Sabtu, 14 November 2015

WFD dan EMS, Momok Budidaya Udang Vanname


Pesatnya budidaya udang yang menjadi tumpuan utama kehidupan lebih dari 6 juta penduduk di wilayah pesisir Indonesia berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan. Sistem intensif budidaya udang vanname membuat rentannya udang terserang penyakit akibat menurunnya daya dukung lingkungan. Tidak dapat dipungkiri  penurunan daya dukung lingkungan karena rendahnya pengelolaan kegiatan budidaya perikanan yang berasaskan aspek keberlanjutan. Seperti halnya produksi budidaya udang vanname Thailand  yang mengalami stagnasi dan cenderung turun akibat terkena efek EMS (Early Mortality Syndrom) turun dari 250,000 MT pada 2013 menjadi 220,000 MT  pada tahun 2014.  Penyakit EMS (Early Mortality Syndrom) menjadi momok bagi pembudidaya udang karena bisa menyebabkan kematian hingga 100% pada udang budidaya berusia 20-30 hari. Hasil penelitian Donald Lightner, ahli patologi udang dari University of Arizona telah mengidentifikasi patogen penyebab EMS yaitu  sebuah galur unik dari bakteri Vibrio parahaemolyticus. Hingga saat ini penanganan penyakit EMS masih dalam tahap riset lebih lanjut.
Sebelum merebaknya penyakit EMS, terlebih dulu ditemukan penyakit WFD (White Faeces Diseases) atau penyakit kotoran putih. Penyakit WFD ini menyebabkan nafsu makan udang menurun, plankton drop dan pakan banyak tersisa. Lalu terlihat kotoran putih mengambang di petakan tambak budidaya. WFD menyerang pada saat DOC (Day of Culture) 60 hari ke atas. Penyakit WFD disebabkan kurang bijaknya pelaku pembudidaya udang dalam mencapai pertumbuhan udang sesuai target sehingga pemberian pakan dilakukan berlebihan. Tentu berlebihnya pakan menyebabkan tingginya bahan organik di perairan sehingga memicu pesatnya berbagai sumber penyakit untuk tumbuh.
Seperti dikutip dari website bluppbkarawang.com pada acara workshop pengendalian budidaya udang, mulai munculnya WFD di Indonesia perlu mewaspadai merebaknya penyakit EMS walaupun kedua penyakit tersebut belum mampu dibuktikan secara nyata memiliki keterkaitan. Sidrotun Naim S. Si, M. Mar. ST, Ph D ahli penyakit udang menjelaskan bahwa serangan penyakit pada umumnya diawali dengan menurunnya kualitas lingkungan budidaya diantaranya meningkatnya konsentrasi Total Amonia Nitrogen (TAN) dan alkalinitas, tingkat kecerahan yang lebih rendah serta adanya suksesi plankton dari Cyanophyta menjadi jenis Dinoflagellate dan Ciliata/Protozoa Sedangkan secara mikrobiologi tambak yang terserang WFD memiliki jumlah vibrio koloni hijau yang lebih tinggi dibandingkan tambak normal. Penyebab WFD diduga kuat disebabkan oleh kombinasi serangan parasit Gregarin dan bakteri vibrio.  Pengendalian yang diupayakan adalah dengan aplikasi probiotik Bacillus spp., aplikasi vitamin C serta deteksi dini berdasarkan kualitas air dan mikroba
Guna mengantisipasi penyakit WFD maupun EMS adalah dengan adanya pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi kualitas lingkungan dan kesehatan udang. Alangkah baiknya jika dalam satu kawasan budidaya udang vanname memiliki fasilitas laboratorium. Laboratorium yang terdiri dari terampilnya kompetensi sumberdaya manusia, ketersedian peralatan dan bahan uji serta standar metode uji  analisa kualitas air maupun kesehatan udangTentu saja hal ini akan memberikan alternatif penanganan berdasarkan data uji dari laboratorium. Selain itu didukung dengan komitmen pembudidaya udang yang mampu menerapkan standar Good Aquaculture Practices (GAP). Pada akhirnya tercapailah kegiatan budidaya perikanan yang berkelanjutan.







Kamis, 29 Oktober 2015

Galau untuk menikah


Saya galau.

Iya galau, karena menginjak usia menikah namun belum juga kunjung dilamar sang pujaan hati. Sementara menanti hari itu tiba, waktu tak kusiakan untuk berkarir dan mempersiapkan masa depan.

Saya berharap bisa menikah di usia muda.  Alasan saya sederhana, jika memang sudah yakin dan ada niat baik harus disegerakan. Menikah untuk menyempurnakan ibadah. Harapan saya untuk menikah muda, bukan hanya untuk kesehatan saya sendiri mengingat terbatasnya usia produktif perempuan untuk melahirkan dan mendidik putra putrinya. Memikirkan bagaimana saya kelak menjadi ibu dan seorang istri pasti sangat menyenangkan.  Selain itu menimbang masa depan, terutama tentang kehidupan berkeluarga. Jika sudah dibina dari usia muda dan produktif, tentu kita (orang tua) tidak perlu ngoyo bekerja hingga usia batas pensiun untuk menafkahi keluarga. Menikah bukan hanya mapan secara finansial, mutlak juga mapan secara psikologi. Siapkah dengan kehidupan berumah tangga yang penuh liku. Siapkah saya ?

Agaknya saya harus mulai mempersiapkan diri. Mulai berinvestasi, memupuk keterampilan berumah tangga, dan tentu menempa kesiapan psikologi. 

Menikah bukan tentang siapa yang dulu menikah, tapi yang paling lama mempertahankan kebahagiaan pernikahan itu sendiri…


Adakah saran untuk saya? 

Sabtu, 24 Oktober 2015

Bekerja adalah Ibadah


Mungkin bagi sebagian masyarakat awam menilai berkarir di bidang perikanan hanya berkutat dengan kolam, tambak bahkan mengarungi lautan untuk mendapatkan ikan. Sayangnya berkarir sebagai seorang analis maupun peneliti di bidang perikanan belum menjadi pilihan utama. Padahal tidak dapat dipungkiri kemajuan budidaya perikanan tidak mungkin bisa berkembang tanpa adanya data riset. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, riset adalah  penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Nah kegiatan riset ini selalu berkaitan erat dengan dunia laboratorium. Laboratorium yang identik dengan bahan – bahan kimia, prosedur kerja yang rumit dan peralatan canggih tentu harus didukung pula sumberdaya manusia handal guna menghasilkan data riset yang ilmiah dan terpercaya. Dedikasi terhadap pekerjaan sebagai peneliti, membawa kita untuk menikmati memecahkan misteri dari sampel yang tentu menghasilkan kepuasaan tersendiri jika kita mampu memberikan hasil yang terbaik.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ilmu yang saya miliki haruslah terus kita kembangkan. Ilmu di bangku kuliah adalah bekal kita untuk mengarungi dunia kerja. Ilmu yang kita dapatkan bukan hanya dari membaca, tapi belajar sebanyak mungkin dari pengalaman orang lain yang kita padukan dengan pengalaman kita sendiri. Hal kecil yang saya lakukan dengan cara mencatat hal – hal baru di bidang yang saya tekuni saat. Semakin detil kita memahami apa yang kita pergunakan misalnya alat dan berbagai ilmu teori dasar didalamnya semakin baik kemampuan diri kita. Semakin kita merasa enggan untuk bertanya, menganalisa, ataupun bertindak kreatif itu sama halnya memenjarakan pikiran kita. Singkirkanlah perasaan bahwa diri kita paling pintar dan paling mampu, tapi sejauh mana kita ikhlas untuk belajar. Selain itu, ilmu semakin berkah jika kita menyampaikan kepada orang lain. Tentu kita wajib menguasai ilmu yang akan kita sampaikan, jika belum maka kita lebih baik belajar terlebih dulu, Bekerja memang menghasilkan pundi – pundi rupiah, namun seyogyanya juga menjadi ladang ibadah bagi kita.
Ilmu yang kita miliki akan semakin bijak jika ditunjang dengan attitude kerja yang baik. Selain itu, kita juga harus mampu bekerja sebagai tim serta menjunjung kesetiakawanan sebagai sesama analis/peneliti. Ketika kita mendapati kesulitan, sebisa mungkin kita diskusikan dan kerjakan bersama. Kita yang dulunya terbiasa aktif berorganisasi tentu akan terlihat lebih mencolok dalam hal kinerja dibandingkan orang yang pasif berorganisasi. Misalnya tanpa menunggu intruksi pekerjaan tentu naluri kita mampu memilah skala prioritas pekerjaan dan kemampuan menyampaikan materi tentu terlihat mumpuni. Ketenangan dan keikhlasan dalam bekerja sangat mendukung kinerja kita sebagai peneliti. Jangan biasakan untuk “grusa grusu”. Mari kita niatkan pekerjaan yang kita lakukan sebagai ibadah. Salam sukses.


Jumat, 23 Oktober 2015

Jalan Mana yang Ku Pilih?!


                                    
Setelah lulus kuliah strata satu, lantas jalan mana yang kita pilih. Studi lanjut ? Menikah ? atau bekerja?. Tentu pilihan semua ada pada diri kita. Ketika kita sudah pada dunia kerja, tentu kita harus siap pada konsekuensi yang kita jalani. Mungkin bagi sebagian orang yang mengenal saya dengan baik, pasti menyayangkan keputusan saya. Saya meyakini pilihan saya karena Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Seperti kata pepatah, “Kesempatan baik  tak pernah datang dua kali”. Seperti yang saya alami, pada awal masa training “Profesional Aquaculture Technician Development (PACT)” Batch I yang diadakan di Kantor PT. CP Prima, Tbk Sepanjang, Surabaya. Kegiatan PACT ini digulirkan mengingat urgensinya regenerasi sumberdaya manusia dalam bisnis perudangan. Kegiatan budidaya udang vanname di Indonesia yang sangat menjanjikan tentu harus didukung  sumberdaya manusia yang  handal. Masa in class training itu diikuti oleh 14 orang  dan saya menjadi satu – satunya perempuan dalam training tersebut. Memang dunia perudangan selama ini nampak didominasi oleh kaum adam. Padahal tak sedikit pula, kiprah perempuan di dalamnya. Sedikit jengah dan tidak nyaman rasanya saat saya hanya seorang diri tak ada teman perempuan untuk saling berbagi selama 2 minggu itu. Tapi dalam diri saya bertekad, saya berniat untuk belajar lebih baik menyerap ilmu dan mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Tak mengapa jika saya hanyalah minoritas. Baik secara gender dan asal kampus. Apalagi status saya sebagai mahasiswa dari universitas swasta sedangkan rekan – rekan saya notabene berasal dari universitas negeri. Hmm… bahkan sempat ditanya apa iya di Universitas Muhammadiyah Malang ada jurusan perikanan. Dengan lugas saya menjawab, iya pak ada malah usia nya sudah 17 tahun. Hal itu malah semakin melecut saya untuk membuktikan bahwa saya mampu setara dengan rekan – rekan saya.

Bersyukur saya bisa bergabung dengan PT. Central Proteina Prima, Tbk. Melalui training in class kita mendapatkan materi tentang budidaya udang vanname secara detil yaitu alur proses budidaya udang vanname sesuai SOP CP Prima dan teknik laboratorium. Kita pun tak hanya dihadapkan pada teoritis belaka, tapi berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan ikut pula dipaparkan. Pemateri pada PACT pun tak kalah mumpuni yang sangat menguasai materi baik praktikal dan teori. Semakin kita aktif ingin tahu melontarkan pertanyaan pada presentator, maka makin banyak bekal pengetahuan yang kita dapatkan. Maklumlah kita masih awam dalam dunia perudangan. Tak hanya materi in class, peserta mengunjungi salahsatu tambak pendampingan di Probolinggo untuk observasi  dan tentu kita wajib mempresentasikan hasil observasi lapangan. Itulah ajang “pembantaian” hehe. Pembantaian pertanyaan maksudnya. Sehingga kita bisa menilai sejauh mana kita memahami dan menguasai materi. Eitss selama 2 minggu kita juga menjalin keakraban satu sama lain menjadi keluarga baru. Dunia kerja tak melulu membentukm kita menjadi pekerja, tapi sejauh mana ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat untuk diri kita dan orang lain. Selalu saya ingat pesan Bapak Subandriyo “Selalu niatkan apa yang kita lakukan sebagai ibadah, semoga menjadi pahala kebaikan untuk kita.” Tentu begitu banyak pengalaman berharga yang sudah saya dapatkan  bukan hanya bekal ilmu namun juga bekal kehidupan. Salam sukses selalu.

Jumat, 17 April 2015

Pernikahan itu Pertukaran Sumber Daya

Pernikahan merupakan perjanjian antara dua manusia yang memerlukan tanggung jawab, komitmen, dan kasih sayang.Namun dibalik itu semua, pernikahan sesungguhnya pertukaran sumberdaya antar perempuan dan lelaki. Bukan sekedar pertukaran cinta, budaya, namun terlebih pada sumberdaya yang dimiliki keduanya. Perempuan memiliki kebeliaan fisik dan menguasai keterampilan hidup (memasak, membesarkan dan mendidik anak, mengurus rumah, melayani suami dll) sedangkan lelaki memiliki kemampuan menghasilkan sumberdaya. Jika kita kembali belajar dari nenek moyang kita saat zaman purba. Begitu lumrah kita melihat film tentang manusia purba pria pergi berburu untuk makan keluarga dan manusia purba perempuan menggendong anaknya menunggu di perkampungan. Sudah banyak pergeseran kultur manusia sejak zaman modern dienyam manusia. Tidak lagi kaum pria yang mampu mencari sumberdaya (baca : nafkah) namun kini perempuan pun turut serta mengupayakan sumberdaya (baca : bekerja).
Tentu kita familiar dengan kata motivasi Pak Mario Teguh “Wanita suka laki-laki yang jelas. Jelas cintanya, lamarannya, kesejahteraannya, dan jelas tidak akan membagi cinta”. Sejatinya perempuan selalu berharap seorang lelaki itu setia kepada dirinya seorang. Fitrah seorang perempuan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang mampu mengandung dan melahirkan anak ke dunia, menuntut perempuan untuk memilih bersama lelaki yang mampu memberikan perlindungan kepada dirinya dan anaknya. Bukan hanya memberi perlindungan, tapi lebih akankah lelaki itu mau membagi sumberdaya yang dihasilkannya (baca : bekerja mencari nafkah) untuk anak istrinya dalam jangka waktu panjang. Selain itu, sebagai makhluk yang dikaruniai hati dan akal, sejatinya kita (perempuan dan lelaki) hidup untuk meraih kebahagiaan tidak hanya terpenuhi dari segi materi, namun juga terpenuhinya rohani dan batiniah.
Jangan lagi menyangkal, kaum perempuan lebih tertarik kepada pria yang jelas masa depannya. Bukan karena dia sudah memiliki harta dan ketampanan yang tak habis dimakan tujuh turunan. Namun lebih kepada usaha dia (lelaki) itu untuk memperjuangkan kehidupannya dan mengupayakan cintanya. Tengok saja realita kehidupan modern masa kini. Kaum lelaki cenderung lebih memilih menikah dengan perempuan yang dinilai memiliki standar setara atau dibawahnya. Misalnya seorang manajer pria berusia 32 tahun dengan penghasilan 8 – 10 juta per bulan menikah dengan perempuan berusia 25 tahun dengan tingkat pendidikan setara S1 namun tidak memiliki jabatan lebih tinggi dari sang pria. Tentu dari segi sang pria, sulit untuk memilih hidup bersama perempuan yang standar kehidupannya jauh diatas sang pria. Dan hal itu berlaku pula sebaliknya, bagi perempuan lebih memilih menikah dengan pria yang berada di atas standar perempuan (baca : mapan). Lagi – lagi kembali pada pertukaran sumberdaya. Semakin belia usia perempuan dari sang pria kemungkinan untuk menghasilkan keturunan dan mengabdikan hidupnya untuk keluarga juga lebih tinggi. Pria mapan lebih memiliki kepastian dan kestabilan menghasilkan sumberdaya yang jauh lebih banyak. Bukan maksud menyulut pemikiran perempuan untuk matre. Tapi lebih berpikir jauh masa depan, tentang kehidupan keturunannya dan keluarganya. Mengutip motivator Mario Teguh “Perempuan bersikap matre karena dia yang mengelola keluarga, merawat suaminya, membesarkan dan mendidik anak-anaknya, memastikan rumah nyaman dan aman bagi keluarganya, makanan mereka sehat dan enak dan itu semua membutuhkan biaya”. Pria menghasilkan sumberdaya untuk kehidupan yang baik sedangkan perempuan memiliki kemampuan untuk memberikan garis keturunan dan merawat keluarga seumur hidupnya. Toh,perempuan tidak perlu munafik, saat kita tak mengakui kita tak membutuhkan lelaki itu hanyalah sebuah penyangkalan. Tentu jauh dilubuk hati seorang perempuan baik itu single, sudah berkeluarga, maupun janda menginginkan sosok lelaki sejati dalam hidupnya. Semoga kita dipertemukan dengan sebaik – baiknya belahan jiwa.

Minggu, 05 April 2015

Wanita (harus) Materialistik !

Materialistik adalah sifat kebendaan atau keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan. Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra.  Hal ini terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa. Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Wanita (harus) materialistik, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia (wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya. Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara, karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi kebutuhan.  Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan. Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi. Wanita memang materialistik!


Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...