Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2018

NHW #8 MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, setelah di materi NHW #8 kita belajar tentang bagaimana menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sebagai berikut L

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman - teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
Menulis artikel 


b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan "BE DO HAVE" di bawah ini
1. Mental seperti apa yang harus anda miliki untuk menjadi seperti apa yang anda inginkan ? (BE)
  Penulis 

2. Apa yang harus anda lakukan untuk menjadi seperti yang anda harapkan ? (DO)
Mengasah keterampilan menulis dengan rutin menulis di blog

3. Apa yang akan anda lakukan apabila anda sudah memiliki yang anda harapkan ? (HAVE)
Meningkatkan kualitas tulisan dan kepercayaan diri dengan mengirim tulisan ke media cetak/online dan menghasilkan uang dari tulisan di blog pribadi 


c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu dibawah ini dan isilah :
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Menjadi istri, ibu dan individu perempuan yang membanggakan suami, mampu mendidik dan menyayangi anak - anak dan sebagai individu mampu memberdayakan diri untuk produktif.


2. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5 - 10 tahun ke depan (strategic plan)
Selain menjadi penulis, saya juga ingin memiliki usaha yang tidak hanya menghasilkan keuntungan semata tapi juga memberdayakan oranglain


3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
Konsistensi dalam menulis artikel, mendidik dan menyayangi Alfatih sesuai dengan tumbuh kembangnya



Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/



NHW #7 Tahapan Menuju Bunda Produktif

Assalamu'alaikum Wr Wb

Tahapan menuju Bunda Produktif menjadi tema pembahasan pada NHW #7, dari pengertiannya Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses menemukan dirinya, menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya berbinar - binar. Saya sangat setuju dengan pernyataan bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi ibu yang bermanfaat bagi banyak orang. Untuk itu salah satu tahapan menuju bunda produktif pada NHW#7, kita diminta untuk menemukan apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan diri via temubakat.com. Saya juga baru pertama kali menggunakan temubakat.com dalam menganalisa kekuatan dan kelemahan diri. Kekuatan diri harus kita asah terus menerus dengan belajar dan berlatih pada potensi diri. sedangkan kelemahan diri bisa kita hindari, didelegasikan, bekerja sama dengan orang lain dan menggunakan peralatan / sistem. 

Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7.
Selamat, anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar.
Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping.
Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman tulis di NHW#1 – NHW #6
Semua ini ditujukan agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.
🍀 Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :
  1. Masuk ke www.temubakat.com.
  2. Isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional. Jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya.
  3. Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yg anda rasakan selama ini.
  4. Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7
  5. Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
  • Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
  • Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi andaTIDAK BISA
  • Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
  • Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA


Hasil tipe kekuatan diri melalui temubakat.com 





Jumat, 02 Maret 2018

NHW #6 Belajar Menjadi Manager Keluarga Handal

Assalamu'alaikum Wr Wb,
Alhamdulillah sudah memasuki pekan ke 6 belajar online di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Topik pembahasan pekan ini dengan judul "Belajar menjadi manajer keluarga yang handal". Yapp, menjadi seorang istri dan ibu menuntut kesibukan kita di ranah domestik dan ranah publik ritmenya makin dinamis. Seakan waktu 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk kita beraktivitas. Tapi terkadang ada juga waktu yang dipergunakan hanya aktivitas yang kurang penting dan bermanfaat. Untuk itulah topik pembahasan kali ini sangat sesuai untuk saya terutama dalam belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Sebelum itu tentu yang harus diatur adalah memanajemen diri sendiri. 


Baiklah berikut sekilas tentang tantangan NHW #6 "Belajar menjadi manajer keluarga yang handal"


Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “Belajar menjadi manajer keluarga yang handal”. Mengapa? Karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. 
Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita Merasa Sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :

1. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.
        3 Aktivitas Paling Penting
         a. Beribadah dan mengaji 
         b. Mengasuh dan mendidik anak
         c. Belajar dan mempraktekkan ilmu parenting

       3 Aktivitas Paling Tidak Penting
       a. Membuka gadget untuk bersosial media dan browsing yang tidak penting
       b. Bersantai melebihi waktu yang ditentukan
       c. Mengobrol yang pembahasannya kurang bermanfaat

2. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
         Saya masih banyak menggunakan waktu untuk aktivitas yang kurang penting  untuk itu kedepannya saya harus memanfaatkan waktu untuk aktivitas yang lebih     penting terutama aktivitas yang menunjang dalam memperbanyak jam terbang          peran hidup. 

3. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk          memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
        Baik, insya allah siap dilaksanakan

4. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

       Baik, insya allah siap dilaksanakan


5. Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
        Baik, insya allah siap dilaksanakan


6. Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)
Pukul Rincian Kegiatan
03.30  - 05.30  Bangun pagi, sholat tahajud, sholat shubuh, mengaji
05.30 - 09.00 Olahraga pagi, memasak, sarapan, mandi&mencuci, sholat dhuha
09.00 - 11.00 Membaca&mencatat ttg  parenting/Ngeblog
11.00 - 14.00 Memasak & makan siang,  sholat dhuhur, istirahat
14.00 - 15.30  Menulis konten blog pribadi
15.30 - 16.00 Shalat ashar dan mengaji
16.00 - 17.00 Bersosialisasi dengan kerabat/tetangga 
17.00 -19.30 Memasak, mandi, ibadah sholat maghrib & isya, mengaji
19.30 - 21.00 Makan malam & quality time bersama keluarga dan suami
21.00 - 03.30 Istirahat malam


7. Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

        Baik, insya allah siap dilaksanakan. Untuk jadwal harian saya kedepan tentu saja akan berubah sesuai dengan adanya penambahan amanah & tanggung jawab misalkan dengan kehadiran buah hati. 


Wassalamu'alaikum Wr Wb


With Love,
Puput

Kamis, 22 Februari 2018

NHW #5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar


Assalamu'alaikum Wr Wb

Tulisan saya kali ini tentang NHW #5 dengan topik "Belajar Bagaimana Caranya Belajar". Belajar tentang apa? Tentu saja belajar tentang ilmu yang sudah kita tuliskan di dalam NHW #1  yaitu ilmu parenting. Bagi saya tiap NHW saling berkaitan sehingga menempa kita untuk selalu konsisten utamanya dalam belajar dan memberdayakan diri. Belajar bagaimana caranya belajar kembali mengingatkan saya bagaimana metode belajar saya selama ini. Tipikal gaya belajar saya selama ini yaitu VISUAL. Jadi saya lebih mudah menyerap informasi melalui kegiatan melihat apa yang dipelajari, mencatat, membaca, menulis dan lain sebagainya. Tentu setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda - beda. 

Pada NHW #5 "Belajar Bagaimana Caranya Belajar" kita diminta untuk membuat desain pembelajaran. Terlebih dahulu kita cari tahu dulu apa sih yang dimaksud dengan desain pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. 

Tugas NHW #5 mengharuskan saya sendiri harus berpikir ekstra. Saya merasa benar - benar dilatih untuk membuat desain pembelajaran untuk diri sendiri yang sesungguhnya manfaatnya jauh lebih besar baik untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Desain pembelajaran memandu saya untuk melakukan langkah - langkah kecil yang konsisten dalam mempelajari ilmu di universitas kehidupan.  Insya allah semoga Allah SWT menguatkan dan meridhai setiap upaya yang saya lakukan. Aamiin. 


Berikut desain pembelajaran yang sudah saya buat
Desain Pembelajaran Restu Putri A


Semoga bermanfaat untuk pembaca dan tentunya diri saya sendiri


Wassalamu'alaikum Wr. Wb



With love, 
Puput




Kamis, 15 Februari 2018

NICE HOME WORK #4 MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Badge Tepat Waktu "Mendidik dengan Kekuatan Fitrah"


Tak terasa sudah menginjak pekan keempat di MIIP, yang mana membahas tema "Mendidik dengan Kekuatan Fitrah". Saya akui belum paham sama sekali tentang Mendidik dengan Kekuatan Fitrah. Padahal sebentar lagi insya allah saya akan menjadi seorang Ibu. Seperti apa pola dalam mendidik anak - anak? Di era zaman now yang arus informasi dan pengetahuan diibaratkan seperti tsunami, saking mudah dan banyaknya pilihan akses untuk mendapatkannya. Mengutip salah satu pernyataan dari materi ke empat  

"Selama ini kita heboh pada apa yang harus dipelajari anak - anak kita, bukan pada untuk apa anak - anak mempelajari hal tersebut. Sehingga banyak ibu - ibu yang bingung memberikan muatan - muatan pelajaran ke anak - anaknya tanpa tahu untuk apa anak - anak ini harus melakukannya"

Berikut merupakan gambaran sekilas dalam pendidikan berbasis fitrah oleh Ibu Septi Peni Wulandari

Framework Pendidikan Berbasis Fitrah dari Keluarga Ibu Septi Peni W

Jadi seyogyanya kita sebagai Ibu tidak boleh berhenti belajar dan terlena dengan sistem pola asuh anak yang sudah terlanjur tercipta di lingkungan kita. Sadarilah, kita sebagai orang tua tidak mungkin selamanya hidup mendampingi anak - anak kita, tugas kita adalah mempersiapkan sebaik - baiknya bekal pendidikan berbasis fitrah agar mereka siap menghadapi kehidupannya. 

Baiklah sekian intronya.. lanjut ke tugas NHW #4 yuk....


Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?


Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.


a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Jawab:
Saya tetap memilih jurusan ilmu parenting di universitas kehidupan. Karena bagi saya dengan belajar dan memahami ilmu parenting bisa membantu saya dalam mendidik anak - anak. Selain itu, harapannya bisa membagikan pengalaman saya kepada banyak orang tentang parenting tentunya melalui tulisan di dalam blog. 


b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Jawab:
Pengerjaan NHW #2 yang kita susun sendiri dan dalam penerapannya dilakukan dengan kesadaran diri sendiri ternyata membutuhkan komitmen dan konsistensi. Padahal NHW #2 sangat membantu kita dalam meningkatkan kualitas diri. Jadi evaluasi pelaksanaan checklist harian saya masih belum disiplin dan konsisten tapi ada beberapa indikator yang sudah bisa lakukan dengan rutin. Saya akui dibutuhkan komitmen dan penyadaran diri bahwa apa yang kita lakukan ini adalah demi peningkatan kualitas diri sebagai perempuan, istri dan ibu. 



c.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator

Jawab:
Bidang ilmu parenting menjadi pilihan saya untuk belajar di universitas kehidupan. Untuk itu saya juga harus makin giat dalam mendapatkan ilmu yang kemudian dipraktekkan dalam kehidupan. Saya menyukai membaca dan menulis di blog sehingga selain mengikat ilmu, harapannya tulisan tersebut mampu menginspirasi orang lain. Saya menyadari tulisan di blog masih standar, kedepannya harus lebih baik lagi dari segi konten dan bergabung di komunitas perempuan blogger.

Misi Hidup : memberikan informasi sekaligus inspirasi melalui tulisan
Bidang : penulisan, bloging, parenting
Peran : mom blogger


d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.


Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :


1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang


Jawab:
Untuk bisa menjadi ahli di bidang penulisan, bloging, parenting maka saya menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai sebagai berikut :

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang



e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup


contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha

Jawab:
Saya menetapkan KM 0 pada usia 26 th (saat ini, 2017). Saya mendedikasikan 4 jam waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan dan menuliskannya. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya. Milestone yang saya tetapkan adalah sbb :
KM 0 – KM 1 (tahun 1, 2017) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2, 2018) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3, 2019) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 (tahun 4, 2020) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Shaleha




f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.


Jawab:  Untuk waktu pelaksanaanya sudah tercantum, koreksi dari NHW#2 yaitu menambahkan kolom per hari untuk satu bulan sehingga lebih mudah dalam penentuan tercapai atau tidaknya di tiap indikator


Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan


Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.


Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.


Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.


Bismillahirohmanirohim.. InsyaAllah BISA!


Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP



Wassalamu'alaikum Wr Wb


With Love, 
Puput

Minggu, 11 Februari 2018

NICE HOMEWORK #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

           Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) batch 5 yang memasuki pekan ketiga makin membuat saya baper (terbawa perasaan). Semakin seru tema yang diangkat dan akhirnya membawa kami anggota grup berdiskusi hangat walaupun hanya dengan perantara aplikasi whatsapp dan koneksi internet. Semoga Allah SWT membersamai kami dalam menjadi ibu profesional. Berikut sekilas tentang materi ketiga dengan tema "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah"

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya. 

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.


Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “*misi spesifiknya*”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “*peran spesifik keluarga*” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.



Darimana kita harus memulainya?

*PRA NIKAH*

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA  KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*

*NIKAH*

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

*ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a.    Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b.   Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c.    Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan  di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

_It Takes a Village to Raise a Child_

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NICE HOMEWORK #3
Badge tepat waktu "Peradaban dari Dalam Rumah"

NIKAH
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Di dalam surat cinta saya menyampaikan perasaan bangga dan bahagia saya karena dia menjadi suami dan ayah dari anak - anak saya. Mengungkapkan terimakasih atas segala usahanya dan kasih sayangnya untuk keluarga kami dan tak lupa saya meminta maaf jika belum menjadi istri yang masih jauh dari kata sempurna. Semoga keluarga kami selalu diridhai Allah SWT hingga ke jannahNya. Aamiin

Tantangan membuat surat cinta ini memang menguras emosi karena selama menikah belum pernah membuat ungkapan perasaan tertulis kepada suami. Akhirnya surat cinta itu terbaca ketika suami pulang dinas keluar kota. Maklum aja kami masih menjalani LDM (Long Distance Marriage) ya walaupun tiap weekend pasti ketemu sih.

Respon suami setelah membaca surat cinta
Tersenyum dan mengatakan "mantap" . Hahaha :D kami berdua akhirnya tertawa. Ya begitulah pak suami memang sulit untuk romantis untuk berkata - kata. Beliau lebih meresponnya melalui tindakan untuk menyampaikan rasa sayangnya....


b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Alhamdulillah saat ini saya sedang hamil anak pertama kami yang insya allah akan lahir pada akhir bulan Februari 2018. Mohon doanya semoga persalinan berjalan dengan lancar, ibu dan bayi sehat. Saya berdoa semoga dianugerahi putra - putri yang sehat, sholeh/sholehah, cerdas. dan berakhlak mulia. Semoga Allah SWT meridhaiNya... Aamiin

Semoga saya dan suami diberikan kemampuan dan kekuatan dalam mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak - anak kami. Aamiin




c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

- Ketika saya bekerja di ranah publik pekerja keras inilah salah satu kelebihan yang diakui rekan kerja saya. Karena saya tipikal orang yang totalitas dalam bekerja. Dengan memiliki kelebihan ini saya juga harus bisa membawa keluarga yang produktif.
- Mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru, tidak sulit bagi saya untuk berbaur dengan orang dan lingkungan yang baru sehingga ini membantu saya di perantauan.
- Menyukai membaca dan menulis di blog, merupakan aktivitas me time yang harapannya kedepannya selalu konsisten dan membuat saya produktif sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik. Selalu mengembangkan wawasan dan daya berpikir.
- Saya termasuk tipikal orang yang penyayang dan perhatian, yang bisa memaksimalkan peran sebagai perempuan, istri dan ibu

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Saat ini saya masih tinggal bersama dengan mertua dan menjalani LDM (long distance marriage), alhamdulillah keluarga kami selalu baik dan hidup rukun. Menurut saya lingkungan di tempat saya tinggal sebenarnya saya dikelilingi orang - orang baik. Hanya saja saya merasa tidak cocok dengan pola asuh dan mendidik anak - anaknya. Seperti perlakuan ibu yang terang - terangan membentak dan terkadang main tangan (memukul) ketika anak - anaknya sulit diatur, bertindak agresif, atau sekedar bertengkar dengan temannya. Jadi tak perlu kaget ketika anak - anak usia 1,5 - 4 tahun bisa bertindak sangat manja, agresif, berteriak, gampang menangis, dan bahkan memukul. Padahal usia 0 - 6 tahun pertama kehidupan anak dikenal sebagai "golden age" (usia emas) yang akan menentukan masa depannya. Pada usia emas ini, setiap informasi yang baik dan buruk akan diserap dan membentuk karakter, kepribadian dan kemampuan kognitif anak. Seharusnya mereka mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, agama, moral dan sosio emosional.

Saya tidak nyaman karena dulu sewaktu kecil tidak pernah diasuh dan didik dalam keluarga dan lingkungan saya seperti itu. Bagaimanapun karakter anak selain dari faktor genetik tapi juga dibentuk dari lingkungannya. Ahh... Jujur saja, saya khawatir sekali nanti karakter anak - anak saya malah dominan dibentuk dari lingkungannya. Padahal Bapak dan Ibunya "mati - matian" memberikan teladan yang baik untuk mereka. Apalagi amanah sebagai orangtua menyiapkan buah hati agar mampu menjalani kehidupan dalam lingkungannya di masa mendatang yang amat sangatlah berbeda dengan saat ini.

Selain itu, pemenuhan gizi bagi anak di usia emas di lingkungan tinggal saya masih saya nilai kurang baik. Memang hal ini dipengaruhi dari faktor ekonomi, tapi sebenarnya pemenuhan gizi tidak perlu bahan makanan yang mahal yang penting mudah dan murah didapatkan di lingkungan sekitar, bergizi, serta bervariasi sesuai panduan pedoman gizi seimbang. Jika pemenuhan nutrisi dapat terpenuhi dengan baik, pola asuh dan mendidik diperbaiki serta ditunjang pemenuhan psikologis anak tentu akan membantu mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik. Inilah salah satu tantangan bagi saya jika masih tinggal di rumah mertua. Karena bagaimanapun juga, kami sebagai orangtuanya sudah menyepakati bagaimana pola asuh dan mendidik anak - anak.

Saya meyakini semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, untuk saat ini saya masih tinggal di rumah mertua dengan tantangan lingkungan yang dihadapi nantinya ketika mendidik anak tentu dibutuhkan perjuangan yang harus dimulai dari lingkup keluarga terkecil kami. Dengan memberi teladan dalam mendidik dan pemenuhan gizi anak semoga keluarga yang lain dapat melihat dan perlahan meniru. Membutuhkan pendekatan yang baik dan perlahan untuk mengubah mindset ibu - ibu dalam mendidik dan pemenuhan gizi anak. Saya di sini juga masih belum memiliki komunitas bersama perempuan yang produktif. Untuk itu, saya bergabung di Institut Ibu Profesional dengan harapan bertemu dengan perempuan - perempuan pembelajar yang bisa mengembangkan potensi dari diri saya.

Selain itu, suami saya di masa mendatang berkeinginan untuk kembali memakmurkan masjid di lingkungan tempat tinggal. Bahwa masjid tidak hanya dipergunakan sebagai tempat beribadah tetapi juga "dihidupkan" melalui kegiatan sosial sehingga masyarakat sekitarpun selain bisa meningkatkan ibadah dan aktif berkegiatan sosial di masjid kampung.


With love,
Puput
















Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...