Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2019

Udang Vannamei Terserang WFS

Kegiatan budidaya ikan diharapkan menjamin ketersediaan sumber protein hewani asal ikan, tetapi juga meningkatan ksejahteraan pembudidaya. Kendala dalam kegiatan budidaya ikan adalah penyakit yang dapat menurunkan produksi, kerugian dan kegagalan usaha budidaya. Pengelolaan kesehatan ikan adalah merencanakan, membangun dan mengoperasikan system yang bertujuan untuk mencegah kasus penyakit. Untuk itu diperlukan empat upaya dalam menanggulangi penyakit yakni 1) Penyediaan kualitas lingkungan budidaya yang optimal, 2)penyediaan induk yang bebas dari penyakit , 3) Pengelolaan pakan dan 4) pengelolaan kesehatan. Ikan terserang penyakit sebagai akibat dari interaksi antara inang/ikan, pathogen yang virulen, dan kualitas lingkungan yang memburuk. Penyakit pada ikan dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksius dan non infeksius. Pertama, penyakit infeksius disebabkan oleh organisme pathogen yang ada dalam lingkungan atau terbawa oleh media pembawa lain yaitu penyakit parasitic, mikotik, bacterial dan viral. Kedua, penyakit non-infeksius biasanya disebabkan oleh masalah lingkungan, difesiensi nutrisi atau abnormalitas genetis.

Salah satu penyakit yang melanda udang vanname adalah white feces syndrome (WFS) disebabkan oleh bakteri vibrio spp, microsporidia dan parasite gregarine pada organ pencernaan (lambung, hepatopankreas dan usus). Faktor pemicu udang vanname terserang WFS antaralain warna air cenderung hijau tua, kecerahan cenderung pekat (transparansi sekitar 20 cm), alkalinitas tinggi (> 200 mg/l), pH air > 8, TVC (total vibrio count) dalam air >102 cfu/ml, bahan organic tinggi (>100) dan TAN (total ammonia nitrogen) tinggi. Menurut Jayadi et al., (2016) udang vannamei yang terserang WFS mengalami penurunan nafsu makan, pertumbuhan udang menjadi tidak normal, adanya kotoran berwarna putih yang mengambang di permukaan perairan, usus udang berwarna putih dan terlihat kosong karena kurang makan. Penyakit WFS pada  udang vanname menyebabkan penurunan kemampuan daya cerna terhadap pakan dan diikuti penurunan kemampuan serapan nutrisi (konversi pakan).


Tanda udang terserang WFS (Gambar : aquacultureresearch2018.wordpress.com)

Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi penyakit WFS dengan mengurangi tingkat kepadatan produksi. Hal ini menyebabkan penurunan kandungan bahan organic di perairan sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri Vibrio spp. Selain itu penggunaan probiotik yang mengandung Bacillus subtilis untuk menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio spp. Serta penggunaan bawang putih yang diaplikasikan ke pakan (Limsuwan, 2014).Penyebab dari WFS adalah manajemen kualitas air yang buruk yang menyebabkan oksigen terlarut dan allkanitas yang rendah serta manajemen pakan yang buruk menyebabkan polusi perairan. Kualitas air dan manajemen pakan yang buruk mengakibatkan timbulnya bakteri Vibrio spp. yang menyebabkan penyakit WFS (Mastan, 2015)





Rabu, 03 Juli 2019

Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba

Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

Visi dan Misi Dinas perikanan

Visi
Dinas perikanan sebagai lembaga teknis Daerah dibidang Kelautan dan Perikanan dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan Visi Dinas Perikanan Yaitu ” Optimalisasi Potensi Perikanan yang Dilandasi Pada Kemandirian & Daya Saing untuk Mewujudkan Bulukumba yang Sejahtera dan
Terdepan

Visi tersebut merupakan gabungan penjabaran dari Visi Pemerintah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas perikanan Provinsi Sulawesi Selatan serta Visi Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Adapun penjelasan visi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Kemandirian dan Daya Saing
Kemandirian merupakan perwujudan optimalisasi potensi lokal tanpa melibatkan pihak lain dalam mengekspolitasi sumber daya dan menjadikan sumberdaya tersebut sebagai keunggulan komparatif
sehingga meningkatkan daya saing.
2. Bulukumba sejahtera dan terdepan
Sejahtera dan terdepan merupakan upaya untuk menjadi Kabupaten Bulukumba untuk meningkatkan income masyarakat dan menjadikan Bulukumba sebagai daerah yang lebih maju dibanding dengan daerah lainnya.

Misi
Untuk mencapai Visi tersebut diatas, maka dirumuskan Misi sebagai berikut :
1. Mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui percepatan usaha perikanan yang berdaya saing dan berbasis kerakyatan dengan menjaga keseimbangan sumber daya alam dan lingkungan
2. Menciptakan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada berbagai sektor perikanan.
3. Mengoptimalkan potensi sumber daya perikanan
4. Menciptakan sumber daya manusia bidang perikanan yang berjiwa Entrepreneur dan kompetitif
5. Pengembangan kerjasama antar daerah untuk menciptakan peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terbangunnya sinergitas antar daerah di bidang perikanan
6. Pelestarian sumber daya pesisir dan perikanan
7. Membangun pusat kemaritiman selatan selatan di Provinsi Sulawesi Selatan.

Program Prioritas
Guna mewujudkan visi, dan menjalankan misi pembangunan daerah
Kabupaten Bulukumba 2016 – 2021 tersebut dilakukan melalui agenda prioritas
pokok pembangunan di bidang ekonomi pembangunan sebagai berikut :
a. Program Bidang Perikanan
1. Program Pengembangan Budidaya Perikanan
2. Program Pengembangan Perikanan Tangkap
3. Program Pengembangan Kawasan Budidaya Laut, Air Payau dan Air Tawar
4. Program Pengembangan Usaha dan Kelembagaan

Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas perikanan
Tujuan dan sasaran jangka menengah Dinas perikanan disajikan pada
tabel berikut ini :
a.Tujuan
1. Meningkatkan produksi dan produktifitas perikanan dan kelautan
2. Meningkatkan kualitas masyarakat perikanan untuk pengembangan usaha perikanan yang memenuhi standar keamanan pangan
3. Meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara optimal dan berkelanjutan.
4. Meningkatkan kelembagaan di tingkat nelayan/pembudidaya ikan.
5. Meningkatkan peluang investasi
b. Sasaran
1. Meningkatnya produksi perikanan
2. Meningkatnya pembinaan dan pendampingan masyarakat perikanan dalam mengembangkan usaha perikanan yang memenuhi standar keamanan pangan .
3. Meningkatnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan secara optimal dan berkelanjutan.
4. Meningkatnya pembinaan kelembagaan masyarakat perikanan
5. Meningkatnya peluang investasi

Secara umum bentuk pelayanan yang menjadi tugas dan fungsi Dinas Perikanan Kab. Bulukumba sebagai berikut :
a. Pengembangan dan pelayanan perikanan tangkap
b. Pengembangan dan pelayanan perikanan budidaya
c. Penataan kawasan wilayah pesisir dan laut serta pulau-pulau kecil .
d. Pengembangan pengolahan hasil perikanan dalam rangka memberi nilai
tambah (Value Added) dan diversifikasi produk.
e. Pelayanan perizinan perikanan.

Beberapa permasalahan pokok yang dapat menghambat pelayanan pembangunan kelautan dan perikanan adalah sebagai berikut :
- Banyaknya kendala teknis dalam budidaya udang dan rumput laut.
- Penolakan komoditas udang oleh Uni Eropa akibat penggunaan antibiotik.
- Banyaknya negara pesaing yang juga merupakan penghasil udang dan rumput laut.
- Kecenderungan rusaknya wilayah pesisir seperti ekosistem mangrove dan karang. (destructive fishing dan alih fungsi lahan).
- Kurangnya pengetahuan teknis budidaya bagi para pembudidaya.
- Kurangnya penerapan teknik budidaya yg sesuai dg standar budidaya oleh masyarakat.
- Terjadinya fluktuasi harga produk-produk perikanan.
- Usaha dibidang kelautan dan perikanan belum Bankable sehingga pihak perbankan sulit untuk menyalurkan kredit.
- Lemahnya kelembagaan nelayan,pembudidaya dan pelaku usaha perikanan lainnya.
- Keamanan pangan produk hasil pengolahan ikan yang belum memenuhi persyaratan mutu
- Nelayan masih tergolong miskin
- Kurangnya sarana pengawasan (Kapal Pengawas hanya 1 unit) dan dicabutnya kewenangan Kabupaten terhadap pengelolaan laut.
- Kurangnya tenaga penyuluh dan adanya penyuluh yang bukan merupakan background pendidikan perikanan.
- Produk perikanan umumnya masih dijual mentah (tanpa pengolahan) sehingga masyarakat tidak bisa memperoleh nilai tambah dari produksi mereka.
- Alokasi anggaran belum memadai

Kinerja Pelayanan Dinas perikanan
Sesuai dengan Peraturan Bupati Kabupaten Bulukumba Nomor 86 Tahun 2016 tentang Organisasi dan tata Kerja Daerah, maka Dinas perikanan Kabupaten Bulukumba yang merupakan Organisasi Perangkat Daerah berfungsi mendukung penyelenggaraan urusan pemerintah di bidang Kelautan
dan Perikanan melalui:
a. Pembinaan umum dibidang perikanan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Pembinaan teknis dibidang tehnologi perikanan dalam batas kewenangan kabupaten;
c. Penyelenggaraan pemberian ijin rekomendasi dan pembinaan usaha sesuai dengan tugasnya dalam batas kewenangan kabupaten;
d. Penyelenggaraan pembinaan, penyuluhan dan bimbingan usaha perikanan;
e. Pengkajian, penerapan teknologi anjuran ditingkat usaha tani;
f. Pembinaan pengelolaan unit pelaksana teknis Dinas perikanan;

Dalam penyelenggaraannya, Dinas perikanan Kabupaten Bulukumba mempunyai 2 indikator kinerja sasaran yakni :
1. Produksi perikanan dan kelautan yang terdiri dari :
a. Hasil budidaya perikanan.
b. Hasil perikanan tangkapan.
c. Hasil perbenihan dari Balai Benih Ikan (BBI).
d. Hasil Pengolahan hasil perikanan
2. Cakupan Pembinaan Kelompok

Adapun capaian kinerja tahun 2011 – 2015 pada Dinas perikanan Kabupaten Bulukumba berdasarkan Renstra tahun 2011-2015 disajikan pada Tabel 2.1 berikut:
Penyelenggaraan urusan Kelautan dan Perikanan ini mengemban sasaran meningkatnya produksi perikanan dan kelautan. Hasil penilaian dan analisa capaian terhadap masing-masing indikator kinerja sasaran tersebut di atas pada tahun 2015 – 2016 adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan Produksi Perikanan
Indikator ini menggambarkan total hasil produksi perikanan dan kelautan tahun 2011 - 2015. Pengukuran kinerjanya didasarkan pada peningkatan total hasil produksi perikanan dan kelautan tahun yang bersangkutan. Perkembangan hasil produksi perikanan tahun 2011 sampai dengan
tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut :


Hasil produksi perikanan tangkap mengalami peningkatan. Hal ini merupakan pengaruh dari penambahan armada penangkapan baik yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat mapun yang merupakan bantuan dari Dinas perikanan selain itu peningkatan produksi ini  ditunjang oleh perbaikan sumberdaya kelautan dan perikanan karena 5 (lima) tahun terakhir pihak DKP Kab. Bulukumba melakukan pengawasan sumber daya laut secara intensif.

Sedangkan hasil produksi budidaya ikan juga mengalami peningkatan yang cukup berarti. Peningkatan produksi budidaya ikan terjadi karena adanya upaya mengembangkan usaha perikanan air laut, air tawar dan air payau di beberapa wilayah yang potensial, baik melalui ekstensifikasi, intensifikasi usaha maupun diversifikasi komoditi.
Peningkatan produksi yang signifikan terjadi pada budidaya Rumput Laut karena usaha budidaya ini sangat mudah dilakukan oleh masyarakat dan tidak membutuhkan modal yang tinggi. Disamping itu juga adanya upaya :
- penyediaan benih ikan yang berkualitas
- peningkatan penerapan teknologi tepat guna ;
- perbaikan daya dukung lingkungan tambak dengan probiotik dan pupuk organik ;
- penyediaan prasarana perikanan budidaya di kawasan budidaya (normalisasi saluran tambak, perbaikan jaringan irigasi, pembangunan jalan produksi) ;

Disamping indikator diatas, terdapat indikator lain yaitu tingkat cakupan pembinaan kelompok yang dilakukan oleh dinas perikanan. Berdasarkan target awal RPJMD Tahun 2011-2015 jumlah kelompok yang diharapkan mendapat pembinaan sebanyak 45 Kelompok Usaha, namun ternyata selama 5 (lima) tahun anggaran tersebut jumlah kelompok yang berhasil dibina jauh melampaui target kinerja dimaksud, dimana pada Tahun 2015 jumlah kelompok yang telah dilakukan pembinaan sebesar 325 Kelompok usaha. Angka ini menunjukkan bahwa capaian target selama 5 (lima) tahun tersebut mencapai 722 %. Pencapaian target yang terlampaui ini diakibatkan karena adanya kecenderungan peningkatan anggaran dari tahun ke tahun.

Sumber : Renstra 2016 - 2021 Dinas Perikanan Kab. Bulukumba

Selasa, 02 Juli 2019

Budidaya Perikanan Sistem Polikultur

Budidaya perikanan sistem polikultur merupakan kegiatan membudidayakan dua atau lebih organisme dalam satu lahan budidaya yang sama. Tujuan polikultur yakni meningkatkan produksi dan memperoleh keuntungan dari dua atau lebih organisme yang dibudidayakan serta meningkatkan efektiktivitas dalam penggunaan lahan budidaya. Lahan budidaya yang dapat dimanfaatkan untuk sistem polikultur adalah tambak. Budidaya tambak selama ini hanya menggunakan sistem monokultur (satu organisme yang dibudidayakan) padahal budidaya polikultur mampu meningkatkan produktivitas budidaya.
Ikan bandeng, udang windu dan rumput laut merupakan komoditas perikanan yang bisa dibudidayakan dalam sistem polikultur.

Polikultur ikan bandeng, udang Windu, dan rumput laut mampu meningkatkan pertumbuhan dan memperbaiki lingkungan budidaya yang ramah lingkungan.

Kenapa demikian?

Dalam kegiatan budidaya udang menghasilkan limbah nitrogen (N) dan fosfor (P) dari sisa pakan, feses dan hasil aktivitas metabolisme. Keberadaan rumput laut seperti jenis Gracillaria sp. bisa mengakumulasi dan menyimpan bahan organisme seperti nitrogen di dalam sel-sel thalus. Limbah bahan organik yang tersimpan pada sel rumput laut akan terdegradasi melalui fotosintesis sinar matahari yang diasimilasi sehingga berbentuk energi dan sel sebagai pertumbuhan rumput laut. Keberadaan rumput laut dalam budidaya polikultur mampu mempertahankan kualitas air budidaya.
Selain itu rumput laut menyumbang pasokan oksigen dan menyerap kelebihan nutrisi dan cemaran yang bersifat toksik di perairan.
Ikan bandeng merupakan hewan akuatik pemakan pakan alami seperti plankton, lumut dan klekap sehingga mampu mengendalikan kelimpahan dua organisme tersebut.
Kotoran bandeng sebagai pupuk dan aktivitas bandeng dapat membantu mempercepat proses dekomposisi bahan organik menjadi unsur hara yang langsung dapat diserap rumput laut untuk memacu pertumbuhannya.
Dengan demikian, harapannya melalui budidaya perikanan sistem polikultur dapat meningkatkan nilai tambah pada usada budidaya, diversifikasi komoditas budidaya dan mengurangi faktor kegagalan usaha.


Minggu, 14 Oktober 2018

Urgensi Tambak Udang Vannamei Miliki SDM dan Laboratorium Handal

           
Foto bersama peserta PACT Batch 1 dan mentor kepala Bapak Subandriyo di PT CP Prima Surabaya (April,2015)

          Udah lama banget nggak nulis tentang dunia perikanan yaa. Judul diatas udah lama nangkring di draft tapi belum juga dieksekusi tulisannya. Berbicara tentang sumberdaya manusia dalam kegiatan budidaya udang vannamei tidak terlepas dari kecerdasan, keterampilan dan keluwesan tiap individu untuk menghadapi kehidupan yang keras di tambak. Memang pekerjaan menjadi seorang teknisi budidaya udang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat awam begitupula profesi sebagai laboran, asisten teknisi, mekanik, anak pakan,dan lain - lain. Semua profesi tersebut saling melengkapi untuk kesuksesan kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja masalah yang saat ini dihadapi dunia pertambakkan adalah melambatnya regenerasi SDM yang handal untuk keberlangsungan kegiatan budidaya udang vannamei. Utamanya untuk menjalani profesi sebagai teknisi tambak tidak cukup pengalaman 3 kali siklus panen bisa dianggap handal. Butuh ratusan siklus panen yang notabene bertahun-tahun waktu yang dibutuhkan agar menjadi teknisi yang handal.
Seperti yang pernah saya alami dulu saat bekerja di PT Central Proteina Prima di Laboratorium Training Center Paiton, Probolinggo proses perekrutan dan pengkaderan SDM untuk teknisi dan laboran dilakukan tidak hanya melalui pemberian materi tentang dunia pertambakkan selama 2 minggu tetapi juga mereka calon - calon teknsi dan laboran harus praktek di tambak minimal 2 tahun masa kontrak kerja.   Pada akhirnya mereka menjalani seleksi alam, orang yang benar-benar menjiwai profesinya dialah yang bertahan. Karena jujur saja profesi menjadi teknisi tambak tantangannya selain dari pekerjaannya yang dinamis juga harus mengorbankan waktu demi keluarga. Maklum saja ketika masa periode produksi 3 bulan  seorang teknisi tambak diwajibkan untuk tinggal dan kerja di lokasi tambak yang harus siaga 24 jam. Otomatis harus terpisah dengan keluarga atau jika beruntung diperbolehkan pemilik tambak untuk tinggal di mess bersama anak dan istri.

          Tantangan yang dihadapi oleh seorang teknisi dalam kegiatan budidaya udang vannamei antara lain cuaca, kondisi kesehatan udang vannamei, penyakit, manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, manajemen panen, manajemen sdm dan lain sebagainya. Seorang teknisi harus siap mental ketika dihadapkan pada kondisi cuaca yang kurang bersahabat dengan memberikan tindakan pengelolaan kualitas air agar tetap kondisinya optimal untuk budidaya. Siap berpacu dengam waktu ketika kondisi udang vannameinya terkena penyakit untuk mencari solusi terbaik. Mampu memanajerial dengan baik sumberdaya manusia yang bekerja sama untuk kesuksesan budidaya. Faktanya menjadi teknisi tambak udang vannamei  penghasilannya juga tak kalah dengan pegawai kantoran. Malah bisa dibilang penghasilan yang didapatkan jauh lebih tinggi dari pegawai kantoran. Lho kok bisa? Ya karena selain dapat gaji bulanan, teknisi mendapatkan intensif tambahan yang besarannya disesuaikan dengan hasil panen. Jadi kalo panen siklus tersebut sukses tentu pundi - pundi rupiah bisa diraup tapi jika kurang beruntung misalkan udang terserang penyakit yaa dapet sih bonus tapi tidak optimal. Hanya memang terkesan pegawai kantoran lebih moncer dengan seragam dan kantornya megah dan berAC. Sedangkan teknisi yaah boro-boro mau tampil ganteng klimis cukup kenakan baju kerja plus topi jalan berkilometer perhari untuk memantau tiap petakan tambaknya. Banyak suka duka bekerja di tambak yang menempa fisik dan mental teknisi untuk itulah profesi ini belum menjadi primadona di kalangan sarjana perikanan. Itulah yang membuat melambatnya regenerasi SDM handal di dunia pertambakkan. Sama persis dengan regenerasi petani handal yang makin sulit di era globalisasi.

           Profesi laboran juga tidak bisa dianggap sepele lho dalam dunia pertambakkan. Karena data kualitas air yang dihasilkan menjadi cerminan dari aktivitas budidaya dan dapat dijadikan panduan tindakan  dalam kegiatan budidaya. Laboran meneliti kualias air budidaya dari aspek fisik, kimia air, plankton dan bakteri. Mereka dituntut menguasai materi dan terampil dalam praktek laboratoriumnya. Tidak hanya itu mereka juga dituntut untuk memiliki integritas dalam bekerja. Laboran yang  handal menghasilkan laporan analisa kualitas air di laboratorium mendekati dengan kondisi aktual di tambak. Laboran seyogyanya tidak hanya menelan mentah - mentah dan praktek sesuai prosedur yang ada tanpa tahu ilmu yang terkandung di dalamnya. Untuk itulah harus didukung oleh mentor - mentor yang berpengalaman dan tidak pelit ilmu. Selain itu juga jangan lupa fasilitas laboratorium haruslah dipenuhi sesuai dengan SOP (standar operational procedur). Jangan harap data laboratorium bisa diandalkan kalau fasilitas terbatas dan SDM abal - abal. Eeh ...
Gedung Training Center PT. CP Prima Paiton Probolinggo th 2016 (diambil dengan efek panorama)

            Laboratorium merupakan salah satu fasilitas vital dalam kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja pengadaan laboratorium yang sesuai SOP tidaklah murah. Karena di dalam laboratorium dibutuhkan berbagai peralatan seperti instrumen, glassware, alat pendukung lainnya, instalasi listrik mumpuni dan tentunya bahan untuk analisa laboratorium Setidaknya pengusaha budidaya tambak harus menyediakan + Rp 300.000.000,- agar berdiri laboratorium di area tambaknya harga tersebut belum termasuk gedung laboratoriumnya ya.  Laboratorium jangan dilihat dari mahalnya rupiah tapi nilailah dari sebuah investasi jangka panjang dan manfaat yang akan didapatkan. Yaitu mampu menghasilkan data laboratorium yang aktual guna menunjang kegiatan budidaya udang vannamei. Tentu ya harus disempurnakan dengan ketersediaan laboran yang handal. Percuma dong punya laboratorium dengan alat bahan lengkap sesuai SOP, eeh laborannya hanya bisa cek salinitas aja. Haha. Mubazir yaa. Sebenarnya bisa saja pengecekan kualitas air menggunakan test kit, tetapi jika dihitung harga beli test kit dengan penggunaannya yang terbatas malah lebih boros. Selain nominal rupiah yang cukup lumayan pengusaha tambak biasanya maju mundur syantik (baca : enggan) kalau disarankan membangun laboratorium mandiri. Lebih memilih cek pakai test kit, atau dicek melalui laboratorium komersil yang berbayarnya juga tidak murah untuk tiap parameter dan jumlah sample. Bandingkan jika punya laboratorium mandiri data lengkap tiap petakan bisa didapatkan secara rutin tiap minggu, berat ongkos di awal namun hemat dan manfaatnya jauh lebih besar. Solusinya bisa membangun laboratorium mandiri yang didirikan dari urunan beberapa pengusaha/pemilik tambak. Jadi tinggal bagi waktu pengecekan sample air dari masing - masing tambak. Biaya bisa lebih murah tanpa harus kehilangan data kualitas air. 

              Urgensi tersedianya SDM dan laboratorium handal untuk dunia budidaya tambak udang vannamei tidak main - main, jika Indonesia mengandalkan komiditi udang vannamei untuk produk ekspor perikanan. Perusahaan swasta seperti PT Central Proteina Prima rela menggelontorkan dana untuk menciptakan generasi teknisi dan laboran yang handal melalui training profesi teknisi yang diberi nama Profesional Aquaculture Technician Training (PACT).  Selain itu juga menyediakan dana untuk mendirikan laboratorium yang sesuai standar dan mengadakan pelatihan berkala untuk para laborannya. Karena mereka menyadari roda bisnis perusahaannya tergantung akan baik buruknya SDM yang dimiliki. Jika tidak ada regenerasi SDM bisa-bisa usaha budidaya  tambak terhenti.Tentu akan mengancam produksi nasional udang vannamei dan Indonesia kehilangan salahsatu sumber devisanya. Semoga tidak hanya pihak swasta yang sibuk melahirkan SDM perikanan yang handal tetapi harapannya Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan serta BUMN menjadi ikut terpacu untuk bersama - sama meningkatkan kualitas SDM yang bergerak di bidang perikanan. Aamiin ya rabb.


Rabu, 26 Juli 2017

Pengamatan & Penghitungan Plankton


Mikroskop Olympus CX21 (Dokumentasi Pribadi)


1.      Pengertian
Plankton adalah organisme mikroskopik yang pergerakkannya pasif (bila ada gerakan biasanya lemah) dan dipengaruhi oleh arus yang hidup melayang-layang dipermukaan maupun dasar perairan. Plankton terdiri dari Fitoplankton & Zooplankton.

2.      Tujuan   
Untuk mengetahui kepadatan plankton dalam satuan sel/ml

3.      Metode Analisa  
Mikroskopis

4.      Alat dan Bahan  
No
Alat
Merk
Spesifikasi
1
Mikroskop
Olympus
CX 21
2
Haemocytometer
Assistent
Neubaeur Improved
3
Pipet Tetes
Lokal
Panjang
4
Cover glass
Menzel Glaser
24 mm x 24 mm
5
Handtally counter
SDI
Max 9999 count

No
Bahan
1
Air sampel
2
Aquades
3
Tisue

5.    Prosedur kerja
1.        Siapkan alat dan bahan pengamatan plankton
2. Bilas permukaan Haemocytometer menggunakan aquadest, lalu keringkan dengan menggunakan tisu
3.        Ambil sedikit aquadest dan usap pada tanggul Haemocytometer lalu rekatkan cover glass
4.        Homogenkan air sampel menggunakan pipet tetes
5.        Masukkan sampel ke salah satu sisi haemocytometer
6.     Meletakkan haemocytometer di meja preparat, tekan tombol ON dan atur besaran intensitas cahaya.  Pengamatan penghitungan mikroskop dilakukan dengan mendekatkan mata pada lensa okuler kemudian lanjutkan dengan mengatur fokus dan perbesaran menggunakan lensa obyektif 40 x sembari memutar makrometer dan mikrometer hingga tampak kuadran pada haemocytometer.
7.   Atur posisi haemocytometer pada kuadran E kemudian putar lensa objektif ke 100x dan lakukan penghitungan semua jenis plankton yang terdapat pada kuadran E sesuai alur (zigzag) dengan bantuan handtally counter dan catat hasilnya
8.      Menghitung jenis plankton yang tidak ditemukan di kuadran E pada kuadran A, C, G dan I dan catat hasilnya
9.    Kelompokkan jenis (genus) plankton  yang ditemukan sesuai kelas plankton yaitu Green Algae, Blue Green Algae, Diatom, Euglenophyta, Cryptophyta, Protozoa dan Zooplankton.
10.    Konversikan hasil penghitungan plankton yaitu
a.       Jika plankton dihitung pada kuadran E maka n (jumlah individu) x 104 sel/ml
b.      Jika plankton dihitung pada kuadran A, C, G, I maka n x 104 sel/ml
                                                                                            4
11.  Menghitung prosentase kelas plankton dengan rumus
% kelas plankton = jumlah bagian plankton per kelas  X  100%
                                 Jumlah plankton total
12.  Setelah selesai melakukan pengamatan plankton, atur intensitas cahaya pada posisi minimal, tekan OFF, kemudian putar lensa objektif ke 40x, ambil haemocytometer kemudian bersihkan dari sisa sampel menggunakan aquades dan keringkan dengan tissue. Simpan kembali haemocytometer pada kotak.

NB : Penghitungan plankton dilakukan setelah pelaku pengamat plankton sudah memahami tentang mikroskop, berbagai jenis plankton baik nama,warna,bentuk, gerakan serta pengelompokkan plankton dan memahami dasar penghitungan kepadatan plankton. 

TABEL PENGELOMPOKKAN PLANKTON
Green Algae
Blue Green Algae
Diatom
Euglenophyta
Protozoa ,  Zooplankton
Cryptophyta / Golden Green Algae
         Actinastrum
         Ankistrodesmus
         Centritractus
         Chlamydomonas
         Chloococcum
         Chlorella
         Chodatella
         Coelochaete
         Dictyosphaerium
         Oocystis
         Prymnesium
         Treubaria
         Westella

         Anabaena
         Anabaenopsis        
         Apanochapsa        
         Chroococcus         
         Coelosphaerium 
         Cosmarium  
         Gleocapsa   
         Gomphosphaeria 
         Lingbya
         Merismopedia 
         Microcystis 
         Oschillatoria 
         Spirulina

         Amphipora  
         Amphora
         Cerataulina  
         Chaetoceros           
         Coscinodiscus        
         Cyclotella
         Cylindropyxis        
         Gyrosigma  
         Mellosira
         Monorapidium       
         Navicula
         Nitzchia
         Pleurosigma           
         Rhizosolenia          
         Skeletonema          
         Streptoteca  
         Thalassiosira          
         Tribonema

         Euglena
         Phacus

 Actinophrys/  Acanthocystis 
       Allona
       Amoeba
  Askenesia volvox 
       Brachionus   
       Ciliata
       Coleps hirtus
       Ephipanes
       Euplotes
       Holophrya
       Paramecium 
       Strombidinopsis 
       Tintinopsis  

       Cryptomonas
       Gonyostomum

Contoh penghitungan plankton
Pada petak A dihitung plankton sebagai berikut :
Kuadran E
Chlorella = 15 individu
Cylotella = 3 individu
Oocystis = 5 individu
Oschillatoria = 25 individu
Westella = 7 individu
Euglena = 1 individu

Kuadran A,C,G,I
Brachionus = 1 individu
Gonyostomum = 1 individu
Mellosira = 2 individu
Nitzchia = 4 individu

Hasil penghitungan
a.                  Green Algae
-          Chlorella = 15 x 104 = 150.000 sel/ml
-          Oocystis = 5 x 104 = 50.000 sel/ml
-          Westella = 7 x 104 = 70.000 sel/ml
Total green algae  = 150.000 + 50.000 + 70.000 = 270.000 sel/ml
b.                 Blue Green Algae
-          Oschillatoria = 25 x 104 = 250.000 sel/ml
Total blue green algae  = 250.000 sel/ml
c.      Diatom
-          Cyclotella = 3 x 104 = 30.000 sel/ml
-          Mellosira  = 2 x 104 = 5.000 sel/ml
                    4
-          Nitzchia  =   4 x 104 = 10.000 sel/ml
                    4
Total diatom = 30.000 + 5.000 + 10.000 = 45.000 sel/ml
d.    Zooplankton
-          Brachionus  =   1 x 104 = 2.500 sel/ml
                         4
Total zooplankton = 2.500 sel/ml
e.      Cryptophyta
-          Gonyostomum  =   1 x 104 = 2.500 sel/ml
                               4
Total cryptophyta = 2.500 sel/ml

Jumlah plankton total
= Green algae + Blue Green Algae + Diatom + Zooplankton + Cryptophyta
= 270.000 sel/ml + 250.000 sel/ml + 45.000 sel/ml + 2.500 sel/ml + 2.500 sel/ml
= 570.000 sel/ml
= 5,70 x 105 sel/ml

Persentase plankton
% Green Algae = 270.000 x 100%  = 47,368 %
                             570.000
% BGA             = 250.000 x 100%  = 43,86 %
                             570.000
% Diatom         = 45.000 x 100%    =  7,895%
                             570.000
% Zooplankton = 2.500 x 100%    =   0,439 %
                             570.000
% Cryptophyta s = 2.500 x 100%   =  0,439 %
                                 570.000                                    +

                                                             100.0 %


Semoga bermanfaat ya ...
With love, 
Puput

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...