Rabu, 26 Juli 2017

Pengamatan & Penghitungan Plankton


Mikroskop Olympus CX21 (Dokumentasi Pribadi)


1.      Pengertian
Plankton adalah organisme mikroskopik yang pergerakkannya pasif (bila ada gerakan biasanya lemah) dan dipengaruhi oleh arus yang hidup melayang-layang dipermukaan maupun dasar perairan. Plankton terdiri dari Fitoplankton & Zooplankton.

2.      Tujuan   
Untuk mengetahui kepadatan plankton dalam satuan sel/ml

3.      Metode Analisa  
Mikroskopis

4.      Alat dan Bahan  
No
Alat
Merk
Spesifikasi
1
Mikroskop
Olympus
CX 21
2
Haemocytometer
Assistent
Neubaeur Improved
3
Pipet Tetes
Lokal
Panjang
4
Cover glass
Menzel Glaser
24 mm x 24 mm
5
Handtally counter
SDI
Max 9999 count

No
Bahan
1
Air sampel
2
Aquades
3
Tisue

5.    Prosedur kerja
1.        Siapkan alat dan bahan pengamatan plankton
2. Bilas permukaan Haemocytometer menggunakan aquadest, lalu keringkan dengan menggunakan tisu
3.        Ambil sedikit aquadest dan usap pada tanggul Haemocytometer lalu rekatkan cover glass
4.        Homogenkan air sampel menggunakan pipet tetes
5.        Masukkan sampel ke salah satu sisi haemocytometer
6.     Meletakkan haemocytometer di meja preparat, tekan tombol ON dan atur besaran intensitas cahaya.  Pengamatan penghitungan mikroskop dilakukan dengan mendekatkan mata pada lensa okuler kemudian lanjutkan dengan mengatur fokus dan perbesaran menggunakan lensa obyektif 40 x sembari memutar makrometer dan mikrometer hingga tampak kuadran pada haemocytometer.
7.   Atur posisi haemocytometer pada kuadran E kemudian putar lensa objektif ke 100x dan lakukan penghitungan semua jenis plankton yang terdapat pada kuadran E sesuai alur (zigzag) dengan bantuan handtally counter dan catat hasilnya
8.      Menghitung jenis plankton yang tidak ditemukan di kuadran E pada kuadran A, C, G dan I dan catat hasilnya
9.    Kelompokkan jenis (genus) plankton  yang ditemukan sesuai kelas plankton yaitu Green Algae, Blue Green Algae, Diatom, Euglenophyta, Cryptophyta, Protozoa dan Zooplankton.
10.    Konversikan hasil penghitungan plankton yaitu
a.       Jika plankton dihitung pada kuadran E maka n (jumlah individu) x 104 sel/ml
b.      Jika plankton dihitung pada kuadran A, C, G, I maka n x 104 sel/ml
                                                                                            4
11.  Menghitung prosentase kelas plankton dengan rumus
% kelas plankton = jumlah bagian plankton per kelas  X  100%
                                 Jumlah plankton total
12.  Setelah selesai melakukan pengamatan plankton, atur intensitas cahaya pada posisi minimal, tekan OFF, kemudian putar lensa objektif ke 40x, ambil haemocytometer kemudian bersihkan dari sisa sampel menggunakan aquades dan keringkan dengan tissue. Simpan kembali haemocytometer pada kotak.

NB : Penghitungan plankton dilakukan setelah pelaku pengamat plankton sudah memahami tentang mikroskop, berbagai jenis plankton baik nama,warna,bentuk, gerakan serta pengelompokkan plankton dan memahami dasar penghitungan kepadatan plankton. 

TABEL PENGELOMPOKKAN PLANKTON
Green Algae
Blue Green Algae
Diatom
Euglenophyta
Protozoa ,  Zooplankton
Cryptophyta / Golden Green Algae
         Actinastrum
         Ankistrodesmus
         Centritractus
         Chlamydomonas
         Chloococcum
         Chlorella
         Chodatella
         Coelochaete
         Dictyosphaerium
         Oocystis
         Prymnesium
         Treubaria
         Westella

         Anabaena
         Anabaenopsis        
         Apanochapsa        
         Chroococcus         
         Coelosphaerium 
         Cosmarium  
         Gleocapsa   
         Gomphosphaeria 
         Lingbya
         Merismopedia 
         Microcystis 
         Oschillatoria 
         Spirulina

         Amphipora  
         Amphora
         Cerataulina  
         Chaetoceros           
         Coscinodiscus        
         Cyclotella
         Cylindropyxis        
         Gyrosigma  
         Mellosira
         Monorapidium       
         Navicula
         Nitzchia
         Pleurosigma           
         Rhizosolenia          
         Skeletonema          
         Streptoteca  
         Thalassiosira          
         Tribonema

         Euglena
         Phacus

 Actinophrys/  Acanthocystis 
       Allona
       Amoeba
  Askenesia volvox 
       Brachionus   
       Ciliata
       Coleps hirtus
       Ephipanes
       Euplotes
       Holophrya
       Paramecium 
       Strombidinopsis 
       Tintinopsis  

       Cryptomonas
       Gonyostomum

Contoh penghitungan plankton
Pada petak A dihitung plankton sebagai berikut :
Kuadran E
Chlorella = 15 individu
Cylotella = 3 individu
Oocystis = 5 individu
Oschillatoria = 25 individu
Westella = 7 individu
Euglena = 1 individu

Kuadran A,C,G,I
Brachionus = 1 individu
Gonyostomum = 1 individu
Mellosira = 2 individu
Nitzchia = 4 individu

Hasil penghitungan
a.                  Green Algae
-          Chlorella = 15 x 104 = 150.000 sel/ml
-          Oocystis = 5 x 104 = 50.000 sel/ml
-          Westella = 7 x 104 = 70.000 sel/ml
Total green algae  = 150.000 + 50.000 + 70.000 = 270.000 sel/ml
b.                 Blue Green Algae
-          Oschillatoria = 25 x 104 = 250.000 sel/ml
Total blue green algae  = 250.000 sel/ml
c.      Diatom
-          Cyclotella = 3 x 104 = 30.000 sel/ml
-          Mellosira  = 2 x 104 = 5.000 sel/ml
                    4
-          Nitzchia  =   4 x 104 = 10.000 sel/ml
                    4
Total diatom = 30.000 + 5.000 + 10.000 = 45.000 sel/ml
d.    Zooplankton
-          Brachionus  =   1 x 104 = 2.500 sel/ml
                         4
Total zooplankton = 2.500 sel/ml
e.      Cryptophyta
-          Gonyostomum  =   1 x 104 = 2.500 sel/ml
                               4
Total cryptophyta = 2.500 sel/ml

Jumlah plankton total
= Green algae + Blue Green Algae + Diatom + Zooplankton + Cryptophyta
= 270.000 sel/ml + 250.000 sel/ml + 45.000 sel/ml + 2.500 sel/ml + 2.500 sel/ml
= 570.000 sel/ml
= 5,70 x 105 sel/ml

Persentase plankton
% Green Algae = 270.000 x 100%  = 47,368 %
                             570.000
% BGA             = 250.000 x 100%  = 43,86 %
                             570.000
% Diatom         = 45.000 x 100%    =  7,895%
                             570.000
% Zooplankton = 2.500 x 100%    =   0,439 %
                             570.000
% Cryptophyta s = 2.500 x 100%   =  0,439 %
                                 570.000                                    +

                                                             100.0 %


Semoga bermanfaat ya ...
With love, 
Puput

Jumat, 21 Juli 2017

Mengenal Bakteri & Uji Biokimia Bakteri

Anatomi Bakteri https://thumbs.dreamstime.com/z/bacteria-cell-anatomy-medical-illustration-83999582.jpg

A. Pengertian Bakteri
         Nama bakteri berasal dari kata “bakterion” (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Bakteri dapat didefinisikan sebagai mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil (meskipun ada tapi sedikit), berkembang biak dengan pembelahan diri, dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. 

B. Morfologi Bakteri

1. Bentuk dasar bakteri
  •      Batang (basil) : monobasil, diplobasil, streptobasil
  •      Bulat (coccus) : monokokus, diplokokus, streptokokus, tetrakokus
  •      Lengkung (koma, vibrion, spiral) : vibrio, spirilium
      2. Anatomi Bakteri 
  •        Kapsul              : bukan merupakan bagian anatomi bakteri karena hasil dari ekskresi bakteri
  •        Dinding sel       :  untuk memberi bentuk, kekuatan dan perlindungan terhadap sel. Terletak  antara kapsul dan membrane sel. 
  •         Membran sel    :  selaput pembungkus sitoplasma, bagian vital bakteri seperti    pengaturan osmoregulasi. Jika membran sel rusak maka bakteri akan mati. 
  •        Sitoplasma        : cairan dalam sel
  •        Nukletoid          : tidak mempunyai dinding sel
  •        Plasmid             : materi genetic non esensial, tidak berkaitan dengan viabilitas     (daya hidup)
  •        Ribosoma          : tempat sintesa protein
  •        Flagela              : membantu pergerakan 
  •        Fili (banyak), Pilus (tunggal) : alat untuk melekat, menempel pada makanan dan melakukan  konjugasi (reproduksi seksual).

     3. Komposisi biokimia sel bakteri 
         Komposisi biokimia sel bakteri yang  terdiri dari air bebas dan terikat sekitar 70 – 85%          dan bahan organic dan anorganik  15 – 30%. Fungsi air bagi bakteri yaitu 
  •         Ikut ambil bagian dalam semua proses kimia
  •         Sumber oksigen bagi bahan organic sel
  •          Pelarut nutrient sehingga dapat diserap
  •          Menyerap panas yang dihasilkan selama metabolisme berlangsung
Menurut Pelczar et al (2008), dinding sel merupakan struktur dasar sel bakteri yang tersususn dari peptidoglikan (gabungan protein dan polisakarida). Ketebalan dari peptidoglikan dapat membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal sedangkan bakteri gram negatif memiliki peptidoglikan tipis. Membran plasma bakteri adalah membran yang menyelubungi sitoplasma yang tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein. Sitoplasma adalah cairan sel. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA. Flagellum atau bulu cambuk sebagai alat gerak pada bakteri yang berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. 
C. Perkembangbiakan Bakteri
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua. Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA. Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya, transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri), konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif (Pelczar et al, 2008).

 D. Penggolongan Bakteri
       1.Berdasarkan kebutuhan oksigen
                a.Aerob : menggunakan oksigen bebas
  •     Obligate aerob  : bakteri yang tidak dapat hidup tanpa oksigen
  •       Aerob fakultatif : bakteri aerob yang dapat hidup dalam kondisi anaerob
  •        Mikroaerofil : bakteri yang butuh oksigen dalam jumlah sedikit
       b. Anaerob : menggunakan oksigen terikat dalam bahan organic seperti oksigen yang        direduksi pada nitrat
  •       Obligate anaerob : bakteri yang dapat hidup tanpa ada oksigen
  •       Aerotoleran : bakteri yang tidak mati dengan adanya oksigen
  •        Kapnofil : bakteri anaerob yang memerlukan oksigen rendah dan karbon tinggi
2. Berdasarkan sumber energi
  •   Fototrof : mendapatkan energi dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis
  •  Kemotrof : mendapatkan energy dari reaksi oksidasi bahan kimia
       3. Berdasarkan donor electron
  •      Litotrof : menggunakan donor electron bahan anorganik
  •        Organotrof : menggunakan donor electron bahan organik
4. Berdasarkan sumber karbon
  • Autotrof : menggunakan karbon anorganik (CO2, HCO3-, CO3 2-) sebagai sumber karbonnya à fitoplankton
  • Heterotrof : menggunakan bahan organic sebagai sumber karbonnya (C, H, N, O, P)  à zooplankton

E. Uji Biokimia Bakteri

Uji biokimia dilakukan untuk identifikasi bakteri terdiri dari uji TSIA, indol, rediksi nitrat, urease, gelatin, O/F, LIA, Simmon’s Citrate, gula, oksidase dan katalase.
1.   Uji TSIA (Triple Sugar Iron Agar)
Uji TSIA bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri yang berasal dari kelas enterobacteriaceae. Uji Triple Sugar Iron agar (TSIA) merupakan metode untuk melihat kemampuan mikroorganisme dalam memfermentasikan gula. Medium TSIA mengandung 3 macam gula yaitu glukosa, laktosa, dan sukrosa serta terdapat indikator fenol merah dan FeSO4 untuk memperlihatkan pembentukan H2S yang ditunjukkan dengan adanya endapan hitam. Hasil positif ditandai dengan munculnya warna kuning dan merah. Warna kuning muncul karena adanya fermentasi bakteri terhadap glukosa, sukrosa, ataupun laktosa dalam konsentrasi tinggi sedangkan dalam konsentrasi gula yang rendah hanya nampak warna merah. Sedangkan hasil positif adanya H2S ditandai dengan adanya warna hitam (Maharani, 2012).
2.   Uji Indol
Uji indol bertujuan untuk mengatahui apakah suatu bakteri dapat menghasilkan gugus indol dari triptofan. Suatu bakteri yang memiliki enzim tritofanase akan mampu menghidrolisis triptofan mnjadi prodduk-produk metabolik seperti indol, asam piruvat, dan ammonia. Keberadaan gugus indol dapat didteksi dengan menggunakan reagent Kovacs. Indol yang bereaksi dengan reagen Kovacs akan menghasilkan cincin warna merah pada permukaan medium (Maharani, 2012).
3.   Uji Reduksi nitrat
Keberadaan nitrit dalam media diuji dengan penambahan asam sulfanilat dan α-naftilamin yang akan bereaksi dengan nitrit yang ditunjukkan dengan perubahan warna media menjadi merah atau merah muda. Pada tabung yang tidak menunjukkan perubahan warna, ditambahkan bubuk Zn untuk melihat reduksi nitrat menjadi nitrit. Bila didapatkan nitrat dalam medium, maka kaldu berubah warna menjadi merah muda atau merah karena Zn mereduksi nitrat menjadi nitrit dan nitrit ini bereaksi dengan reagen uji dan terbentuk warna merah. Reduksi nitrat terjadi pada kebanyakan bakteri anaerob fakultatif dengan menggunakan nitrit. O2 dapat menghambat reduksi nitrat sehingga dalam reaksi, O2 dihabiskan kemudian menggunakan nitrat pada bakteri anaerob ( Lay, 2004 ).
4.   Uji Urease
Urease broth merupakan media differensial yang dapat membedakan bakteri penghasil eksoenzim yaitu enzim urease (untuk menghidrolisa urea menjadi amonia karbondioksida). Kandungan Urease broth meliputi Buffer, Urea, sedikit nutrient, indicator phenol red. Phenol red berubah jadi kuning →lingkungan asam , berubah merah muda →lingkungan basa. Prinsip uji urease yaitu media urea terdegradasi menjadi amoniak menyebabkan lingkungan basa, maka media menjadi merah muda . Sebagian besar bakteri golongan enteric dapat mendegrasi urea, tetapi lambat. Fungsi uji urease adalah mendeteksi bakteri yang dapat mendegradasi dengan cepat “urease- positif” (Anonim, 2011).
5.   Uji Gelatin
Uji gelatin bertujuan untuk mengetahui apakah suatu bakteri memiliki enzim gelatinase yang mampu mengidrolisis gelatin atau tidak. Jika pada uji ini hasil positif maka ditandai dengan adanya pencairan gelatin, tetapi jika hasil positif maka gelatin tetappadat (Maharani, 2012).
6.   Uji O/F (Oksidatif/Fermentatif)
Uji oksidatif fermentasi bertujuan untuk mengetahui  apakah suatu bakteri mampu melakukan fermentasi dan oksidasi, yang ditandai dengan munculnya warna kuning pada medium OF. Pada uji OF jika organisme oksidatif terjadi apabila terlihat perubahan warna pada media yang terbuka, sedangkan organisme fermentatif dapat diindikasikan dengan melihat tidak adanya perubahan warna pada media yang tertutup (Fahri, 2008).
7.   Uji LIA (Lysine Iron Agar)
Uji LIA pada bakteri bertujuan untuk melihat kemampuan mikroorganisme dalam mendekarboksilase lisin membentuk amin kadaverin yang bersifat basa, dimanaa indikator bromkresol ungu dari warna coklat berubah menjadi warna ungu (reaksi positif). Reaksi ini dapat disertai atau tidak disertai dengan pembentukan gas (adanya gelembung/pecahnya agar di daerah tusukan atau adanya endapan hitam) (Rifa, 2012).
8.   Uji Gula
Uji gula-gula di gunakan untuk melihat adanya kemampuan bakteri dalam memfermentasikan karbohidrat menjadi asam-asam organik, yaitu dengan adanya perubahan warna indikator yang terdapat dalam pemberian warna merah menjadi warna kuning. Dimana mokroorganisme memperoleh energi dari substrat berupa karbohidrat yang selanjutnya di fermentasi menjadi asam-asam organik disertai atau tidak terbentuknya gas. Organisme-organisme yang berbeda akan menggunakan karbohidrat yang berbeda tergantung dari komponen enzim yang dimilikinya (Anggi, 2012).
9.   Uji Simmon’s Citrate
Uji Simmon’s Citrate digunakan untuk melihat kemampuan organisme enteric berdasarkan kemampuan memfermentasi sitrat sebagai sumber karbon. Perbenihan Simmon’s Citrate ini mengandung indicator biru bromtimol yang akan berubah menjadi biru pada reaksi positif dan tetap hijau jika reaksi negative (Anggi, 2012).
10.  Uji Oksidase
Uji oksidase bertujuan untuk membedakan bakteri berdasarkan aktivitas sitokromoksidase. Enzim-enzim oksidase memainkan peran yang vital dalam pelaksanaan system transport electron pada respirasi aerob. Sotokrom oksidase mengkatalisis oksidase dari sitokrom yang tereduksi oleh oksigen molekular (O²), menghasilkanpembentukan HO atau HO. Uji oksidase merupakan alat untuk membedakan antara anggota-anggota dalam genius Neisseriadan Pseudomonas, yang merupakan oksidase positif, dan Enterobacteriaceae yang merupakan oksidase negative. Kemampuan bakteri untuk menghasilkan sitokrom oksidase dapat ditunjukkan dengan penambahan pereaksi uji p-aminodimetilanilin oksalat, terhadap koloni-koloni yang ditumbuhkan pada suatu media agar. Pereaksi merah muda cerah ini berperan sebagai substrat buatan, memberikan elektron dan karenanya akan teroksidasi menjadi senyawa berwarna kehitaman dan oksigen bebas. Setelah penambahan pereaksi uji, terjadinya warna merah muda, kemudian merah marun, dan pada akhirnya warna kehitaman pada permukaan koloni menandakan dihasilkannya sitokrom oksidase dan menunjukkan hasil positif. Tidak terjadinya perubahan warna, atau warna merah muda cerah pada koloni, menandakan tidak adanya aktivitas oksidase, menunjukkan hasil uji yang negatif (Rifa, 2012).
11.  Uji Katalase
Uji katalase bertujuan untuk mengetahui adanya enzim katalase yang dihasilkan oleh suatu bakteri untuk memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Peroksida merupakan senyawa yang sangat berbahaya bagi bakteri karena merupakan gas yang bersifat toksik yang menyebabkan rusaknya sel-sel bakteri. Enzim katalase pada bakteri dapat dideteksi dengan penambahan substrat H2O2. Hasil positif dari aktivitas katalase positif ditandai dengan adanya gelembung gas O2 (Maharani, 2012).


Senin, 03 Juli 2017

Mendidik Ibu, Mendidik Satu Generasi

Seorang ibu yang sedang mendidik anaknya (sharingdisana.com)

Terinspirasi dari rutinnya sahabat saya Dwi Rohma yang memposting kegiatan belajar bersama putri kecilnya yang bernama Ilma di facebook membuat saya tergerak ingin tahu metode mendidiknya. Seru sekali melihat balita perempuan itu aktif belajar dari berbagai materi yang disajikan ibunya setiap sore. Dwi Rohma sebagai ibu muda tidak hanya mengembangkan minat membaca putri kecilnya, tapi membuat sendiri berbagai media belajar dari benda – benda yang mudah didapatkan di lingkungan rumah. Tentu hal itu mendorong perasaan suka belajar pada anak. Karena belajar bukan hanya tentang pandai  calistung (baca, tulis dan hitung). Ilma, tumbuh menjadi anak yang suka belajar dan akhirnya memahami. Tugas orang tua dan guru bukan hanya dituntut untuk bisa, tapi bagaimana anak itu menyukai belajar dengan berbagai macam ilmu. Ketika anak - anak tertarik dan menyukai belajar karena metode belajar yang berbeda dengan konvensional maka bukan hanya bisa tapi mereka bisa memahami dan mengembangkan ilmu itu. Ketertarikan saya berlanjut dengan perbincangan dengan Dwi via whatsapp. Ternyata Dwi telah bergabung aktif di Institut Ibu Profesional (IIP) yang membuatnya terlihat berbeda dari kebanyakan Ibu dalam mendidik anaknya. Saya sendiri insya allah bergabung di IIP batch V pada bulan September 2017. Jadi, apa sih Institut Ibu Profesional (IIP)? Rasanya saya sendiri belum pantas menjawabnya karena belum tergabung pada komunitas tersebut. Alangkah baiknya pertanyaan itu dengan menggali lebih jauh tentang IIP via internet ya, bisa googling atau menengok videonya di youtube.
Mirisnya saat ini terlihat lumrah saja, balita asik bermain sebuah telepon genggam atau tab. Karena disadari atau tidak kita membuat karakter anak menjadi apatis terhadap lingkungan. Sebagai orangtua seyogyanya bisa mendampingi dan memberikan batasan pada anak untuk bermain dengan gadget. Faktanya penelitian dari Universitas Leeds dan Universitas Manchester and Institute of Cancer Research menyatakan bahwa penggunaan gadget utamanya telepon genggam yang mengeluarkan radiasi microwave dapat menghancurkan sel – sel otak balita. Selain itu, menyebabkan menurunnya kemampuan interaksi anak terhadap lingkungan, kurang berminat bermain di alam, merusak penglihatan dan menganggu perkembangan psikologis anak.
Saya adalah anak yang dibesarkan pada generasi era tahun 90-an yang notabene masih banyak didominasi dengan aktivitas permainan tradisional tanpa gadget, mengaji dan aktivitas lainnya. Berbeda halnya dengan anak yang dibesarkan di era milenial ini, gadget seperti kebutuhan utama dalam aktivitas keseharian. Tidak lagi suara riuh ramai di lapangan sepakbola, taman, bahkan mushola untuk mengaji. Ingatan saya kembali ke masa kanak – kanak. Kenapa saya suka membaca buku? Ternyata hal itu tidak serta merta instan saya dapatkan. Aktivitas membaca itu telah lebih dulu dilakukan ibu saya semenjak saya balita. Teringat sebelum tidur, ibu saya dengan telaten membacakan berbagai buku dongeng. Saya mungkin waktu itu hanya tertarik dengan gambar dan suara ibu saya. Menginjak usia sekolah, orangtua saya rutin membelikan majalah bacaan anak – anak seperti Bobo dan Mentari. Hayo, pasti anak generasi 90-an pasti familiar lah dengan majalah Bobo. Ingat pasti dengan berbagai tokoh karakter bergambar kelinci dengan berbagai konten yang sangat pas dibaca oleh anak – anak. Saat ini sudah banyak sekali alternatif buku bacaan dengan konten berkualitas untuk anak – anak.
Selain itu saat saya terima rapor, saya selalu diajak kedua orangtua saya ke Gramedia. Bebas memilih buku yang saya suka. Lantas perlahan semua itu terakumulasi, semenjak SMP saya rajin mengunjungi perpustakaan umum di Kota Malang untuk meminjam buku. Tidak hanya buku pelajaran, novel, pengetahuan umum say baca. perbedaan cara mendidik ibu saya terlihat pada adik laki – laki saya. Yang sedari kecil tidak dibiasakan membaca buku seperti saya. Tampak nyata, dia jarang sekali membaca bahkan menyukai membaca buku teks seperti saya. Sampai saat ini, saya selalu menyempatkan untuk membeli dan membaca buku.  Tidak hanya itu, aktivitas membaca saya terakumulasi dengan kesukaan saya dalam menulis. Sebagai orang tua kita harus kreatif untuk memberikan berbagai aktivitas dalam mendidik anak yang berpengaruh pada kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional.  Namun semua itu kembali kepada pilihan dan komitmen orangtuanya.
Saat ini saya juga sudah menjadi seorang ibu. Dalam KBBI, ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang, sebutan untuk wanita yang sudah bersuami, dan panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun belum. Ya saya termasuk pada pengertian ibu yang kedua dan ketiga. Kita sebagai perempuan, tidak harus menunggu untuk menikah dan memiliki anak untuk memantaskan diri sebagai ibu. Lebih cepat kita belajar memahami peran kita sesungguhnya dalam kehidupan menjadi lebih baik. Saya sadar ilmu mendidik anak itu tidak instan. Tidak bisa serta merta disamaratakan pola mendidik anak seperti mendidik anak di zaman dulu kita dibesarkan. Karena dunia terus berubah. Suka ataupun tidak, anak – anak kita nantinya akan hidup di zamannya yang akan berbeda jauh dengan zaman ini. Sudah siapkah kita menjadi individu pembelajar ? sudah cukupkah ilmu kita ? saya sebagai individu manusia, menyadari saya hanyalah manusia yang harus terus belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.
 Sudah saatnya kita sebagai perempuan, harus menuntut ilmu sebagai bekal dalam universitas kehidupan. Dari ilmu yang kita pahami itu, maka kita bisa mendidik kepada anak – anak kita. Masa iya sih, kita mengajarkan hal – hal biasa seperti yang kita dulu kita terima. Kita dulu terbiasa untuk menerima informasi menelannya mentah – mentah. Begitu saja mempercayainya, tanpa pernah tertarik untuk bertanya. Sudah seyogyanya kita berubah, membiasakan untuk menggali ilmu dibalik berbagai pengetahuan. 5W 1H (What, Why, When, Where, Who dan How)  itu yang harus kita pelajari dan pahami. Karena anak – anak kita berhak mendapatkan pendidikan terbaik dari ibunya. Harapan setiap ibu, anak – anak kita nantinya lebih baik dalam segi karakter, cara berpikir dan bertindak.  Sebelum mendidik anak, seorang ibu harus mendidik dirinya sendiri. Saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Belajar tidak ada kata terlambat bukan? Semangat put!. Mendidik ibu, mendidik satu generasi.  

Good is never enough, be different !
                                                                                                                       With Love,
                                                                                                                        Puput



Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...