Selasa, 22 Agustus 2017

Cerita Kehidupan setelah Menikah

Liburan di Pantai Seruni, Bantaeng

Menikah.

Sebuah kata kerja yang menurut KBBI dari penggalan kata Nikah yaitu perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Menikah bukan hanya mengawinkan dua individu namun juga mengawinkan dua insan dalam hal ilmu, karakter, budaya, prinsip, dan lain sebagainya.

Lantas, bagaimana dengan saya ?
Kehidupan saya setelah menikah memang berubah, yapp. Berubah menuju ke tujuan yang lebih baik. Memang awalnya agak kagok, saat masih belum menikah masih disibukkan dengan pekerjaan di ranah publik. Saat ini, saya disibukkan dengan kegiatan di ranah domestik. Hmm.. kagoknya yaa pasti nggak ada kegiatan seperti analisa di laboratorium. Dulu mah boro - boro mau masak, cuman masak mie doang. Paling demennya cuma buatin cemilan kayak pempek udang/tenggiri, salad buah sm sandwich aja. Nggak masak macem - macem gt.Wkkwkwk. Secara yaa selama 2 tahun di kantorku dah lengkap fasilitasnya kantin selalu tersedia makanan dengan pedoman gizi seimbang. Hahaha. Tinggal ambil menu makanan sesuai selera, duduk manis menikmati makanan, dan cuci piring. Belum lagi camilannya, duh buka kulkas ada aja yang dimakan macem es krim, roti, frozen food... aaah rindu tuh sama isi kulkas kantor. wkwkw. Kebiasaan makan seafood macem cumi, kepiting saus padang dan saus mentega, kerang, aiihhh... Pak Alfan (Pak Bos) selalu nggak segan traktir kita yaah minimal sebulan 2x mampir makan di seafood Cak Mat. Kalo Mbak Arini (Bu Kepala Lab) pasti kalo ngajak kita belanja keperluan lab, sempetin mampir  ke resto. wkwk... aku aku jadi nostalgia jaman kerja di TC (Training Center) Lab PT. Central Proteina Prima, Probolinggo.   Ternyata nggak sia-sia. Alhamdulillah, berat badanku nambah 10 kg selama 2 tahun. Banyak orang mengira aku bakal tetep kurus, eeh gendutannya ternyata nunggu kerja dulu dan pastinya perasaan happy. hmmm.... Sekarang pastinya rajin berkutat memasak di dapur. Nggak ada deh jaman makan di kantor yang semua udah ready to eat. Haha. 

Heran, pastinya aku dulu yang jarang pake banget masak di dapur, perlahan sekarang skill memasak udah ada peningkatan. yaa... tapi jangan request ke aku masak macem Rendang,  Coto Makassar, Soto Ayam, Konro Bakar, dll haha belum bisaa boo'. Nantilah pelan - pelan kalo dah pindah ke Makassar aku bertekad untuk belajar masak berbagai menu andalan. Setidaknya kalo ada keluarga dan teman bertandang ke rumah, udah Pede sama hasil masakan. Hal yang bisa aku petik dari kegiatan memasak yang aku lakukan selama ini adalah.... lakukan semuanya dengan ikhlas, hati senang, voillaaa... alhamdulillah masakan pasti enak. Hehehehe. 

Mungkin ada yang mau share apa sih yang menyebabkan rasa masakan bisa enaak ? Ya yang pasti sih skill memasak dikuasai yaa :D

Intinya saat masih berstatus single, aku lebih fokus pada kebahagiaan diri sendiri, ya bahasanya sih egois gitu. Kerja sambil nyambi ngajarin belajar anak training ini itu, selama aku bisa oke aja. Mau travelling ke sana kemari asal diizinkan orangtua, udah ayok berangkat aja. Mau belanja, mau kulineran, perawatan ke salon, nonton drama korea wah udah deh pasti dijamin aktivitas paling semangat untuk dilakuin. Hahaha. Ya pasti kalian semua pernah mengalami fase ini.Namun semenjak menikah, tentu perlahan aku harus mengikis ego itu. Berusaha mengontrol emosi dan tindakan. Ya wajarlah masih sekali dua kali ada pertengkaran kecil akibat hal sepele, tapi alhamdulillah tidak lama kami bisa langsung berbaikan. Udah langsung peluk - peluk sambil dievaluasi salahnya apa dan berusaha untuk tidak mengulangi. Menikah membuat saya menyadari, fokus saya bukan hanya untuk diri saya sendiri lagi tapi kepada kebahagiaan keluarga kami. Yapp, let's the story begin....

Kehidupan setelah menikah

Maukah tuk menjadi pilihanku 
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk menjadi yang pertama yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata
Izinkan aku memilikimu, mengasihimu, menjagamu, menyayangimu
Memberi cinta
Memberi semua yang engkau inginkan
Selama aku mampu aku akan berusaha 
Mewujudkan semua mimpi dan harapan tuk menjadi kenyataan
-Penggalan lirik lagu Maliq d'essential, Pilihanku-
Setelah prosesi pernikahan usai, kehidupan panjang pernikahan telah menanti. Kehidupan pernikahan tidak selamanya seperti Cinderella dongeng kanak - kanak yang  diakhir cerita "Mereka hidup bahagia selamanya",  karena kehidupan pernikahan juga dibangun diatas peluh perjuangan dan tangis pertengkaran. Membaca artikel yang dilansir life.idntimes.com dengan judul "13 ujian yang siap menanti setelah kamu menikah" memang benar adanya.Yapp, berikut ke-13 ujian yang akan kami hadapi bersama
1. Untuk suami, masalah finansial yang harus dipikirkan tentu akan bertambah2. Buat istri, sudah waktunya nggak manja lagi, ada suami yang perlu diperhatikan juga3. Ingat, masih ada orangtua dan mertua yang perlu kamu jaga juga4. Dengan menikah, semakin banyak sifat pasangan yang terbuka5. Hamil sembilan bulan bisa terasa berat kalau tidak ada kerjasama yang kuat6. Ketika anak lahir, disitulah muncul tantangan jangka panjang yang lain7. Setelah menikah, pulang ke rumah usai kerja merupakan prioritas pertama dalam kehidupanmu8. Seiring bertambahnya usia anak. waktu bersama pun akan semakin berkurang9. Karir juga meningkat dengan tajam, namun godaan yang datang semakin banyak juga10. Belajar bagaimana caranya memantau anak,tanpa mengekangnya itu susah !11. Ketika anak telah memilih kehidupannya sendiri, percayalah kalian akan selalu dibutuhkan olehnya, sesederhana apapun itu12. Di usia yang tak bisa dibilang muda lagi, kamu menyadari bahwa perjuangan orangtuamu dulu tidak bisa dianggap sebelah mata13. Karena hanya Tuhan yang mampu memisahkan cintamu, kamu akan tetap saling memperjuangkan dan mengisi satu sama lain


Selfie di pesawat 



Kehidupan setelah menikah kami jalani di perantauan yaitu Kota Bitung. Tentu saja saya sangat excited dengan hidup merantau dengan suami. Lahir dan dibesarkan di Pulau Jawa, perasaan untuk mengetahui kehidupan di pulau Sulawesi juga cukup besar. Pergi merantau dan berstatus istri perlahan mendidik saya untuk mandiri dan mulai hidup dengan sederhana. Kebetulan di Bitung kami tinggal di rumah yang disulap menjadi kantor dan tempat tinggal. Pekerjaan suami saya sebagai Kepala Unit Bitung Perum Perindo disibukkan dengan aktivitas perdagangan ikan tuna, cakalang, malalugis, menjalin kerjasama dengan perusahaan dan investor serta kerjasama kapal penangkapan ikan. Sejauh ini selama saya mengenal suami saya tidak banyak perubahan drastis dari sifat dan perilakunya. Ya kan biasanya setelah orang menikah banyak yang kaget dengan proses adaptasi antara suami dan istri. 
Awalnya pasti aneh banget yak, ada orang asing laki - laki yaitu suami yang tidur disebelah kita. Yaah sekarang udah terbiasa banget. Asiknya ada yang dipeluk dan diciumin. Hehe. Apalagi yang buat aku bersyukur, suami menjadi imam sholat kita.  Alhamdulillah. Untuk urusan makanan suami termasuk pribadi yang nggak rewel atau pemilih. Jadi enak deh bisa masak apa aja. Sesekali suami memang komentarin hasil masakan tapi sering juga memuji. "Enak dong masakannya istriku" ujar suamiku sambil senyum. Suami saya termasuk tipikal orang rumahan alias betah di rumah. Yaa kalo aku udah bosen di rumah terus, baru deh ngerengek minta diajak jalan. Hahaha. Suami saya juga bukan tipikal orang yang romantis. Lebih pada aksi dari reaksi. Hmm gimana ya jelasinnya intinya dia menggunakan tindakan, dibandingkan kata - kata romantis. Kesannya cuek tapi sungguh dia pribadi yang perhatian. Setelah menikah, tentu saja kita juga punya partner untuk bercerita dan diskusi. Kalau masalah keuangan, ada yang perhitungan masalah pengeluaran tapi ada yang cuek nggak terlalu perhitungan. 
Yang saya kagumi dari suami adalah pekerja keras, baik banget, berjiwa sosial tinggi, dan bertanggungjawab terhadap amanah. Terus apakah suami saya pernah marah? Ya pernah, tapi memang penyebabnya aku :D. Maklum kadang manjanya kambuh, padahal suami masih sibuk. Ya syukurnya, kita selalu cepat berbaikan dan saling memaafkan. Eitss, kita juga evaluasi lho kenapa sih penyebabnya. Jadi kedepannya bisa diminimalisir penyebab pertengkaran. Intinya dalam kehidupan berumah tangga adalah komunikasi yang baik antara suami dan istri. Insya allah semua bisa diselesaikan dengan baik. 
Nyaris saja kami memutuskan untuk mulai mengurus administrasi untuk KTP dan KK Bitung namun suami saya memiliki rencana lain di masa depan. Yaitu memutuskan pindah ke Makassar dengan pertimbangan kehidupan sosial keluarga kami kedepan lebih baik, rencana usaha, yaa intinya demi kebaikan masa depan kami. Tentu saja sebagai istri saya mendukung keputusan suami, karena saya juga senaaang sekali jika bisa hidup di Makassar. Hehehe. Alhamdulillah, ada jalan terbaik untuk suami saya dengan dipindah dinaskan ke Makassar. Yeay...
Sebagai seorang istri, individu dan calon ibu tentu saja aku memiliki target untuk dicapai. Targetku selanjutnya adalah pengen punya usaha sendiri, belajar dan praktekkan dengan sebaik - baiknya tentang ilmu parenting dengan membaca, bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesional, rutin menulis dan blogging, meningkatkan skill memasak serta mengelola keuangan keluarga dengan baik. Aamiin. Ayo semangat put !!
Begitulah sekilas cerita kehidupan kami setelah menikah yang tentu saja nanti banyak cerita yang akan kami lalui bersama. Bagaimana dengan cerita kehidupan kalian setelah menikah ? Boleh dong saling share. Semoga selalu bahagia dan dalam lindungan serta rahmat dariNya yaa. Aamiin.


With love,Puput

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...