Senin, 05 Januari 2015

KONSUMSI IKAN UNTUK OTAK CERDAS


 Gambar : http://health.kompas.com/read/2011/07/29/1654170/9.Alasan.Mesti.Makan.Ikan

"Kalau kebanyakan makan ikan , bisa cacingan," . Tentu kita familiar dengan mitos yang sejak dulu berkembang di masyarakat. Tentu saja ini salah besar. Lembaga Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO 2000) menginformasikan bahwa lebih dari 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan kualitas makanan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan merupakan salahsatu faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap status gizi seseorang, keluarga dan masyarakat. Berbicara tentang tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terutama ikan mengalami kenaikan berdasarkan data dari KKP (Kementrian Kelauatan dan Perikanan) pada tahun 2012 mencapai 33,89 kg per kapita per tahun sedangkan pada 2011 sebanyak 32,25 kg per kapita per tahun. Sementara, tahun ini KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan mencapai 35,14 kg per kapita per tahun. Dengan segala potensi kelautan dan perikanan yang dimiliki Indonesia tentu saja nilai tersebut masih jauh dari harapan. Tengok saja Malaysia tingkat konsumsi ikan 45 kg/kapita tahun. Dan fantastisnya Jepang yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan tinggi dan kualitas kesehatan mengkonsumsi ikan sebanyak 110 kg/orang/tahun. Bisa dibayangkan betapa mereka sangat menggemari ikan.


Mengapa ikan? Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat nutrisi. Ikan merupakan makanan sumber protein yang sangat penting untuk pertumbuhan tubuh. Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein 8,7-20%, lemak 0,1-22%, mineral 1,0-1,5%, vitamin dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna (Astawan, 2003).  
Selain itu kandungan ikan terdiri dari Omega – 3 yang mengandung ALA, EPA dan DHA yang jika dikonsumsi secara rutin dalam menu harian akan meningkatkan kecerdasan otak terutama DHA. Faktanya sekitar 60 persen dari seluruh asam lemak pada otak  merupakan DHA. Zat ini terutama terkonsentrasi di daerah otak yang bertanggungjawab kepada kemampuan berpikir kompleks dan konsentrasi. Dengan kata lain DHA adalah stuktur utama lemak di dalam otak dan retina mata, dengan komposisi mencapai 97 persen dari lemak omega-3 di dalam otak dan sampai 93 persen dari lemak omega-3 dalam retina.DHA juga merupakan komponen penting pada jantung. DHA juga membentuk sekitar 30 persen struktur lemak di dalam bagian abu-abu otak. Zat ini juga memegang peranan penting pada fungsi dan perkembangan visual bayi (Gerai Fit). Waoww , jadi penting sekali untuk kita mengkonsumsi ikan.
Lantas mengapa Indonesia masih rendah tingkat konsumsi ikannya? Beberapa faktor ditengarai sebagai penyebab rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, antara lain
1. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi dan manfaat protein ikan bagi    kesehatan dan kecerdasan
2. Rendahnya suplai ikan, khususnya ke daerah-daerah pedalaman akibat kurang lancarnya distribusi pemasaran ikan
3. Belum berkembangnya teknologi pengolahan/pengawetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam memenuhi tuntutan selera konsumen
 4. Sarana pemasaran dan distribusi masih terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Tak dapat dipungkuri, pemerintah pun lebih bangga mengekspor ikan dengan nilai jual tinggi seperti tuna, udang, kerapu dan lain-lain daripada konsumsi di negeri sendiri. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia di masa yang akan datang. Pada umur balita protein sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Rendahnya konsumsi pangan  atau kurang seimbangnya masukan zat-zat gizi dari makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terlambatnya  pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, terjadinya penyakit dan atau lemahnya  daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit serta menurunnya kemampuan kerja. Rendahnya konsumsi pangan atau kurang seimbangnya  masukan zat-zat gizi dari  makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terlambatnya pertumbuhan organ dan  jaringan tubuh, terjadinya penyakit dan atau lemahnya daya tahan tubuh terhadap  serangan penyakit serta menurunnya kemampuan kerja. Jadi jangan heran, kalau manusia Indonesia sekarang dari penampakannya dari tinggi badan (mulai) pendek dan semoga tidak memperpendek daya kecerdasannya. Ayo GEMARIKAN ! Ubah perilaku dan sadar akan nilai gizi dari konsumsi ikan mulai dari sekarang. 
Oleh : Restu Putri Astuti

Rekayasa Virtual Pembenihan “Yellow Fin Tuna” sebagai Revolusi Kemandirian Pangan Indonesia

Ikan Tuna Sirip Kuning

Pertambahan penduduk dunia menyebabkan kebutuhan ikan sebagai sumber protein hewani masyarakat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan ikan mendorong kegiatan perikanan tangkap pada titik eksploitasi sumberdaya ikan berlebih. Yellow fin tuna atau ikan tuna sirip kuning  mengalami penurunan hasil tangkapan tiap tahunnya seiring dengan makin intensifnya kegiatan penangkapan seperti penambahan armada penangkapan. Laboratorium Data (2011), menyatakan terjadi penurunan produksi tuna sirip kuning yang didaratkan di Pelabuhan Benoa tahun 2009 yang mencapai 7.240 ton menjadi 5.372 ton pada tahun 2010. Kegiatan penangkapan ikan tuna sirip kuning yang tidak memperhatikan aspek keberlanjutan menyebabkan penurunan populasi di alam. Tidak hanya penurunan populasi, namun juga penurunan ukuran dan berat ikan yang tertangkap. Penurunan hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning baik dari segi kualitas dan kuantitas mengancam kemandirian pangan terutama penyediaan sumber protein hewani.
Akuakultur sebagai kegiatan memproduksi organisme akuatik dalam lingkungan terkontrol untuk menghasilkan keuntungan menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan penurunan hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning. Berbagai negara seperti Jepang, Eropa dan Australia serta Indonesia tengah melakukan berbagai upaya untuk melakukan pembenihan ikan tuna. Di Indonesia telah berupaya melakukan pembenihan di dalam bak pemeliharaan. Namun terkendala berupa kematian induk dan larva ikan tuna sirip kuning. Hal ini diakibatkan kurangnya data riset aspek reproduksi ikan tuna sirip kuning. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (2014) melaksanakan kegiatan budidaya ikan tuna sirip kuning di Gondol Bali berupa tahap pembesaran/fattening di keramba jaring apung laut sehingga kebutuhan benih bergantung ketersediaan di alam.
Untuk itu diperlukan revolusi dalam kegiatan budidaya ikan tuna sirip kuning yang selama ini masih dalam tahap penggemukan. Rekayasa virtual merupakan suatu pendekatan teknologi manipulasi lingkungan pada kegiatan pemijahan ikan dalam lingkungan terkontrol dengan meniru tingkah laku pemijahan di alam. Rekayasa virtual didukung dengan data riset aspek biologi reproduksi, tingkah laku pemijahan dan manipulasi lingkungan. Rekayasa virtual diharapkan mampu merangsang induk ikan tuna sirip kuning yang dipelihara di kolam untuk memijah. Rekayasa virtual diawali dengan pemilihan induk ikan tuna sirip kuning yang telah matang gonad ditandai berat total 20 kg. Selanjutnya, induk ikan tuna sirip kuning melakukan perjalanan virtual melalui rekayasa lingkungan seperti suhu, arus, kedalaman, keberadaan bulan dan lain sebagainya. Setelah induk ikan tuna sirip kuning memijah, proses pemeliharaan larva berperan penting dalam kesuksesan kegiatan pembenihan.

Hasil dari kegiatan riset dalam rekayasa virtual diharapkan dapat diadaptasi oleh masyarakat sehingga menjadi kegiatan berpotensi ekonomi tinggi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggalakkan riset budidaya ikan tuna sirip kuning dan menjalin kerjasama dengan pihak terkait sehingga memperoleh data pendukung untuk aplikasi rekayasa virtual. Diharapkan melalui rekayasa virtual dalam pembenihan mampu memproduksi benih ikan tuna sirip kuning yang unggul dan kontinu. Serta menjadi solusi untuk menjamin kemandirian pangan dan kelestarian ikan tuna sirip kuning. 

Oleh : Restu Putri Astuti

Ikan, Nelayan dan Ketahanan Pangan RI




Pangan merupakan kebutuhan dan hak dasar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Pangan meliputi komoditas tanaman, peternakan, dan perikanan yaitu segala sesuatu yang berasal dari sumberdaya hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. Menurut UU No.7 Tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sudahkah Indonesia sebagai negara agraris dan bahari berdaulat pangan? Belum!

Menurut Peneliti AS pada tahun 2100, dunia akan memasuki krisis pangan (Nasoetion, 2008). Prediksi ini bisa saja meleset, jika konversi lahan pertanian menjadi pemukiman, industri dan lain sebagainya terus terjadi yang tak seimbang dengan pertambahan penduduk dunia yang melesat tajam. Saat ini bumi menanggung kebutuhan pangan 7 miliar penduduk. Data balita Indonesia yang menderita kurang gizi sebesar 5,12 juta jiwa pada tahun 2003 dan penduduk Indonesia yang berada pada taraf rawan pangan yaitu sebesar < 90% dari rekomendasi 2.000/kal/kap/hari (Khomsan, 2003). Ikan sebagai bahan pangan sumber protein hewani, tingkat konsumsinya pada tahun 2012 sebesar mencapai 33,89 kg/kapita/tahun dan target tahun 2014 adalah 35,14 kg/kapita/tahun. Ikan mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kecerdasan manusia serta kandungan omega 3 yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan menurunkan resiko penyakit jantung serta tekanan darah (Karyadi, 1993).

Mengingat pentingnya mengkonsumsi ikan ditinjau dari manfaatnya, tentunya ketersediaan ikan untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia haruslah terjamin baik secara kualitas dan kuantitas. Namun, pada kenyataannya, komoditas perikanan berkualitas lebih banyak untuk memenuhi pasar ekspor. Lumrah saja, karena tingginya nilai jual dan permintaan. Sedangkan rakyat Indonesia tidak mampu mencicipi lezatnya Tuna, Sidat, Udang Vanname, Kerapu dan lain- lain akibat harganya tak ramah dikantong. Memang banyak alternatif jenis ikan air tawar maupun laut yang tak kalah kandungan gizinya dengan ikan yang kualitas ekspor seperti Bandeng, Mas, Bawal, Ekor Kuning, Kakap, Layang, Layur, dan lain-lain.

Belum lagi nasib nelayan Indonesia sebagai pejuang protein bangsa, nasibnya masih saja jauh dari kata sejahtera. Sekitar 16,2 juta nelayan di Indonesia atau sekitar 44% dari jumlah nelayan yang mencapai 37 juta jiwa hidup di bawah ambang kemiskinan. Seakan mereka tidak mampu menikmati hasil keringat melaut. Ketidakpastian tentang pendapatan, tidak terjangkaunya pendidikan layak dan layanan kesehatan, apalagi mengharapkan rumah layak. Menurut perhitungan, penghasilan perkapita nelayan sebesar 5,9 juta/tahun atau Rp 16.620,-/hari. Standar Bank Dunia penghasilan dibawah US $ 2 (Rp 20.000,-) per hari tergolong berada dalam garis kemiskinan. Begitu tidak dinilainya peran nelayan dalam menyediakan ikan – ikan tersaji di piring yang kita nikmati di rumah.

Kompleksnya permasalahan yang membelenggu nelayan seperti benang kusut tak terurai. Berbagai progam dan miliaran rupiah digelontorkan untuk mengentaskan nelayan dari kemiskinan, nyatanya belum membuat mereka hidup layak. Apa sebenarnya yang salah? Entahlah. Semoga dengan adanya momen peringatan Hari Pangan Sedunia menyadarkan kita untuk gemar makan ikan dan pemerintah terus bekerja keras agar nelayan sejahtera! Selamat hari pangan sedunia! ( Putri Astuti/kw)

 Putri Astuti adalah pewarta warga
http://citizen6.liputan6.com/read/728637/ikan-nelayan-dan-ketahanan-pangan-ri

Jumat, 02 Januari 2015

Ekologi dan Manajemen Perikanan Darat


Fisheries Inland R. L. Wellcomme, 2001


oleh Restu Putri Astuti
Sejak dulu menangkap ikan di perairan umum atau daratan dipraktekkan manusia dan alat tangkap ditemukan sejak kehidupan manusia dimulai. Saat ini, ikan sebagai sumber protein hewani yang berasal dari perairan umum berubah menjadi kebutuhan utama manusia. Permintaan yang tinggi terhadap ikan dan meningkatnya kesadaran akan keberadaan lingkungan yang mendukung kehidupan manusia mengubah tindakan upaya pengelolaan sumberdaya air di perairan umum. Perubahan ini disebabkan oleh kebutuhan manusia terhadap sumberdaya air itu sendiri. Kehidupan berubah dari model pembangunan eksploitasi yang saat ini memprioritaskan pada pertanian, kehutanan dan perikanan yang mengancam keberlanjutan sumberdaya alam yang berimbas pada ketahanan pangan. Peraturan tentang konservasi dan pembangunan keberlanjutan sedang gencar dilakukan sebagi dampak tekanan dari sumberdaya alam itu sendiri. Perikanan umum dan akuakultur secara umum dipengaruhi oleh faktor sosial dan geografi serta saat ini juga dipengaruhi oleh demografi, ekonomi dan perubahan iklim politik. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi peraturan dan strategi manajemen dan memanfaatkan potensi di masa mendatang
Ketersediaan Sumberdaya
Populasi penduduk
Faktor yang terpenting dalam ketersediaan sumberdaya alam adalah pertumbuhan penduduk dunia. Diperkirakan tahun 2040 jumlah populasi penduduk dunia mencapai 10 miliar (UN, 1993). Pertumbuhan penduduk dunia berarti meningkatkan permintaan terhadap kebutuhan sumberdaya alam, tidak hanya untuk kehidupan tetapi juga terjaganya ekosistem. Dampak dari pertumbuhan penduduk juga mempengaruhi distribusi penduduk. Trend yang dihasilkan seperti urbanisasi dan perubahan demografi penduduk yang hidup di sekitar danau, sungai dan pesisir. Perubahan ini hasil dari tuntutan konsumen pasar terhadap produk yang beranekaragam tidak hanya dari pertanian saja. Urbanisasi and perubahan ini tentu berdampak pada tekanan terhadap lingkungan terutama sumberdaya seperti keberadaan limbah yang mengancam sumberdaya air.
Suplai air
Saat ini air menjadi faktor pembatas primer dalam pertumbuhan yang mampu memenuhi kebutuhan diantara tingginya permintaan. Diperkirakan separuh dari populasi penduduk dunia yang hidup di 58 negara termasuk krisis air. Latar belakang keterbatasan sumberdaya air dipengaruhi oleh adanya kompetisi dalam penggunaan air seperti pertanian, konsumsi domestik, industri, transportasi, pembangkit tenaga listrik, rekreasi, perikanan. Kebutuhan sumberdaya air untuk dikonsumsi berarti praktek perikanan secara intensif dan akuakultur harus mampu memproduksi sedikit polusi dengan sistem pengolahan limbah.
Pakan dan sumberdaya lain
Secara umum produk akuakultur dan perikanan umum berbasis pada rendahnya input atau rendah protein, limbah pertanian dan pupuk. Sekitar 1,26 juta ton ikan dan 0,8 juta udang yang dipergunakan untuk pakan ikan (pellet). Kebutuhan yang besar untuk budidaya ikan karnivor yang hanya dapat diganti dengan ditemukannya pakan substitusi dengan kandungan tinggi akan protein. Saat ini, ikan pelagis kecil dipergunakan untuk pembuatan pakan ikan yang secara langsung berhubungan dengan konsumsi manusia. Yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal ini dengan akuakultur yang efisien dan sistem manajemen secara intensif.
Ketersediaan lahan
Pertumbuhan populasi dengan proporsi daratan untuk memproduksi pangan semakin meningkat yang mengarah praktek merusak. Meningkatnya tekanan terhadap lahan yang kesemuanya mencakup pertanian, akuakultur dan pemukiman. Dampak dari kompetisi penggunaan lahan yang berarti kegiatan penangkapan dan akuakultur harus memanfaatkan ketersediaan lahan agar lebih efektif. Secara tidak langsung terbatasnya penyebaran sistem budidaya perikanan air tawar secara tradisional, akhirnya berdampak langsung di masa mendatang terhadap perluasan ke ekosistem laut atau untuk memanfaatkan sistem pengolahan kembali air secara efisien. Pendekatan tindakan konservasi untuk mengurangi dampak negative terhadap ekosistem.
Iklim politik dan ekonomi
Tren nasional
Di masa ini perubahan orientasi poltik dan ekonomi dari sistem sosialis, menyertakan perencanaan pusat, akses terbuka untuk sumberdaya alam dan subsidi untuk sektor perikanan, kehutanan dan pertanian, menjadi kapitalis atau pasar terbuka dengan kepemilikan swasta dan ketersediaan finansial. Transisi ini menyebabkan wewenang pemerintah pusat diserahkan pada pemerintah daerah. Di saat yang bersamaan, tumbuhnya kesadaran terhadap masa depan sumberdaya alam, dimana negara, kelompok dan individu membangun pendekatan pembangunan berkelanjutan yang berbeda dengan pemikiran jangka pendek yaitu melalui pendekatan pasar.
Inisiatif Internasional
Respon PBB terhadap keberlanjutan sumberdaya alam dengan diadakannya Konferensi Lingkungan dan Pembangunan pada tahun 1992 yang menghasilkan 21 prinsip pembangunan berkelanjutan. Di saat yang bersamaan Konvensi Keberagaman Biologi yang diadopsi hampir sebagian besar negara dunia dalam kesepakatan hukum untuk melindungi dan mengkonservasi keberagaman makhluk hidup di seluruh dunia. Inisiatif ini yang mengubah visi eksploitasi lama terhadap perlindungan alam yang utama.
Di sektor perikanan pada tahun 1982 melalui UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) mengubah sebuah pemikiran baru untuk manajemen sumberdaya laut. Peraturan baru tentang samudera yang memberikan hak negara pesisir untuk mengatur dan memanfaatkan sumberdaya perikanan dalam Zona Ekonomi Eksklusif.
Namun, penangkapan berlebihan terhadap keberlajutan stok ikan , berubahnya ekosistem, kehilangan nilai ekonomi secara drastic, dan konflik internasional dalam mangatur keberlanjutan perikanan terhadap ketahanan pangan. FAO (Food and Agriculture Organisation) mengeluarkan kebijakan perikanan bertanggungjawab melalui CCRF (A Code of Conduct for Responsible Fisheries).
Perubahan Kondisi Perikanan
Sejarah Manajemen Perikanan Darat
Usaha perikanan darat sangat kuno. Museum Capitoline di Roma mempunyai peninggalan relief ikan sturgeon dari zaman purbakala. Di zaman pertengahan Benua Eropa kelompok nelayan mengubah cara mengatur dan memanfaatkan sumberdaya ikan. Pada abad 17, Colbert Perdana Menteri Prancis hingga Louis IV mengatur perikanan darat dengan mengontrol pendaratan ikan. Di bagian negara lain, pengaturan perikanan darat dilakukan mengikuti kearifan lokal yang diperkuat dengan kepercayaan agama.
Pemerintahan modern telah melakukan usaha untuk membuat kebijakan mengontrol perikanan darat di level nasional melalui pembatasan ukuran jaring dan ikan, musim dan alat tangkap. Perikanan darat sebagai sumberdaya alam yang memiliki akses terbuka untuk dimanfaatkan yang merugikan masyarakat. Akan tetapi, sentralisasi terbukti tidak terlaksana dengan beberapa alasan. Pertama, ketidakkonsistenan dalam penegakan peraturan akibat beragamnya sumberdaya alam dan luasnya georafi. Kedua, besarnya populasi dan minimnya pengalaman serta menerapkan peraturan. Yang pada akhirnya menyebabkan krisis mengatur perikanan darat yang berhubungan dengan sektor laut dan keberagaman sumberdaya alam. Menurut Garcia dan Newton (1997), hampir 75% stok sumberdaya laut sudah diekploitasi secara berlebihan. Sumberdaya ikan yang termasuk sumberdaya alam terbarukan, juga membutuhkan manajemen untuk tetap memberikan konstribusinya untuk pasokan nutrisi, ekonomi dan sosial dalam menjamin pertumbuhan populasi penduduk.
Manajemen alternatif dengan melibatkan peran pemerintah yang digabungkan dengan masyarakat perikanan yang akan menghasilkan banyak keuntungan dengan menggunakan pendekatan pengetahuan modern sebaik sistem manajemen tradisional.
Konservasi VS Ekploitasi
Salah satu isu yang dihadapi dunia saat ini bagaimana cara menyeimbangkan permintaan terhadap pangan yang mampu melestarikan sumberdaya alam di masa mendatang. Perdebatan ini memancing perubahan pemikiran masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang didukung oleh inisiatif nasional dan internasional untuk melindungi sumberdaya alam. Walaupun keseluruhan persepsi ini tidak merata di masyarakat. Di negara tropis, perilaku konservasi muncul sebagai dampak ekploitasi pemanfaatan sumberdaya alam seperti pada perikanan darat. Di negara miskin, tekanan tinggi untuk mempertahankan sumberdaya alam tetap tidak konsisten tanpa keberlanjutan. Jadi diperlukan realisasi untuk melindungi sumberdaya alam dari kelebihan pemanfaatan melalui peraturan konservasi.
Pengaturan Alat Tangkap Perikanan
Pengalaman perikanan darat di tropis dan sub tropis selama lebih dari puluhan decade menghasilkan penmbangunan beberapa alat tangkap untuk memanfaatkan stok ikan di perairan perikanan darat. Metode tradisional dalam menangkap satu spesies ikan dalam jumlah terbatas berubah menjadi perikanan tidak hanya menangkap satu atau dua spesies saja serta dalam jumlah besar. Hampir sebagian besar stok ikan di alam diisi oleh banyak jenis ikan dimana tidak ada tanggung jawab untuk metode dinamika populasi yang diaplikasikan di perikanan laut. Dibutuhkan analisa keseluruhan menggunakan pendekatan ekologi untuk mengembangkan beberapa jenis kelompok ikan yang tepat di hampir sebagian besar sungai dan danau.
Disaat yang bersamaan, realisasi perhatian terhadap biologi dan dinamika populasi stok ikan belum cukup memadai untuk menggambarkan keadaan perikanan. Saat ini konsentrasi terbesar dalam manajemen perikanan pada sosial, ekonomi dan kebijakan. Tindakan baru terhadap manajemen perikanan harus melibatkan pemilik usaha dan tanggung jawab dari pemerintah pusat atau dari nelayan itu sendiri.
Penyusunan teknik untuk manajer dan nelayan dalam mengelola perikanan dengan memberi mereka beberapa pilihan tindakan tergantung dari prioritas dan tingkatan sosial. Peralatan tangkap yang ada guna peningkatan produktivitas perikanan seperti peningkatan stok ikan atau melalui pendekatan konservasi, seperti merehabilitasi kerusakan lingkungan. Selain itu secara bersamaan, dilakukan pemahaman terhadap konsekuensi dari kegiatan manusia di lingkungan sungai dan danau untuk konstribusi manfaat kepada masyarakat. Implikasi stok ikan yang terjamin kesehatan genetiknya terutama terhadap sikap terhadap ikan introduksi serta dampaknya terhadap perikanan tangkap dan akuakultur. Penggunaan alat tankap harus dipadukan dengan pendekatan terhadap lingkungan dan perikanan.
Pandangan baru untuk manajemen
Tren terbaru pengelolaan sumberdaya alam diperlukan pendekatan ekosistem perairan yang berkualitas serta praktek perikanan berkelanjutan didalamnya. Perubahan orientasi politik dan ekonomi dari sentralistik, akses terbuka untuk sumberdaya alam dan subsidi perikanan untuk pasar, kepemilikan pribadi dan modal serta budaya berpadu dalam pendefinisian ulang terhadap peranan di berbagai tingkatan nasional. Pemerintah pusat menyerahkan tanggungjawab terhadap pemerintah daerah dan pelaku perikanan dalam mengelola sumberdaya perikanan. Disinilah peran pemerintah daerah dan nelayan untuk mengelola sumberdaya dan membangun kerjasama. Selain itu, diperlukan penelitian pengelolaan perikanan berbasis masyarakat lokal dan bagaimana mencari jalan keluar dari konflik kepentingan.
Menurut Lackey (1979) “Fisheries management is the practice of analyzing, making and implementing decisions to maintain or alter the structure, dynamics, and interaction of habitat, aquatic biota and man to achieve human goals and objectives through the aquatic resources”. Pedoman terarah kepada masyarakat untuk memiliki integritas terhadap ekologi dan pemeliharaan sumberdaya alam adalah tujuan.

Studi Hubungan Parameter Kimia Air terhadap Produktivitas Budidaya Udang Vanname secara Intensif Tambak PT. Hasil Raya & CP Prima



Restu Putri Astuti
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian – Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Usaha budidaya udang vanname  (Litopenaeus vannamei) semakin pesat ditandai dengan sistem budidaya intensif.  Budidaya intensif menggunakan padat tebar tinggi dan pemberian pakan yang diupayakan tepat (Xincai & Yongquan, 2001) sehingga kualitas air dapat dipertahankan dan sintasan tetap tinggi maka pertumbuhan dan produksi udang dapat mencapai target yang diharapkan. Permasalahan dalam sistem budidaya intensif udang vanname (Litopenaeus vannamei) yaitu penurunan kualitas air karena hasil metabolik penguraian sisa pakan dan feses udang yang tidak terkendali oleh tindakan pengelolaan kualitas air yang baik. Praktek kerja lapang di tambak PT. Hasil Raya bertujuan untuk mengetahui hubungan parameter kimia air terhadap produktivitas budidaya udang vanname secara intensif. Pengumpulan data dilakukan dengan partisipasi aktif dan survei data, selanjutnya data dianalisis dengan metode deskriptif dan analisa korelasi untuk mengetahui keeratan antar variabel. Dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa hubungan parameter kualitas kimia air berkaitan erat dengan produktivitas tambak, terutama pada bahan organik total yang meningkat seiring dengan pertambahan biomassa sehingga diperlukan monitoring dan evaluasi. Sedangkan yang dapat menurunkan produktivitas tambak dipengaruhi oleh kadar nitrit yang tinggi di perairan. Disarankan untuk membangun instalasi bioremediasi untuk mengurangi dampak limbah sisa budidaya udang vanname sehingga tidak berdampak negatif terhadap ekosistem.
Kata Kunci : Kimia air, produktivitas, tambak, udang vanname
Produksi
Dari hasil analisis korelasi terhadap parameter kimia air yang memiliki hubungan erat terhadap produksi. Koefisien korelasi yang memiliki hubungan yang besar terhadap produksi adalah bahan organik (TOM). Hubungan antara bahan organik terhadap produksi bernilai positif yang berarti penyebab meningkatnya kandungan bahan organik total di tambak diiringi dengan peningkatan biomassa. Dengan meningkatnya biomassa udang di tambak, maka pakan yang diberikan semakin besar sehingga meningkatkan jumlah bahan organik di tambak.
Pada tabel 2 keseluruhan petak menunjukkan nilai positif pada parameter TOM (Bahan Organik Total) sehingga perlu dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi pada parameter ini. Kegiatan monitoring berupa penyiponan terhadap dasar tambak dan pergantian air untuk mengurangi akumulasi bahan organik. Sedangkan evaluasi berupa manajemen pakan untuk menentukan kebutuhan pakan yang diberikan karena pakan sumber utama penumpukan bahan organik di perairan (Priatna, 2004). Kedua kegiatan ini telah dilakukan secara intensif pada tambak PT. Hasil Raya namun masih saja belum efektif.
Hubungan nitrit terhadap produktivitas bernilai negatif pada keseluruhan petak tambak selama masa pemeliharaan yang berarti produktivitas dapat menurun sebagai akibat dari jumlah nitrit yang besar. Hal ini dikarenakan nitrit merupakan senyawa yang toksik terhadap organisme perairan.
data produksi PT. Hasil Raya dari kisaran nilai koefisien korelasi nitrit pada keseluruhan petak tambak yang bernilai negatif berkaitan erat pada menurunnya hasil panen.
Hubungan TAN (Total Ammonia Nitrogen) didominasi nilai positif terhadap produktivitas yang berarti peningkatan biomassa dapat menyebabkan meningkatnya kandungan ammonia di tambak. Kondisi ini diakibatkan tingginya bahan organik di dasar tambak. Dengan kisaran nilai TAN yang cendurung melebihi batas toleransi membuktikan bahwa udang vanname memiliki daya tahan yang baik dibandingkan udang windu. Hubungan alkalinitas bernilai positif terhadap produktivitas yang berarti peningkatan biomassa meningkatkan nilai alkalinitas di tambak.
Berdasarkan hasil data produksi pada tabel 3 selama masa pemeliharaan terdapat perbedaan hasil pada tiap petakan. Petak B05 menghasilkan produktivitas terkecil sebesar 3291 kg/ha, dan petak A21 menghasilkan produktivitas sebesar 5495,5 kg/ha.Tingkat produktivitas berbanding lurus dengan tingkat penggunaan pakan. Semakin tinggi nilai produktivitas maka pakan yang dibutuhkan akan semakin tinggi. Hal ini sesuai pendapat Priatna (2004), pada pemeliharaan udang semakin meningkatnya biomassa udang vanname maka kebutuhan pakan akan semakin meningkat.
Pengelolaan pakan haruslah tepat sesuai dengan kebutuhan biota. Pemberian pakan yang berlebihan akan menurunkan efisiensi konversi pakan (Kordi dan Tancung, 2007). Seperti yang terlihat pada petak pemeliharaan A21 jumlah total pakan sebanyak 7.560 kg dengan nilai FCR 1,37 yang menghasilkan udang sebesar 5.495 kg/ha. Tingginya nilai FCR akan berpengaruh terhadap akumulasi bahan organik di perairan dan jika tidak diberikan treatment maka akan menimbulkan penurunan kualitas air. Jadi dapat disimpulkan nilai produktivitas tambak akan semakin meningkat diiringi dengan manajemen kualitas air yang baik.

Biota Air sebagai Bioindikator Kualitas Perairan


                                                        Makrozoobenthos perairan


Oleh : Restu Putri Astuti
Aktivitas pembangunan yang tidak terkendali menyebabkan degradasi lingkungan berjalan pesat. Kita menyadari bahwa perilaku kita yang acuh dalam memanfaatkan sumberdaya terutama air, semakin memperparah kualitas perairan. Kualitas perairan semakin tercemar akibat konversi lahan hutan menjadi pemukiman, daerah industri dan lahan perkebunan serta aktivitas pembangunan lainnya. Perikanan sebagai salah satu sektor yang sangat bergantung pada kualitas perairan. Semakin baik kualitas perairan tersebut tentu berpotensi menghasilkan sumberdaya perikanan yang optimal dan begitu pula sebaliknya. Hendrawan (2005)menyebutkan bahwa menurunnya daya guna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumberdaya air karena menurunnya kualitas air sehingga menyebabkan penurunan kekayaan sumberdaya alam.
Selama ini Indonesia masih mengandalkan pengukuran kualitas perairan secara fisika dan kimia. Padahal di negara maju telah menggunakan metode biologis dalambentuk indeks sebagai penentu kualitas air. Dari sekitar 100 sistem indeks, 60% diantaranya adalah indeks biotik, 30% indeks keragaman, dan 10% indeks saprobik (De Pauw et al.,1992 dalam Trihadiningrum & Tjondronegoro, 1998). Salah satu metoda adalah Biological Monitoring Working Party-Average Score Per Taxon(BMWP-ASPT) yang dikembangkan di Inggris (Armitage dkk., 1983 lihat Trihadiningrum & Tjondronegoro, 1998). Sistem tersebut mengelompokkan atau membagi biota bentik menjadi 10 tingkatan berdasarkan kemampuannya dalam merespon cemaran di habitatnya. Hal inilah yang masih kurang familiar diaplikasikan oleh para pelaku perikanan di Indonesia.
Metode biologis sebagai penentu kualitas air dilakukan dengan menganalisis biota air. Biota air merupakan kelompok organisme baik hewan maupun tumbuhan yang sebagian besar ataupun seluruh hidupnya berada di perairan. Biota tersebut dapat berupa bentos, plankton, atau nekton yang dapat memberikan informasi keadaan perairan tersebut dalam indikator baik atau tidak Karena tiap biota air memiliki sifat hidup yang berbeda beda dan sesuai dengan kondisi lingkungan perairan yang dibutuhkan. Hal inilah yang menjadikan biota air dapat dijadikan indikator kualitas perairan. Sebagian besar biota air yang dapat menjadi indikator kualitas perairan dari golongan avertebrata (hewan tidak bertulang belakang). Golongan avertebrata termasuk hewan yang hidup menetap lama di lingkungan perairan, mudah diidentifikasi karena berukuran makroskopik dan lebih efektif serta efisien dibandingkan penggunaan pengukuran kualitas air secara fisika dan kimia.
Berikut adalah tabel Makroinvertebrata indikator untuk menilai kualitas air (Trihadiningrum, Y. & I. Tjondronegoro, 1998)
Tingkat Cemaran
Makroozoobentos* indikator
1. Tidak tercemar
Trichoptera (Sericosmatidae, Lepidosmatidae, Glossosomatidae); Planaria
2. Tercemar ringan
Plecoptera (Perlidae, Peleodidae); Ephemeroptera
(Leptophlebiidae, Pseudocloeon, Ecdyonuridae, Caebidae); Trichoptera (Hydropschydae, Psychomyidae); Odonanta (Gomphidae, Plarycnematidae, Agriidae, Aeshnidae); Coleoptera (Elminthidae)
3. Tercemar sedang
Mollusca (Pulmonata,Bivalvia); Crustacea (Gammaridae);
Odonanta (Libellulidae, Cordulidae)
4. Tercemar
Hirudinea (Glossiphonidae, Hirudidae); Hemiptera
5. Tercemar agak berat
Oligochaeta (ubificidae); Diptera (Chironomus thummiplumosus); Syrphidae
6. Sangat tercemar
Tidak terdapat makrozoobentos. Besar kemungkinan dijumpai
lapisan bakteri yang sangat toleran terhadap limbah organik
(Sphaerotilus) di permukaan
*Makrozoobentos adalah organisme yang hidupnya menetap di dasar perairan dan mempunyai pergerakan yang sangat lamban. Kelompok makrozoobentos merupakan kelompok hewan yang relatif menetap di dasar perairan dan kerap digunakan sebagai petunjuk biologis (indikator) kualitas perairan(Zulkifli et al, 2009).
Sayangnya banyak pelaku perikanan terutama pembudidaya di kawasan tambak, kolam budidaya, sungai, dan laut yang mengesampingkan manfaat biota air sebagai bioindikator. Hal ini diduga akibat minimnya informasi biota air sebagai bioindikator perairan padahal jika mampu dimanfaatkan dapat menguntungkan kegiatan budidaya. Yuk mengenal biota air !
Referensi :
Trihadiningrum, Y. & I. Tjondronegoro. 1998. Makroinvertebrata sebagai bioindikator pencemaran badan air tawar di Indonesia: Siapkah kita ?. Lingkungan & Pembangunan 18(1): 45 – 60
Wardhana, Wisnu. 1999. Perubahan Lingkungan Perairan dan Pengaruhnya terhadap Biota Akuatik. Pelatihan Monitoring Biologi Bagi Pengelola Taman Nasional Gunung Halimun, Stasiun Penelitian Cikaniki TNGH

Nelayan (bukan) Dagangan Politik


on 
Citizen6, Jakarta: Memasuki tahun politik, kegiatan untuk mendapatkan perhatian konstituen makin marak. Politik diartikan sebagai sarana untuk mencapai kekuasaan. Tetapi nyatanya di Indonesia politik menjelma sebagai alat untuk memperkaya diri dan golongan. Padahal jika dilakukan dengan baik politik menjadi kekuatan untuk membangun kesejahteraan bersama. Berbagai strategi dilakukan parpol untuk merebut hati masyarakat melalu kampanye, spanduk, iklan menyentuh hati dan tak lupa disertai dengan janji-janji manis. masyarakat Indonesia sudah cerdas dalam memilih pemimpin yang benar-benar amanah. Sebenarnya media komunikasi hanya sebagai alat bantu untuk sosialisasi yang dibutuhkan adalah sejauh mana parpol atau calon wakil rakyat berperan nyata untuk masyarakat. 

Arif Satria (2000), nelayan merupakan kelompok sosial yang selama ini terpinggirkan,baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Lihat saja tingkat kesejahteraan nelayan masih jauh dari kata sejahtera. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. Selain itu, pendapatan nelayan Indonesia berada di bawah standar garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia yakni sebesar Rp520 ribu per bulan. 

Secara sosial nelayan tidak mampu menjangkau kebutuhan pokok seperti sandang, papan, pangan dan kesehatan serta pendidikan yang layak. Pemerintah melalui KKP sudah menganggarkan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan tahun 2012 sebesar 1,17 triliun. Tapi belum mampu mengentaskan nelayan dari kemiskinan. Walaupun Indonesia sudah berganti presiden sebanyak 6 kali tapi tak diiringi peningkatan kesejahteraan nelayan. Sebagai kaum miskin nelayan menjadi sasaran empuk komoditas politik bagi parpol dan wakil rakyat dalam melamggengkan kekuasaannya. 

Di Jepang, sinergis antara wakil rakyat dan nelayan dalam melawan kebijakan pemerintah Jepang  yang mengurangi kebijakan subsidi untuk nelayan sehingga subsidi tidak lagi dikurangi.  Selain itu adanya kepercayaan tinggi antara nelayan dan wakil rakyatnya sehingga secara otomatis akan mendukung perpolitikan. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia. Menurut Yugi Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan yang mengungkapkan nelayan sebagai pekerja di sektor ini menurutnya selalu dijadikan simbol kampanye karena ketidakseriusan pemerintah dalam membangun sektor perikanan dan kelautan (detik.com).

Jika saja, politisi Indonesia memandang nelayan bukan memandang sebagai objek suksesi politisi semata tentunya akan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Lihat saja ketika para politisi sudah meraih posisi empuk seakan amnesia dengan janji manisnya. Hanya tersisa kalender, kaos dan sembako dari politisi yang menguap. Politisi Indonesia seharusnya mencontoh politisi Jepang dalam mengelola trust konstituen terutama nelayan. Nelayan memang lemah, tapi bukan menjadi komoditas dagangan kaum politisi. Terbukalah hati kaum politisi, jadikan nelayan sebagai kaum yang harus disejahterakan bukan hanya diberi janji manis belaka. Nelayan sejahtera, Indonesia Makmur! (Restu Putri Astuti / kw) 
Restu Putri Astuti adalah pewarta warga.
Sumber : http://citizen6.liputan6.com/read/728686/nelayan-bukan-dagangan-politik

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...