Minggu, 27 November 2016

Diatom


          Ketertarikan mempelajari plankton tidak hanya dari bentuk dan jenisnya yang sangat beragam namun perannya yang sangat besar bagi kehidupan membuat kita akan semakin bersyukur atas nikmat Allah SWT. Plankton yang berukuran mikroskopis nyatanya berperan sebagai penghasil oksigen di bumi memang mutlak adanya. Salah satu plankton yang mendominasi perairan tawar dan laut adalah Diatom, yaitu lebih dari 260 genus diatom hidup dengan lebih dari 100.000 spesies (Round et al., 2000).Diatom berasal dari kata Yunani “Diatomos” yang berarti dipotong setengah.  Saat ini diketahui Diatom memiliki struktur khas yaitu dinding sel terbagi menjadi dua bagian yang dilapisi oleh silika. Diatom merupakan fitoplankton yang berperan sebesar 25% dalam proses fotosintesis di Bumi dimanapun ada cahaya dan nutrisi yang cukup. Selain itu, Diatom mempunyai konstribusi 40 – 45% produktivitas laut sehingga lebih produktif jika dibandingkan dengan hutan hujan di seluruh dunia. Diatom berfotosintesis di laut menghasilkan karbon organik yang berfungsi sebagai dasar untuk jaring makanan di laut. Jadi tidak mengherankan diatom berperan penting dalam siklus silika dan karbon di alam sehingga kesinambungan perikanan terjaga (Mann, 1999).
Diatom merupakan divisi Chrysophyta atau Bacillariophyta yang terdiri dari 2 (dua) ordo yaitu ordo Centrales dan ordo Pennales. Ordo centrales merupakan diatom centris terdiri dari 3 sub ordo yaitu Coscinodiscineae, Rhizosolenieae dan Biddulphiineae. Sedangkan ordo pennales merupakan diatom pennate terdiri dari 2 sub ordo yaitu Fragilariineae dan Bacillarineae. Selanjutnya, mari kita lebih jauh mengenal tentang diatom.

1.   Morfologi diatom
            Diatom ada yang bersel tunggal dan sel berantai yang dilapisi oleh dinding keras yang terbentuk dari pektin yang berisi silika yang disebut frustule. Frustule tersebut terdiri dari epiteka (katup bagian atas) dan hipoteka (katup bagian bawah). Epiteka berukuran lebih besar dan lebih tua dibandingkan hipoteka dan memiliki elemen pengikat yang disebut cingulum
          Berdasarkan bentuk frustule terbagi menjadi dua kelompok yaitu centric diatom (diatom berbentuk bulat) dan pennate diatom (diatom berbentuk bilateral simetri). Diatom sentrik (centric) bercirikan bentuk sel yang mempunyai simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segitiga atau segiempat. Sebaliknya diatom penat (pinnate) mempunyai simetri bilateral, yang bentuknya umumnya memanjang atau berbentuk sigmoid seperti huruf “S”. Sepanjang median sel diatom penat ada jalur tengah yang disebut rafe (raphe) (Anugrah, 2008). Raphe pada diatom digunakan untuk pergerakan diatom yang juga penting dalam identifikasi.
        Bold & Wyne (1980) menjelaskan bahwa Diatom pennate bergerak secara spontan. Pergerakan terjadi karena, pertama adanya sekresi rantai mukopolisakarida. Zat ini dikeluarkan secara terus-menerus sehingga menyebabkan sel bergerak, dan mampu pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, adanya mekanisme kapilaritas yang menimbulkan gerakan perlahan-lahan dari partikel-partikel di sepanjang rafe. Ketiga, pergerakan diatom berkaitan erat dengan aliran sitoplasma dalam sel dan keberadaan raphe pada dinding sel.
       Seluruh permukaan valvula pada diatom penuh dengan berbagai ornamentasi yang simetris dan indah dan pori-pori yang menghubungkan sitoplasma dalam sel dengan lingkungan diluarnya. Ciri ornamentasi pada valvula ini merupakan hal penting untuk identifikasi jenis.
2.   Ekologi Diatom
        Diatom tersebar pada seluruh perairan dunia, dari perairan tawar hingga laut dalam. Klasifikasi secara umum meliputi oligohalophilic suatu diatom yang hidup di air dengan kadar garam < 0,05%o dan mesohalophilic serta polyhalophilic yang hidup di air laut dengan kadar garam > 0,05%o.  Diatom hidup terapung bebas di dalam badan air dan kebanyakan melekat pada substrat yang lebih keras. Pelekatan diatom biasanya karena tumbuhan ini mempunyai semacam gelatin (Gelatinous extrusion) yang memberikan daya lekat pada benda atau substrat. Kadang ditemukan beberapa diatom yang walau sangat lambat tetapi punya daya untuk bergerak. Diatom akan sangat tergantung pada pola arus dan pergerakan massa air baik itu secara horizontal maupun vertical (Kasim, 2008). Ada Diatom yang hidup sebagai bentos (didasar laut) atau yang kehidupan normalnya di dasar laut tetapi oleh gerakan adukan air dapat membuatnya lepas dari dasar dan terbawa hanyut sebagai plankton (disebut sebagai tikoplankton) (Anugrah, 2008).
3.   Reproduksi diatom
       Reproduksi dilakukan dengan cara membelah diri yaitu memisahkan antara bagian epiteka dan hipoteka. Bagian epiteka membentuk hipoteka untuk menjadi sel diatom baru. Sedangkan bagian hipoteka akan berubah peranannya sebagai epiteka dan membentuk hipoteka baru. Demikian diatom akan membelah beberapa kali dan ukurannya mnejadi semakin kecil. Untuk mengembalikan kepada ukuran semula diatom membentuk Auxospore.
4.   Peranan diatom
              Selama ini peranan diatom yang awam diketahui adalah sebagai penghasil oksigen dan bahan organik bagi organisme akuatik, bioindikator kualitas perairan, serta diatom yang mengendap di dasar laut dalam rentang waktu yang lama dapat menjadi cadangan minyak bumi. Diatom menjadi bioindikator kualitas perairan memiliki keunggulan dibandingkan organisme lainnya karena distribusi luas, populasi variatif, penting dalam rantai makanan, siklus hidup pendek, reproduksi cepat, hampir semua terdapat di permukaan substrat, banyak spesies sensitif terhadap perubahan lingkungan, mampu merefleksikan perubahan kualitas air dalam jangka pendek dan panjang, mudah pencuplikan, pengelolaan dan identifikasinya (Gell et al., 1999; Round et al., 2000).
          Namun tidak banyak yang mengetahui, dalam dunia kedokteran forensik melalui tes diatom pada tubuh korban yang diduga meninggal karena tenggelam keberadaan diatom  sangat membantu dalam mengetahui penyebab kematian. Tes diatom tersebut dilakukan dengan cara mengambil dan memeriksa contoh air dari dugaan lokasi tenggelam, contoh jaringan dari hasil otopsi korban, jaringan yang dihancurkan untuk mengumpulkan diatom, konsentrasi diatom dan analisa mikroskopis. Keberadaan diatom pada tubuh korban sebagai alat penting dalam diagnosis, konfirmasi kematian, serta bukti pendukung dalam penyebab kematian.
         Diatom juga dimanfaatkan dalam terapan ilmu paleolimnologi. Paleolimnologi merupakan ilmu yang mempelajari geologi dan perkembangan di perairan tawar. Melalui pendekatan paleolimnologi  memanfaatkan informasi fisik, kimia dan biologi yang tersimpan di dalam inti sedimen sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan kualitas air. Dengan mengetahui kualitas perairan di masa lampau dapat memprediksi kualitas perairan di masa mendatan. Diatom telah diaplikasikan dalam analisis paleoekologi di Everglades National Park Florida Bay, USA (Pyle et al.,1998), Ealden Pond Massachussets USA, Danau Lac Saint Augustine di Quebec City Canada (Pienitz et al., 2006), serta Danau Rawa Pening Indonesia (Soeprobowati dan Hadisusanto, 2009).

Referensi
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut., LIPI Press. Jakarta.                                                   Wilianto W. 2012. Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga Tenggelam (Review). Jurnal               Kedokteran Forensik Indonesia, Vol. 14 No. 3, Juli – September 2012.
Soeprobowati dan Hadisusanto. 2009. Diatom dan Paleolimnologi: Studi Komparasi Perjalanan Sejarah Danau Lac Saint-Augustine Quebeq-City, Canada dan Danau Rawa Pening Indonesia. Biota Vol. 14 (1): 60-68, Februari 2009
ISSN 0853-8670
Richard Telford, Geography Department, Newcastle University.  http://www.eecrg.uib.no/Homepages/Teaching/index.htm

E. Virginia Armbrust. 2009. The life of diatoms in the world’s oceans. NATURE Vol (459)


Rabu, 23 November 2016

Eutrofikasi & Plankton



Proses Eutrofikasi
Komponen vital rantai makanan di perairan tawar dan laut adalah fitoplankton dan zooplankton. Komunitas plankton menggambarkan kondisi kualitas air perairan karena plankton tidak mampu mengisolasi dirinya dari perairan seperti kerang yang mampu menutup cangkangnya ketika kondisi tidak menguntungkan. Plankton mengakumulasi efek perubahan dari kualitas air yang terjadi terus menerus sehingga kita harus memahami tentang plankton dan interaksinya dengan lingkungan untuk memanajemen kualitas air. Fitoplankton merespon perubahan cahaya, nutrisi dan sedimen serta merespon memakan oleh zooplankton. Kelimpahan dan jenis fitoplankton pada perairan dapat memberikan informasi tentang  baik atau tidaknya kondisi kualitas perairan  yang berpengaruh pada penanganan dalam memanajemen kualitas air. Contohnya, kita harus mengetahui spesies fitoplankton yang beracun dan berbahaya bagi konsumen seperti ikan, kerang,dan manusia. Walaupun dalam jumlah yang kecil fitoplankton yang beracun dan berbahaya dapat menyebabkan ledakan populasi fitoplankton (blooming) akibat dari peningkatan konsentrasi nutrien di perairan.
             Kelimpahan suatu jenis fitoplankton ditentukan oleh sifat fisik dan kimia air terutama kandungan nutrien badan air. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan fitoplankton untuk pertumbuhan. Pada ekosistem perairan tawar nutrien pembatas faktor pertumbuhan fitoplankton yaitu Fosfat (PO4-), sedangkan pada ekosistem perairan laut nutrien pembatas pertumbuhan  fitoplankton adalah Nitrogen (N).
       Eutrofikasi merupakan peningkatan kepadatan fitoplankton yang diakibatkan oleh peningkatan konsentrasi nutrien/hara terlarut dalam badan air, yang dapat berasal dalam dan luar ekosistem. Dari dalam ekosistem, peningkatan nutrien berasal dari dekomposisi organik (detritus & kotoran/ekskresi) dan regenerasi nutrien oleh zooplankton, sedangkan dari luar ekosistem nutrien masuk ke badan air melalui berbagai bahan buangan (limbah) baik yang disengaja ataupun tidak. (Garno S.Y, 2012)
 Peningkatan konsentrasi nutrien di perairan dari luar ekosistem disebabkan oleh aktifitas manusia seperti limbah dari pertanian, industri dan rumah tangga. Sugiura et al., (2004) menyatakan limbah organik dan sedimen mengalami dekomposisi dan meningkatkan konsentrasi unsur Nitrogen (N) dan fosfor (P), yang dapat mendorong pertumbuhan fitoplankton. Pada konsentrasi optimum, unsur hara N dan P menguntungkan bagi pertumbuhan fitoplankton yang merupakan makanan bagi ikan dan udang. Namun ketika konsentrasi unsur – unsur tersebut tinggi, terjadi pertumbuhan fitoplankton yang berlebih (blooming) atau eutrofikasi
Alexandrium sp
Ledakan populasi plankton dapat berakibat pada bervariasinya nilai pH dan oksigen terlarut. Pada siang hari, fotosintesis oleh plankton mengubah karbondioksida dari air menyebabkan pH naik dan menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan saturasi tinggi dari kelarutan oksigen. Sedangkan pada malam hari, respirasi oleh plankton dan organisme lainnya di dalam air, meningkatkan jumlah karbondioksida terlarut di dalam air yang menyebabkan pH turun dan begitupula kandungan oksigen terlarut mengalami penurunan. Perubahan rentang  nilai pH yang terlalu besar akan berdampak pada dan rendahnya kelarutan oksigen terlarut di dalam air akan menyebabkan stress pada ikan maupun organisme akuatik lainnya. Selain itu eutrofikasi menyebabkan peningkatan konsentrasi  seperti hydrogen sulfide, methane dan ammonium dapat beracun bagi organisme akuatik.
Microcystis sp
Dampak dari eutrofikasi akan menyebabkan dominasi fitoplankton yaitu Microcystis sp di waduk – waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur sedangkan dominasi Pyrodinium sp, Alexandrium spp, dan Gymnodinium spp di perairan pesisir waktu terjadi “red tide”.
  
Syahrul dkk (2013) mengemukakan bahwa untuk menanggulangi eutrofikasi dengan cara :
1.    Attacking symptoms
a.    Mencegah pertumbuhan vegetasi penyebab eutrofikasi
b.    Menambah atau meningkat oksigen terlarut dalam air
Metode yang dapat digunakan yaitu chemical treatment untuk mengurangi kandungan nutrien berlebihan dalam air,  aerasi, dan harvesting algae (memanen alga) untuk mengurangi alga yang tumbuh subur di permukaan air.
2.    Getting at the root cause
a.    Mengurangi nutrien dan sedimen yang masuk ke dalam air.

Referensi
Garno S.Y, 2012. Dampak Eutrofikasi Terhadap Struktur Komunitas dan Evaluasi Metode Penentuan Kelimpahan Fitoplankton. Jurnal Teknik Lingkungan 13(1) :  67 – 74.
Sugiura et al.,. 2004. Assessment for  the Complicated Occurrence of Nuisance Odours from Phytoplankton and Enviromental Factors in a Eutrophic Lake. Lake & Reservoirs : Res. and Man., 9: 195 – 201.
Suthers, Iain M  dan Rissik, David. 2009. Plankton, A Guide to Their Ecology and Monitoring for Water Quality. CSIRO Publishing. Australia
Syahrul dkk. 2013. Kajian Analisis Kualitas Air Danau UNHAS : Pembahasan Khusus Pada Proses Eutrofikasi. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Hasanuddin.



Selasa, 04 Oktober 2016

Plankton, Sumber Nutrisi Masa Depan


              Secara umum sebagian orang mengenal plankton hanya sebatas pada organisme mikroskopik baik yang berkarakteristik tanaman(fitoplankton) atau hewan (zooplankton). Peranan plankton tak hanya sebagai makanan bagi organisme akuatik, namun memiliki peranan yang lebih besar dari ukurannya. Kebutuhan akan oksigen di bumi tak hanya dipenuhi oleh pepohonan yang menghasilkan oksigen. Nyatanya, hampir 80% oksigen di bumi dihasilkan oleh plankton mampu memproduksi oksigen dari proses fotosintetis.

Plankton sebagai sumber nutrisi
Spirulina sp
Hmm… lantas pernahkah kita membayangkan plankton juga bisa menjadi sumber nutrisi bagi manusia?. Ternyata bangsa Aztec telah mengkonsumsi Spirulina sejak abad 14 – 16. Begitu pula dengan bangsa China sejak lebih dari 2000 tahun lalu telah mengkonsumsi  Arthospira, Nostoc, dan Aphanizamenon). Kebutuhan nutrisi manusia yang selama ini didapatkan dari protein nabati dan hewani dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Lonjakan jumlah penduduk dunia yang dikhawatirkan makin tak terkendali yang saat ini mencapai 7 miliar jiwa, harus diiringi dengan peningkatan kebutuhan pasokan nutrisi baik dari segi kuantitas dan kualitas. Jika tidak ada alternatif sumber pangan yang bernutrisi tinggi dapat menyebabkan kualitas sumberdaya manusia menurun akibat tak terpenuhinya kebutuhan gizi.

Euglena gracilis
 Paradigma masyarakat saat ini masih menilai bahwa makan haruslah dengan makanan yang diolah dengan rasa enak dikonsumsi dan mengenyangkan. Padahal yang penting bukan hanya enak dilihat dan nikmat saat dimakan, namun makanan tersebut haruslah mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Nah beberapa perusahaan telah memproduksi massal produk suplemen nutrisi dan kesehatan yang memanfaatkan plankton, yaitu Chlorella sp dan Spirulina sp. Selain itu ternyata ada satu jenis lagi plankton yang diklaim ahli saintis menjadi sumber makanan ideal yaitu Euglena gracilis. 

Untuk menjadikan plankton sebagai sumber nutrisi masa depan, ada baiknya kita mengenal kandungan gizi dari ketiga jenis plankton tersebut
Chlorella sp
Spirulina sp
Euglena gracilis
Protein : 60,5%
Karbohidrat :  26%
Lemak : 2%

Protein : 50 - 61%
Karbohidrat : 13 – 16%
Lemak : 6 – 7%

Protein : 39 – 61 %
Karbohidrat : 14 – 18%
Lemak : 14 - 20%

Vitamin : A, B1, B2, B6, B12, C & E, niasin, asam pantotenat
Vitamin : A, B1, B2, B3, B12, C
Asam pantotenat
Vitamins  : α -carotene, β -carotene, biotin, B1, B2, B6, B12, C, D, E, asam folat, K1, niasin, asam pantotenat
Mineral : Asam folat, kalsium, fosfor, iodium, magnesium, besi,
Mineral : Asam folat, kalsium, kalium, natrium, fosfor, magnesium, zat besi, zinc, mangan dan selenium
Mineral : Kalsium, besi, magnesium, mangan, fosfor, potassium, sodium, zinc
Asam amino : Lysin, Histidin, Arginin, Treonin, Serin, Prolin, Alanin, Asam glutamate, Triptofan, Leusin, Valin,
Asam amino : isoleucine, leucine, lysine, tryptofan, alanine, arginine, asam glutamic, histidine, tyrosin,
Asam amino : palin, leucin, isoleusin, alanine, arganin, lisin, asam aspartate, asam glutama, tirosin, tryptophan, glisin, serin, sistin

Manfaat mengkonsumsi produk pangan berbasis plankton
Saat ini produk yang memanfaatkan plankton diproduksi secara massal dalam bentuk tablet, kapsul, serbuk, minuman kaleng, permen dan dicampur dalam pangan lain untuk meningkatkan nilai nutrisi dan rasanya. Berbagai manfaat yang akan kita dapatkan dari rutin mengkonsumsi salah satu dari ketiga plankton diatas mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sehingga dapat menyediakan energi bagi tubuh, mampu mengaktifkan sel – sel penting untuk mengeluarkan senyawa toksik dari dalam tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menekan kolesterol dan tekanan darah tinggi, kandungan antioksidan tinggi, mengurangi resiko terkena penyakit kanker dan jantung, memperbaiki sistem pencernaan,dan merawat kesehatan kulit.

Prospek Masa Depan
Indonesia merupakan negara tropis, garis pantai terpanjang kedua di dunia dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan maka berpotensi besar sebagai negara dalam memproduksi plankton sebagai alternatif pangan. Menurut van Harmelen dan Oonk (2006) memaparkan bahwa wilayah negara dengan suhu di atas 150C cenderung merupakan negara yang cocok untuk memproduksi plankton. Selain itu dalam membudidayakan plankton memiliki waktu panen yang relatif cepat dibandingan tanaman lain dan teknologi budidaya plankton harus dikuasai dengan baik. Kendala yang dihadapi saat ini masih minimnya peran pemerintah dan swasta untuk mengembangkan produksi plankton untuk alternatif kebutuhan dalam negeri.  Tak hanya itu, animo masyarakat untuk beralih ke pangan alternatif masih sangatlah rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk mulai merintis industri produk pangan berbasis plankton agar menghasilkan produk pangan yang bergizi tinggi, murah, dan dapat dikonsumsi masyarakat. Prospek di masa depan, produk pangan berbasis plankton tidak hanya dalam bentuk tablet dan serbuk tapi menjadi produk pangan inovatif seperti dicampur dalam mie instan, permen, dan komoditas utama lain untuk meningkatkan nilai gizi dalam kehidupan masyarakat Indonesia (Azimatun Nur, 2015) . Harapannya, dengan mengkonsumsi produk pangan berbasis plankton akan semakin meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang mampu memajukan pembangunan Indonesia.







Minggu, 31 Januari 2016

PLANKTON, Tak Kenal maka Tak Sayang

                   

                                  Chlorella vulgaris (Sumber : algaebase.org)

Berbicara tentang plankton, mungkin kita sudah familiar dari pelajaran semasa SMA. Yap, plankton merupakan organisme baik kelompok tumbuhan berklorofil maupun hewan yang hidupnya melayang  dan bergerak pasif di kolom air. Plankton jika dilihat dari segi ukuran yang mikroskopiknya ternyata  memiliki peranan begitu besar bagi kehidupan di bumi. Penyumbang oksigen di bumi diyakini berasal dari plankton di lautan terutama fitoplankton. Kali ini saya tidak membahas tentang peranan plankton bagi kehidupan namun lebih kepada pengalaman saya dalam mempelajari plankton.
Kegiatan untuk analisa kelimpahan plankton menjadi parameter yang penting bagi budidaya udang. Karena peranan plankton bagi ekosistem tambak sangatlah besar seperti sumber oksigen utama, penyerap gas – gas beracun, peneduh, serta menekan pertumbuhan bakteri patogen. Untuk itu kelimpahan plankton di tambak budidaya harus dapat dipertahankan agar tetap stabil sehingga mampu mendukung keberhasilan budidaya udang. Namun, tahapan awal bagi analis untuk mampu menganalisa kelimpahan plankton yaitu pengenalan mikroskop, haemocytometer, identifikasi plankton, pengelompokkan klasifikasi plankton dan penghitungan kelimpahan plankton.  Dalam kegiatan analisa kelimpahan plankton kita menggunakan mikroskop . Mikroskop tidak hanya sekedar alat bantu kita untuk analisa kelimpahan plankton, perlu juga kita pahami dari tiap bagian dan fungsi dari mikroskop sehingga dapat kita pergunakan secara optimal. Penting untuk membaca instruksi dari buku manual mikroskop yang kita pergunakan.
Analisa kelimpahan plankton menggunakan metode penghitungan langsung dengan haemocytometer. Pada mulanya Haemocytometer  yang ditemukan oleh Louis Charles Malassez dipergunakan untuk penghitungan sel darah. Namun saat ini haemocytometer dipergunakan penghitungan jenis sel dan partikel mikroskopis lainnya. Tahapan selanjutnya adalah belajar identifikasi plankton. Nah tahapan inilah, kita harus mengenal tiap – tiap jenis plankton baik dari bentuk, warna, perubahan, pergerakannya, dan ciri – ciri khusus yang dimiliki. Saat ini, dengan teknologi informasi yang begitu pesat tentu belajar plankton lebih mengasyikkan. Karena kita dapat mudah mengakses berbagai portal website seperti algaebase.org tanpa perlu repot – repot membuka buku kunci identifikasi plankton.
Saat identifikasi plankton, kita tak hanya mengandalkan dari buku dan internet tetapi juga pendampingan dari analis senior maupun ahli lainnya. Karena jika sedari awal salah dalam mengidentifikasi spesies plankton akan menghasilkan data yang tidak akurat. Lakukan proses pencatatan (gambarkan) dan dokumentasikan dari tiap spesies plankton yang kita temukan, hal ini tentu akan sangat membantu tahapan identifikasi plankton. Jangan lupa untuk memberikan catatan khusus mengenai ciri, bentuk dan warna serta pergerakan dari plankton yang kita amati. Identifikasi plankton bukanlah kegiatan analisa yang dapat kita pelajari dalam satu minggu atau satu bulan saja. Membutuhkan waktu tergantung dari kebulatan tekad dan ketelitan tiap individu dalam memahami tiap – tiap spesies plankton. Seiring kita belajar identifikasi plankton, mulai juga mengelompokkan plankton yaitu fitoplankton dan zooplankton beserta tiap filum/divisi di dalamnya.
Syarat kita mulai melakukan penghitungan kelimpahan plankton yaitu mampu menghafal dan memahami minimal 30 spesies plankton. Penghitungan kelimpahan plankton menggunakan haemocytometer dan alat bantu hitung yaitu hand tally counter. Saat kita menghitung kelimpahan tiap spesies plankton kita disarankan untuk tetap fokus dan tenang. Semua jenis plankton yang kita temukan pada kuadran haemocytometer harus dihitung. Kemudian kita konversikan tiap spesies yang ditemukan dalam bentuk individu (sel) / ml. Selanjutnya baru kita klasifikasikan sesuai kelas plankton. Data analisa kelimpahan plankton berupa prosentase (%) dari tiap kelas plankton, dan jumlah plankton total. Hmmm, ribet juga ya analisa kelimpahan plankton?! Tidak juga asal kita menjalaninya dengan ikhlas. Happy working people J





Minggu, 17 Januari 2016

Pay for Plastic, Pay for Future

Pay for Plastic, Pay for Future
Cerita ini bermula dari acara jalan - jalan saya ke sebuah mall di Malang, saat itu saya mengunjungi booth dari WWF (World Wildlife Fund). Volunteer WWF menjelaskan berbagai progam WWF untuk kelestarian alam dan satwa namun juga memberikan informasi yang penting bagi masyarakat awam. Indonesia menempati urutan kedua setelah Tiongkok sebagai negara produksi sampah plastik yaitu 5,4 juta ton per tahun. Tak terlalu mengejutkan, karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif dalam kehidupan sehari – hari begitu erat dengan penggunaan kantong plastik tanpa diiringi perilaku bijak dalam mempergunakannya. Jadi, sudah tahukah anda, per tanggal 21 Februari 2016 mulai diberlakukan “Kebijakan Kantong Plastik Berbayar” atau “Pay for Plastic”  di Indonesia?! Hmm, kebijakan ini akan dibebankan konsumen dengan membayar tiap kantong plastik yang dipergunakan pada ritel – ritel modern. Waah.. jadi tidak ada kantong plastik yang gratis nih?!
Apa sih tujuan dari Kebijakan Kantong Plastik Berbayar? Kenapa kita diwajibkan membayar untuk kantong plastic? Apa yang dapat kita lakukan untuk mendukung Diet Kantong Plastik?
Saat kita berbelanja di ritel modern, coba sejenak perhatikan tulisan seperti gambar di bawah ini






 “Tas ini dapat hancur dengan sendirinya” atau “Tas plastik ini akan hancur dengan terurai dalam waktu 2 tahun saja” . Tentu saja kekhawatiran kita untuk mencemari lingkungan menjadi berkurang. Karena kita meyakini kantong plastik yang kita pergunakan termasuk kategori ramah lingkungan. Kan kantong plastic itu akan hancur, toh pergunakan saja. Maka, makin rendahlah kesadaran masyarakat untuk menggunakan kantong plastik secara bijak. Dari berbagai sumber yang saya baca, nyatanya kantong plastik itu tak kan terurai dengan sendirinya. Dibutuhkan suhu tinggi atau lebih dari 500C , radiasi cahaya matahari hingga paparan udara menjadi syarat agar plastik tersebut bisa terurai. Butuh waktu ratusan tahun agar kantong plastik tak mudah untuk teruraikan oleh tanah. Kondisi tanah yang tercemar plastik akan menurun kesuburannya. Pemusnahan kantong plastik dengan cara membakar malah menimbulkan penyakit bagi manusia akibat asap dari bahan – bahan kimia berbahaya sebagai penyusun kantong plastic.
Namun bagaimana jika kantong plastik yang kita kira “ramah lingkungan” itu terbawa hingga ke laut? Mampirlah ke youtube sebuah animasi sederhana dari National Geographic berjudul “Are you eating plastic for dinner?” dengan durasi + 4 menit akan menyajikan dampak dari penggunaan plastic bagi lingkungan dan manusia. Plastik yang terurai menjadi  mikroplastik seukuran plankton tertelan biota laut dan masuk ke rantai makanan. Biota laut seperti ikan, kerang, cumi dan lain – lain yang tak sengaja menelan mikroplastik itu, kita konsumsi. Tentu hal ini menimbulkan permasalahan kesehatan jika kita secara kontinu mengkonsumsinya.
Diet Kantong Plastik merupakan langkah yang baik bagi kita untuk mengubah mindset dan gaya hidup. Pergunakan kantong plastic yang sama secara berulang. Saat berbelanja, berusahalah untuk kita membawa tas pakai ulang. Langkah kecil ini, selain kita berhemat dari pembayaran kantong plastic juga menghemat penggunaan kantong plastic yang akan berujung pada limbah. Pada awalnya pasti sulit, tapi tentu patut dicoba bukan.
Pay for plastic. Sudah siapkah kita sebagai konsumen untuk membayar tiap kantong plastic yang kita pergunakan, namun wujudkan kesadaran kita untuk mengubah mindset dan perilaku dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan. Karena masalah lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Pay for future. Siapkah kita menghadapi berbagai masalah kesehatan, lingkungan, kelestarian makhluk hidup jika kita tidak mengubah mindset dan gaya hidup kita. Let’s change for better future.


Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...