Minggu, 14 Oktober 2018

Urgensi Tambak Udang Vannamei Miliki SDM dan Laboratorium Handal

           
Foto bersama peserta PACT Batch 1 dan mentor kepala Bapak Subandriyo di PT CP Prima Surabaya (April,2015)

          Udah lama banget nggak nulis tentang dunia perikanan yaa. Judul diatas udah lama nangkring di draft tapi belum juga dieksekusi tulisannya. Berbicara tentang sumberdaya manusia dalam kegiatan budidaya udang vannamei tidak terlepas dari kecerdasan, keterampilan dan keluwesan tiap individu untuk menghadapi kehidupan yang keras di tambak. Memang pekerjaan menjadi seorang teknisi budidaya udang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat awam begitupula profesi sebagai laboran, asisten teknisi, mekanik, anak pakan,dan lain - lain. Semua profesi tersebut saling melengkapi untuk kesuksesan kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja masalah yang saat ini dihadapi dunia pertambakkan adalah melambatnya regenerasi SDM yang handal untuk keberlangsungan kegiatan budidaya udang vannamei. Utamanya untuk menjalani profesi sebagai teknisi tambak tidak cukup pengalaman 3 kali siklus panen bisa dianggap handal. Butuh ratusan siklus panen yang notabene bertahun-tahun waktu yang dibutuhkan agar menjadi teknisi yang handal.
Seperti yang pernah saya alami dulu saat bekerja di PT Central Proteina Prima di Laboratorium Training Center Paiton, Probolinggo proses perekrutan dan pengkaderan SDM untuk teknisi dan laboran dilakukan tidak hanya melalui pemberian materi tentang dunia pertambakkan selama 2 minggu tetapi juga mereka calon - calon teknsi dan laboran harus praktek di tambak minimal 2 tahun masa kontrak kerja.   Pada akhirnya mereka menjalani seleksi alam, orang yang benar-benar menjiwai profesinya dialah yang bertahan. Karena jujur saja profesi menjadi teknisi tambak tantangannya selain dari pekerjaannya yang dinamis juga harus mengorbankan waktu demi keluarga. Maklum saja ketika masa periode produksi 3 bulan  seorang teknisi tambak diwajibkan untuk tinggal dan kerja di lokasi tambak yang harus siaga 24 jam. Otomatis harus terpisah dengan keluarga atau jika beruntung diperbolehkan pemilik tambak untuk tinggal di mess bersama anak dan istri.

          Tantangan yang dihadapi oleh seorang teknisi dalam kegiatan budidaya udang vannamei antara lain cuaca, kondisi kesehatan udang vannamei, penyakit, manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, manajemen panen, manajemen sdm dan lain sebagainya. Seorang teknisi harus siap mental ketika dihadapkan pada kondisi cuaca yang kurang bersahabat dengan memberikan tindakan pengelolaan kualitas air agar tetap kondisinya optimal untuk budidaya. Siap berpacu dengam waktu ketika kondisi udang vannameinya terkena penyakit untuk mencari solusi terbaik. Mampu memanajerial dengan baik sumberdaya manusia yang bekerja sama untuk kesuksesan budidaya. Faktanya menjadi teknisi tambak udang vannamei  penghasilannya juga tak kalah dengan pegawai kantoran. Malah bisa dibilang penghasilan yang didapatkan jauh lebih tinggi dari pegawai kantoran. Lho kok bisa? Ya karena selain dapat gaji bulanan, teknisi mendapatkan intensif tambahan yang besarannya disesuaikan dengan hasil panen. Jadi kalo panen siklus tersebut sukses tentu pundi - pundi rupiah bisa diraup tapi jika kurang beruntung misalkan udang terserang penyakit yaa dapet sih bonus tapi tidak optimal. Hanya memang terkesan pegawai kantoran lebih moncer dengan seragam dan kantornya megah dan berAC. Sedangkan teknisi yaah boro-boro mau tampil ganteng klimis cukup kenakan baju kerja plus topi jalan berkilometer perhari untuk memantau tiap petakan tambaknya. Banyak suka duka bekerja di tambak yang menempa fisik dan mental teknisi untuk itulah profesi ini belum menjadi primadona di kalangan sarjana perikanan. Itulah yang membuat melambatnya regenerasi SDM handal di dunia pertambakkan. Sama persis dengan regenerasi petani handal yang makin sulit di era globalisasi.

           Profesi laboran juga tidak bisa dianggap sepele lho dalam dunia pertambakkan. Karena data kualitas air yang dihasilkan menjadi cerminan dari aktivitas budidaya dan dapat dijadikan panduan tindakan  dalam kegiatan budidaya. Laboran meneliti kualias air budidaya dari aspek fisik, kimia air, plankton dan bakteri. Mereka dituntut menguasai materi dan terampil dalam praktek laboratoriumnya. Tidak hanya itu mereka juga dituntut untuk memiliki integritas dalam bekerja. Laboran yang  handal menghasilkan laporan analisa kualitas air di laboratorium mendekati dengan kondisi aktual di tambak. Laboran seyogyanya tidak hanya menelan mentah - mentah dan praktek sesuai prosedur yang ada tanpa tahu ilmu yang terkandung di dalamnya. Untuk itulah harus didukung oleh mentor - mentor yang berpengalaman dan tidak pelit ilmu. Selain itu juga jangan lupa fasilitas laboratorium haruslah dipenuhi sesuai dengan SOP (standar operational procedur). Jangan harap data laboratorium bisa diandalkan kalau fasilitas terbatas dan SDM abal - abal. Eeh ...
Gedung Training Center PT. CP Prima Paiton Probolinggo th 2016 (diambil dengan efek panorama)

            Laboratorium merupakan salah satu fasilitas vital dalam kegiatan budidaya udang vannamei. Hanya saja pengadaan laboratorium yang sesuai SOP tidaklah murah. Karena di dalam laboratorium dibutuhkan berbagai peralatan seperti instrumen, glassware, alat pendukung lainnya, instalasi listrik mumpuni dan tentunya bahan untuk analisa laboratorium Setidaknya pengusaha budidaya tambak harus menyediakan + Rp 300.000.000,- agar berdiri laboratorium di area tambaknya harga tersebut belum termasuk gedung laboratoriumnya ya.  Laboratorium jangan dilihat dari mahalnya rupiah tapi nilailah dari sebuah investasi jangka panjang dan manfaat yang akan didapatkan. Yaitu mampu menghasilkan data laboratorium yang aktual guna menunjang kegiatan budidaya udang vannamei. Tentu ya harus disempurnakan dengan ketersediaan laboran yang handal. Percuma dong punya laboratorium dengan alat bahan lengkap sesuai SOP, eeh laborannya hanya bisa cek salinitas aja. Haha. Mubazir yaa. Sebenarnya bisa saja pengecekan kualitas air menggunakan test kit, tetapi jika dihitung harga beli test kit dengan penggunaannya yang terbatas malah lebih boros. Selain nominal rupiah yang cukup lumayan pengusaha tambak biasanya maju mundur syantik (baca : enggan) kalau disarankan membangun laboratorium mandiri. Lebih memilih cek pakai test kit, atau dicek melalui laboratorium komersil yang berbayarnya juga tidak murah untuk tiap parameter dan jumlah sample. Bandingkan jika punya laboratorium mandiri data lengkap tiap petakan bisa didapatkan secara rutin tiap minggu, berat ongkos di awal namun hemat dan manfaatnya jauh lebih besar. Solusinya bisa membangun laboratorium mandiri yang didirikan dari urunan beberapa pengusaha/pemilik tambak. Jadi tinggal bagi waktu pengecekan sample air dari masing - masing tambak. Biaya bisa lebih murah tanpa harus kehilangan data kualitas air. 

              Urgensi tersedianya SDM dan laboratorium handal untuk dunia budidaya tambak udang vannamei tidak main - main, jika Indonesia mengandalkan komiditi udang vannamei untuk produk ekspor perikanan. Perusahaan swasta seperti PT Central Proteina Prima rela menggelontorkan dana untuk menciptakan generasi teknisi dan laboran yang handal melalui training profesi teknisi yang diberi nama Profesional Aquaculture Technician Training (PACT).  Selain itu juga menyediakan dana untuk mendirikan laboratorium yang sesuai standar dan mengadakan pelatihan berkala untuk para laborannya. Karena mereka menyadari roda bisnis perusahaannya tergantung akan baik buruknya SDM yang dimiliki. Jika tidak ada regenerasi SDM bisa-bisa usaha budidaya  tambak terhenti.Tentu akan mengancam produksi nasional udang vannamei dan Indonesia kehilangan salahsatu sumber devisanya. Semoga tidak hanya pihak swasta yang sibuk melahirkan SDM perikanan yang handal tetapi harapannya Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan serta BUMN menjadi ikut terpacu untuk bersama - sama meningkatkan kualitas SDM yang bergerak di bidang perikanan. Aamiin ya rabb.


11 komentar:

  1. Like this. Langsung ku baca. Terharu dan salut aku dik. Akhirnya keluar juga dari draft . Gak seperti tulisanku yg masih tersimpan rapi dan hanya menghiasi agenda dan laptop, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah makasih mbak arini supportnya :). ayo mbak arini tulisanny juga dipublikasiin biar nambah wawasan untuk kita :))

      Hapus
  2. Halo Puput, sakjane pingin ngobrol langsung sama kamu, apa daya kamu nun jauh di seberang haha. Orang tuaku dan hampir seluruh warga desaku dulu budidaya udang windu, sejak awal 2005 ganti udang vanami, tapi kok yo ngona-ngono ae penghasilane ora ono peningkatan babar blas. Apa karena faktor pendidikan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga mas, hehe iya nasib jdi perantau smntra boleh kontak aku via WA mas. Iya bisa jadi karena faktor kurangnya pendidikan mksdnya hrusnya jaman dulu jg udah ada sprti training atau setidaknya penyuluhan untuk petambak rakyat jadi nambah pengetahuanny, keterampilan dan dapet pendampingan dlm pelaksaannya. jadi penghasilannya bisa ditingkatkan.

      Hapus
  3. mantap mbak put, wawasan kita jadi lebih terbuka setelah baca tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah makasih mas babil, iya biar orang awam pun tahu tentang profesi kita di perikanan. semoga bs bermanfaat bagi oranglain yg membaca

      Hapus
  4. Mba Puput, terimakasih sudah menulis dan menshare informasi ini ya... ditunggu tulisan lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pak sudah berkenan membaca tulisan saya, baik pak Insya Allah

      Hapus
  5. hallo mbak putri, salam kenal mbak aku bagus sarjana perikanan dari ipb. mbak sebelumnya mau nanya nih kan kemaren aku daftar pact yg teknisi ya mbak dan dibales email dengan diberi surat pernyataan untuk diisi apabila sanggup konfirmasi via wa dan lanjut ke tahap selanjutnya. nah aku masih ragu nih mbak buat ngisi surat tersebut yg bikin masih ragu itu nanti traning dan ikatan dinasnya kaya gimana ya mbak? terimakasih banyak mbak putri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf baru merespon komentarnya, iya nanti ada training in class materi budidaya udang vannamei di tambak plus wajib mengikuti magang di tambak sesuai dengan perjanjian. Jika butuh info lebih lanjut via email aja ya r.putriastuti@gmail.com

      Hapus
  6. Kurangnya minat sarjana perikanan masuk program teknisi udang salah satunya gaji yg diberikan, ada perusahaan besa memberikan gaji 1.5jt/bln, untuk intern/magang mungkin msh manusiawi, jika untuk lulusan yg menjadikan pekerjaan tsb karir u/ masa depan pasti akan berpikir kembali.

    BalasHapus

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...