Kamis, 29 Oktober 2015

Galau untuk menikah


Saya galau.

Iya galau, karena menginjak usia menikah namun belum juga kunjung dilamar sang pujaan hati. Sementara menanti hari itu tiba, waktu tak kusiakan untuk berkarir dan mempersiapkan masa depan.

Saya berharap bisa menikah di usia muda.  Alasan saya sederhana, jika memang sudah yakin dan ada niat baik harus disegerakan. Menikah untuk menyempurnakan ibadah. Harapan saya untuk menikah muda, bukan hanya untuk kesehatan saya sendiri mengingat terbatasnya usia produktif perempuan untuk melahirkan dan mendidik putra putrinya. Memikirkan bagaimana saya kelak menjadi ibu dan seorang istri pasti sangat menyenangkan.  Selain itu menimbang masa depan, terutama tentang kehidupan berkeluarga. Jika sudah dibina dari usia muda dan produktif, tentu kita (orang tua) tidak perlu ngoyo bekerja hingga usia batas pensiun untuk menafkahi keluarga. Menikah bukan hanya mapan secara finansial, mutlak juga mapan secara psikologi. Siapkah dengan kehidupan berumah tangga yang penuh liku. Siapkah saya ?

Agaknya saya harus mulai mempersiapkan diri. Mulai berinvestasi, memupuk keterampilan berumah tangga, dan tentu menempa kesiapan psikologi. 

Menikah bukan tentang siapa yang dulu menikah, tapi yang paling lama mempertahankan kebahagiaan pernikahan itu sendiri…


Adakah saran untuk saya? 

Sabtu, 24 Oktober 2015

Bekerja adalah Ibadah


Mungkin bagi sebagian masyarakat awam menilai berkarir di bidang perikanan hanya berkutat dengan kolam, tambak bahkan mengarungi lautan untuk mendapatkan ikan. Sayangnya berkarir sebagai seorang analis maupun peneliti di bidang perikanan belum menjadi pilihan utama. Padahal tidak dapat dipungkiri kemajuan budidaya perikanan tidak mungkin bisa berkembang tanpa adanya data riset. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, riset adalah  penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Nah kegiatan riset ini selalu berkaitan erat dengan dunia laboratorium. Laboratorium yang identik dengan bahan – bahan kimia, prosedur kerja yang rumit dan peralatan canggih tentu harus didukung pula sumberdaya manusia handal guna menghasilkan data riset yang ilmiah dan terpercaya. Dedikasi terhadap pekerjaan sebagai peneliti, membawa kita untuk menikmati memecahkan misteri dari sampel yang tentu menghasilkan kepuasaan tersendiri jika kita mampu memberikan hasil yang terbaik.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ilmu yang saya miliki haruslah terus kita kembangkan. Ilmu di bangku kuliah adalah bekal kita untuk mengarungi dunia kerja. Ilmu yang kita dapatkan bukan hanya dari membaca, tapi belajar sebanyak mungkin dari pengalaman orang lain yang kita padukan dengan pengalaman kita sendiri. Hal kecil yang saya lakukan dengan cara mencatat hal – hal baru di bidang yang saya tekuni saat. Semakin detil kita memahami apa yang kita pergunakan misalnya alat dan berbagai ilmu teori dasar didalamnya semakin baik kemampuan diri kita. Semakin kita merasa enggan untuk bertanya, menganalisa, ataupun bertindak kreatif itu sama halnya memenjarakan pikiran kita. Singkirkanlah perasaan bahwa diri kita paling pintar dan paling mampu, tapi sejauh mana kita ikhlas untuk belajar. Selain itu, ilmu semakin berkah jika kita menyampaikan kepada orang lain. Tentu kita wajib menguasai ilmu yang akan kita sampaikan, jika belum maka kita lebih baik belajar terlebih dulu, Bekerja memang menghasilkan pundi – pundi rupiah, namun seyogyanya juga menjadi ladang ibadah bagi kita.
Ilmu yang kita miliki akan semakin bijak jika ditunjang dengan attitude kerja yang baik. Selain itu, kita juga harus mampu bekerja sebagai tim serta menjunjung kesetiakawanan sebagai sesama analis/peneliti. Ketika kita mendapati kesulitan, sebisa mungkin kita diskusikan dan kerjakan bersama. Kita yang dulunya terbiasa aktif berorganisasi tentu akan terlihat lebih mencolok dalam hal kinerja dibandingkan orang yang pasif berorganisasi. Misalnya tanpa menunggu intruksi pekerjaan tentu naluri kita mampu memilah skala prioritas pekerjaan dan kemampuan menyampaikan materi tentu terlihat mumpuni. Ketenangan dan keikhlasan dalam bekerja sangat mendukung kinerja kita sebagai peneliti. Jangan biasakan untuk “grusa grusu”. Mari kita niatkan pekerjaan yang kita lakukan sebagai ibadah. Salam sukses.


Jumat, 23 Oktober 2015

Jalan Mana yang Ku Pilih?!


                                    
Setelah lulus kuliah strata satu, lantas jalan mana yang kita pilih. Studi lanjut ? Menikah ? atau bekerja?. Tentu pilihan semua ada pada diri kita. Ketika kita sudah pada dunia kerja, tentu kita harus siap pada konsekuensi yang kita jalani. Mungkin bagi sebagian orang yang mengenal saya dengan baik, pasti menyayangkan keputusan saya. Saya meyakini pilihan saya karena Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Seperti kata pepatah, “Kesempatan baik  tak pernah datang dua kali”. Seperti yang saya alami, pada awal masa training “Profesional Aquaculture Technician Development (PACT)” Batch I yang diadakan di Kantor PT. CP Prima, Tbk Sepanjang, Surabaya. Kegiatan PACT ini digulirkan mengingat urgensinya regenerasi sumberdaya manusia dalam bisnis perudangan. Kegiatan budidaya udang vanname di Indonesia yang sangat menjanjikan tentu harus didukung  sumberdaya manusia yang  handal. Masa in class training itu diikuti oleh 14 orang  dan saya menjadi satu – satunya perempuan dalam training tersebut. Memang dunia perudangan selama ini nampak didominasi oleh kaum adam. Padahal tak sedikit pula, kiprah perempuan di dalamnya. Sedikit jengah dan tidak nyaman rasanya saat saya hanya seorang diri tak ada teman perempuan untuk saling berbagi selama 2 minggu itu. Tapi dalam diri saya bertekad, saya berniat untuk belajar lebih baik menyerap ilmu dan mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Tak mengapa jika saya hanyalah minoritas. Baik secara gender dan asal kampus. Apalagi status saya sebagai mahasiswa dari universitas swasta sedangkan rekan – rekan saya notabene berasal dari universitas negeri. Hmm… bahkan sempat ditanya apa iya di Universitas Muhammadiyah Malang ada jurusan perikanan. Dengan lugas saya menjawab, iya pak ada malah usia nya sudah 17 tahun. Hal itu malah semakin melecut saya untuk membuktikan bahwa saya mampu setara dengan rekan – rekan saya.

Bersyukur saya bisa bergabung dengan PT. Central Proteina Prima, Tbk. Melalui training in class kita mendapatkan materi tentang budidaya udang vanname secara detil yaitu alur proses budidaya udang vanname sesuai SOP CP Prima dan teknik laboratorium. Kita pun tak hanya dihadapkan pada teoritis belaka, tapi berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan ikut pula dipaparkan. Pemateri pada PACT pun tak kalah mumpuni yang sangat menguasai materi baik praktikal dan teori. Semakin kita aktif ingin tahu melontarkan pertanyaan pada presentator, maka makin banyak bekal pengetahuan yang kita dapatkan. Maklumlah kita masih awam dalam dunia perudangan. Tak hanya materi in class, peserta mengunjungi salahsatu tambak pendampingan di Probolinggo untuk observasi  dan tentu kita wajib mempresentasikan hasil observasi lapangan. Itulah ajang “pembantaian” hehe. Pembantaian pertanyaan maksudnya. Sehingga kita bisa menilai sejauh mana kita memahami dan menguasai materi. Eitss selama 2 minggu kita juga menjalin keakraban satu sama lain menjadi keluarga baru. Dunia kerja tak melulu membentukm kita menjadi pekerja, tapi sejauh mana ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat untuk diri kita dan orang lain. Selalu saya ingat pesan Bapak Subandriyo “Selalu niatkan apa yang kita lakukan sebagai ibadah, semoga menjadi pahala kebaikan untuk kita.” Tentu begitu banyak pengalaman berharga yang sudah saya dapatkan  bukan hanya bekal ilmu namun juga bekal kehidupan. Salam sukses selalu.

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...