Rabu, 24 Januari 2018

NICE HOMEWORK #1 ADAB MENUNTUT ILMU


Assalamu’alaikum Wr Wb
Badge Tepat Waktu untuk tiap peserta kelas Matrikulasi dalam mengerjakan NHW

          Alhamdulillah, Senin 22 Januari 2018 menjadi hari perkuliahan pertama online saya di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) Batch 5 yang dipandu oleh Bunda Maria Ulfah sebagai fasilitator pendamping. Di dalam MIIP fasilitator pendamping bertindak seperti guru yang menyampaikan materi perkuliahan online via whatsapp dan menjawab pertanyaan dari peserta dalam sesi diskusi. Akhirnya saya kuliah lagi, kuliah online tapi insya allah manfaatnya luar biasa. Selain dipertemukan dengan bunda – bunda pembelajar, kelak ketika kita  lulus kelas matrikulasi banyak kegiatan yang dilaksanakan tentunya secara offline. Bisa berupa seminar, rumah belajar yang berhak kita pilih (rumbel menulis, memasak, craft, dll), playdate, kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Jadi kita bisa bertemu dan saling belajar dengan bunda – bunda di IIP. 
         Materi pertama dalam MIIP berjudul “Adab Menuntut Ilmu”.Pada intinya materi ini bertujuan untuk pentingnya seorang penuntut ilmu untuk memiliki adab. Adab yang baik akan membawa keberkahan pada ilmu yang kita pelajari. Hmmm… setelah membaca dan memahami materi adab menuntut ilmu, salah satu penyebab kita mudah melupakan ilmu yang kita sudah pelajari sebagai akibat dari kurang beradabnya kita dalam menuntut ilmu. Selain itu, ilmu yang paling mudah untuk diserap adalah melalui tindakan keteladanan. Saya pribadi lebih mudah memahami sebuah ilmu jika sudah dipraktekkan, tidak hanya ditulis. Sama halnya ketika kita memberikan contoh perilaku teladan pada anak lebih baik dibandingkan hanya sekedar berucap. Fitrah anak – anak yang lebih cepat untuk meniru perilaku orang lain, untuk itulah kita sebagai manusia dewasa memberikan contoh perilaku yang baik pula.  Dengan harapan anak – anak dapat berperilaku teladan.
            Bergabungnya saya di MIIP yang tak lepas dari dukungan suami, menjadi salah satu ikhtiar saya untuk menjadi ibu profesional. Karena menjadi seorang ibu yang profesional juga butuh sekolah. Kita saja rela menempuh kuliah 4 tahun demi bekal di masa depan. Lantas bagaimana dengan sekolah menjadi ibu? Apakah kita berpuas diri menjadi seorang ibu yang biasa – biasa saja. Atau memilih untuk berproses menjadi ibu profesional.  Semua kembali kepada pilihan pribadi masing – masing. Menjadi seorang ibu yang masa belajarnya seumur hidup, saya haruslah bersungguh – sungguh untuk menuntut ilmu. Bagi saya menjadi seorang ibu dibutuhkan tekad kuat dan komitmen untuk memberdayakan diri.
               Baiklah, sepertinya sudah cukup untuk intronya yaa…  Baiknya kita lanjutkan ke materi pembahasannya, setelah tiap peserta mendapatkan materi dan terlibat diskusi keesokan harinya fasilitator pendamping memberikan tugas berupa Nice Homework (NHW). NHW ini harus dikerjakan tiap peserta dengan tenggat waktu satu minggu dan disetorkan via Google Classroom. Menurut saya, NHW  merupakan “ruh” dalam kelas matrikulasi karena dari sebuah tulisan pemikiran kita yang harus dipraktekkan dalam kehidupan. Berikut ada 4 pertanyaan untuk materi pertama "Adab Menuntut Ilmu"

1.      Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini !
Saya akan menekuni ilmu parenting berbasis islam. Walaupun diri saya juga masih jauh dari kekurangan ilmu dari segi agama tetapi insya allah hal ini akan memacu saya untuk terus belajar.

2.      Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut ?
Menjadi seorang ibu berarti harus siap menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak – anaknya. Selain itu, kita sebagai orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar anak tapi yang tidak kalah penting adalah kita harus mengingat bahwa kehadiran anak dalam rumah tangga sebuah amanah yang Allah SWT percayakan kepada kita. Kewajiban mendidik dan tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anak tidak hanya di dunia tapi juga kelak di akhirat. Untuk mendukung hal tersebut tentu dibutuhkan ilmu parenting. Ilmu parenting yang akan saya pelajari berbasis islam. Ilmu parenting berbasis islam juga harus dibarengi dengan pendekatan psikologi kepada anak. Sebagai ibu kita harus mau untuk belajar dan terus belajar untuk masa depan generasi. Semoga Allah meridhai dan memberikan keberkahan kepada niat dan tindakan saya. Aamiin.

3.      Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
a.       Membaca sumber ilmu berupa buku, artikel, jurnal yang berkaitan dengan parenting
b.      Membuat catatan ringkas dari  hasil membaca
c.       Berupaya untuk melibatkan suami secara optimal dalam mendidik anak
d.      Mempraktekkan ilmu yang sudah dipahami secara kontinu
e.       Bergabung dengan komunitas yang berfokus pada ilmu parenting
f.       Mengambil manfaat kebaikan dari setiap orangtua dalam mendidik anak
g.      Rutin menulis di blog dan membaca pengalaman dari para blogger dalam mendidik anak
h.      Mengikuti seminar tentang parenting

4.      Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
a.       Sikap ikhlas dan selalu berpikir positif dalam menjalani proses mencari ilmu tersebut bahwa ilmu yang kita dapatkan nantinya dapat selalu terikat dan bermanfaat
b.      Sikap konsistensi diri dan tekun dalam memahami serta mempraktekkan ilmu parenting

Alhamdulillah, ternyata mengerjakan NHW semacam “reminder” atau pengingat bahwa kita memiliki target yang harus dicapai dalam menjalani hidup di universitas kehidupan. Bahwa hidup tidak hanya sekedar beribadah dan bekerja tapi juga menuntut manusia terutama diri saya untuk terus belajar. Semangat memberdayakan diri.


Wassalamu’alaikum Wr. Wb

With love,
Puput




Senin, 22 Januari 2018

Mengenal Institut Ibu Profesional (IIP)


Ibu adalah guru utama dan pertama untuk anak - anaknya. Suami adalah guru utama dan pertama untuk istrinya. Orang tua adalah guru zaman untuk sebuah peradaban. 
-Septi Peni Wulandari

             Awal ketertarikan saya bergabung dengan IIP dari kebersamaan sahabat saya Dwi Rohma Agustin yang rutin memposting kegiatan  dalam mendidik anaknya disertai tulisan singkat. Jadilah saya kepo untuk bertanya tentang komunitas yang sedang dia ikuti. Setelah itu, rasa ingin tahu saya menjalar dengan mengakses informasi tentang IIP di google dan media sosial lainnya. Wah, hasrat saya untuk bergabung dalam komunitas IIP semakin besar. Mengingat saya sendiri menyadari peran sebagai Ibu itu tidak mudah untuk dijalani. Membutuhkan proses belajar yang panjang dan tentu butuh support system untuk mendukung saya dalam menjalani peran sebagai ibu, istri dan sebagai perempuan.  Apalagi sementara ini saya masih menjalani rutinitas ibu yang bekerja di ranah domestik dan sedang menantikan kehadiran ananda. Butuh kegiatan bersosialisasi yang berkualitas bersama ibu - ibu pembelajar. Alhamdulillah, saya akhirnya resmi tergabung menjadi anggota Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 5 Wilayah Sulawesi. Bersyukur bisa mengenal dan belajar bersama dengan bunda - bunda pembelajar di IIP. Harapannya dengan bergabungnya saya di IIP, saya dapat meningkatkan wawasan, memberdayakan diri dan semakin bermanfaat untuk banyak orang.  Nah buat yang belum mengenal Institut Ibu Profesional berikut ulasan singkat yang saya kutip dari Majalah Nasional Auleea Edisi Agustus 2017 hal 56 - 57 dengan judul Insitut Ibu Profesional, Mencetak Ibu Sejati. 

Apa sih progam matrikulasi IIP?
Progam Matrikulasi IIP adalah sebuah tahap awal pembelajaran di Institut Ibu Profesional bagi seluruh Ibu dan calon Ibu yang baru akan bergabung di Komunitas Ibu Profesional. Kelas Matrikulasi ini bertujuan untuk penyamaan pemahaman dan wawasan agar sesuai dengan komunitas IIP dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan, ibu, dan seorang istri 

Siapa founder komunitas IIP ?
Ibu Septi Peni Wulandari dan Co Founder Bapak Dodik Mariyanto

Apa latar belakang berdirinya IIP ?
Berdirinya IIP dilatar belakangi oleh kegelisahan dari Ibu Septi Peni Wulandari dan Suaminya Dodik Mariyanto tentang kualitas ibu - ibu di Indonesia. Karena kita ketahui sendiri, seorang Ibu berperan penting dalam menentukan baik buruknya keluarga. Ibu adalah pilar utama sebuah keluarga. Negara yang berkualitas terbentuk dari kumpulan keluarga yang berkualitas pula. Institut Ibu Profesional berusaha mewujudkna sosok ibu profesional dengan membekali para ibu dan calon ibu dengan ilmu - ilmu parenting, edukasi, psikologi, komunikasi, keuangan, kesehatan dan lain - lain. 


Bagaimana cara bergabung dengan IIP?
Pendaftaran dibuka secara online maupun offline yang tersebar di berbagai kota di Indonesia bahkan tingkat Asia. Dalam setahun keanggotaan IIP dibuka 2 - 3 kali. Calon anggota IIP mengisi formulir tersebut dan membayar biaya investasi sebesar Rp 100.000,- untuk menjadi member tetap. Tentu manfaat yang kita dapatkan jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai investasi tersebut. Setelah itu, calon anggota akan bergabung via whatsapp untuk kelas online dan kelas tatap muka untuk kelas offline untuk mendapatkan materi progam matrikulasi.

Apa saja materi yang didapatkan dari IIP?
Para peserta matrikulasi IIP akan mendapatkan 9 materi yang mencakup perkenalan tentang materi dari kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Sholeha. Materi akan diberikan dari tiap fasilitator pendamping yang terbagi pada tiap kelas yang diberikan setiap pekan. Selanjutnya dilakukan diskusi antara fasilitator dengan peserta. Tiap peserta wajib mengerjakan Nice Home Work (NHW) yang disetorkan setiap pekannya. NHW diibaratkan seperti PR (pekerjaan rumah) berupa tulisan hasil pemikiran peserta. Tentunya pengerjaan NHW ini akan menguji komitmen & konsistensi tiap peserta. Waah luar biasa bukan. 

Apa saja tahapan materi di IIP ?
Setelah kita lulus kelas matrikulasi yaitu ditandai dengan mengumpulkan 7 NHW dari 9 NHW dilanjutkan dengan kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Sholeha.
a. Bunda Sayang : Bunda akan diajarkan beragam ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak - anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak - anaknya.
b. Bunda Cekatan : Mereka akan mendapatkan ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul
c. Bunda Produktif : Bunda akan mendapatkan ilmu - ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu untuk berproses menemukan misi spesifik di muka bumi. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shalehah : Bunda akan mendapatkan beragam ilmu untuk meningkatkan  peran ibu sebagai agen perubahan dalam masyarakat sehingga kehadirannya bermanfaat bagi banyak orang. 

Sekian dulu tulisan tentang mengenal Institut Ibu Profesional. Semoga bisa menambah informasi tentang IIP. 



With love,


Puput




Sabtu, 20 Januari 2018

MIIP_NHW#1_MEMAHAMI GOOGLE DOCUMEN & GOOGLE CLASSROOM

Aliran Rasa Memahami Google Classroom bersama IIP  (Dokumen Pribadi)


Assalamu’alaikum wr wb.

Alhamdulillah saya bersyukur dapat bergabung di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) batch 5 wilayah Sulawesi. Sebelum mengikuti kegiatan kelas secara online, terlebih dahulu Bunda Maria Ulfah sebagai Fasilitator kami mengajarkan materi tentang Google Documen dan Google Classroom. Tujuan Bunda Maria Ulfah mengajarkan kedua aplikasi tersebut kepada kami agar saat mengikuti kelas matrikulasi para peserta tidak mengalami kendala dalam pengerjaan tugas Nice Home Work (NHW). Simpel, hanya menggunakan smartphone kita bisa mengerjakan NHW. Jadi peserta bukan menjadikan NHW sebagai “momok” dalam proses pembelajaran akibat terkendala fasilitas. Sebagai bunda pembelajar yuk mari kita tingkatkan kompetensi diri dengan melek teknologi.

Kedua aplikasi tersebut baru pertama kali saya pergunakan. Ternyata penggunaan Google Documen sama persis ketika kita menggunakan Microsoft Word, malah lebih praktis karena tulisan yang sedang kerjakan otomatis tersimpan tanpa tidak perlu tekan save. Jadi tidak khawatir hilang begitu saja pekerjaan kita. Selain itu bisa dipergunakan pada mode offline atau tidak tersambung dengan jaringan internet. Kehadiran aplikasi Google Documen tentu sangat memudahkan saya nantinya dalam pengerjaan tugas Nice Home Work (NHW) yang rutin setiap minggunya.       
      
Untuk aplikasi Google Classroom (GC)  diibaratkan seperti ruang kelas berbasis online yang menghubungkan antara guru dan murid. Penggunaan Google Classroom sangat efektif untuk mengurangi penggunaan kertas, meningkatkan efisiensi dalam pengerjaan tugas dan diharapkan murid disiplin dalam mengerjakan tiap tugas. Saya menilai GC memberikan pelajaran baru bagi saya yaitu mengoptimalkan penggunaan perangkat smartphone saya.

Tampilan Google Classroom MIIP Batch 5 Sulawesi 1 (Dokumen Pribadi)


Panduan penggunaan Google Classroom
  1. Kita wajib mempunyai akun gmail untuk mendaftar di google classroom
  2. Download aplikasi “Google Classroom” via Playstore untuk android dan Appstore untuk perangkat berbasis iOs
  3. Setelah terinstall di smartphone, Sign in Google Classroom menggunakan akun gmail kita. Selanjutnya akun gmail kita akan terhubung dengan Google Classroom
  4. Untuk menggunakan Google Classroom, murid perlu menunggu kode kelas dari guru/fasilitator kelas atau mendapat undangan bergabung di kelas via email
  5. Tampilan dari Google Classroom terdiri dari aliran (ruang interaksi antara guru dan murid), teman sekelas dan tentang
  6. Untuk mengerjakan tugas, buka side bar lalu klik To Do dan pilih sesuai judul tugas yang akan dikerjakan
  7. Selanjutnya kita dapat melampirkan tugas tersebut dan pastikan sesuai dengan judul tugas, lalu tekan Turn In maka tugas akan otomatis disetorkan. Tiap peserta dapat mengerjakan NHW di google documen ataupun blog berupa link pada GC agar guru bisa membaca tugas tersebut.
  8. Apabila tugas berhasil disetorkan maka daftar To Do akan berganti ke daftar list Done.
  9. Alhamdulillah selesai tugas berhasil disetorkan

Nah otomatis penggunaan Google Classroom akan sangat memudahkan guru/fasilitator dalam memantau dan mereview tiap tugas dari para peserta tanpa harus mondar mandir ke berbagai aplikasi. Murid/ peserta juga menjadi sangat terbantu dalam pengumpulan tugas jadi lebih simpel.

Sekian aliran rasa saya tentang Google Classroom, semoga kedepannya saya semakin bersemangat belajar dan memberdayakan diri.

Wassalamu’alaikum wr wb

                                                                                             With love,

                                                                                       Puput


Rabu, 17 Januari 2018

Ceritaku tentang Hidup Merantau



Matahari terlihat dari pesawat (Dokumen Pribadi)

Ketika kita sudah memutuskan untuk hidup merantau, tentu saja yang paling kita rindukan adalah tanah kelahiran kita. Rumah dan keluarga menjadi alasan untuk kita selalu merindu. Merindu ingin pulang di tengah hangatnya suasana rumah dan kasih sayang keluarga. Hidup merantau memang pilihan hidup tiap orang. Sama halnya orang yang memutuskan untuk hidup di tanah kelahirannya.  Alasan untuk hidup merantau bagi tiap orang juga beragam. Hidup merantau demi memenuhi  kebutuhan hidup, menuntut ilmu, berkeluarga dan lain sebagainya. Hidup di perantauan sangatlah berbeda dengan "zona nyaman" yang dapat kita nikmati dengan mudahnya. Sebagai individu manusia yang notabene makhluk sosial, perantau dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jika tidak, sungguh akan sangat sulit untuk mengembangkan kehidupan di perantauan. 

Sama halnya dengan keadaan yang saya alami saat ini. Hidup di perantauan karena alasan berkeluarga. Keputusan saya untuk menikah dengan laki - laki yang saya cintai yang berasal dari Makassar berimbas pada lompatan kehidupan saya selanjutnya, yaitu merantau. Merantau sebenarnya bukan hal asing bagi saya, semenjak lulus SMK saya pernah bekerja di Jakarta dan Surabaya. Seakan  hidup merantau bukan hal asing bagi saya. Mungkin bagi sebagian orang mengganggap untuk apa pergi jauh dari tanah kelahiran untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Bukannya di kota sendiripun bisa saja kita peroleh. Berikut sedikit cerita tentang hidup merantau saya....

Hidup merantau pasca lulus sekolah

Saya menulis ini sambil mengingat memori sewaktu hidup merantau di Jakarta. Baru saja saya melepas status seragam putih abu - abu dan masih berusia belia tidak menyurutkan niat saya untuk bekerja di Jakarta setelah dinyatakan lolos tes kerja di sebuah perusahaan percetakan. Memang awalnya berat untuk kedua orang tua saya mengizinkan anak gadisnya bekerja di Jakarta. Tapi semua mampu saya petik hikmahnya. Bagaimana di usia belia  saya memiliki keinginan kuat untuk merasakan bekerja. Jakarta, kota yang kerap kali saya datangi ketika liburan sekolah dan sekarang saya datang untuk bekerja. Hidup di perantauan ketika itu membuat saya melek. Ternyata kehidupan di Jakarta sudah sangat berkembang dengan pesatnya. Menuntut manusia di dalamnya hidup dengan penuh perjuangan. Saya belajar hidup mandiri, ya mandiri. Dulunya untuk masalah makanan pasti sudah tersedia di meja makan rumah, sekarang waktunya beli makanan di warteg dan sengaja masak nasi di kos supaya hemat. Waktu itu saya sewa kos bersama dengan dua orang teman sekolah saya, ingat sekali bagaimana rasanya kita tiap makan pagi dan malam kerap kali sepiring bertiga (makan siang di kantin kantor), saling berbagi kamar mandi dan tidur berhimpitan di satu kasur. Hehe. Menuju ke kantor, tidak ada motor ataupun angkutan antar jemput yaa jalan kaki setidaknya butuh waktu 20 menit dari kos ke kantor. Dari yang berangkat wangi, nyampe kantor kaki udah capek dan berkeringat. Hahaha. Masalah kerjaan di kantor yang masih sangat awam untuk kami yang baru lulus sekolah juga menjadi makanan sehari - hari. Bagi saya masalah pekerjaan masih bisa diatasi dengan kemauan untuk belajar tapi yang paling saya rasakan saat itu adalah ternyata dunia kerja itu keras. Saling sikut-sikutan. Bukan tentang fisik ya, tapi kompetisi antar individu di pekerjaan untuk mengejar prestasi. Waow banget deh bagi saya yang masih anak bau kencur. Hahaha. 

Jadi bisa saya simpulkan pengalaman hidup merantau saya sewaktu lulus sekolah dulu lebih kepada menuntut diri untuk hidup mandiri, memacu kemampuan hardskill dan softskill serta belajar memahami karakter orang lain. 

Hidup merantau pasca lulus kuliah

Bekerja pasca lulus kuliah tentu tingkat psikologis lebih matang dan kemampuan saya sudah cukup baik dibandingkan semasa lulus sekolah. Kehidupan perantauan saya di Kab. Probolinggo lebih bersahabat dibandingkan saat di Jakarta. Menjalani rutinitas pekerjaan yang terkadang bagi saya agak membosankan. Untuk mengatasi kebosanan itu, alhamdulillah lingkungan kerja saya memberikan kesempatan untuk terus menggali kemampuan diri. Seperti rutin menyampaikan materi pekerjaan kepada peserta training, berkesempatan mengikuti pelatihan, dan diskusi ilmiah. Tidak perlu munafik ketika kita bekerja tentu kita berharap mendapatkan keuntungan seperti salary, fasilitas, dan yang paling penting menurut saya adalah kenyamanan dalam bekerja.  Kenyamanan dalam bekerja tidak hanya tentang pekerjaan yang kita nikmati tapi juga rekan - rekan kerja yang membuat kita betah dan malah menjadikan pribadi menjadi lebih baik. Ketika kita nyaman dan menikmati pekerjaan insya allah hasil yang kita dapatkan akan sebanding malah di luar ekspektasi. 


Hidup merantau pasca menikah
Ketika memutuskan untuk menikah saya tentu memahami konsekuensi selanjutnya yaitu hidup merantau bersama suami. Karena akan sangat sulit bagi kami ketika sudah berumah tangga, harus hidup terpisah. Saya bekerja di Jawa, sedangkan suami di Sulawesi. Wah tentu itu BIG NO buat kami. Memang berat memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang saya sukai, tapi hidup berumah tangga juga menjadi ladang ibadah untuk kami. Kendala yang saya hadapi hidup di perantauan yang beda dengan hidup di Pulau Jawa yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa daerah Makassar. Jujur saja,  saya belum menguasai bahasa Makassar yang menjadi bahasa sehari - hari. Walaupun Bahasa Indonesia tetap dipergunakan dalam keluarga dan lingkungan tapi pasti lebih baik lagi jika saya bisa belajar bahasa Makassar bukan. Ya itulah PR terbesar untuk saya hehehe. Untuk masalah kultur budaya tentu juga berbeda dengan di Jawa. Namun saya menganut dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Otomatis saya menyesuaikan dengan kultur yang ada di Makassar. Bagi saya itu tidak masalah, malah kesempatan baik untuk saya belajar kultur yang berbeda dengan Jawa. Hmmm... hidup merantau jauh dari Pulau Jawa membuat saya juga selalu merindukan masakan khas Jawa. Ya kadang rindu sedikut terobati dengan mencoba memasak sesuai kemampuan saya. Hehe. Kalau ada bahan yang sulit ditemukan tentu saja tinggal minta tolong kirimkan ibu saya hehehe. Bahkan cuma liat foto masakannya aja, hati bisa sedikit terhibur. hahaha. Yaa begitulah suka dukanya merantau yaa. 

Kalau rindu dengan keluarga dan sahabat - sahabat saya, tentu saja obrolan lewat sambungan telepon, chat, video call itu menjadi rutinitas yang bisa saya lakukan. Di perantauan sebisa mungkin mengupayakan untuk berinteraksi dengan orang - orang di lingkungan. Jangan sampai menutup diri. Mulailah dengan seulas senyum dan sapa ramah ketika bertemu bisa berlanjut pada obrolan. Karena fitrah manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri bukan. 

Baiklah, sepertinya sudah terlampau panjang cerita saya kali ini. 
Gimana hidup perantauan kalian? Boleh berbagi dengan saya. 
Sharing is caring.


With love,
Puput 

Rabu, 10 Januari 2018

Analisa Kualitas Air dalam Kegiatan Budidaya di Tambak (Part 1)

      Air merupakan media hidup dari biota aqua (ikan/udang), kualitas air yang bagus diharapkan dapat menunjang kehidupan biota air ini secara optimal, sehingga penting untuk mengetahui kondisi kualitas perairan/air di kolam. Dengan melakukan analisa kualitas air pada beberapa parameter yang dianggap krusial diharapkan kita memperoleh gambaran mengenai kualitas air kolam/tambak tersebut.

A. Analisa Kualitas Air 
1. Tujuan dan jenis analisa
•Untuk mengetahui kadar/kandungan  bahanbahan yang terdapat dalam air kolam , dimana bisa diindikasikan sebagai bahan pencemar yang bersifat toxic ataupun bahan-bahan yang keberadaannya berguna untuk mendukung proses budidaya.
Jenis analisa yang dilakukan terutama hanya jenis analisa yang krusial yang memang sangat diperlukan informasinya

2. Metode pengambilan sample
Sample diambil pada suatu titik yang bisa merepresentasikan kondisi perairan/kolam  sehingga nantinya data hasil analisanya bisa mewakili kondisi kolam yang diambil samplenya tersebut.

3. Prosedur analisa
Beberapa pertimbangan untuk pemilihan prosedur analisa antara lain : manfaat, kesederhanaan, ketelitian, aplikatif, penghematan waktu dan biaya

4. Ketelitian dan ketrampilan tenaga pelaksana
Ketelitian dan keterampilan tenaga analis sangat diperlukan karena analisa di laboratorium sangat memerlukan tingkat presisi dan akurasi suatu pengukuran, sedikit saja terjadi kesalahan baik saat penimbangan bahan kimia atau saat pemipetan larutan pengaruhnya akan sangat besar sekali terhadap validitas hasil analisa.

5. Kelengkapan peralatan laboratorium
Peralatan laboratorium mutlak diperlukan oleh suatu kegiatan analisa dan bisa sebagai ukuran kemampuan suatu laboratorium untuk menjalankan fungsinya sebagai penghasil data untuk analisa.

B. Sampling Air 
1.Sampling air dilakukan di ancho, sample diambil ± 20 cm dari dasar.
2.Tempat pengambilan sample dari botol plastik (polipropilen) atau botol gelas.
3. Sample segera dianalisa di Laboratorium atau kalau perlu waktu untuk pengiriman sebaiknya dilakukan preservasi sample.

    Preservasi Sample Air
No
Parameter
Penangangan
Lama penyimpanan yang dianjurkan
Referensi
1
Alkalinitas
Pendinginan (4oC)
24 jam
SNI 6989.59.2008
2
Ammoniak
Ditambahkan H2SO4 sampai pH < 2 & didinginkan
7 hari
SNI 6989.59.2008
 3
Nitrit
Pendinginan (4oC)
2 hari
SNI 6989.59.2008
4
Nitrat
Ditambahkan H2SO4 sampai pH < 2 & didinginkan  (4oC)

SNI 6989.59.2008
5
Salinitas
Pendinginan (4oC)

SNI 6989.59.2008
6
Total dan Ca Hardness
Pendinginan (4oC)
7 hari
Boyd, 1992
7
Soluble orthoposphate
Pendinginan (4oC)
7 hari
Boyd, 1992
8
pH
Segera dianalisa

SNI 6989.59.2008
9
Sulfida
Ditambah 4 tetes Zink Asetat 2 N  & didinginkan  (4oC)
28 hari
SNI 6989.59.2008
10
Organik total
Diasamkan sampai pH < 2 & didinginkan (4oC)
7 hari
SNI 6989.59.2008
11
Plankton
Ditambah 1 – 2  tetes lugol


         Parameter Kualitas Air Untuk Budidaya Udang Vanname
Parameter
Metode atau Alat Uji
Waktu Uji
Angka Referensi
Fisik



1.      Suhu
Termometer
Pagi dan sore hari
26 – 300C
2.      pH
pH meter, kertas pH
Pagi dan sore hari
7,5 – 8,5
3.      Salinitas
Refraktometer
Pagi dan sore hari
15 – 30 ppt
4.      Oksigen terlarut
DO Meter
02.00 – 05.00
> 3ppm
5.      Kecerahan
Secchi disk
Siang atau sore
< 30 cm
Kimia



1.      Nitrit
Test kit
Siang atau sore,
2 – 3hari sekali
< 0,1 ppm
2.      Fosfat
Test kit
Siang atau sore, seminggu sekali
1 – 3 ppm
3.      Alkalinitas
Titrasi asam-basa
Siang atau sore
> 150 ppm
4.      Besi (Fe)
Test kit
2 – 3hari sekali
< 1 ppm
5.      H2S
Spektrofotometer
Berkala seminggu sekali
< 7 ppm


Biologi



Jumlah vibrio pathogen
Hitungan cawan
2 – 3hari sekali
< 1.000 cfu/ml
Sumber : Haliman dan Adijaya (2002)

    C. Parameter Analisa Kualitas Air

1. Kecerahan 
Kecerahan (transparancy) perairan dipengaruhi oleh bahan-bahan halus yang melayang-layang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus maupun berupa bahan anorganik seperti lumpur dan pasir (Hargreaves, 1999). Dalam kolam budidaya, kepadatan plankton memegang peranan paling besar dalam menentukan kecerahan meskipun partikel tersuspensi dalam air juga berpengaruh. Plankton tersebut akan memberikan warna hijau, kuning, biru-hijau, dan coklat pada air (Boyd, 2004). Secchi disc adalah alat yang digunakan untuk mengukur  tingkat kecerahan kolam.Prosedur pengukuran kecerahan yaitu mencelupkan secchi disc  ke dalam kolam sampai titik awal dua warnanya tidak tampak.

Pembacaan Secchi disc       Keterangan
    <20 cm                              Kondisi air kolam sangat pekat
    20 - 30 cm                         Kondisi air kolam pekat
    30 - 40 cm                         Kondisi air kolam baik
    40 - 60 cm                         Kondisi air kolam jernih
     > 60 cm                            Kondisi air kolam sangat jernih

2. Salinitas

      Salinitas didefinisikan sebagai total konsentrasi ion-ion terlarut didalam air. Satuan    salinitas dinyatakan dalam promill (o/oo) atau ppt (part perthousand). Tujuh ion yaitu : Chlor (Cl-), Natrium (Na+), Sulfat (SO4 2+), Magnesium (Mg2+), Kalsium (Ca2+), Kalium (K+), dan Bikarbonat (HCO3-) mempunyai kontribusi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain dianggap kecil (trace element). 
Klasifikasi perairan berdasarkan salinitas menurut Fast (1986) :
 a. Air tawar  :  < 0.5 ppt
 b. Air payau
  - Oligohaline  :  0.5 - 3.0 ppt
  - Mesohaline  :  3.0 - 16.5 ppt
  - Polyhaline  :  16.5 – 30 ppt
  c. Air asin
  - Marine  :  30 – 40 ppt
  - Brine (hyperhaline)  :  > 40 ppt

Refraktometer Merk ATAGO (Doc.Pribadi)
Refraktometer adalah alat untuk mengetahui indeks refraksi, kerapatan jenis dan konsentrasi dari suatu zat terlarut misalnya mengukur kadar gula, garam dan protein. Satuan : ppt (part per thousand / promill). Prinsip kerja refraktometer yaitu memanfaatkan refraksi cahaya (peristiwa membeloknya cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatannya).

pH Pen merk EUTECH (Doc.Pribadi)


3. pH 
              Pengertian pH merupakan logaritma negatif dari aktifitas ion hidrogen. Perubahan kecil nilai  pH perairan memiliki pengaruh yang besar terhadap ekosistem perairan, karena nilai pH perairan sangat berperan dalam mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia didalam air maupun reaksi suatu biokimia di dalam air. Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air (ikan dan udang) memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6.8-8.5 (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1992). pH pen adalah alat yang digunakan untuk mengukur derajad keasaman air kolam

4. Suhu Air 
         Suhu air merupakan salah satu faktor dalam kehidupan udang di tambak. Suhu air sangat berkaitan dengan konsentrasi oksigen di dalam air dan laju konsumsi oksigen hewan air (Tarsim, 2000). Suhu air berbanding terbalik dengan konsentrasi oksigen di dalam air dan berbanding lurus dengan laju konsumsi oksigen hewan air (Ahmad, 1992). Suhu air yang optimal dalam pembudidayaan udang adalah 28-30oC. Menurut Wardoyo (1997) menyatakan bahwa suhu air mempengaruh reaksi kimia perairan dan reaksi biokimia di dalam tubuh udang. Thermometer  adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu. žProsedur pengukuran suhu air pada kolam/tambak dengan mencelupkan ujung probe yang berisi air raksa atau alkohol ke dalam air yang akan diukur suhunya, tunggu beberapa saat sampai alkohol atau air raksa   stabil.

5. Oksigen Terlarut

DO Meter YSI 550 A (Doc. Pribadi)

           Oksigen terlarut dalam air merupakan faktor penting dalam budidaya karena sangat 
erat hubungannya dengan proses respirasi udang. Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh 
beberapa faktor diantaranya temperatur, salinitas, pH dan bahan organik. Salinitas semakin 
tinggi, kelarutan oksigen  semakin rendah. DO meter adalah alat yang digunakan untuk 
mengukur kandungan oksigen terlarut dan suhu pada air kolam (satuan mg/L).

Range DO       Keterangan
  <1 ppm         Dalam waktu lebih dari 3 jam udang bisa mati
  2-4 ppm        Pertumbuhan menurun
  4-9 ppm        Baik untuk pertumbuhan udang
  >9 ppm         Plankton blooming dan tumbuh pesat

To be continued ....


With love,
Puput

Pertumbuhan menurun

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...