Sabtu, 20 Oktober 2018

Drama MP-ASI Fatih

            
Mama dan Fatih lagi selfie 



            Menjelang usia fatih 6 bulan saya bersemangat untuk mengumpulkan informasi dan ilmu tentang dunia per-MPASI-an. Tepatnya dari usia Fatih 4 bulan saya udah beli buku tentang MPASI, rajin googling dan tentunya mulai berpikir nanti mau belanja apa yaa untuk alat dan bahan MPASI Fatih. Sekarang kan ada metode MPASI yang lagi ngetren di kalangan mamah muda yaitu BLW (Baby Led Weaning). Kesimpulan saya tentang BLW menekankan pada kemandirian anak dalam proses makan. Orangtua hanya menyiapkan makanan yang sudah dimasak dan dipotong sesuai ukuran lalu anak memimpin proses makannya sendiri tanpa disuapi. Dia belajar mengunyah, menelan makanannya dan menghentikan proses makannya ketika dia sudah merasa cukup. Orangtua harus mendampingi tanpa ikut campur dalam proses makan. Wiih keren yaa anak bisa mandiri makan dari kecil. Tapi bagi saya yang masih cetek ilmu tentang BLW mending menggunakan spoon feeding (disuapi) aja dengan mengedepankan responsif feeding. Soalnya kalau BLW saya takut Fatih tersedak dan kurang gizi. Padahal untuk usia emasnya dari 0 - 5 tahun anak sangat membutuhkan asupan gizi yang seimbag dan berkualitas. Jangan sampai anak stunting. Nah lho apaan lagi tuh stunting. Wahai bu ibu sadarkah kita bahwa balita di  Indonesia menempati ranking ke 5 dunia dalam hal stunting. Sepertinya banyak yang nggak sadar termasuk saya bahwa stunting itu bukan hal remeh. Sebentar saya jembreng sedikit. 


          Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Stunting adalah perawakan pendek karena kekurangan gizi. Stunting bisa juga disebabkan faktor genetik atau familial disebut short stature. Mengutip dari IDAI tingginya populasi stunting balita di Indonesia disebabkan kekurangan gizi pada waktu yang lama. Kekurangan gizi ini disebabkan faktor sosial ekonomi yang berpengaruh pada nilai gizi asupan makanan dalam waktu yang lama maupun prevalensi morbiditas. Stunting nggak bisa dianggap remeh lho bu ibu. Kenapa ? Anak stunting umumnya irreversibel dan akan berdampak pada kualitas hidup jangka pendek dan jangka panjang. Perkembangan pesat anak terutama otak yaitu 0 - 2 tahun, selain stimulasi juga perlu diimbangi dengan asupan nutrisi yang bergizi. Stunting akan mempengaruhi perkembangan otak jangka panjang yang berpengaruh pada kemampuan kognitif dan prestasi pendidikan. Selain itu, pertumbuhan linear akan mempengaruhi daya tahan tubuh dan serta kapasitas kerja.  Nah looh, stunting ibarat silent diseases yang diidap anak. 

       Karena saya bukan seorang ahli gizi dan bahkan dokter lebih baik ibu - ibu baca langsung di  Web IDAI banyak artikel kesehatan anak  yang tentu berbasis bukti ilmiah. Ingat ya bu ibu bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan bukan tren kekinian. Hehe. Maklum bu ibu sekarang kan udah melek sosmed yaa jadi kalau ada yang kekinian pengennya diikuti juga. Latah ikut - ikutan tapi nggak ada ilmunya. Buat anak kok coba - coba. Ehh kok jadi kaya slogan minyak telon. Wkwkwk. 

          Boleh juga yang mau baca di website dr. Metahanindita beliau adalah dokter spesialis anak berbasis ilmu nutrisi. Blog Metahanindita. Rutin pantengin IG story beliau yang bahas masalah nutrisi dan kesehatan anak dan rajin baca blog beliau. Sayang belum beli bukunya. Berikut tulisan dr Meta yang ada di blog , tinggal klik aja yaa bu ibu 

Stunting bukan sekedar pendek

Stunting pada Anak

Mencegah Stunting


       Mukadimmahnya kepanjangan yak, jangan capek dulu ya baca tulisan saya. Hehe. Balik ke judul tulisan Drama MP-ASI Fatih. Saya menulis ini dari pengalaman MP-ASI Fatih usia 6 - 7 bulan ya semoga selain jadi bahan pengingat saya, memperkaya pengetahuan dan semoga bisa jadi pertimbangan bu ibu yaa untuk kesehatan buah hati. 

          Sesuai dengan rekomendasi IDAI, MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) diberikan tepat usia anak 180 hari (6 bulan) diikuti dengan kesiapan fisik dan psikologi anak. Pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Saya rutin membawa Fatih ke posyandu untuk timbang berat badan, ukur tinggi badan dan imunisasi. Sebagai orangtua, memberikan salahsatu hak anak berupa menjamin kesehatan anak. Jangan lupa juga ukur lingkar kepala anak yaa in yang tidak dilakukan di posyandu dekat rumah. Jadi saya melakukan secara mandiri pakai meteran jahit. Hehe. Supaya mudah memantau pertumbuhan anak selain plot secara rutin nilai BB dan TB di buku KMS bisa juga download aplikasi "PRIMAKU" gratis kok tersedia di apotek eeh playstore untuk android atau appstore utk iOS. Aplikasi primaku ini sangat membantu saya, mudah tinggal masukkan data TB, BB, dan LK anak nanti muncul grafik sesuai standar WHO. Gak ribet plot di grafik dan otomatis sudah ada status gizi anak. Berikut saya jembreng punya fatih yaa. 
 

*Dokumen pribadi screeshoot aplikasi PRIMAKU 

Gambar 1. Kurva grafik berat badan sesuai standar WHO 

Gambar 2. Kurva grafik tinggi badan sesuai standar WHO

Gambar 3. Kurva grafik perbandingan tinggi dan berat badan anak sesuai standar WHO
         Ekspektasi saya ketika memulai MP-ASI, Fatih akan lahap makan. Wuhuuu.. ternyata saat prakteknya tidak seindah teori yang saya baca. HIhi. Fatih semenjak awal MP-ASI sudah menunjukkan gerak - gerik GTM (gerakan tutup mulut). Hanya maksimal 6 sendok makan bayinya dia mau makan. Ya Allah, saya jadi baper. Gimana ya soalnya udah semangat masak dianya tutup mulut dan berakhir menangis. Akhirnya dicoba makan MP-ASI instan hasilnya pun tetap sama. Bisa dilihat dari grafik pertumbuhan Fatih dari gambar 1 bisa dilihat berat badan Fatih sempat stagnan pada bulan ke 5 dan 6 yaitu 7 kg. Wah saya panik dong karena walaupun status gizinya BAIK menurut Primaku tapi bisa dilihat garis tersebut akan menurun bulan ke 7 jika tidak ada perbaikan nutrisi dan pola makan. Alhasil saya dan suami memutuskan untuk konsultasi ke Dokter Speasilis Anak, dr. Isnawaty, SpA. Beliau menyarankan untuk menambah porsi makan jika anak tidak bisa makan sesuai porsi berikan dengan frekuensi lebih sering, perbaiki kualitas asi dan disarankan menggunakan dulu MP-ASI Instan. Beliau juga memberikan suplemen vitamin merk "Zamel Drop" diberikan sehari sekali sebanyak 0,3 ml. Alhamdulillah sudah ada kenaikan berat dan tinggi badan pada bulan ke 7 yaitu 7,5 kg dan 66 cm. Tinggi badan anak juga perlu dimonitor fatih memang sedari lahir TB 47 cm jadi termasuk di garis merah, saat ini TB termasuk normal tapi harapan saya semoga bisa naik di garis hijau. Aamiin. Sedangkan LK (lingkar kepala) juga sering terlupakan untuk diukur padahal itu menunjukkan perkembangan massa otak anak. Fatih dari awal memang LK termasuk makrosefali (besar) tapi sekarang sudah ukuran normal. Gambar grafik 3 menunjukkan Fatih statusnya sudah di garis hijau semoga bisa terus konsisten yaa naakku sayang. 
       Jika anak tidak naik berat badan selama 3 bulan berturut - turut lebih baik kita berkonsultasi ke dokter spesialis anak karena dikhawatirkan ada penyakit infeksi yang diderita anak, anemia defisiensi besi dan lain sebagainya. Jadi please ibu - ibu sayang yuk mari cek KMS (Kartu Menuju Sehat) atau aplikasi Primaku supaya kita bisa melakukan tindakan pencegahan sebelum terlambat. Jika anak sudah stunting tidak bisa diperbaiki dampaknya dan tidak ada obatnya. Masa depan anak benar - benar ada pada kebijakan orangtua.  Mari bu ibu dan pak bapak yang sayang anak kita harus melek pengetahuan tentang nutrisi dan kesehatan anak. Akhir kata dari tulisan saya semoga ada manfaat yang bisa diambil yaa. Terimakasih sudah berkenan membaca. 
          

Minggu, 14 Oktober 2018

Urgensi Tambak Udang Vannamei Miliki SDM dan Laboratorium Handal

           
Foto bersama peserta PACT Batch 1 dan mentor kepala Bapak Subandriyo di PT CP Prima Surabaya (April,2015)

          Udah lama banget nggak nulis tentang dunia perikanan yaa. Judul diatas udah lama nangkring di draft tapi belum juga dieksekusi tulisannya. Berbicara tentang sumberdaya manusia dalam kegiatan budidaya udang vannamei tidak terlepas dari kecerdasan, keterampilan dan keluwesan tiap individu untuk menghadapi kehidupan yang keras di tambak. Memang pekerjaan menjadi seorang teknisi budidaya udang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat awam begitupula profesi sebagai laboran, asisten teknisi, mekanik, anak pakan,dan lain - lain. Semua profesi tersebut saling melengkapi untuk kesuksesan kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja masalah yang saat ini dihadapi dunia pertambakkan adalah melambatnya regenerasi SDM yang handal untuk keberlangsungan kegiatan budidaya udang vannamei. Utamanya untuk menjalani profesi sebagai teknisi tambak tidak cukup pengalaman 3 kali siklus panen bisa dianggap handal. Butuh ratusan siklus panen yang notabene bertahun-tahun waktu yang dibutuhkan agar menjadi teknisi yang handal.
Seperti yang pernah saya alami dulu saat bekerja di PT Central Proteina Prima di Laboratorium Training Center Paiton, Probolinggo proses perekrutan dan pengkaderan SDM untuk teknisi dan laboran dilakukan tidak hanya melalui pemberian materi tentang dunia pertambakkan selama 2 minggu tetapi juga mereka calon - calon teknsi dan laboran harus praktek di tambak minimal 2 tahun masa kontrak kerja.   Pada akhirnya mereka menjalani seleksi alam, orang yang benar-benar menjiwai profesinya dialah yang bertahan. Karena jujur saja profesi menjadi teknisi tambak tantangannya selain dari pekerjaannya yang dinamis juga harus mengorbankan waktu demi keluarga. Maklum saja ketika masa periode produksi 3 bulan  seorang teknisi tambak diwajibkan untuk tinggal dan kerja di lokasi tambak yang harus siaga 24 jam. Otomatis harus terpisah dengan keluarga atau jika beruntung diperbolehkan pemilik tambak untuk tinggal di mess bersama anak dan istri.

          Tantangan yang dihadapi oleh seorang teknisi dalam kegiatan budidaya udang vannamei antara lain cuaca, kondisi kesehatan udang vannamei, penyakit, manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, manajemen panen, manajemen sdm dan lain sebagainya. Seorang teknisi harus siap mental ketika dihadapkan pada kondisi cuaca yang kurang bersahabat dengan memberikan tindakan pengelolaan kualitas air agar tetap kondisinya optimal untuk budidaya. Siap berpacu dengam waktu ketika kondisi udang vannameinya terkena penyakit untuk mencari solusi terbaik. Mampu memanajerial dengan baik sumberdaya manusia yang bekerja sama untuk kesuksesan budidaya. Faktanya menjadi teknisi tambak udang vannamei  penghasilannya juga tak kalah dengan pegawai kantoran. Malah bisa dibilang penghasilan yang didapatkan jauh lebih tinggi dari pegawai kantoran. Lho kok bisa? Ya karena selain dapat gaji bulanan, teknisi mendapatkan intensif tambahan yang besarannya disesuaikan dengan hasil panen. Jadi kalo panen siklus tersebut sukses tentu pundi - pundi rupiah bisa diraup tapi jika kurang beruntung misalkan udang terserang penyakit yaa dapet sih bonus tapi tidak optimal. Hanya memang terkesan pegawai kantoran lebih moncer dengan seragam dan kantornya megah dan berAC. Sedangkan teknisi yaah boro-boro mau tampil ganteng klimis cukup kenakan baju kerja plus topi jalan berkilometer perhari untuk memantau tiap petakan tambaknya. Banyak suka duka bekerja di tambak yang menempa fisik dan mental teknisi untuk itulah profesi ini belum menjadi primadona di kalangan sarjana perikanan. Itulah yang membuat melambatnya regenerasi SDM handal di dunia pertambakkan. Sama persis dengan regenerasi petani handal yang makin sulit di era globalisasi.

           Profesi laboran juga tidak bisa dianggap sepele lho dalam dunia pertambakkan. Karena data kualitas air yang dihasilkan menjadi cerminan dari aktivitas budidaya dan dapat dijadikan panduan tindakan  dalam kegiatan budidaya. Laboran meneliti kualias air budidaya dari aspek fisik, kimia air, plankton dan bakteri. Mereka dituntut menguasai materi dan terampil dalam praktek laboratoriumnya. Tidak hanya itu mereka juga dituntut untuk memiliki integritas dalam bekerja. Laboran yang  handal menghasilkan laporan analisa kualitas air di laboratorium mendekati dengan kondisi aktual di tambak. Laboran seyogyanya tidak hanya menelan mentah - mentah dan praktek sesuai prosedur yang ada tanpa tahu ilmu yang terkandung di dalamnya. Untuk itulah harus didukung oleh mentor - mentor yang berpengalaman dan tidak pelit ilmu. Selain itu juga jangan lupa fasilitas laboratorium haruslah dipenuhi sesuai dengan SOP (standar operational procedur). Jangan harap data laboratorium bisa diandalkan kalau fasilitas terbatas dan SDM abal - abal. Eeh ...
Gedung Training Center PT. CP Prima Paiton Probolinggo th 2016 (diambil dengan efek panorama)

            Laboratorium merupakan salah satu fasilitas vital dalam kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja pengadaan laboratorium yang sesuai SOP tidaklah murah. Karena di dalam laboratorium dibutuhkan berbagai peralatan seperti instrumen, glassware, alat pendukung lainnya, instalasi listrik mumpuni dan tentunya bahan untuk analisa laboratorium Setidaknya pengusaha budidaya tambak harus menyediakan + Rp 300.000.000,- agar berdiri laboratorium di area tambaknya harga tersebut belum termasuk gedung laboratoriumnya ya.  Laboratorium jangan dilihat dari mahalnya rupiah tapi nilailah dari sebuah investasi jangka panjang dan manfaat yang akan didapatkan. Yaitu mampu menghasilkan data laboratorium yang aktual guna menunjang kegiatan budidaya udang vannamei. Tentu ya harus disempurnakan dengan ketersediaan laboran yang handal. Percuma dong punya laboratorium dengan alat bahan lengkap sesuai SOP, eeh laborannya hanya bisa cek salinitas aja. Haha. Mubazir yaa. Sebenarnya bisa saja pengecekan kualitas air menggunakan test kit, tetapi jika dihitung harga beli test kit dengan penggunaannya yang terbatas malah lebih boros. Selain nominal rupiah yang cukup lumayan pengusaha tambak biasanya maju mundur syantik (baca : enggan) kalau disarankan membangun laboratorium mandiri. Lebih memilih cek pakai test kit, atau dicek melalui laboratorium komersil yang berbayarnya juga tidak murah untuk tiap parameter dan jumlah sample. Bandingkan jika punya laboratorium mandiri data lengkap tiap petakan bisa didapatkan secara rutin tiap minggu, berat ongkos di awal namun hemat dan manfaatnya jauh lebih besar. Solusinya bisa membangun laboratorium mandiri yang didirikan dari urunan beberapa pengusaha/pemilik tambak. Jadi tinggal bagi waktu pengecekan sample air dari masing - masing tambak. Biaya bisa lebih murah tanpa harus kehilangan data kualitas air. 

              Urgensi tersedianya SDM dan laboratorium handal untuk dunia budidaya tambak udang vannamei tidak main - main, jika Indonesia mengandalkan komiditi udang vannamei untuk produk ekspor perikanan. Perusahaan swasta seperti PT Central Proteina Prima rela menggelontorkan dana untuk menciptakan generasi teknisi dan laboran yang handal melalui training profesi teknisi yang diberi nama Profesional Aquaculture Technician Training (PACT).  Selain itu juga menyediakan dana untuk mendirikan laboratorium yang sesuai standar dan mengadakan pelatihan berkala untuk para laborannya. Karena mereka menyadari roda bisnis perusahaannya tergantung akan baik buruknya SDM yang dimiliki. Jika tidak ada regenerasi SDM bisa-bisa usaha budidaya  tambak terhenti.Tentu akan mengancam produksi nasional udang vannamei dan Indonesia kehilangan salahsatu sumber devisanya. Semoga tidak hanya pihak swasta yang sibuk melahirkan SDM perikanan yang handal tetapi harapannya Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan serta BUMN menjadi ikut terpacu untuk bersama - sama meningkatkan kualitas SDM yang bergerak di bidang perikanan. Aamiin ya rabb.


Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...