Rabu, 28 Juni 2017

Biologi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Udang vannamei (Litopenaeus vannamei)

A. Kelebihan Udang vannamei
a.       Tahan penyakit à induk melalui proses domestikasi breeding progam
b.      Pertumbuhan lebih pesat
c.       Responsif terhadap pakan sehingga efisien dalam penggunaan pakan
d.      Perilaku udang vanname yang mampu hidup pada padat tebar tinggi (100 ekor/m2) karena sifatnya hidup di kolom air sehingga ruang hidup luas. Dibandingkan dengan Udang windu (Penaeus monodon) maksimal padat tebar 40 ekor/m2 dan kebutuhan protein pakan monodon lebih tinggi 40%, sedangkan udang vannamei hanya membutuhkan 30 – 32% protein pakan

B. Taksonomi  Udang vannamei

Filum                    : Arthopoda
Subfilum              : Crustacea
Class                    : Malacostraca
Sub ordo              : Eumalacostraca
Ordo                    : Decapoda
Suborder             : Natantia
Superfamily        : Penaeidae
Family                 : Penaeidae
Genus                  : Litopenaeus
Spesies                : Litopenaeus vannamei
Nama lokal         : Udang vannamei, udang kaki putih, udang putih Amerika

C. Morfologi Udang Vannamei
1.       Cephalathorax à Kepala dada bergabung menjadi satu
a.       Carapace à melindungi organ di dalam cephalathorax
b.      Rostrum à ujung carapace yang berfungsi untuk melindungi mata dan perlindungan diri
2.       Abdomenà badan
3.       Uropoda à ekor
a.       Exopoda
b.      Endopoda
c.        Telson

-          Kalsium merupakan pembentuk kulit udang
-          Pada tangkai mata udang vannamei terdapat Hormon X (hormon penghambat) à yang berfungsi untuk pertumbuhan dan percepatan kematangan gonad yang dilakukan melalui ablasi pada mata
-          Udang memiliki kemoreseptor yaitu pada antennular flagellum pada sepanjang ventral yang berfungsi untuk melihat pergerakan, merespon atraktan pada pakan.
-          Kaki jalan : periopoda
-          Kaki renang : pleopoda

D. Siklus hidup udang vannamei

Naupli àZoea àMysis à Post Larvae à Juvenil àUdang dewasa

1.       Naupli  : Mengandalkan kuning telur (28 jam)
2.       Zoea : mengambil makanan dari luar tubuh à plankton  (3 – 4 hari) , merupakan stadia kritis karena tinggi mortalitas (Zoea I, Zoea II, Zoea III)
3.       Mysis : (Mysis I, Mysis II, Mysis III) , berenang mundur,memakan plankton, segmen ke 6 terdapat perubahan morfologi ditandai dengan segmen lebih panjang
4.       Post larvae : seperti udang dewasa secara morfologi, namun perkembangan insang baru sempurna di hari ke 9 (PL 9 – 10) à insang yang terbentuk secara sempurna mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap lingkungan
5.       Juvenil
6.       Udang dewasa

E. Kebiasaan Makan

1.       Aktif makan pada kondisi intensitas cahaya yang rendah à menaikkan nafsu makan
2.       Omnivor scavenger atau pemakan segala
3.       Kanibal : memangsa sesame jenis
4.       Mendeteksi makanan melalui sinyal kimiawi di tangkap sensor antenulla, antenna, mulut, maxillaped, capit
5.       Mengambil makanan dengan capit pada kaki jalan 1, 2,  3 untuk disalurkan ke mulut

F. Sistem Pencernaan

Mulut à Oesophagus à Lambung à Usus à Rektum à Anus

a.       Foregut : menangkap sampai menghancurkan makanan melalui proses mekanis
b.      Midgut : penyerapan sari – sari makanan melalui lapisan kitin
c.       Hindgut : penyerapan air, pelepasan feses diberi lapisan dan penyerapan mineral

-          Hepatopancreas : organ yang bergabung menjadi Satu
-          Lymphoid organ : Limpa
-          Ventral nerve cord : saraf di bagian ventral udang vanname
-          Oesofagus : udang mensekresikan enzim atau saliva tapi untuk melewatkan atau menyalurkan makanan
-          Gastric mill : pemecahan partikel menjadi sangat lembut
-          Lambung
o   Cardiac : penghancuran secara mekanis terbuat dari khitin
o   Pyloric : pencampuran enzim pencernaan dari hepatopancreas
ü  Dalam penanganan hepatopancreas à jaringan tersebut tidak ada bakteri tapi jika usus tidak tertangani dengan baik maka akan mengontaminasi hepatopancreas. Sehingga tidak ada bakteri vibrio pada hepatopancreas saat kultur.
ü  Saat udang mengalami stress maka udang akan mengeluarkan asam laktat yang merusak jaringan, mempengaruhi kualitas daging udang, dan memicu tumbuh bakteri
ü  Intestine (midgut) à lapisan khitin lebih sedikit dibanding lambung. Diserap bagian depan dan belakang keluar kotoran.
ü  Banyak sedikitinya khitin berpengaruh pada penyerapan nutrisi dan membantu dalam membandingkan antara midgut dan foregut.
ü  Membran perithrophic à material yang tidak diserap dibungkus menjadi kotoran berbentuk pellet yang disekresikan oleh sel ephithelium midgut
ü  Anus : pengeluaran feses ke perairan
ü  Hindgut
o   Rectum : bagian hindgut yang membesar
o   Terjadi penyerapan air dan mineral

G. Sistem Peredaran Darah
ü  Oksigen dibawa oleh haemocyanin à mengandung Cu à darah udang
ü  Peredaran darah tertutup langsung didistribusikan ke organ utama à tidak vena atau balik sehingga udang rentan terpapar Cu
ü  Haemolimph masuk ke ostia
ü  Haemolimph (darah udang) : anorganik, organik, hemocyanin, hemocyte

H. Sistem Respirasi
ü  Insang à eksresi ammonia di perairan à ammonia tinggi à menganggu insang à menghambat ammonia dalam tubuh tidak keluar à darah udang mengandung ammonia à jika tumbuh, lambat, sublethal dan mati
ü  Semakin cepat pertumbuhan udang maka semakin banyak ammonia yang keluar dari tubuh udang

I. Sistem Saraf
ü  Central ganglion di kepala
ü  Syaraf ventral cord (tangga tali) memanjang sampai ekor
ü  Menghubungkan sejumlah saraf ke bagian organ sensor seperti antenna, antenulla, dan mata

J. Moulting
ü  Tujuan : untuk tumbuh karena tubuh udang dilapisi karapas
ü  Jika udang tidak mengalami moulting maka udang tidak tumbuh
ü  Moulting à menyerap air sehingga volume tubuh menyerap mineral, dibentuk di epidermis, lapisan antara kulit lama dan baru disebut moulting fluid
ü  Moulting dikendalikan oleh hormone ecydsteroid yang dihasilkan organ Y
ü  Organ
ü  Moulting dipengaruhi : perubahan kualitas air, intensitas cahaya (jika tinggi maka menghambat moulting), tinggal dengan binatang lain
ü  Frekuensi moulting semakin jarang bertambah umur atau berat udang
ü  Kenapa saat bulan purnama terjadi moulting pada udang à berkaitan dengan hormonal

Kulit udang à terdiri dari lapisan chitin yang diperkuat kalsium
ü  Epicuticle à protein dan kalsium
ü  Exocuticle à khitin dan kalsium à melanin
ü  Endocuticle à khitin dan kalsium
ü  Inner chitin + protein layer
ü  Lendir dihasilkan dari kelenjar tegumentalà pertahanan terhadap penyakit
Jika air koloid terkandung suspense yang mengendap banyak bisa mengikis lendir udang sehingga menurunkan kekebalan tubuh à kepadatan tersuspensinya harus dikurangi . Misal tanah liat à tambak dibeton atau diplastik
ü  Jaringan epidermis yang membuat karapas tidak terdapat kalsium
ü  Epidermis : penyiapan kulit baru
Sebelum moulting, beberapa elemen atau mineral diserap, kemudian dipisah, penambahan dari haemolyph, kulit baru à moulting (lepasnya kulit lama) à menyerap kalsium yang kemudian menjadi keras

Langkah untuk persiapan moulting
Penggunaan mikromineral, mineral dan pakan lebih efektif

Tahapan Moulting
1.       Moult : Pelepasan kulit lama, kulit menjadi lunak, awal penyerapan air dan mineral
2.       Post Moult : Kulit awal lunak menjadi keras, banyak menyerap air, permulaan otot tumbuh dan mendeposit kalsium, sedangkan silikat disimpan pada haemolymph
3.       Intermoult : Kulit keras, proses pertumbuhan jaringan tubuh yang meningkatkan nafsu makan
4.       Premoult : Kulit keras secara gradual menipis hingga diserap tubuh dan kandungan kalsium tinggi pada fase premoult

Jika kekurangan kalsium à kulit udang tidak bisa mengeras dan ada gangguan akibat sakit / stress

Moulting dipengaruhi oleh faktor
ü  Internal : Genetik, hormonal, nutrisi à peridoe moulting
ü  Eksternal : intensitas cahaya, perubahan kualitas air, binatang lain, gravitasi bulan yang merangsang hormonal udang
ü  Jika intensitas cahaya rendah, proses moulting berjalan cepat

K. Sistem reproduksi
Udang vanname Jantan (Internal)
ü  Testis : menghasilkan sperma
ü  Vas deferens : saluran sperma ke spermatophore
ü  Terminal ampoule : temapt penyimpanan spermatophore
Reproduksi jantan (eksternal)
ü  Petasma à tonjolan pada kaki renang ke 1
ü  Appendix masculina à tonjolan untuk mencengkram  betina

Udang vanname Betina (Internal)
ü  Penyimpanan telur pada gonad à telur keluar karena dipengaruhi hormone feromon à memecah spermatophore à keluar telur  à fertilisasi eksternal
ü  Eksternal à organ thelycum  à proses mating (pembuahan) à open thelycum
ü  Pada udang windu à moulting dulu baru mengalami mating à close thelycum

Perkembangan gonad
1.       Immature stage : ovary masih tipis, agak bening dan oocyte bulatan kecil
2.       Early maturing stage : ukuran ovary meningkat dan permukaan punggung berwarna kuning
3.       Late maturing stage : ovary hijau muda à ovary abu – abu
4.       Mature stage : ovary hijau tua dan ovary lebih besar
5.       Spent recovery : Pengeluaran telur

With love,
Puput



Jumat, 23 Juni 2017

FAKTA TENTANG MIKROPLASTIK





Saya terhenyak ketika membaca sebuah judul artikel ”Pembunuh itu adalah sampah plastik” yang ditulis oleh Silvano Hajid dalam  website pribadinya sehingga saya tertarik untuk membuat tulisan tentang mikroplastik. Apa sih mikroplastik itu? Mikroplastik adalah partikel yang besarnya tidak lebih dari 1 mm berasal dari bahan baku plastik dan kosmetik. Jadi mikroplastik dihasilkan dari sampah plastik yang terdegradasi menjadi ukuran lebih kecil. Menurut www.lingkunganhidup.com, dalam studi terbaru memperkirakan sekitar 5 triliun partikel plastik dengan berat total 268.940 ton mengapung di lautan saat ini. Seluruh negara di dunia menyumbang triliunan partikel plastik yang dihasilkan dari sampah plastik 1,3 miliar ton setiap tahun. Sedangkan studi yang dilakukan UNEP (United Nations Environment Programme) setidaknya sebanyak 280 juta ton plastik diproduksi di dunia setiap tahunnya. Pada tahun 2025, Bank Dunia menyebutkan angka 2,2 miliar ton sampah plastik yang akan dihasilkan di seluruh dunia. Dampak yang ditimbulkan akibat sampah plastik yang merusak ekosistem laut dan wisata alam setiap tahun sekitar 13 miliar dollar. Indonesia tidak boleh berbangga dengan predikat sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia yaitu 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton (Jambeck, 2015).
Apa saja tipe dari mikroplastik ?
Microbeads pada produk kosmetik (facecoexist.com)

     Mikroplastik primer berasal dari microbeads, kapsul, fiber dan pellets. Contohnya pada kosmetik seperti produk pembersih yang yang mengandung microbeads (butiran plastik berukuran sangat kecil yang berfungsi untuk meluruhkan sel – sel kulit mati) , microfiber digunakan pada tekstil, dan getah kelapa untuk proses pembuatan plastik.
      Mikroplastik sekunder berasal dari hasil sampah plastik yang terbawa ke lautan, terpecah menjadi plastik yang berukuran kecil. Mikroplastik tersebut terombang – ambing di lautan tanpa pernah bisa terurai hingga ratusan tahun dan menjadi santapan organisme laut.

Dampak apa yang ditimbulkan dari mikroplastik ?
Grafis penjelasan tentang Microbeads (https://secure.greenpeace.org.uk/page/-/microbeads-infographic.jpg)

Pertama
, mikroplastik ditemukan di perut berbagai organisme laut dari plankton sampai paus. Tentu saja ini merisaukan, ternyata cemaran mikroplastik yang ukurannya tak kita sadari membunh perlahan berbagai organisme laut.

Kedua, dikutip dari The Guardian penelitian yang dilakukan oleh Peter Eklov ahli Ekologi dari Universitas Uppsala di Swedia menyatakan mikroplastik mengubah perilaku makan ikan perch, lebih lambat perkembangannya serta telur ikan yang hidup di lingkungan kaya mikroplastik rata – rata memiliki sintasan (daya tetas) lebih rendah. Pada jangka waktu lama jika tidak ada perbaikan pada lingkungan kita tentu akan mengancam ketersediaan ikan di laut dan mengganggu ketahanan pangan kita.

Ketiga, mikroplastik berpotensi mencemari rantai makanan serta mengkontaminasi pada biota ekosistem/habitat. Karena mikroplastik dapat menyerap dan melepaskan bahan kimia yang sangat beracun. Keberadaan mikroplastik di perairan yang mendominasi dan berukuran sangat kecil dapat dengan mudah dimakan oleh organisme air. Tentu saja hal ini mengganggu dan mencemari rantai makanan dan beresiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Keempat, mikroplastik mengganggu fungsi ekosistem mangrove dan menyebabkan kematian bibit mangrove. Tidak hanya di ekosistem mangrove tapi mikroplastik mampu menutupi perairan terumbu karang sehingga meningkatkan toksisitas perairan. Selain itu, microbeads menyumbat saluran pencernaan terumbu karang sehingga menyebabkan mati kelaparan.

Kelima, mikroplastik ternyata telah mencemari laut dalam seperti sedimen laut dalam dan sampel karang. Cemaran mikroplastik pada laut dalam sangat mengkhawatirkan karena pengaruhnya yang belum diketahui terhadap keseimbangan ekosistem laut dalam.

Bagaimana cara kita untuk mengurangi mikroplastik ?
1.    Hindari membeli dan menggunakan produsen kosmetik yang mengandung microbeads. Microbeads yang berukuran sangat kecil (+ 5 mm) dapat dengan mudah mengalir hingga ke lautan tanpa bisa disaring di pengolahan limbah. Di lautan triliunan microbeads itu dikonsumsi oleh berbagai organisme laut. Tentu saja itu akan mengganggu rantai makanan dan bisa mengancam kesehatan manusia. Untuk itu mari luangkan waktu untuk membaca komposisi produk kosmetik kita terbebas dari Polyethylen (PE), Polypropylene (PP), Polyethylene terephthalate (PET), Polymethyl methacrylates (PMMA) dan Nylon (PA). Sebagai konsumen yang bijak mari kita beralih pada produk kosmetik yang tidak mengandung microbeads. Jadi kita ikut berperan untuk mengurangi dampak mikroplastik.

2.    Mulailah untuk bertindak sederhana seperti mengurangi sampah yang kita hasilkan, membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, dan mendaur ulang sampah. Gerakan bank sampah dan mendaur ulang sampah menjadi produk di beberapa daerah perlu ditingkatkan dan diperluas agar mampu mengurangi sampah dan memberikan nilai tambah pada masyarakat.  

3.    Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan berbagai upaya penanganan sampah plastik di wilayah pesisir dan laut, di antaranya mengeluarkan Peraturan Dirjen No: 11/PER-DJKP3K/2015 tentang Pedoman Pengelolaan Limbah di Kawasan Wisata Kuliner Pantai; membuat Pedoman Pengelolaan Pencemaran Sampah Domestik di Wilayah Pesisir; melakukan publikasi dengan poster, leaflet, dan film; ikut menyusun Rencana Aksi Penanggulangan Sampah Plastik yang dikoordinasikan oleh Kemenko bidang Kemaritiman; menjadi anggota Pokja V dalam Tim Penanggulangan Sampah Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); serta memberikan bimbingan Teknis Pengolahan Sampah Plastik untuk menjadikan sampah plastik diolah kembali agar menjadi bahan bernilai ekonomi.

4.    Seperti yang dikutip dari lampungpro.com, Pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk menanggulangi sampah plastik laut. RAN disusun dalam lima pilar yakni perubahan perilaku, mengurangi produksi sampah di darat, mengurangi produksi sampah dari aktivitas di laut, mengurangi produksi dan penggunaan sampah serta meningkatkan mekanisme pendanaan, reformasi kebijakan dan penegakan hukum.


                                                                                                       With love,
                                                                                                        Puput




Referensi

 http://sains.kompas.com/read/2016/06/21/18103391/mikroplastik.membunuh.ikan.sebelum.sempat.kawin




Jumat, 16 Juni 2017

FAKTA TENTANG IKAN HIU

Ikan Hiu (www.playbuzz.com)

Yuk mengenal ikan hiu
Teman – teman pasti pernah menonton film yang menampilkan tokoh utama Hiu bukan? Seperti film dengan judul Jaws, Deep Blue Sea, The Reef, Finding Nemo dan masih banyak lagi lainnya. Dibenak kita menganggap ikan hiu itu menyeramkan karena didalam film selalu menjadi aktor pembunuh. Faktanya jumlah hiu yang dibantai manusia di dunia sebanyak 100 juta ekor per tahun sedangkan insiden hiu menyerang manusia kurang dari 100 kejadian setiap tahunnya. Nah, siapa tuh yang lebih pantas disebut sebagai pembunuh? Manusia. Tapi tahukah kita ternyata peran hiu di perairan laut sangat besar lho untuk menjaga ekosistem laut. Nah mari kita mengenal lebih jauh tentang ikan hiu…
Ikan hiu termasuk dalam kelompok ikan bertulang rawan yaitu Kelas Chondrichthyes dan sub Kelas Elasmobranchii yang kemudian terdiri dari kelompok ikan hiu dan pari. Menurut Compagno et al., (2005), pada perairan tawar hingga laut dalam terdapat lebih dari 500 jenis hiu. Wah, luar biasa beragam ya jenisnya. Bagaimana dengan keragaman ikan hiu di Indonesia? Ternyata di perairan Indonesia terdapat 117 jenis ikan hiu yang termasuk ke dalam 25 marga (Fahmi & Dharmadi, 2013).

Hiu, termasuk golongan ikan atau mamalia ?
Hiu termasuk golongan ikan (pisces) karena memiliki sisik yang menutupi seluruh tubuhnya. Tipe sisik yang dimiliki oleh ikan hiu adalah plakoid. Hiu menggunakan insang untuk bernafas. Selain itu hiu merupakan binatang berdarah dingin (poikilotermik)  yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungannya dan tidak mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri.
Berbeda halnya dengan mamalia laut seperti paus dan lumba – lumba yang mampu mengatur suhu tubuh internalnya. Mamalia laut merupakan mamalia yang hidup bergantung pada laut. Karakteristik mamalia laut binatang yaitu menghirup udara untuk bernafas, berdarah panas, melahirkan anak, dan memiliki kelenjar susu.

Apa saja jenis ikan hiu yang dilindungi di Indonesia ?
          Konvensi tentang perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar “Convention on International Trade of Wild Fauna and Flora” (CITES) di Indonesia terdapat empat spesies ikan hiu yang masuk dalam daftar Apendiks II yaitu tiga spesies hiu martil (Sphyrna lewini, S.mokarran, S. zygaena) serta hiu koboi (Carcharbinus longimanus) (Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan KKP, 2015). Apendiks II adalah daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.
Hiu Martil (www.selingkaran.com)

Apa saja manfaat ikan hiu sehingga diburu keberadaannya ?
·         Daging ikan hiu dimanfaatkan untuk berbagai macam masakan
·         Tulang rawan ikan hiu untuk bahan perekat, kosmetik dan bahan baku farmasi
·         Usus ikan hiu dapat menghasilkan insulin yang bermanfaat untuk industri pangan dan non pangan.
·         Kulit ikan hiu dapat dijadikan kerupuk, produk fashion seperti tas, dompet maupun sepatu
·         Sirip hiu dihidangkan pada mangkuk – mangkuk seafood yang bernilai jual tinggi
·         Bahkan gigi ikan hiu dapat diolah menjadi aksesoris yaitu gelang, kalung, anting, cincin, dan sebagainya (Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan KKP, 2015).


Tapi, tahu nggak sih bahaya dari mengkonsumi ikan hiu?
Mengkonsumsi ikan hiu ternyata berbahaya bagi kesehatan kita lho. Karena ikan hiu mengandung cemaran merkuri yang tinggi. Menurut EPA (Environmental Protection Agency) menyatakan dalam 1 kg daging hiu terkandung 1400 mikrogram merkuri, sedangkan batasan aman konsumsi merkuri untuk tubuh kita sebesar 0,1 mikrogram per kg berat badan. Merkuri yang terkandung dalam ikan hiu 6 – 12x lebih tinggi dari ambang batas aman untuk dikonsumsi. Merkuri merupakan salah satu zat kimia hasil pembuangan dari berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran, pertanian dan limbah dari pabrik – pabrik yang menggunakan merkuri. Nah seperti yang kita ketahui sebagian besar limbah tersebut bermuara dan mencemari lautan. Di dalam air merkuri berubah menjadi metilmerkuri yang kemudian dapat berikatan dengan protein pada otot ikan. Bisa dibayangkan jika kita mengkonsumsi berbagai produk olahan ikan hiu dalam jumlah banyak dan kontinu tentu membahayakan kesehatan kita. Menurut WHO, keracunan metilmerkuri dapat mengganggu kesehatan reproduksi, kerusakan saraf dan otak, pencernaan, mengganggu imun tubuh, paru – paru, ginjal, kulit dan mata.
Tidak hanya tinggi kandungan merkuri, pada sirip ikan hiu kaya akan kandungan BMAA yaitu neurotoksin berbaya yang menimbulan berbagai penyakit neurodegenerative (penyakit penurunan fungsi otak) pada manusia seperti Alzheimer (Studi dari University of Miami dalam Journal Marine Drugs)

Apa penyebab menurunnya populasi ikan hiu ?
Tragis. Ikan Hiu yang mati tenggelam akibat diambil siripnya  (cdn.qubicle.id)
Populasi ikan hiu semakin mengkhawatirkan akibat penangkapan untuk konsumsi. Jumlah penangkapan ikan hiu di Indonesia lebih dari 10 juta ekor per tahun. Yang memprihatinkan adalah perlakuan dalam berburu ikan hiu. Ikan hiu diambil siripnya dalam keadaan hidup, kemudian hiu tanpa sirip tersebut dibuang ke laut yang akan mati tenggelam. Secara biologi ikan hiu dalam setahun hanya 1x periode untuk berkembangbiak dengan jumlah anak kurang dari 100 ekor, berbeda dengan misalnya ikan cakalang dalam setahun 3-4x dapat berkembangbiak dengan jumlah anak  100 – 2 juta ekor. Hal ini tidak sebanding dengan tingkat penangkapan ikan hiu dengan kemampuan ikan hiu dalam bereproduksi. Jika tindakan penangkapan ikan hiu masih berlangsung massif diperkirakan tahun 2040 ikan tuna akan menghilang di perairan Indonesia serta akan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
.
Mengapa populasi ikan hiu harus dijaga ?
Hiu berperan penting dalam mengendalikan populasi hewan laut dalam rantai makanan. Menurunnya populasi hiu akan berdampak pada ketahanan pangan.  Jika ikan hiu punah, maka ikan – ikan karnivora bertambah banyak akibat tidak ada pemangsa, sedangkan  ikan – ikan kecil jumlahnya akan menurun drastis. Hal ini berdampak pada melimpahnya alga yang biasaya dimakan ikan kecil sehingga menganggu kesehatan karang. Ketika karang rusak maka baik ikan - ikan kecil dan ikan – ikan besar akan punah.  Dampaknya perubahan ekologis pada perairan laut akibat penangkapan ikan hiu berlebih akan terjadi. Selain itu, keberadaan ikan hiu di perairan laut lebih menguntung dalam pariwisata bahari dibandingkan ikan hiu yang diolah dan disajikan dalam hidangan seafood.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan ikan hiu?
1.    Tidak mengkonsumsi sirip maupun daging ikan hiu
2.    Menghindari makan di restoran yang menyediakan sup sirip hiu
3.    Menegur langsung atau mengirim surat ke pihak hotel maupun restoran yang menyajikan sup sirip ikan hiu
4.    Tidak membeli produk – produk berbahan hiu
5.    Menjelaskan pada orang lain alasan untuk tidak mengkonsumsi olahan dari ikan hiu
6.    Melakukan kampanye online di blog, media sosial atau membuat petisi untuk menyelamatkan hiu
7.    Mendukung wisata selam yang lestari di daerah habitat hiu


                                                                                                    With love,
                                                                                                        Puput


Referensi :




Rabu, 14 Juni 2017

Kilau Ikan Pelangi (Melanotaenia boesemani)



Budidaya ikan hias air tawar merupakan salah satu usaha agribisnis dengan prospek yang cerah, karena potensi pasarnya masih sangat terbuka, baik pasar domestik, regional maupun internasional. Data tahun 2013 Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) menyebutkan, nilai perdagangan ikan hias global mencapai US$ 5 miliar dengan pertumbuhan 8% per tahun. Dari nilai tersebut sebanyak 85% didominasi ikan hias air tawar dan sisanya 15% merupakan ikan hias laut. Selain itu dapat ditunjukkan oleh nilai ekspor ikan hias pada tahun 2011, nilai ekspor ikan hias sebesar US$ 13,26 juta. Dengan nilai itu, Indonesia menguasai 6,95% perdagangan ikan hias dunia menduduki rangking ke lima eksportir ikan hias terbesar dunia setelah Ceko, Thailand, Jepang, dan Singapura.
Ikan rainbow atau yang lebih populernya dikenal dengan nama “rainbow fish“ merupakan jenis ikan hias yang saat ini menjadi komoditi ekspor yang paling banyak diminati oleh pecinta ikan hias. Salah satu jenisnya yang terkenal adalah ikan pelangi boesemani (Melanotaenia boesemani). Pesona boesemani yang paling dominan terletak pada warnanya yang indah menyerupai pelangi (rainbow) serta bentuk tubuh yang menarik. Permintaan ikan pelangi boesemani yang tinggi dengan harga yang mahal menyebabkan eksploitasi spesies ini di alam menjadi semakin meningkat dan tidak terkendali. Untuk itu, diperlukan adanya suatu upaya agar kelestarian sumber daya ikan pelangi  boesemani (Melanotaenia boesemani) di alam tetap lestari yaitu melalui pengembangan budidaya. Akan tetapi dalam budidaya masih mengalami kendala dalam hal pemasaran. Hal ini dikarenakan kecerahan ikan pelangi hasil budidaya masih kurang baik dibandingkan dengan hasil tangkapan alam.
Warna merupakan salah satu parameter dalam penentuan nilai ikan hias. Semakin cerah warna suatu jenis ikan, maka semakin tinggi nilainya. Faktor makanan memiliki pengaruh dalam pembentukan warna ikan hias, oleh sebab itu perlu diberikan pakan yang dapat mendukung penampakan warna tersebut (Djamhuriyah dkk, 2005). Menurut Sasson (1991) dan Erhenberg (1980), pada ikan hias air tawar yang diberi pakan Spirulina dapat membuat warna ikan hias tersebut menjadi lebih berkilau. 

1. Klasifikasi Ikan Pelangi Boesemani (Melanotaenia boesemani)
Ikan Pelangi (http://www.tropicalfishsite.com)

M
enurut Allen dan Cross (1980), klasifikasi ikan pelangi boesemani adalah sebagai berikut:
Phylum                : Chordata
Sub phylum         : Vertebrata
Class                    : Osteichthyes
Subclass               : Actinopterygii
Ordo                    : Atheriniformes
Family                  : Melanotaeniidae
Genus                  : Melanotaenia
Spesies                 : Melanotaenia boesemani
Nama lokal           : ikan kaskado, boeman’s rainbow fish

2. Morfologi Ikan Pelangi Boesemani (Melanotaenia boesemani)
Menurut Suyatno (2000) ikan rainbow memiliki bentuk tubuh yang khas yaitu bentuk mulut yang agak panjang, tubuh pipih, sirip punggung dan sirip perut berbentuk simetris mendekati ekor, bentuk sirip ekor agak bercagak, memiliki sirip punggung ganda, sirip punggung pertama lebih kecil dibandingkan sirip punggung kedua yang letaknya berdekatan, sedangkan bentuk kepala untuk ikan jantan lebih kecil dari ikan betina (Allen, 1991).
Pelangi boesemani pada bagian kepala hingga pertengahan badan terdapat kombinasi warna biru muda kehijau - hijauan sampai gelap metalik. Pada pangkal ekor, berwarna kuning emas. Garis tengah badan (linea lateralis) yang membujur dari tutup insang sampai pangkal ekor  berwarna hitam. Kombinasi dari beberapa warna di atas sisik yang keperak – perakan. letak sirip punggung dan anus yang agak kebelakang. Posisi seperti itu memungkinkan boesemani melesat cepat sewaktu berenang (Wijaya,2011).

3. Spirulina platensis

Spirulina platensis (http://algae-lab.com)

Dalam peningkatan warna ikan hias pembudidaya lebih memilih sumber pigmen alami seperti Spirulina platensis dibandingkan dengan zat warna sintetik ke dalam pakan. Komposisi pigmen yang terkandung dalam Spirulina adalah phycocyanin, chlorophyll-a dan carotene (Vonshak, 2008).  Kandungan carotene yang tersusun adalah xantophyll (37%), ß-carotene (28%) dan zeaxanthin (17%) (Tongsiri et al., 2010).  Sumber utama dalam pewarnaan pada ikan yaitu  pigmen karoten. Kandungan karotenoid yang tinggi akan menyebabkan warna ikan semakin cerah. Penelitian Utomo, dkk (2005) menunjukkan bahwa penambahan Spirulina platensis pada pakan sebanyak 1% menghasilkan tingkat perubahan warna paling tinggi pada ikan koi (Cyprinus carpio L.)
Penelitian Djamhuriyah dkk (2005) mengemukakan ikan pelangi merah (Glossolepis incises) yang mendapatkan perlakuan pakan pelet memberikan warna lebih baik daripada pakan Tubifex dan Chironomus. Sedangkan Sulawesty (1997) mendapatkan bahwa warna ikan pelangi yang mendapatkan perlakuan karotenoid meningkat terus sampai usia pemeliharaan 40 hari. Storebaken & No (1992) menyebutkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pigmentasi pada ikan, antara lain ukuran, umur ikan, perkembangan seksual, dan faktor genetis.
4. Pigmentasi ikan pelangi
Pada umumnya pewarnaan tubuh ikan merupakan mekanisme pigmen yang dikendalikan oleh hormone-hormon tertentu akibat reaksi terhadap kondisi lingkungan ikan yang bersangkutan. Tampilan warna ikan ditentukan oleh jumlah dan konsentrasi sel-sel warna. Selain itu juga ditentukan oleh kedalaman letak sel dalam lapisan kulit. Ikan tidak dapat membuat pidmen warna sendiri, jika ikan diberi pakan yang tidak mengandung pigmen warna yang dibutuhkan, makan ikan tersebut akan kehilangan warnanya (Anonim dalam Sudarsono, 2010).
5. Fungsi penambahan bahan pigmentasi warna
Fungsi dari penambahan bahan pewarna alami ini untuk memningkatkan kecerahan warna ikan hias. Pigmen warna ini dikenal dengan karoten yang merupakan sumber utama terhadap pewarnaan pada ikan. Karotenoid hanya bisa disintesa oleh tumbuhan termasuk didalamnya phytoplankton, algae, dan sejumlah kecil jamur atau bakteri yang kemudian dimanfaatkan oleh hewan, melalui rantai makanan yang diberikan. Dengan menambahkan bahan alami yang mengantung pigmen warna dapat mencerahkan warna ikan hias yang lama kelamaan akan memudar apabila tidak diberikan tambahan karotenoid (Anonim, 2012).

DAFTAR PUSTAKA
Allen and Cross.1980. The Taxonomicon of Melanotaenia boesemani. http://www.Zipcodezoo.com/melanotaenia bosemani.html,diakses 1 Januari 2013.

Allen, G.R. 1991. Field Guide to freswater Fishes of New Guinea. Publication 9 of Cristensen Research Institute.Papua New Guinea.
Djamhuriyah S Said, W.D. Supyawati, dan Noortiningsih. 2005. Pengaruh Jenis Pakan Dan Kondisi Cahaya Terhadap Penampilan Warna ikan Pelangi Merah Glossolepis Incisus Jantan. Jurnal Iktiologi Indonesia, Volume 5, Nomor 2, Desember 2005.

Hastuti, Sri Dwi, 2011. Buku Penuntun Praktikum. Malang. Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang.
Indarti, Moh. Muhaemin, dkk, 2012.  Modified Toca Colour Finder (M-Tcf) Dan Kromatofor Sebagai Penduga Tingkat Kecerahan Warna Ikan Komet (Carasius Auratus Auratus) Yang Diberi Pakan Dengan Proporsi Tepung Kepala Udang (Tku) Yang Berbeda. e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume I No 1 Oktober 2012 ISSN: 2302-3600.

James, R. 2010. Effect of Ditary Supplementation of Spirulina on Growth and Phophatase Activity in Copper-Exposed Carp (Labeo rohita). The Israel Journal of Aquaculture- Bamidgeh. Vol 62(1): 19-27.

Kurniawati, dan Iskandar, dkk, 2012. Pengaruh Penambahan Tepung Spirulina platensis Pada Pakan Terhadap Peningkatan Warna Lobster Air tawar Huna Merah (Cherax quadricarinatus) : Jurnal Perikanan dan Kelautan ISSN : 2088-3137. Vol.3. No.3. September 2012:157-161.

Mara, K. I. 2010. Pengaruh Penambahan Tepung Kepala Udang dalam Pakan Buatan Terhadap Peningkatan Warna Ikan Rainbow Merah (Glossolepis incises Weber).Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Jakarta : Jakarta.

Sasson, A. 1991. Culture of microalgae in achievement and evaluation. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organitation (UNESCO) Place de Pontenry : Paris . France. 104p.

Subamia,Iw; Bastiar, Musa dan Ruby, 2009. Pemanfaatan Maggot Yang Diperkaya Dengan Zat Pemicu Warna Sebagai Pakan Untuk Peningkatan Kualitas Warna Ikan Hias Rainbow (Melanotaenia boesemani) Asli Papua : Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok: Email. Irbihat@dkp.go.id.
Sulawesty, F.1997. Perbaikan Penampilan Ikan Pelangi Merah (Glossolepis Incisus) Jantan Dengan Menggunakan Karotenoid Total Dari Rebon. Limnotek,5 (1): :23-30

Utomo, O. Carman, dkk, 2006. Pengaruh Penambahan Spirulina Platensis Dengan Kadar Berbeda Pada Pakan Terhadap Tingkat Intensitas Warna Merah Pada Ikan Koi Kohaku (Cyprinus Carpio L.) : Jurnal akuakultur Indonesia, 5 (1): 1-4 (2006) Http://Jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id.

Walpole, R. E. 1992. Pengantar Statistika. Gramedia Jakarta. 515 hal.
Wijaya,2011. Boesemani Rainbow Jantan Diminati Ekspor. http://www.nirwana aquarium.blogspot.com/2011/05/boesemani-rainbow-diminati.htm, diakses tangal 1 Januari 2013.

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...