  Aamiin


       Merujuk Undang - Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan "Pekerja/Buruh perempuan berhak memperoleh istirahat (cuti) selama 1,5 bulan sebelum saat melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan dengan gaji penuh". Lantas bagaimana dengan sang suami atau ayah pekerja ? Sejauh ini, di Indonesia hanya memberikan seorang pria pekerja memperoleh cuti dua hari dengan gaji penuh saat istrinya melahirkan atau keguguran. Tentu saja hal ini sangat disayangkan, ketika sang ayah hanya bisa mendampingi istri melahirkan dan bersama merawat bayi terbatas hanya 2 hari. Padahal kondisi istri yang sangat membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi masa pasca persalinan. Rasanya sangatlah tidak cukup 2 hari sang ayah mendampingi istri dan anaknya lalu kembali lagi kepada rutinitas pekerjaan yang mengharuskan pergi pagi pulang petang. 

Mengapa cuti ayah untuk kelahiran anak itu penting?
           Pemerintah Indonesia agaknya masih keukeuh mempertahankan jatah cuti ayah untuk kelahiran ayah hanya 2 hari walaupun tahun 2016 sempat ada petisi yang mendesak memberikan cuti bagi suami yang istrinya melahirkan dari dua hari menjadi dua minggu tapi nyatanya belum mengubah peraturan perundangan. Petisi tersebut dicetuskan oleh dua orang ayah yaitu Ahmad Zaini dan Adi Noegroho yang berharap bisa tiap ayah di Indoneisa berperan dalam pengasuhan anak sedini mungkin. 
         Semua kembali tiap kebijakan perusahaan seperti PT Unilever Indonesia yang memberikan jatah cuti 5 hari untuk ayah pekerja dalam menyambut kelahiran anak. Lain halnya dengan D.I Aceh dalam qanun pemberdayaan perempuan yaitu jatah cuti 6 bulan untuk istri yang melahirkan dan suami mendapat 14 hari cuti untuk mendampingi istrinya. 
            Peran pengasuhan seorang anak bukan hanya terletak pada pundak istri namun ada andil dari sosok ayah. Ayah yang identik sebagai pencari nafkah keluarga juga berhak untuk memberikan pengasuhannya sejak dini. Keterlibatan kedua orang tua dalam pengasuhan anak tentu diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional sang anak. Ikatan batin antara orangtua dan anak juga makin erat. Belum lagi masalah terbatasnya kemampuan fisik sang ibu setelah melahirkan dan perlahan beradaptasi dalam pengasuhan anak bayi yang butuh asupan nutrisi, dukung moral dan materiil. Jika ayah mendapatkan jatah cuti yang layak dalam menghadapi kelahiran anak tentu hal ini akan sangat membantu sang ibu. Di lain pihak sang ayah juga bertanggung jawab penuh terhadap jatah cuti yang didapatkan dengan berlaku bijak (tidak menyelewengkan waktu cuti untuk kegiatan lain selain mengasuh anak dan membantu istri). 
USG di usia kehamilan 27 weeks 

               Apalagi saat ini saya sedang menantikan fase kelahiran ananda, ada terselip rasa kekhawatiran tentang kesibukan kerja suami saya sebagai Kepala Unit Makassar Perum Perindo yang menuntut beliau lebih banyak bekerja ke luar kota. Maklum saja kegiatan jual beli ikan tidak hanya bisa diselesaikan di balik meja dan by phone tapi harus bertemu menjalin kerjasama dengan nelayan, suplier ikan, pemilik pabrik dan lain sebagainya. Saya sangat berharap kehadiran sosok suami sekaligus ayah dalam mendampingi saya selama masa persalinan serta berperan dalam pengasuhan anak. Hmmm... baiklah tinggal kita tunggu waktu saja. Semoga ada kebijakan baik ya. Ya semua kembali kepada rencana terbaik menurutNya, berdoa semoga semua berjalan lancar, sehat dan sejahtera. Sekali lagi kita hanyalah manusia, makhluk perencana dan Allah SWT menentukan yang terbaik bagi tiap umatnya. 

Perbandingan kebijakan berbagai negara dalam cuti ayah untuk kelahiran anak
     Cuti ayah untuk kelahiran anak juga disikapi berbeda di tiap negara di dunia berikut daftarnya

1. Swedia
    Ayah mendapatkan hak 90 hari cuti dengan bayaran 80% dari gaji normal.
2. Estonia 
    Cuti ayah di Estonia selama dua minggu untuk kelahiran anak.
3. Islandia 
    Cuti ayah untuk kelahiran anak selama 3 bulan dengan menerima 80% gaji saat cuti
4. Lithuania 
    Ayah baru di Lithuania mendapat jatah cuti empat minggu
5. Slovenia 
    Jatah cuti ayah untuk kelahiran anak selama 90 hari dengan 15 hari pertama dibayar       100% dari gaji dan sisanya dibayar 75% dari upah minimum.
6. Finlandia 
    Ayah baru di Finlandia diberi cuti delapan minggu dengan bayaran penuh
7. Norwegia
    Seorang ayah di Norwegia bisa mengambil cuti selama 10 minggu dengan menerima 80% gaji
8. Hungaria 
   Jatah cuti ayah untuk kelahiran anak di Hungaria selama satu minggu cuti dengan  
bayaran penuh
9. Negara di Afrika Barat seperti Kamerun, Chad, Gabon dan Pantai Gading memberikan       cuti selama 10 hari sementara Kenya selama 2 minggu. 
10. Australia memberikan jatah cuti ayah selama 126 hari, Italia selama 90 hari dan Norwegia 70 hari
11. Korea Selatan memberikan cuti melahirkan selama setahun untuk kedua orang tua dengan gaji dibayarkan sebesar 40%
12. Pemerintah Amerika Serikat dan China tidak memberikan jatah cuti kepada pekerja laki - laki yang baru saja memiliki anak.

Hasil studi peran ayah dalam pengasuhan anak

          Penelitian yang dilakukan oleh University of Oxford, Inggris menyimpulkan bahwa bayi laki - laki berusia di bawah tiga bulan yang karib dengan ayahnya, cenderung lebih tenang dan bahagia saat berusia satu tahun. Sementara itu, pada bayi laki - laki di bawah tiga bulan yang jarang berinteraksi dengan ayahnya atau sang ayah nampak seperti sibuk dengan pikiran sendiri tidak mempedulikan anak, maka anak akan menunjukkan sikap yang buruk yakni agresif, tempramental dan sebagainya (kompas.com).
            Penelitian lain dari University of Oslo, Norwegia bahwa cuti ayah dalam menyambut kelahiran anak berefek jangka panjang bagi anak - anak akan lebih berkembang tumbuh kembangnya saat memasuki jenjang SMP terutama bagi anak perempuan. Dari kedua penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa jalinan emosional antara anak dan ayah sebelum usia satu tahun terbukti berpengaruh signifikan pada fase tumbuh kembang anak. 

      Cuti ayah untuk kelahiran anak bukan hanya penting bagi kehidupan masa depan keluarga tapi juga salah satu pendukung kesuksesan generasi emas Indonesia. Jadi kapan pemerintah Indonesia memberikan kado kepada para pekerja laki - laki untuk setidaknya cuti selama 2 minggu untuk kelahiran anak? Entahlah. We will see....




Sumber : https://www.msn.com/id-id/gayahidup/pengasuhan/8-negara-yang-memberi-cuti-melahirkan-bagi-ayah/ss-BBCR19e?fullscreen=true#image=9
http://lifestyle.kompas.com/read/2016/05/01/103500520/Studi.Buktikan.bahwa.Ayah.Juga.Perlu.Cuti.Melahirkan
http://lifestyle.kompas.com/read/2016/06/20/184700620/petisi.ini.minta.cuti.ayah.untuk.kelahiran.anak

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...