Minggu, 19 Februari 2017

Manajemen Kualitas Air dalam Budidaya Udang Vanname

Cek Anco di salah satu tambak Situbondo (Dokumentasi Pribadi)

Manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko, 2005). Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya (Effendi, 2003).Kualitas air yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan penurunan produksi dan akibatnya keuntungan yang diperoleh akan menurun dan bahkan dapat menyebabkan kerugian (Darmono, 1991). 
A. Parameter Fisika
1.  Suhu
Suhu air merupakan salah satu faktor  dalam kehidupan udang di tambak. Suhu air sangat berkaitan dengan konsentrasi oksigen di dalam air dan laju konsumsi oksigen hewan air (Tarsim, 2000). Suhu air berbanding terbalik dengan konsentrasi oksigen di dalam air dan berbanding lurus dengan laju konsumsi oksigen hewan air (Ahmad, 1992). Suhu air yang optimal dalam pembudidayaan udang adalah 28-30oC. Pada suhu rendah metabolisme udang menjadi rendah dan secara nyata berpengaruh terhadap nafsu makan udang yang menurun (Boyd, 1989). Menurut Wardoyo (1997) menyatakan bahwa suhu air mempengaruh reaksi kimia perairan dan reaksi biokimia di dalam tubuh udang. Pada suhu di bawah 230C atau lebih dari 300C akan mengalami penurunan pertumbuhan (Wyban et al., 1995).  
2 Salinitas
Salinitas adalah total konsentrasi ion yang terlarut dalam air (Boyd, 1990). Ion - ion penyusun utama yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya salinitas adalah Chlor, Natrium, Sulfat, Magnesium, Kalsium, Kalium dan Bikarbonat. Salinitas merupakan parameter penting karena berhubungan dengan tekanan osmotik dan ionik air baik sebagai media internal maupun eksternal (Budiardi, 1999). Kisaran salinitas optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup juvenile udang vanname adalah 33-40 ppt dengan kisaran suhu 28-300C (Palafox et al.,1996). Wajidjah (1998) menyatakan salinitas berhubungan dengan tingkat osmoregulasi udang. Jika salinitas diluar kisaran optimum, pertumbuhan udang menjadi lambat karena terganggunya proses metabolisme akibat energi lebih banyak dipergunakan untuk proses osmoregulasi.
3. pH 
pH adalah logaritma negatif dari aktifitas ion hidrogen (Boyd, 1990). Perubahan kecil nilai pH perairan memiliki pengaruh yang besar terhadap ekosistem perairan, karena nilai pH perairan sangat berperan dalam mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia didalam air maupun reaksi suatu biokimia di dalam air. Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air (ikan dan udang) memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6.8-8.5 (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1992). Pada pH dibawah 4,5 atau diatas 9,0 udang akan mudah sakit dan lemah, dan nafsu makan menurun bahkan udang cenderung keropos dan berlumut. Apabila nilai pH yang lebih besar dari 10 akan bersifat lethal bagi ikan maupun udang (Ahmad, 1991). Umumnya, pH air tambak pada sore hari lebih tinggi daripada pagi hari. Penyebabnya yaitu adanya kegiatan fotosintesis oleh pakan alami, seperti fitoplankton yang menyerap CO2. Sebaliknya pada pagi hari CO2 melimpah sebagai pernafasan udang (Haliman dan Adijaya, 2002). Perbaikan nilai pH yang optimal perlu dilakukan aplikasi pengapuran pada saat masa pemeliharaan udang di tambak (Boyd, 1982 dan Adiwidjaya dkk, 2001) yaitu menggunakan beberapa jenis kapur yang dianjurkan dengan dosis antara 5-20 ppm (sesuaikan dengan jenis kapur yang diaplikasikan).
4. Warna dan Transparansi Perairan
Kecerahan (transparancy) perairan dipengaruhi oleh bahan-bahan halus yang melayang-layang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus maupun berupa bahan anorganik seperti lumpur dan pasir (Hargreaves, 1999). Dalam kolam budidaya, kepadatan plankton memegang peranan paling besar dalam menentukan kecerahan meskipun partikel tersuspensi dalam air juga berpengaruh. Plankton tersebut akan memberikan warna hijau, kuning, biru-hijau, dan coklat pada air (Boyd, 2004). Selanjutnya dikatakan bahwa kedalaman air yang dipengaruhi oleh sinar matahari (photic zone) di danau atau tambak sekitar dua kali nilai pengamatan dengan menggunakan secchi disk. Semakin kecil kecerahan berarti semakin kecil sinar matahari yang masuk sampai dasar tambak yang dapat mempengaruhi aktvitas biota di daerah tersebut.
B Parameter Kimia
1 Total Amonia Nitrogen (TAN)
Kandungan ammonia dalam tambak berasal dari sisa metabolisme hewan air dan dari dekomposisi bahan organik dari bakteri (Boyd, 1991). Amonia merupakan senyawa nitrogen yang bersifat toksik bagi udang (Handojo, 1994). Konsentrasi amonia yang mampu ditolerir untuk kehidupan udang dewasa < 0,3 ppm (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1989), dan ukuran benih < 0,1 ppm. Reaksi keseimbangan antara ammonia (NH3) dan ammonium (NH4+) adalah sebagai berikut
NH3 + H2O                  NH4+ + OH+

Keseimbangan konsentrasi ammonia bebas dan ammonium dalam air dipengaruhi oleh suhu, pH dan salinitas. Jika pH dan suhu meningkat maka konsentrasi fraksi ammonia (NH3) meningkat lebih tinggi daripada konsentrasi ammonium (NH4+) sehingga meningkatkan daya racun terhadap udang (Chien, 1992). Peningkatan daya racun amonia juga dipengaruhi oleh rendahnya kandungan O2 terlarut dalam air (Tarsim, 2000).
2 Total Organik Matter (TOM)
            Bahan organik merupakan bahan yang dapat terdekomposisi secara aerob dan anaerob. Konsentrasi bahan organik berpengaruh terhadap konsentrasi oksigen terlarut (Wardoyo, 1988). Menurut Eckenfelder dan O’Connor (1961) dalam Cholik et al., (1998), adanya peningkatan bahan organik dalam perairan akan diikuti dengan peningkatan pemakaian oksigen oleh mikroorganisme pengurai sehingga kadar oksigen menurun. Kandungan bahan organik, baik pada perairan umum maupun petakan tambak dalam jumlah yang tinggi merupakan ancaman bagi kehidupan organisme. Hal ini akan mengalami pengendapan dan terdekomposisi menjadi senyawa yang bersifat racun bagi udang dan organisme lainnya, seperti hal ammonia (NH3), dan Nitrit (NO2). Kisaran optimal kandungan bahan organik untuk pemeliharaan udang adalah antara  50 – 60 ppm (Anonim, 2002), pendapat lain bahwa bahan organik total dan TSS (total suspensi) berkisar antara 70 – 120 ppm. 
3 Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas buffer air yang dinyatakan dalam mg/l dari CaCO3. Semakin sadah air, semakin baik bagi usaha budidaya ikan maupun udang dengan nilai optimalnya 120 mg/l dan nilai maksimumnya 200 mg/l. Kesadahan total merupakan isilah yang digunakan untuk menggambarkan proporsi ion magnesium dan kalsium (Anonim., 1985 dan Ahmad., 1991). Parameter ini di ukur untuk menyediakan tambak udang dengan kondisi yang identik dengan lingkungan alaminya. Perairan dengan alkalinitas rendah mempunyai daya penyangga (buffer capacity) yang rendah terhadap perubahan pH. Alkalinitas air sangat erat kaitannya dengan tersedianya karbondioksida (CO2) untuk proses fotosintesis tumbuhan air terutama fitoplankton. Kondisi alkalinitas yang stabil dan optimal sebagai buffer pH diperlukan pengeceran salinitas dan penumbuhan plankton serta oksigenasi yang cukup (Adiwidjaya dkk, 2003).
C. Paramater Biologi
1  Plankton
Plankton mempunyai banyak fungsi, antara lain sebagai pakan alami, penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari dan bioindikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan, bahan organik yang menumpuk dalam jumlah banyak juga merupakan sarang bakteri dan vibrio yang merugikan budidaya udang vannamei (Solis dan Ibarra, 1994 dalam Zakaria, 2010).  Suyanto et al., (1991) menjelaskan bahwa terlalu tingginya populasi plankton akan membahayakan udang pada malam hari, karena hal tersebut akan mempengaruhi tingkat ketersediaan oksigen terlarut dalam air dan akan menjadi kompetitor udang dalam mengambil oksigen.
Jenis fitoplankton yang diharapkan adalah selain jenis dari kelompok alga hijau biru (Cyanophyceae) dan selain dari kelompok Dinoflagellata. Kepadatan plankton yang baik untuk budidaya udang adalah sekitar 80 – 120.000 sel. ml -1 (Clifford, 1992 dalam Jaya, 1999). Untuk itu para operator tambak melakukan pemantauan kepadatan dan jenis plankton dengan pengamatan kecerahan atau transparansi air tambak dan pengamatan warna air. Kecerahan yang diharapkan adalah antara 30 cm dan 35 cm. Keberadaan jenis plankton yang ada di tambak sangat tergantung pada jenis plankton yang ada di perairan pantai atau laut.  Apabila kurang maka dilakukan pemupukan menggunakan pupuk Urea dan TSP dengan takaran masing-masing 25 dan 12,5 kg/Ha (Simon, 1988 dalam Jaya, 1999).
2 Total Bakteri dan Total Vibrio
Salah satu indikator penting terhadap keberhasilan budidaya udang di tambak adalah populasi dan kelimpahan vibrio dan bakteri pada air media pemeliharaan. Menurut Prastowo (2007), keberadaan kemelimpahan bakteri dan vibrio pada air media pemeliharaan dapat untuk mendeteksi dini serangan penyakit,  tetapi juga sekaligus dapat menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan tambak. Lebih lanjut dikatakan bahwa kemelimpahan vibrio 102 – 103 CFU/ml merupakan level aman, 103 – 104 CFU/ml merupakan level stress dan > 104 CFU/ml merupakan level kritis, dengan dominasi vibrio bakteri adalah < 5% level aman, 6 – 10% adalah level stress dan > 10 % adalah level kritis. Selain itu, baik bakteri maupun vibrio tetap harus diwaspadai yang berada di kolom air dan dasar sedimen tanah, juga ditubuh organisme (udang) perlu diperhatikan kemelimpahannya (Taslihan, et al. 2003). Bakteri yang berbahaya bagi manusia dalam hewan akuatik, termasuk udang dari budidaya di tambak adalah dari jenis Salmonella (Rukyani, A. 2002), kemelimpahan bakteri dari jenis Salmonella dalam tubuh udang yang membahayakan bagi konsumen tidak lebih dari 105 CFU/ml.

Selasa, 07 Februari 2017

Siapkah saya untuk menikah ?



“Sudah siapkah saya menjadi seorang istri ?”
“Sudah siapkah saya menjadi seorang ibu ?”

Pertanyaan yang akhir – akhir ini terngiang di pikiranku. Saya siap menjadi seorang istri dan ibu. Tapi sudahkah saya memantaskan diri untuk menjadi seorang istri dan ibu nantinya ? Di tengah kesibukan kerja dan harus meluangkan waktu untuk persiapan pernikahan, jujur saja begitu banyak keresahan yang melintas di hati. Pantaskah, siapkah saya menjadi sosok istri dan ibu ? Membayangkan hidup bersama suami dan anak – anak kelak. Ahh, rasanya seperti permen nano – nano.  Bahagia, sedih, galau, perasaan udah campur aduk. Bagi saya, menikah bukan hanya mengubah status dua insan manusia dalam ikatan pernikahan. Menikah, juga bukan masalah siapa yang lebih dulu menikah tapi siapa yang paling lama mempertahankan kebahagiaan. Nah ini nih (kebahagiaan) yang sulit dan menantang dalam pernikahan. Menikah tidak hanya melulu tentang kesiapan materi, tapi sesungguhnya menikah harus memiliki kesiapan IQ, ESQ dan EQ (kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosi) dalam membangun rumah tangga.
Saat log in di sosial media seperti facebook, sungguh ada perasaan iri terselip di hati, melihat sahabat – sahabat saya telah memajang foto maupun video aktivitas bersama istri atau suaminya beserta anak – anak yang cerdas dan lucu. Ya Allah…. Dari media sosial itu saya terinspirasi bagaimana sahabat – sahabat saya dalam mendidik putra – putrinya. Karena mereka begitu rajin membagikan aktivitas yang akan dilakukan bersama buah hatinya. Membagikan berbagai kisah inspiratif tentang perempuan, tak lupa juga berbagi resep masakan. Mereka telah menggunakan media sosial dengan bijak, sehingga saya menjadi terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Salut.
Profesi mulia bagi seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Saya sangat menyadari kodrat seorang perempuan adalah melahirkan generasi emas. Seorang ibu kodratnya bukan hanya “macak” (dandan), masak, dan “manak” (memiliki anak). Sosok seorang Ibu harus siap menjadi madrasah pertama untuk putra – putrinya. Mendidik putra – putrinya dengan budi pekerti, ditempa dengan ilmu agama dan diperkaya ilmu pengetahuan. Seperti kutipan oleh Dian Sastrowardoyo, “Entah akan berkarir atau ibu rumah tangga, seorang wanita  berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu – ibu cerdas akan menghasilkan anak – anak cerdas”. Eitsss, terus bagaimana sosok Ayah dalam keluarga ? Tentu untuk menghasilkan anak – anak cerdas bukan melulu semua tanggung jawab Ibu. Sosok suami atau ayah juga turut menyumbang kecerdasan putra – putrinya kelak. Saya percaya, keluarga hebat itu haruslah diciptakan dengan hadirnya Ibu dan Ayah dalam mendidik generasinya.

Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi perasaan penat saya dalam mempersiapkan pernikahan.

Saya terkesan santai dalam mempersiapkan pernikahan, karena memang nggak pengen semua terlalu dipikirkan dan dibuat stress. Dinikmati saja. Kebayang dong repotnya saya mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan di Malang, sedangkan saya sendiri bekerja di Probolinggo dan calon suami bekerja di Bitung, Sulawesi Utara. Hehe. Ya begitulah, harus dijalani. Yang penting kuncinya komunikasi. Selama komunikasi antar calon pengantin dan keluarga terjalin dengan baik, tentu semuanya dapat terlaksana dengan baik. Tentu saya juga mengalami permasalahan dalam mempersiapkan pernikahan. Bahkan saya sampai nangis saking dilemanya. Duh cengeng, udah  mau nikah masih aja mewek. Hehe. Wajarlah, pada saat itu perasaan saya lagi baper – bapernya, pusing, dan stress mikirin ini itu.   Lagi – lagi, persiapan mental sebelum menikah itu penting ya guys. Ojo baperan kayak aku, yess. Toh akhirnya masalah itu udah mendapatkan solusi terbaik.
Lho, terus sekarang sudah sejauh mana persiapan untuk pernikahanmu ? Tentu, sejauh ini masih sesuai dengan perencanaan yang telah aku agendakan. Agar tidak pontang – panting urus ini dan itu dengan waktu yang mepet, sangat membantu lho buat “time schedule”. Apalagi untuk capeng pejuang LDR (Long Distance Relationship), harus bijak memanfaatkan waktu libur kerja dalam mempersiapkan pernikahan. Hmm, tentu sudah buat perencanaan mulai dari budgeting anggaran, konsep pernikahan, urus administrasi, dekorasi, rias pengantin sampai banyak hal kecil yang harus saya lakukan. Memang belum semua selesai dilaksanakan. Prinsipnya dijalani, dinikmati dan serahkan semuanya kepada Allah SWT. Insya allah, semua baik – baik. Sekian dulu curhatan saya, terima kasih sudah membaca.
                                                                                                                With ❤ 
                                                                                                                 Puput






Sabtu, 04 Februari 2017

Sekelumit Cerita tentang Perjalanan ke Bantaeng & Makassar (Part 2)


Menepati janji, menulis cerita perjalanan ke Bantaeng & Makassar, Sulawesi Selatan. Baiklah untuk pembaca, harap maklum atas runtutan cerita dan banyak curhatan saya didalamnya. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca.

20 Januari 2017
          Tabuhan alat musik di kediaman mulai menyemarakkan pagi. Hal ini menjadi penanda bahwa di rumah tersebut sedang diadakan acara pernikahan. Pelaminan telah terhias dengan apik, tak lupa berbagai hidangan khas Makassar seperti Sup Konro telah terhidang di meja rumah untuk menjamu kerabat serta tetangga mulai berdatangan ke rumah dari jam 10.00 WITA. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WITA, saya menemani mbak Risma untuk dirias di rumah perias pengantin. Kebetulan periasnya berhalangan hadir ke rumah, karena pada hari yang sama harus merias 5 pengantin juga. Di rumah perias pengantin terdapat banyak sekali koleksi gaun pengantin adat Makassar, baju bodo Makassar beserta aksesorisnya. Tentu menjadi pengalaman pertama bagi saya melihat baju pengantin Makassar yang berbeda dengan baju pengantin Jawa.
Setelah mbak Risma sudah selesai didandani dan memakai gaun pengantin Makassar iaplah kita kembali ke rumah, untuk melakukan prosesi keluarga beserta pengantin pria mendatangi rumah pengantin perempuan. Nah, walaupun sudah sah berstatus suami istri kedua pengantin belum bisa bersama dalam satu rumah. Keluarga pihak pengantin pria yaitu Mas Nadyr hadir dengan membawa hantaran. Riuh suara alat musik mengiringi prosesi ini. Selanjutnya agenda makan bersama.  Setelah itu, keluarga pihak pengantin pria pulang. Eitss, masih belum selesai rangkaian acaranya. Selang beberapa saat,kedua pengantin dan perwakilan pihak keluarga perempuan berkunjung ke rumah Mas Nadyr. 
Acara resepsi dilaksanakan selepas sholat Isya. Baiklah untuk pertama kalinya saya memakai baju bodo Makassar. Ternyata oh ternyata,  permintaan dari keluarga abang, saya diminta untuk duduk sebagai pengiring pengantin dan duduk di pelaminan berdampingan dengan pengantin dan calon ibu mertua. Kehadiran saya dianggap mewakili ketidakhadiran abang Indar mengingat sedang dinas di  Bitung, Sulawesi Utara. Sebenarnya perasaan saya ada yang hilang dan sedih karena karena berharap abang bisa hadir di pernikahan adiknya.  Pasti begitu pula perasaan hati Mbak Risma dan keluarga. Semoga kehadiran saya bisa menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Saat di depan pelaminan, saya merasakan tatapan penasaran bagi para tamu yang hadir. Karena tentu saja, saya begitu asing di mata mereka. Siapakah saya? Saat bersalaman dengan para tamu, calon Ibu mertua saya tidak segan – segan mengenalkan saya sebagai calon menantunya. Saya hanya bisa tersenyum sambil mengenalkan diri. Hiburan musik elekton ikut meramaikan acara resepsi malam itu. Tentu saja, malam itu kita tak melewatkan prosesi foto – foto. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21.15 WITA. Baiklah, waktunya pengantin beserta rombongan meninggalkan pelaminan. 
Setelah resepsi pernikahan, tentu normalnya kita beristirahat. Nah ternyata itu bukan pilihan kita. Saya, ibu, tante Ade, tante Hasni beserta keponakan (Hanjar, Haykal, Hari dan Ita) serta  tante Hasni menikmati malam di Pantai Seruni. Menurut saya, kota Bantaeng termasuk daerah dengan kategori maju pembangunannya, tata kota yang apik dan saya akui tingkat kebersihan kotanya. Yang paling penting kerindangan pepohonan, jalan aspal mulus dan tidak ada kemacetan. Hehe. Pantai Seruni di malam hari menawarkan pemandangan lautan berhiaskan lampu – lampu di pepohonan. Wisatawan dapat menghabiskan waktu dengan menikmati wisata kuliner. Saya mencicipi Sarabba’ lho. Minuman khas Makassar yang terbuat dari campuran jahe, kuning teluar, gula aren, santan dan merica bubuk yang bisa menghangatkan tubuh. Pantai Seruni akan sangat ramai pengunjungnya ketika malam minggu tentu didominasi kaum muda. Semilir angin laut ditemani sepiring pisang epe dan segelas sarabba bisa membuat betah duduk berlama – lama bersama keluarga atau teman berbincang di Pantai Seruni. Selama berkunjung ke Bantaeng belajar bahasa daerah Makassar juga menjadi daya tarik bagi kami selain wisata dan kulinernya. 
Kekaguman saya pada Kabupaten Bantaeng terletak pada kemajuan daerahnya dengan ditandai berdirinya gedung tinggi menjulang dan ternyata itu adalah RSUD Bantaeng yang baru saja diresmikan oleh Bupati Nurdin Abdullah telah siap melayani masyarakat Bantaeng. Rumah sakit yang memiliki fasilitas komplit dan didukung tenaga medis handal sangat dibutuhkan. Bayangkan dibutuhkan waktu perjalanan darat 4 jam bagi pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit Makassar. Selain itu,  untuk menanggulangi permasalahan pemukiman kumuh yang dihuni nelayan  dan pembudidaya rumput laut di kawasan pesisir Bantaeng telah berdiri rusunawa dekat dengan Pelabuhan Bantaeng. Tentu hal ini patut  diapresiasi dan dapat diaplikasikan untuk mengatasi pemukiman di wilayah pesisir. Selama di Bantaeng memang saya belum terlalu mengeksplor tempat wisata yang lain mengingat keterbatasan waktu. Bersabarlah put, sebentar lagi Bantaeng akan menjadi salah satu kota tujuan untuk pulang kampung. Amin.  
To Be Continued … Part 3


Sekelumit Cerita tentang Perjalanan ke Bantaeng & Makassar (Part 1)

Menepati janji, menulis cerita perjalanan ke Bantaeng & Makassar, Sulawesi Selatan. Baiklah untuk pembaca, harap maklum atas runtutan cerita dan banyak curhatan saya didalamnya. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca.
Bersama Ibu tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin

Perjalanan saya menuju Bantaeng, Sulawesi Selatan merupakan perjalanan yang awalnya tidak diagendakan. Setelah mendapatkan kabar dari keluarga calon suami bahwa adik kandung perempuan calon suami saya Mbak Risma akan menikah. Apalagi keluarga mengharapkan saya hadir di pernikahan. Bahagia akhirnya saya bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar di Bantaeng. Memang semua sudah diatur oleh Allah SWT, karena bertepatan dengan jadwal cuti dan  acara pernikahan.  Akad nikah akan diadakan pada 17 Januari 2017, dan resepsi 20 Januari 2017. Baiklah, saya menyanggupi datang tanggal 19 Januari 2017. Karena saya juga sedang mempersiapkan pernikahan , saya membagi waktu cuti 3 hari di Malang, dan 4 hari di Makassar. Keberangkatan saya ke Bantaeng tentu saja tidak sendiri tapi mengajak turut serta Ibu dan tante saya. Sebelum saya menikah dan hidup merantau bersama suami tentu lebih baik mengajak ibu jalan – jalan dulu. Ya semoga nanti juga bisa selalu bepergian dengan keluarga walaupun sudah berumahtangga. Amin.
Kamis, 19 Januari 2017
          Saat bepergian alangkah baiknya kita mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk memulai perjalanan mengingat waktu tempuh dan kondisi cuaca. Saya memilih penerbangan pagi dengan maskapai Sriwijaya air pukul 06.00 WIB, karena hujan sering terjadi pada siang hari di Jawa Timur dengan harapan tidak delay. Belum lagi masalah waktu tempuh dari Makassar menuju Bantaeng dengan perjalanan darat +  3 - 4 jam. Memasuki Bandara Internasional Juanda di pagi hari, waow, ternyata sudah sibuk dengan ramainya pengguna jasa penerbangan yang di dominasi penerbangan menuju Indonesia Timur. Tepat pukul 06.00 WIB pesawat lepas landas memulai perjalanan ke Pulau Sulawesi. Perjalanan ditempuh selama 1 jam 20 menit. Alhamdulillah sepanjang perjalanan lancar, sempat sesekali mengalami goncangan ketika melintasi awan. Awan – awan putih mendominasi pemandangan selama perjalanan dan sinar matahari dengan lembut menyapa dibalik jendela pesawat. Ohya , saya juga menyempatkan membawa buku sebagai bahan bacaan untuk mengusir rasa bosan di perjalanan. Saat akan mendarat menuju bandara Internasional Hasanuddin Makassar, kita pasti disuguhi pemandangan kota yang berbeda.  Yang paling menarik mata kita yaitu atap  rumah di Makassar yang terbuat dari Besi (biasa disebut seng) , bukan seperti di pulau Jawa yang semua kompak beratap genting dari tanah liat. Nah pasti itu ada filosofinya, mengapa atap rumah di Makassar menggunakan bahan besi tidak menggunakan bahan dari tanah liat. Saya pernah mendengar penyampaian alasan penggunaan atap rumah berbahan besi bukan tanah liat hal itu dikarenakan manusia berasal dari tanah dan ketika meninggal akan kembali ke tanah. Jadi bagaimana mungkin manusia yang masih hidup tinggal dengan beratap tanah yang berarti dianggap seperti sudah meninggal. 
           Pukul 08.20 WITA akhirnya tiba juga di bandara Internasional Hasanuddin Makassar dan sudah dijemput om tante serta keponakan dari keluarga Bantaeng. Mulailah perjalanan ke Bantaeng yang terlebih dulu melewati Takalar dan Jeneponto. Tentu saat kami menyempatkan menikmati kuliner Makassar yaitu Sop Saudara dan Ikan Bandeng Bakar di Gowa (kalau tidak salah, hehe). Makassar kota terbesar di wilayah Indonesia Timur tampak sekali tingkat kemajuan pembangunannya, aktivitas penduduknya yang tinggi, kemacetan dialami sehari – hari di Makassar. Tapi yang belum kita temui saat berkunjung di Makassar adalah kereta api. Saat ini jalur kereta api Trans-Sulawesi sedang dalam proses pembangunan yang akan menghubungkan Makassar hingga Parepare, targetnya akan menghubungkan Makassar hingga Manado sepanjang 2000 km. Tentu saja pembangunan transportasi ini kabar baik yang harus segera diwujudkan di 3 pulau besar Indonesia lainnya yaitu Sumatera, Kalimantan & Papua.   Tepat pukul 13.00 WITA, akhirnya kami sampai di Bantaeng tepatnya di Desa Bonto Rita, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Sepanjang perjalanan menuju Bantaeng kita disuguhi pemandangan perbukitan, sawah, dan tampak garis pantai di kejauhan. Yapp, topografi Kab. Bantaeng memang dilatar belakangi oleh pegunungan dan berteraskan lautan. Kesibukan di rumah menjelang resepsi pernikahan sungguh terasa. Keluarga besar dari calon suami saya menyambut dengan suka cita. Wah, satu persatu saya bersalaman dan memperkenalkan diri. Payahnya saya tentu tidak langsung menghapal nama satu persatu anggota keluarga. Ampun deh. Sambil mengenalkan saya, Calon Ibu mertua saya berkata “ Ini Puput, calon Istrinya Indar dari Jawa”. Mereka semua tersenyum dan menyambut saya dan keluarga dengan hangat. Tepat sekali, saya akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Karena sesungguhnya pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan manusia dalam ikatan pernikahan tetapi sesungguhnya kita menyatukan kedua keluarga. Baik dari pihak saya dan abang, tentu pernikahan kami nanti menjadi sejarah dalam keluarga, karena dari dua suku yang berbeda yaitu Jawa dan Makassar. 

Seingat saya nama kudapannya "Hercules" hehe
Kesibukan menjelang resepsi pernikahan mulai dari memasak sajian makanan, dekorasi pelaminan, dan rangkaian upacara adat sungguh terasa. Tentu sajian makanan berbeda sekali dengan di Jawa, sajian kudapan yang disajikan terasa manis dan lagi – lagi saya lupa nama kudapannya tapi ingat sekali rasanya (pssst, saya memang penyuka manis). Hehe. Lebih baik waktu itu saya catat ya. Lalu dilanjutkan perbincangan hangat dengan keluarga. “Nanti malam acaranya “Mappaci” mbak put,” Ucap Mbak Risma,. 
Saya dan Mbak Risma dalam acara Mappaci


Apa itu Mappaci ?  Googling deh akhirnya saya dan membaca di blog tentang tradisi Mappaci Bugis Makassar. Tujuan dari mappaci adalah untuk membersihkan jiwa dan raga calon pengantin sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.  Acara mappaccing dihadiri oleh segenap keluarga untuk meramaikan prosesi yang sudah menjadi turun temurun ini. Dalam prosesi mappaccing, terlebih dahulu pihak keluarga melengkapi segala peralatan yang harus dipenuhi, seperti; Pacci (salahsatu jenis tumbuhan yang disebut tumbuhan pacar yang ditumbuk halus kemudian disebut pacci dikaitkan dengan kata “Paccing” dalam bahasa bugis disebut suci/bersih), daun kelapa, daun pisang, bantal, sarung sutera, lilin, dll. Mappaccing lebih sering dikaitkan dengan salah satu rangkain kegiatan dalam proses perkawinan masyarakat Bugis - Makassar . Mappaccing lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu syarat yang wajib dilakukan oleh mempelai perempuan, terkadang sehari, sebelum pesta walimah pernikahan. Saat acara mappacing, nenek memimpin acara dengan menggunakan bahasa Makassar serta diiringi dengan tabuhan alat musik seperti gendang. Saya juga sempat berpartisipasi dalam mappacing dengan memberikan sentuhan di dekat mata dahi, leher kepada mempelai perempuan yang sebelumnya pada jari tangan saya mengambil seperti tumbukan beras, rempah terdapat pada nampan kemudian diakhiri dengan memberikan hadiah serta pelukan dan doa agar mempelai hidup berbahagia. Saya dan mbak Risma kontan menangis terharu. Ohh rasanya. bahagia sekaligus ada perasaan sedih karena berpisah dengan keluarga. 
  

To be continued… Part 2

Serangkaian acara Mappaci.


Source :



Minggu, 27 November 2016

Diatom


          Ketertarikan mempelajari plankton tidak hanya dari bentuk dan jenisnya yang sangat beragam namun perannya yang sangat besar bagi kehidupan membuat kita akan semakin bersyukur atas nikmat Allah SWT. Plankton yang berukuran mikroskopis nyatanya berperan sebagai penghasil oksigen di bumi memang mutlak adanya. Salah satu plankton yang mendominasi perairan tawar dan laut adalah Diatom, yaitu lebih dari 260 genus diatom hidup dengan lebih dari 100.000 spesies (Round et al., 2000).Diatom berasal dari kata Yunani “Diatomos” yang berarti dipotong setengah.  Saat ini diketahui Diatom memiliki struktur khas yaitu dinding sel terbagi menjadi dua bagian yang dilapisi oleh silika. Diatom merupakan fitoplankton yang berperan sebesar 25% dalam proses fotosintesis di Bumi dimanapun ada cahaya dan nutrisi yang cukup. Selain itu, Diatom mempunyai konstribusi 40 – 45% produktivitas laut sehingga lebih produktif jika dibandingkan dengan hutan hujan di seluruh dunia. Diatom berfotosintesis di laut menghasilkan karbon organik yang berfungsi sebagai dasar untuk jaring makanan di laut. Jadi tidak mengherankan diatom berperan penting dalam siklus silika dan karbon di alam sehingga kesinambungan perikanan terjaga (Mann, 1999).
Diatom merupakan divisi Chrysophyta atau Bacillariophyta yang terdiri dari 2 (dua) ordo yaitu ordo Centrales dan ordo Pennales. Ordo centrales merupakan diatom centris terdiri dari 3 sub ordo yaitu Coscinodiscineae, Rhizosolenieae dan Biddulphiineae. Sedangkan ordo pennales merupakan diatom pennate terdiri dari 2 sub ordo yaitu Fragilariineae dan Bacillarineae. Selanjutnya, mari kita lebih jauh mengenal tentang diatom.

1.   Morfologi diatom
            Diatom ada yang bersel tunggal dan sel berantai yang dilapisi oleh dinding keras yang terbentuk dari pektin yang berisi silika yang disebut frustule. Frustule tersebut terdiri dari epiteka (katup bagian atas) dan hipoteka (katup bagian bawah). Epiteka berukuran lebih besar dan lebih tua dibandingkan hipoteka dan memiliki elemen pengikat yang disebut cingulum
          Berdasarkan bentuk frustule terbagi menjadi dua kelompok yaitu centric diatom (diatom berbentuk bulat) dan pennate diatom (diatom berbentuk bilateral simetri). Diatom sentrik (centric) bercirikan bentuk sel yang mempunyai simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segitiga atau segiempat. Sebaliknya diatom penat (pinnate) mempunyai simetri bilateral, yang bentuknya umumnya memanjang atau berbentuk sigmoid seperti huruf “S”. Sepanjang median sel diatom penat ada jalur tengah yang disebut rafe (raphe) (Anugrah, 2008). Raphe pada diatom digunakan untuk pergerakan diatom yang juga penting dalam identifikasi.
        Bold & Wyne (1980) menjelaskan bahwa Diatom pennate bergerak secara spontan. Pergerakan terjadi karena, pertama adanya sekresi rantai mukopolisakarida. Zat ini dikeluarkan secara terus-menerus sehingga menyebabkan sel bergerak, dan mampu pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, adanya mekanisme kapilaritas yang menimbulkan gerakan perlahan-lahan dari partikel-partikel di sepanjang rafe. Ketiga, pergerakan diatom berkaitan erat dengan aliran sitoplasma dalam sel dan keberadaan raphe pada dinding sel.
       Seluruh permukaan valvula pada diatom penuh dengan berbagai ornamentasi yang simetris dan indah dan pori-pori yang menghubungkan sitoplasma dalam sel dengan lingkungan diluarnya. Ciri ornamentasi pada valvula ini merupakan hal penting untuk identifikasi jenis.
2.   Ekologi Diatom
        Diatom tersebar pada seluruh perairan dunia, dari perairan tawar hingga laut dalam. Klasifikasi secara umum meliputi oligohalophilic suatu diatom yang hidup di air dengan kadar garam < 0,05%o dan mesohalophilic serta polyhalophilic yang hidup di air laut dengan kadar garam > 0,05%o.  Diatom hidup terapung bebas di dalam badan air dan kebanyakan melekat pada substrat yang lebih keras. Pelekatan diatom biasanya karena tumbuhan ini mempunyai semacam gelatin (Gelatinous extrusion) yang memberikan daya lekat pada benda atau substrat. Kadang ditemukan beberapa diatom yang walau sangat lambat tetapi punya daya untuk bergerak. Diatom akan sangat tergantung pada pola arus dan pergerakan massa air baik itu secara horizontal maupun vertical (Kasim, 2008). Ada Diatom yang hidup sebagai bentos (didasar laut) atau yang kehidupan normalnya di dasar laut tetapi oleh gerakan adukan air dapat membuatnya lepas dari dasar dan terbawa hanyut sebagai plankton (disebut sebagai tikoplankton) (Anugrah, 2008).
3.   Reproduksi diatom
       Reproduksi dilakukan dengan cara membelah diri yaitu memisahkan antara bagian epiteka dan hipoteka. Bagian epiteka membentuk hipoteka untuk menjadi sel diatom baru. Sedangkan bagian hipoteka akan berubah peranannya sebagai epiteka dan membentuk hipoteka baru. Demikian diatom akan membelah beberapa kali dan ukurannya mnejadi semakin kecil. Untuk mengembalikan kepada ukuran semula diatom membentuk Auxospore.
4.   Peranan diatom
              Selama ini peranan diatom yang awam diketahui adalah sebagai penghasil oksigen dan bahan organik bagi organisme akuatik, bioindikator kualitas perairan, serta diatom yang mengendap di dasar laut dalam rentang waktu yang lama dapat menjadi cadangan minyak bumi. Diatom menjadi bioindikator kualitas perairan memiliki keunggulan dibandingkan organisme lainnya karena distribusi luas, populasi variatif, penting dalam rantai makanan, siklus hidup pendek, reproduksi cepat, hampir semua terdapat di permukaan substrat, banyak spesies sensitif terhadap perubahan lingkungan, mampu merefleksikan perubahan kualitas air dalam jangka pendek dan panjang, mudah pencuplikan, pengelolaan dan identifikasinya (Gell et al., 1999; Round et al., 2000).
          Namun tidak banyak yang mengetahui, dalam dunia kedokteran forensik melalui tes diatom pada tubuh korban yang diduga meninggal karena tenggelam keberadaan diatom  sangat membantu dalam mengetahui penyebab kematian. Tes diatom tersebut dilakukan dengan cara mengambil dan memeriksa contoh air dari dugaan lokasi tenggelam, contoh jaringan dari hasil otopsi korban, jaringan yang dihancurkan untuk mengumpulkan diatom, konsentrasi diatom dan analisa mikroskopis. Keberadaan diatom pada tubuh korban sebagai alat penting dalam diagnosis, konfirmasi kematian, serta bukti pendukung dalam penyebab kematian.
         Diatom juga dimanfaatkan dalam terapan ilmu paleolimnologi. Paleolimnologi merupakan ilmu yang mempelajari geologi dan perkembangan di perairan tawar. Melalui pendekatan paleolimnologi  memanfaatkan informasi fisik, kimia dan biologi yang tersimpan di dalam inti sedimen sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan kualitas air. Dengan mengetahui kualitas perairan di masa lampau dapat memprediksi kualitas perairan di masa mendatan. Diatom telah diaplikasikan dalam analisis paleoekologi di Everglades National Park Florida Bay, USA (Pyle et al.,1998), Ealden Pond Massachussets USA, Danau Lac Saint Augustine di Quebec City Canada (Pienitz et al., 2006), serta Danau Rawa Pening Indonesia (Soeprobowati dan Hadisusanto, 2009).

Referensi
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut., LIPI Press. Jakarta.                                                   Wilianto W. 2012. Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga Tenggelam (Review). Jurnal               Kedokteran Forensik Indonesia, Vol. 14 No. 3, Juli – September 2012.
Soeprobowati dan Hadisusanto. 2009. Diatom dan Paleolimnologi: Studi Komparasi Perjalanan Sejarah Danau Lac Saint-Augustine Quebeq-City, Canada dan Danau Rawa Pening Indonesia. Biota Vol. 14 (1): 60-68, Februari 2009
ISSN 0853-8670
Richard Telford, Geography Department, Newcastle University.  http://www.eecrg.uib.no/Homepages/Teaching/index.htm

E. Virginia Armbrust. 2009. The life of diatoms in the world’s oceans. NATURE Vol (459)


Rabu, 23 November 2016

Eutrofikasi & Plankton



Proses Eutrofikasi
Komponen vital rantai makanan di perairan tawar dan laut adalah fitoplankton dan zooplankton. Komunitas plankton menggambarkan kondisi kualitas air perairan karena plankton tidak mampu mengisolasi dirinya dari perairan seperti kerang yang mampu menutup cangkangnya ketika kondisi tidak menguntungkan. Plankton mengakumulasi efek perubahan dari kualitas air yang terjadi terus menerus sehingga kita harus memahami tentang plankton dan interaksinya dengan lingkungan untuk memanajemen kualitas air. Fitoplankton merespon perubahan cahaya, nutrisi dan sedimen serta merespon memakan oleh zooplankton. Kelimpahan dan jenis fitoplankton pada perairan dapat memberikan informasi tentang  baik atau tidaknya kondisi kualitas perairan  yang berpengaruh pada penanganan dalam memanajemen kualitas air. Contohnya, kita harus mengetahui spesies fitoplankton yang beracun dan berbahaya bagi konsumen seperti ikan, kerang,dan manusia. Walaupun dalam jumlah yang kecil fitoplankton yang beracun dan berbahaya dapat menyebabkan ledakan populasi fitoplankton (blooming) akibat dari peningkatan konsentrasi nutrien di perairan.
             Kelimpahan suatu jenis fitoplankton ditentukan oleh sifat fisik dan kimia air terutama kandungan nutrien badan air. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan fitoplankton untuk pertumbuhan. Pada ekosistem perairan tawar nutrien pembatas faktor pertumbuhan fitoplankton yaitu Fosfat (PO4-), sedangkan pada ekosistem perairan laut nutrien pembatas pertumbuhan  fitoplankton adalah Nitrogen (N).
       Eutrofikasi merupakan peningkatan kepadatan fitoplankton yang diakibatkan oleh peningkatan konsentrasi nutrien/hara terlarut dalam badan air, yang dapat berasal dalam dan luar ekosistem. Dari dalam ekosistem, peningkatan nutrien berasal dari dekomposisi organik (detritus & kotoran/ekskresi) dan regenerasi nutrien oleh zooplankton, sedangkan dari luar ekosistem nutrien masuk ke badan air melalui berbagai bahan buangan (limbah) baik yang disengaja ataupun tidak. (Garno S.Y, 2012)
 Peningkatan konsentrasi nutrien di perairan dari luar ekosistem disebabkan oleh aktifitas manusia seperti limbah dari pertanian, industri dan rumah tangga. Sugiura et al., (2004) menyatakan limbah organik dan sedimen mengalami dekomposisi dan meningkatkan konsentrasi unsur Nitrogen (N) dan fosfor (P), yang dapat mendorong pertumbuhan fitoplankton. Pada konsentrasi optimum, unsur hara N dan P menguntungkan bagi pertumbuhan fitoplankton yang merupakan makanan bagi ikan dan udang. Namun ketika konsentrasi unsur – unsur tersebut tinggi, terjadi pertumbuhan fitoplankton yang berlebih (blooming) atau eutrofikasi
Alexandrium sp
Ledakan populasi plankton dapat berakibat pada bervariasinya nilai pH dan oksigen terlarut. Pada siang hari, fotosintesis oleh plankton mengubah karbondioksida dari air menyebabkan pH naik dan menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan saturasi tinggi dari kelarutan oksigen. Sedangkan pada malam hari, respirasi oleh plankton dan organisme lainnya di dalam air, meningkatkan jumlah karbondioksida terlarut di dalam air yang menyebabkan pH turun dan begitupula kandungan oksigen terlarut mengalami penurunan. Perubahan rentang  nilai pH yang terlalu besar akan berdampak pada dan rendahnya kelarutan oksigen terlarut di dalam air akan menyebabkan stress pada ikan maupun organisme akuatik lainnya. Selain itu eutrofikasi menyebabkan peningkatan konsentrasi  seperti hydrogen sulfide, methane dan ammonium dapat beracun bagi organisme akuatik.
Microcystis sp
Dampak dari eutrofikasi akan menyebabkan dominasi fitoplankton yaitu Microcystis sp di waduk – waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur sedangkan dominasi Pyrodinium sp, Alexandrium spp, dan Gymnodinium spp di perairan pesisir waktu terjadi “red tide”.
  
Syahrul dkk (2013) mengemukakan bahwa untuk menanggulangi eutrofikasi dengan cara :
1.    Attacking symptoms
a.    Mencegah pertumbuhan vegetasi penyebab eutrofikasi
b.    Menambah atau meningkat oksigen terlarut dalam air
Metode yang dapat digunakan yaitu chemical treatment untuk mengurangi kandungan nutrien berlebihan dalam air,  aerasi, dan harvesting algae (memanen alga) untuk mengurangi alga yang tumbuh subur di permukaan air.
2.    Getting at the root cause
a.    Mengurangi nutrien dan sedimen yang masuk ke dalam air.

Referensi
Garno S.Y, 2012. Dampak Eutrofikasi Terhadap Struktur Komunitas dan Evaluasi Metode Penentuan Kelimpahan Fitoplankton. Jurnal Teknik Lingkungan 13(1) :  67 – 74.
Sugiura et al.,. 2004. Assessment for  the Complicated Occurrence of Nuisance Odours from Phytoplankton and Enviromental Factors in a Eutrophic Lake. Lake & Reservoirs : Res. and Man., 9: 195 – 201.
Suthers, Iain M  dan Rissik, David. 2009. Plankton, A Guide to Their Ecology and Monitoring for Water Quality. CSIRO Publishing. Australia
Syahrul dkk. 2013. Kajian Analisis Kualitas Air Danau UNHAS : Pembahasan Khusus Pada Proses Eutrofikasi. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Hasanuddin.



Selasa, 04 Oktober 2016

Plankton, Sumber Nutrisi Masa Depan


              Secara umum sebagian orang mengenal plankton hanya sebatas pada organisme mikroskopik baik yang berkarakteristik tanaman(fitoplankton) atau hewan (zooplankton). Peranan plankton tak hanya sebagai makanan bagi organisme akuatik, namun memiliki peranan yang lebih besar dari ukurannya. Kebutuhan akan oksigen di bumi tak hanya dipenuhi oleh pepohonan yang menghasilkan oksigen. Nyatanya, hampir 80% oksigen di bumi dihasilkan oleh plankton mampu memproduksi oksigen dari proses fotosintetis.

Plankton sebagai sumber nutrisi
Spirulina sp
Hmm… lantas pernahkah kita membayangkan plankton juga bisa menjadi sumber nutrisi bagi manusia?. Ternyata bangsa Aztec telah mengkonsumsi Spirulina sejak abad 14 – 16. Begitu pula dengan bangsa China sejak lebih dari 2000 tahun lalu telah mengkonsumsi  Arthospira, Nostoc, dan Aphanizamenon). Kebutuhan nutrisi manusia yang selama ini didapatkan dari protein nabati dan hewani dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Lonjakan jumlah penduduk dunia yang dikhawatirkan makin tak terkendali yang saat ini mencapai 7 miliar jiwa, harus diiringi dengan peningkatan kebutuhan pasokan nutrisi baik dari segi kuantitas dan kualitas. Jika tidak ada alternatif sumber pangan yang bernutrisi tinggi dapat menyebabkan kualitas sumberdaya manusia menurun akibat tak terpenuhinya kebutuhan gizi.

Euglena gracilis
 Paradigma masyarakat saat ini masih menilai bahwa makan haruslah dengan makanan yang diolah dengan rasa enak dikonsumsi dan mengenyangkan. Padahal yang penting bukan hanya enak dilihat dan nikmat saat dimakan, namun makanan tersebut haruslah mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Nah beberapa perusahaan telah memproduksi massal produk suplemen nutrisi dan kesehatan yang memanfaatkan plankton, yaitu Chlorella sp dan Spirulina sp. Selain itu ternyata ada satu jenis lagi plankton yang diklaim ahli saintis menjadi sumber makanan ideal yaitu Euglena gracilis. 

Untuk menjadikan plankton sebagai sumber nutrisi masa depan, ada baiknya kita mengenal kandungan gizi dari ketiga jenis plankton tersebut
Chlorella sp
Spirulina sp
Euglena gracilis
Protein : 60,5%
Karbohidrat :  26%
Lemak : 2%

Protein : 50 - 61%
Karbohidrat : 13 – 16%
Lemak : 6 – 7%

Protein : 39 – 61 %
Karbohidrat : 14 – 18%
Lemak : 14 - 20%

Vitamin : A, B1, B2, B6, B12, C & E, niasin, asam pantotenat
Vitamin : A, B1, B2, B3, B12, C
Asam pantotenat
Vitamins  : α -carotene, β -carotene, biotin, B1, B2, B6, B12, C, D, E, asam folat, K1, niasin, asam pantotenat
Mineral : Asam folat, kalsium, fosfor, iodium, magnesium, besi,
Mineral : Asam folat, kalsium, kalium, natrium, fosfor, magnesium, zat besi, zinc, mangan dan selenium
Mineral : Kalsium, besi, magnesium, mangan, fosfor, potassium, sodium, zinc
Asam amino : Lysin, Histidin, Arginin, Treonin, Serin, Prolin, Alanin, Asam glutamate, Triptofan, Leusin, Valin,
Asam amino : isoleucine, leucine, lysine, tryptofan, alanine, arginine, asam glutamic, histidine, tyrosin,
Asam amino : palin, leucin, isoleusin, alanine, arganin, lisin, asam aspartate, asam glutama, tirosin, tryptophan, glisin, serin, sistin

Manfaat mengkonsumsi produk pangan berbasis plankton
Saat ini produk yang memanfaatkan plankton diproduksi secara massal dalam bentuk tablet, kapsul, serbuk, minuman kaleng, permen dan dicampur dalam pangan lain untuk meningkatkan nilai nutrisi dan rasanya. Berbagai manfaat yang akan kita dapatkan dari rutin mengkonsumsi salah satu dari ketiga plankton diatas mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sehingga dapat menyediakan energi bagi tubuh, mampu mengaktifkan sel – sel penting untuk mengeluarkan senyawa toksik dari dalam tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menekan kolesterol dan tekanan darah tinggi, kandungan antioksidan tinggi, mengurangi resiko terkena penyakit kanker dan jantung, memperbaiki sistem pencernaan,dan merawat kesehatan kulit.

Prospek Masa Depan
Indonesia merupakan negara tropis, garis pantai terpanjang kedua di dunia dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan maka berpotensi besar sebagai negara dalam memproduksi plankton sebagai alternatif pangan. Menurut van Harmelen dan Oonk (2006) memaparkan bahwa wilayah negara dengan suhu di atas 150C cenderung merupakan negara yang cocok untuk memproduksi plankton. Selain itu dalam membudidayakan plankton memiliki waktu panen yang relatif cepat dibandingan tanaman lain dan teknologi budidaya plankton harus dikuasai dengan baik. Kendala yang dihadapi saat ini masih minimnya peran pemerintah dan swasta untuk mengembangkan produksi plankton untuk alternatif kebutuhan dalam negeri.  Tak hanya itu, animo masyarakat untuk beralih ke pangan alternatif masih sangatlah rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk mulai merintis industri produk pangan berbasis plankton agar menghasilkan produk pangan yang bergizi tinggi, murah, dan dapat dikonsumsi masyarakat. Prospek di masa depan, produk pangan berbasis plankton tidak hanya dalam bentuk tablet dan serbuk tapi menjadi produk pangan inovatif seperti dicampur dalam mie instan, permen, dan komoditas utama lain untuk meningkatkan nilai gizi dalam kehidupan masyarakat Indonesia (Azimatun Nur, 2015) . Harapannya, dengan mengkonsumsi produk pangan berbasis plankton akan semakin meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang mampu memajukan pembangunan Indonesia.







Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...