Rabu, 03 Januari 2018

Siapkah saya untuk menjadi seorang Ibu?

          
Permandian Eremerasa, Kab. Bantaeng (Doc.Pribadi/01/01/2018)

       Di awal tahun 2018 ini saya sangat bersyukur atas segala hal baik dan membahagiakan dalam hidup yang terjadi pada tahun 2017 ini. Alhamdulillah alhamdulillah wa syukurillah tahun 2017 saya resmi menjadi seorang istri, merasakan hidup di perantauan bersama suami dan menikmati masa kehamilan. Tentu banyak suka duka yang saya alami tapi semua sebanding dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada kami. Bulan Desember 2017, kehamilan saya menginjak trisemester ketiga. Yang saya rasakan selama kehamilan tentu selain perubahan fisik juga psikologi. Perubahan fisik ibu hamil tentu hal yang lumrah bagi seorang perempuan seperti perubahan pada payudara, adanya pigmentasi kulit, tubuh yang makin terlihat gendut, dan lain sebagainya. Perubahan psikologis biasanya yang saya alami adalah mood swing, yaa gampang berubah gitu moodnya. Cepat sekali perubahan mood dalam satu waktu dari mood yang happy ke perasaan kesal. Hehehe. Kalau udah seperti itu sebisa mungkin harus memperbaiki mood dengan melakukan aktivitas yang bisa buat happy lagi :D. Ya begitulah yang harus kita alami selama masa kehamilan, jangan pernah mengeluh tapi jadikanlah rasa syukur untuk kita. Karena sesosok manusia kecil tengah tubuh dalam tubuh kita. Tentu itu sangat membahagiakan bukan. 
              Di akhir trisemester ketiga ini tentu saya sedang menghadapi masa penantian menuju persalinan. Perasaan bahagia tentu mendominasi hati tapi ada rasa kekhawatiran ketika kelak ananda lahir status saya disempurnakan menjadi seorang ibu. Siapkah saya menjadi seorang ibu? Ibu merupakan sosok yang luar biasa dalam hidup kita. Luar biasa mulia dalam mendidik dan menyayangi kita sepanjang masa. Figur seorang ibu dibutuhkan seorang anak dalam membentuk karakter dan kecerdasan akhlak intelektualnya. Maka dari itu saya sangat setuju dengan pernyataan Dian Sastrowardoyo "Entah akan berkarir atau ibu rumah tangga, seorang wanita  berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu – ibu cerdas akan menghasilkan anak – anak cerdas”. 
              Sosok seperti apakah yang saya harapkan ketika menjadi seorang ibu? Itulah sebaris pertanyaan yang saya renungkan dalam diri dalam waktu belakangan. Dalam benak saya tentu sangat ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak -  anak. Dorongan untuk menjadi orang tua yang baik tentu saja mengharapkan kelak anak - anak kita menjadi pribadi yang lebih baik dari segi karakter, kepribadian, intelektual, serta spiritual. Figur orangtua yang baik bagi tiap orang tentu berbeda yang bisa saja terbentuk dari kenangan masa kecil kita tentang kedua orangtua, pengamatan terhadap orangtua lainnya, nasehat dari keluarga dan teman, buku dan ahli kesehatan. Melihat banyak sosok ibu dan perempuan hebat yang menginspirasi untuk diikuti role modenya. Dari buku yang saya baca, pada intinya metode parenting yang akan kita terapkan pada anak adalah mengamati kecenderungan dan reaksi alamiah diri kita. Tak lupa pentingnya respon anak terhadap cara pengasuhan kita. Karena tiap anak - anak akan bereaksi terhadap gaya pengasuhan dan pengajaran yang berbeda. 

Sudah siapkah saya menjadi seorang Ibu?
           
           Harus siap, insya allah atas seizin Allah SWT. Menjadi seorang Ibu tentu berimbas pada waktu untuk diri sendiri akan sangat berkurang. Rutinitas yang dulunya sangat mudah kita jalani sebelum kehadiran anak seperti menikmati makan dengan damai, menjalankan hobi seperti membaca dan menulis seperti saya, belanja dan bahkan mandi adalah aktivitas yang harus kita lakukan dengan secepat kilat dan bahkan sampai melupakan hobi kita. Yaah untuk saat ini memang belum saya alami tapi dari pengamatan saya itulah yang akan dihadapi sebagai ibu baru. Yap, berdamai dengan keadaan adalah cara terbaik untuk tetap waras. 
Menjalani kehidupan sebagai seorang ibu berarti kita harus siap mengalami hari - hari menyenangkan maupun tidak, untuk itu sebagai ibu kita membutuhkan dukungan dari suami dan keluarga.  Peran suami tidak melulu tentang mencari nafkah keluarga saja, tapi juga berperan dari segi dukungan moril kepada istrinya dan perannya dalam mendidik anak. Selain itu, ketika kelak menjadi seorang ibu tidak serta merta melupakan kebahagiaan diri. Ya sangat perlu menyediakan waktu untuk diri sendiri dalam melakukan hal - hal yang membuat kita bahagia seperti melakukan hobi, merawat diri, atau sekedar bepergian. 
       Harapan saya mampu menjadi seorang ibu yang menyayangi, mendidik dan menginspirasi anak - anak saya kelak.  Tentu saja itu butuh waktu perjuangan yang tak sebentar. Menjadi seorang ibu merupakan proses belajar seumur hidup dalam universitas kehidupan. Terlihat sederhana memang tapi saya harus memiliki rencana jangka pendek, menengah dan panjang untuk kebahagiaan diri saya dan keluarga. Semoga Allah selalu meridhai dan menguatkan dalam tiap kehidupan kita dan keluarga. Aamiin.
               

                                                                                                             With love,
                                                                                                  Puput

       



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...