Kamis, 29 Oktober 2015

Galau untuk menikah


Saya galau.

Iya galau, karena menginjak usia menikah namun belum juga kunjung dilamar sang pujaan hati. Sementara menanti hari itu tiba, waktu tak kusiakan untuk berkarir dan mempersiapkan masa depan.

Saya berharap bisa menikah di usia muda.  Alasan saya sederhana, jika memang sudah yakin dan ada niat baik harus disegerakan. Menikah untuk menyempurnakan ibadah. Harapan saya untuk menikah muda, bukan hanya untuk kesehatan saya sendiri mengingat terbatasnya usia produktif perempuan untuk melahirkan dan mendidik putra putrinya. Memikirkan bagaimana saya kelak menjadi ibu dan seorang istri pasti sangat menyenangkan.  Selain itu menimbang masa depan, terutama tentang kehidupan berkeluarga. Jika sudah dibina dari usia muda dan produktif, tentu kita (orang tua) tidak perlu ngoyo bekerja hingga usia batas pensiun untuk menafkahi keluarga. Menikah bukan hanya mapan secara finansial, mutlak juga mapan secara psikologi. Siapkah dengan kehidupan berumah tangga yang penuh liku. Siapkah saya ?

Agaknya saya harus mulai mempersiapkan diri. Mulai berinvestasi, memupuk keterampilan berumah tangga, dan tentu menempa kesiapan psikologi. 

Menikah bukan tentang siapa yang dulu menikah, tapi yang paling lama mempertahankan kebahagiaan pernikahan itu sendiri…


Adakah saran untuk saya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...