Jumat, 24 Juli 2015
Jumat, 17 April 2015
Pernikahan itu Pertukaran Sumber Daya
Pernikahan merupakan perjanjian antara dua manusia yang memerlukan tanggung jawab, komitmen, dan kasih sayang.Namun dibalik itu semua, pernikahan sesungguhnya pertukaran sumberdaya antar perempuan dan lelaki. Bukan sekedar pertukaran cinta, budaya, namun terlebih pada sumberdaya yang dimiliki keduanya. Perempuan memiliki kebeliaan fisik dan menguasai keterampilan hidup (memasak, membesarkan dan mendidik anak, mengurus rumah, melayani suami dll) sedangkan lelaki memiliki kemampuan menghasilkan sumberdaya. Jika kita kembali belajar dari nenek moyang kita saat zaman purba. Begitu lumrah kita melihat film tentang manusia purba pria pergi berburu untuk makan keluarga dan manusia purba perempuan menggendong anaknya menunggu di perkampungan. Sudah banyak pergeseran kultur manusia sejak zaman modern dienyam manusia. Tidak lagi kaum pria yang mampu mencari sumberdaya (baca : nafkah) namun kini perempuan pun turut serta mengupayakan sumberdaya (baca : bekerja).
Tentu kita familiar dengan kata motivasi Pak Mario Teguh “Wanita suka laki-laki yang jelas. Jelas cintanya, lamarannya, kesejahteraannya, dan jelas tidak akan membagi cinta”. Sejatinya perempuan selalu berharap seorang lelaki itu setia kepada dirinya seorang. Fitrah seorang perempuan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang mampu mengandung dan melahirkan anak ke dunia, menuntut perempuan untuk memilih bersama lelaki yang mampu memberikan perlindungan kepada dirinya dan anaknya. Bukan hanya memberi perlindungan, tapi lebih akankah lelaki itu mau membagi sumberdaya yang dihasilkannya (baca : bekerja mencari nafkah) untuk anak istrinya dalam jangka waktu panjang. Selain itu, sebagai makhluk yang dikaruniai hati dan akal, sejatinya kita (perempuan dan lelaki) hidup untuk meraih kebahagiaan tidak hanya terpenuhi dari segi materi, namun juga terpenuhinya rohani dan batiniah.
Jangan lagi menyangkal, kaum perempuan lebih tertarik kepada pria yang jelas masa depannya. Bukan karena dia sudah memiliki harta dan ketampanan yang tak habis dimakan tujuh turunan. Namun lebih kepada usaha dia (lelaki) itu untuk memperjuangkan kehidupannya dan mengupayakan cintanya. Tengok saja realita kehidupan modern masa kini. Kaum lelaki cenderung lebih memilih menikah dengan perempuan yang dinilai memiliki standar setara atau dibawahnya. Misalnya seorang manajer pria berusia 32 tahun dengan penghasilan 8 – 10 juta per bulan menikah dengan perempuan berusia 25 tahun dengan tingkat pendidikan setara S1 namun tidak memiliki jabatan lebih tinggi dari sang pria. Tentu dari segi sang pria, sulit untuk memilih hidup bersama perempuan yang standar kehidupannya jauh diatas sang pria. Dan hal itu berlaku pula sebaliknya, bagi perempuan lebih memilih menikah dengan pria yang berada di atas standar perempuan (baca : mapan). Lagi – lagi kembali pada pertukaran sumberdaya. Semakin belia usia perempuan dari sang pria kemungkinan untuk menghasilkan keturunan dan mengabdikan hidupnya untuk keluarga juga lebih tinggi. Pria mapan lebih memiliki kepastian dan kestabilan menghasilkan sumberdaya yang jauh lebih banyak. Bukan maksud menyulut pemikiran perempuan untuk matre. Tapi lebih berpikir jauh masa depan, tentang kehidupan keturunannya dan keluarganya. Mengutip motivator Mario Teguh “Perempuan bersikap matre karena dia yang mengelola keluarga, merawat suaminya, membesarkan dan mendidik anak-anaknya, memastikan rumah nyaman dan aman bagi keluarganya, makanan mereka sehat dan enak dan itu semua membutuhkan biaya”. Pria menghasilkan sumberdaya untuk kehidupan yang baik sedangkan perempuan memiliki kemampuan untuk memberikan garis keturunan dan merawat keluarga seumur hidupnya. Toh,perempuan tidak perlu munafik, saat kita tak mengakui kita tak membutuhkan lelaki itu hanyalah sebuah penyangkalan. Tentu jauh dilubuk hati seorang perempuan baik itu single, sudah berkeluarga, maupun janda menginginkan sosok lelaki sejati dalam hidupnya. Semoga kita dipertemukan dengan sebaik – baiknya belahan jiwa.
Minggu, 05 April 2015
Wanita (harus) Materialistik !
Materialistik
adalah sifat kebendaan atau keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat
materialistik timbul karena desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik,
bukanlah sekedar ungkapan. Mungkin selama ini di masyarakat materialistik
identik dengan sifat menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita
memang dianugerahi sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca
indra. Hal ini terlihat dari pusat-pusat
perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa. Lihat saja dari segi
penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau memang bertujuan untuk
belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang kebutuhan yang tidak
dapat dihindari.
Wanita
(harus) materialistik, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masa depan
keluarganya. Karena bukan untuk dia (wanita), terutama anak-anak. Seperti yang
kita pahami, kebutuhan seperti sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat
tiap tahunnya. Jika tidak diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka
tidak mungkin didapatkan semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak
itu menjadi masa depan bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa
diukur melalui materi saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita
pun harus kaya. Kaya pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum
wanita harus menyadari perannya yang berat dalam memikul tanggung jawab sebagai
seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik
anak, bahkan bekerja menjadi hal yang sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk
itu, wanita harus menyadari zaman sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang
masih rendah emansipasi wanitanya. Wanita dituntut meningkatkan kompetensi
dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi wanita yang tak produktif. Wanita harus
cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar mampu berinteraksi dengan masyarakat.
Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi tidak pernah nyambung jika diajak
bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara, karena dari wanita lah, generasi
penerus dilahirkan.
Tentunya
kaum lelaki yang memandang sinis wanita materialistik diindikasikan tidak mampu
berusaha kerja keras untuk memenuhi kebutuhan.
Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja keras,
bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam
berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa
lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung
pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan. Sungguh
indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengorbankan
kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi. Wanita memang materialistik!
Jumat, 27 Maret 2015
MUSEUM IKHTIOLOGI INDONESIA ( Sekedar Impian ataukah Bisa menjadi Nyata?)
Oleh : Restu Putri Astuti
Ikan Coelancanth (Ikan Purba) yang
dipajang di museum
Ikhtiologi.
Apa itu ikhtiologi?! Tidak banyak orang awam yang mengenal istilah perikanan
yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan dan segala aspek kehidupannya.
Ikhtiologi merupakan bidang ilmu dasar yang harus dipahami oleh mahasiswa
perikanan. Karena dengan mempelajari dan memahami ikhtiologi kita dapat
mengenal distribusi ikan, morfologi dan anatomi ikan, sistem organ dan
klasifikasi ikan. Saya begitu tergugah
dengan kekayaan hayati Indonesia terutama spesies ikan yang diperkirakan 8.500
jenis ikan hidup di perairan Indonesia, namun sampai saat ini Indonesia belum
memiliki museum sekelas American Museum of Natural History (AMNH). Minimnya
pengetahuan kekayaan sumberdaya ikan terlihat dari masih terfokusnya pemerintah
pada konservasi spesies, ekosistem dan genetik. Seperti pada Museum Zoology
Bogor baru memiliki koleksi 68% dari jumlah ikan air tawar dan ikan laut yang
masih sangat sedikit. Selain itu, Bukankah ada Sea World di Jakarta ataupun
Museum Satwa di Kota Batu?! Lantas apa bedanya. Kita sudah punya ! Menurut saya
keduanya masih belum bisa disetarakan sebagai museum sekelas NNMH. Keduanya
masih sama peruntukkannya, untuk wisata pendidikan. Coba saja tengok di
youtube, betapa tergiurnya hasrat saya saat melongok via online seperti apa
NNMH. Begitu besar peranan museum bagi kemajuan pemikiran dan pengetahuan di
suatu negara. Begitu banyak ahli yang terlibat sebagai kurator dan peneliti
ikan. Dan bayangkan ada + 300.000.000 koleksi ikan dari penjuru dunia
memenuhi museum NNMH. Waaw,
Kita manusia Indonesia
masih saja memandang, museum adalah tempatnya barang kuno bertemu, membosankan,
dan tidak berdampak apapun untuk kehidupan kita. Jujur saja, mungkin tiap dari
kita tidak lebih dari 5 kali dalam hidup kita mengunjungi museum. Entah karena
enggan atau memang tidak ada museum yang menarik untuk kunjungi. Tren
masyarakat lebih menyukai tempat yang bisa dijadikan spot untuk bergroufie dan selfie
ria. Nah memang selfie dan groufie dengan ikan tidak bisa?! Hehe. Memang di
beberapa universitas dengan jurusan perikanan di Indonesia memiliki berbagai
koleksi jenis ikan dalam bentuk awetan. Namun tentu, itu hanya koleksi untuk
kalangan sendiri.
Sayang, ditengah hiruk
pikuknya manuver pembangunan, aspek pengembangan ilmu pengetahuan belum menjadi
prioritas. Urgensi keberadaan Museum Ikhtiologi Indonesia (MII) adalah begitu
sporadisnya kerusakan ekosistem yang mengancam keanekaragaman hayati Indonesia.
Belum lagi masalah perubahan iklim dan kebijakan pemerintah yang belum berpihak
pada pengembangan ilmu pengetahuan lewat museum. Perlu dilakukan segera
kegiatan eksplorasi dan ekspedisi tentang ikan – ikan Indonesia tidak hanya di
pulau utama, tapi hingga ke pulau kecil. Belum lagi, masih terbatasnya
sumberdaya manusia di bidang ikhtiologi yang selalu penemuan ikan didominasi
oleh peneliti asing. Seperti Kottelat dkk (1993) yang telah mempublikasikan 75
jenis ikan baru perairan tawar khususnya Sulawesi dan Allen (1993) ikan papua.
Baru – baru ini, ada seorang ahli ikhtiologi Indonesia Kadarusman,PhD yang
dikenal kiprahnya karena telah menemukan ikan rainbow papua bersama tim
peneliti Prancis.
Seperti halnya yang
saya pikirkan, tentang keberadaan Museum Ikhtiologi Indonesia. Museum yang
terdiri dari ratusan ribu koleksi ikan seluruh Indonesia, ditangani oleh
peneliti ikhtiologi, dan tiap tahunnya selalu dikunjungi jutaan orang. Bukan
sekedar tempat wisata biasa. Museum Ikhtiologi Indonesia (MII) diharapkan
menjadi pusat pengetahuan tentang ikan dan segala aspek kehidupannya. Bukan
hanya tempat awetan ikan, tapi menjadi database dan brankas DNA ikan Indonesia.
Museum Ikhtiologi Indonesia menjadi tempat riset, pendidikan, dan wisata. Tentu
jika Museum Ikhtiologi Indonesia ini bisa diwujudkan bisa dipastikan membuka
peluang kerja baru bagi sarjana perikanan sebagai “ichthyologist” atau ahli
ikhtiologi. Tidak hanya itu, tentu dengan dibukanya MII membuka lapangan pekerjaan
lainnya dan menggerakkan perekonomian dari sektor wisata. MII pasti menjadi
daya tarik baru bagi kerjasama riset negara lain yang lebih pioneer di bidang
ikhtiologi. MII menjadi tempat transfer ilmu dan keahlian. Hmm hanya dengan
membayangkan saja menyenangkan, apalagi bisa diwujudkan. Bahagianya. MII,
investasi masa depan Indonesia untuk menjaga keanekaragaman hayati terutama
ikan. Ketika nanti kelak anak cucu kita bertanya tentang ikan coelacanth itu
seperti apa. Kita tinggal mengajak mereka mengunjungi Museum Ikhtiologi
Indonesia dan menemukan berbagai koleksi ikan yang bisa kita ceritakan. Saya
pun berharap dengan adanya MII kita sebagai ahli ikhtiologi maupun pemerhati
perikanan dapat mempelajari berbagai perubahan (evolusi) dan distribusi ikan di
masa mendatang akibat faktor alam seperti global warming. Bukankah itu penting
bagi kehidupan kita manusia yang dianugerahi akal dan nurani.
Satu hal terakhir yang perlu
dipastikan, siapakah investor yang berminat mewujudkan gagasan saya? J
Selasa, 17 Maret 2015
Jelajah Pantai Tiga Warna
Oleh : Restu Putri Astuti
Kali ini saya bersama teman – teman
PIJA (Perikanan Jelajah Alam) mengeksplorasi pantai di Malang Selatan. Malang
Selatan memiliki banyak pantai yang patut untuk dikunjungi, selain Pantai
Balekambang dan Pantai Goa Cina yang sudah lebih dulu tersohor. Jika kita
berencana berlibur sambil berpetualang, Pantai Tiga Warna bisa menjadi pilihan.
Mungkin teman - teman belum terlalu familiar dengan Pantai Tiga Warna.
Dimanakah lokasi Pantai Tiga Warna? Apa saja yang akan kita dapat lakukan di
Pantai Tiga Warna? Dan apa saja yang tidak boleh dilakukan ?
Perjalanan ber-14 orang ini kami
tempuh dengan sepeda motor tak lupa menerjang hujan selama perjalanan. Jadi
lebih baik kita sedia jas hujan sebelum kehujanan. Selama perjalanan kita
mengalami kendala seperti ada salah satu motor mengalami kerusakan, sehingga
penting untuk traveler memeriksa kondisi kendaraan sebelum menempuh perjalanan.
Persiapkan juga logistic yang memadai karena disana bukanlah pantai macam tempat
rekreasi. Alami. Tidak ada toilet (hanya tersedia di pos utama) dan tentu tidak
ada warung kopi. Hehe. Untuk menuju Pantai Tiga Warna, traveler menuju
Sendangbiru tepatnya sebelum memasuki TPI Sendangbiru ada penunjuk jalan ke
arah Pantai Clungup. Memang penanda jalan yang ada belum begitu memadai, hanya
berupa plang besi kecil dan kayu yang dipilox tulisan “Pantai Clungup”. Dan
penunjuk jalan tersebut membawa kami ke gang perkampungan penduduk. Awalnya
saya keheranan dan bertanya kepada teman, kok kita masuk perkampungan penduduk,
ya memang ini trek perjalanannya. Ternyata Pantai Tiga Warna dapat dicapai
setelah kita melewati Pantai Clungup dan Pantai Gatra.
Kalau ditanya treknya, ya amazing.
Jangan bayangkan jalanan beraspal ataupun minimal jalan batu seperti ke pantai
Goa Cina. Yang ada, adalah jalanan tanah yang ketika tersiram air hujan berubah
menjadi tanah berlumpur. Licin dan jalanan sempit hanya muat untuk satu motor. Jadi
traveler tidak bisa membawa mobil yaa. Rimbunan kebun pisang di kanan kiri jalan
menemani perjalanan. Sempat terseok – seok motor kami di jalanan yang licin. Jika
kita memang belum pernah melewati jalanan itu termasuk membingungkan, karena
beberapa kali ada persimpangan jalan. Kira – kira 2-3 km kemudian kita baru
finish di pos utama pantai Clungup. Pos pantau pantai Clungup terbuat dari
bale-bale bambu. Sederhana tapi penuh makna, karena seakan ingin menyatu dengan
alam. Malam itu, kami disambut sekitar 8 bapak – bapak jagawana kawasan
konservasi tersebut. Yang pertama kita lakukan ya pasti membayar tiket seharga
Rp 6.000/orang plus parkir motor Rp 5.000/motor. Disarankan untuk para traveler
yang berencana camp, menelpon pihak Bhakti Alam yaitu Pak Saptoyo 081233339889
untuk konfirmasi dan memesan tenda camping.
Tak perlu repot membawa tenda, karena
pihak Bhakti Alam menyediakan penyewaan tenda. Cukup membayar Rp 25.000,-/
tenda (muat 5 orang) dan kita mendapatkan satu matras. Selain itu, kita juga
diwajibkan membayar biaya sewa lahan Rp 25.000/tenda. Jadi total biaya Rp
50.000,-. Karena Pantai Tiga Warna termasuk dalam kawasan Bhakti Alam tidak
diperbolehkan untuk mendirikan tenda menginap bagi para pengunjung. Traveler
diperbolehkan camping di kawasan Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Oh ya yang
lebih penting lagi, disini traveler harus mematuhi peraturan untuk ikut menjaga
kelestarian kawasan konservasi mangrove dan terumbu karang. Untuk itu tiap
pengunjung diwajibkan untuk melaporkan barang bawaannya. Berikut peraturan
nomor 8 yang tertera di samping pos pantau “Barang yang dibawa masuk harus
dibawa keluar, jika barang yang masuk tidak sesuai dengan barang yang dibawa
keluar, akan dikenakan sanksi sebesar Rp 100.000/item limbah/barang yang hilang
dari daftar checklist barang”. Nah karena peraturan ini tentu berdampak pada bersihnya
kawasan pantai Clungup, Gatra dan Tiga Warna. Traveler yang ingin merasakan
sensasi snorkeling di Malang, bisa mendapatkannya jika mengunjungi Pantai Tiga
Warna. Untuk itu menuju lokasi Pantai Tiga Warna harus didampingi
guide/pemandu, dengan biaya sebesar Rp 75.000/10 orang.
Setelah memarkirkan kendaraan, lanjut
perjalanan menuju Pantai Clungup dan kita memilih Pantai Gatra sebagai lokasi
camp kita. Perjalanan kita pilih susur pantai yang saat itu sedang mulai
pasang. Hati – hati ya karena batu karang cukup licin dan tajam, disarankan
memakai alas kaki yang nyaman dan aman
seperti sandal gunung. Ternyata kawasan Pantai Gatra ada 4 kelompok besar yang
telah datang terlebih dulu. Setelah memilih lokasi camp yang sesuai, kita mulai
mendirikan tenda. Tenda siap, waktunya mengisi perut yang sudah keroncongan.
Membakar ikan menjadi aktivitas kami selanjutnya. Terasa menyenangkan ketika
kita menikmati santap malam dengan ikan bakar dan nasi telah lebih dulu kita
siapkan sebelumnya. Derai tawa saling lempar gurauan menambah suasana akrab
diiringi desiran ombak dan semilir angin. Istirahat malam berlanjut setelah
kita sudah merasa mengantuk, siapkan stamina untuk esok pagi. Karena kita hanya
menyewa dua tenda, para lelaki PIJA mempersilahkan kami kaum perempuan untuk
tidur di dalam tenda dan mereka menghabiskan malam tidur beralaskan terpal.
Terimakasih
![]() |
| Sarapan ala PIJA |
![]() |
| Pantai Mini Raja Ampat |
![]() |
| Pemandangan dari Atas Bukit |
Perjalanan
menuju Pantai Tiga Warna dilalui dengan jalan yang cukup terjal, karena kita
“dipaksa” untuk menaiki bukit. Hehe. Ya disinilah, ke pantai sekaligus hiking.
Lumayanlah treknya untuk membuat tubuh berkeringat. Siapkan fisik yaa. Selama
perjalanan kita disuguhi pemandangan lautan lepas dari atas bukit. Kita akan melewati pantai Savana kemudian saat kita mendaki bukit selanjutnya kita disuguhi pemandangan dari atas bukit di pantai Mini (salahsatu pantai yang akan
kita lewati) mirip dengan Raja Ampat dan ada pantai Watu Retak yang memang bebatuannya retak dihantam
gelombang. Setelah melewati ketiga pantai dan tiga bukit kita akhirnya sampai
pada Pantai Tiga Warna. Alhamdulillah. Intinya jika kita menuju Pantai Tiga Warna harus melewati 6 pantai. Clungup - Gatra - Savana - Mini - Watu Retak - Tiga Warna. Menyenangkan bukan. Satu trip dapet view 6 pantai sekaligus. Hehe.
![]() |
| Snorkling bareng |
![]() |
| Free diving |
![]() |
| Terumbu karang di Pantai Tiga Warna |
Jenis terumbu karang penghuni Pantai Tiga Warna
adalah jenis hard coral warna warni. Kita juga menemui beberapa jenis ikan yang
asik bermain. Sayang, menurut saya kondisi terumbu karang dalam kondisi yang
kurang sehat. Jadi sebenarnya kawasan ini juga membutuhkan perhatian terutama
kegiatan transplantasi terumbu karang.
Di pinggir pantai Tiga Warna memang steril dari sampah, hanya belum ada
plang penanda untuk mengingatkan pengunjung selama menikmati snorkeling. Misalnya
tidak menyentuh maupun menginjak terumbu karang, karena tentu saja itu akan
merusak terumbu karang. Terumbu karang sangat sensitive pada gangguan dari alam
dan manusia tentunya. Para traveler Pantai Tiga Warna yuk ikut menjaga terumbu
karang selama kegiatan snorkeling dengan tidak menginjak dan menyentuh terumbu
karang serta jangan membuang sampah ya..
Kegiatan konservasi dan pengawasan oleh Bhakti Alam
Sendangbiru yang dikelola masyarakat sekitar, sudah menunjukkan keterlibatan partisipasi
masyarakat agar tetap melindungi lingkungannya. Mereka sudah memiliki kelompok
pengelola mangrove dan terumbu karang. Bahkan secara rutin diadakan kegiatan
penanaman mangrove. Semoga tetap dipertahankan dan ditingkatkan kinerja pihak
Bhakti Alam Sendangbiru. Sekian cerita jelajah Pantai Tiga Warna. Semoga
bermanfaat bagi para traveler. J
Rabu, 11 Maret 2015
Sahabat
Sahabat.
Sosok sedekat keluarga yang selalu mengerti kita, layaknya cerminan diri kita.
Merekalah yang menjadi tempat untuk mencurahkan kegundahan hati, berbagi kebahagiaan bersama, dan saling mendukung meraih cita - cita.
Beruntunglah kita, yang memiliki sahabat seperti mereka. Yang tidak hanya ada disaat kita bahagia, namun selalu menopang kita dikala duka. Mereka seakan menjadi pihak yang paling tegas, saat mengingatkan kita. Tentu untuk kebaikan kita. Tetapi sahabat, selalu bisa menjadi saudara. Teman belum tentu sahabat, sahabat sudah pasti teman.
Ada petuah yang menyatakan jika persahabatan itu sudah terjalin lebih dari tujuh tahun, bisa dipastikan mereka menjalin persahabatan seumur hidup. Benarkah? Biarkan waktu yang menjawab.
Manusia, sebagai mahluk yang membutuhkan kasih sayang dalam hidup. Berkasih sayang kepada sahabat seperti saling memberikan perhatian. Perhatian tidak harus selalu dengan limpahan barang mewah, tapi ketulusan saat memberikan perhatian pasti dapat dirasakan.
Seakan menjadi tradisi, perayaan ulang tahun selalu kita rayakan bersama. Kejutan demi kejutan ikut menyemarakkan perayaan setahun sekali itu. Terkadang dibumbui kejahilan dan tindakan menyebalkan. Tentu setelah ini saya akan merindukan masa - masa itu. Karena sebentar lagi, kita pasti terpisahkan jarak dan waktu. Dan sejauh apapun jarak itu, doa pasti tersampaikan untuk mereka. Teringat begitu banyak kebaikan sahabat-sahabat saya selama ini. Bahu membahu mendukung penelitian satu sama lain. Bergantian menjaga di rumah sakit, saat ada yang ditimpa musibah berupa sakit. Banyak cerita yang sudah kita lalui bersama. Tangis tawa canda. Memang terkadang kita tak selamanya akur, ada satu dua kali kita alami pertengkaran bahkan menangis bersama, namun semoga itu menjadi penguat persahabatan.
Bagaimana dengan anda?
Semoga persahabatan anda, jauh lebih berwarna dari apa yang bisa saya tulis dalam blog ini.
Senin, 09 Maret 2015
10 Pedoman Hidup Sunan Kalijaga
Bercerita tentang Sunan Kalijaga, mengingatkan kembali memori masa kecil saat wisata wali songo. Sunan Kalijaga dikenal sebagai anak dari Arya Wilatikta, Adipati Tuban penganut Muslim yang dikenal kejam dan tetap memegang teguh pada pemerintahan Majapahit sebagai penganut agama Hindu. Arya Wilatikta menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Sunan Kalijaga muda, kala itu bernama Joko Said menolak tegas kebijakan ayahnya yang dinilai tidak memihak pada rakyat. Puncaknya ketika, Joko Said membagikan beras dari lumbung padi kerajaan kepada rakyat Tuban yang menderita kelaparan dan kemiskinan. Tentu sang raja Arya Wilatikta, marah besar dan mengusir Joko Said dari istana kadipaten Tuban. Sang ayah mensyaratkan kepada Joko Said bahwa ia diperbolehkan pulang jika mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacan ayat - ayat suci Al Qur'an. Maksud dari "menggetarkan seisi Tuban" yaitu apabila dia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya. Joko Said sempat menjadi sosok "Robin Hood" ala Jawa, dengan menjadi perampok kaum kaya yang tidak mengeluarkan zakat dan sedekah. Hasil kejahatannya tersebut dibagikan kepada kaum papa yang membutuhkan.
Perjalanan hidup yang kelam Joko Said tersebut berakhir saat bertobat dan berguru pada Sunan Bonang. Yang menyadarkan dia bahwa sesungguhnya sebuah kebaikan tidak bisa diawali dengan kejahatan. Ibarat kata sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang batil.
Selain itu, Sunan Kalijaga adalah sosok simbol sufistik jawa karena di dalam penyampaian ajaran ajarannya beliau selalu bisa menempatkan diantara budaya ataupun adat adat jawa yang saat itu sangat kental di kalangan masyarakat jawa sendiri.sehingga masyarakat dengan mudah menerima ajarannya. Walaupun ketika itu masyarakat masih sangat awam dengan ajaran islam.
Selain itu, Sunan Kalijaga adalah sosok simbol sufistik jawa karena di dalam penyampaian ajaran ajarannya beliau selalu bisa menempatkan diantara budaya ataupun adat adat jawa yang saat itu sangat kental di kalangan masyarakat jawa sendiri.sehingga masyarakat dengan mudah menerima ajarannya. Walaupun ketika itu masyarakat masih sangat awam dengan ajaran islam.
Berikut 10 pedoman hidup Karya Kanjeng Sunan Kalijaga;
- Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik) - Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak). - Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dgn sikap bijak, lembut hati dan sabar) - Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan) - Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu). - Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja). - Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi). - Ojo Kuminter Mundak Keblinger, ojo Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka). - Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat). - Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
(Diolah dari berbagai Sumber)
Langganan:
Postingan (Atom)
Menjadi Ibu
Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...
-
Hamparan Padang Lamun Mungkin bagi orang awam, istilah lamun masih kurang terdengar fam...
-
Setelah lulus tes CPNS 2018 tahapan selanjutnya adalah proses pemberkasan. Tiap CPNS wajib memenuhi kelengkapan dokumen sesuai dengan syarat...
-
Cek Anco di salah satu tambak Situbondo (Dokumentasi Pribadi) Manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondi...










