Senin, 03 Juli 2017

Mendidik Ibu, Mendidik Satu Generasi

Seorang ibu yang sedang mendidik anaknya (sharingdisana.com)

Terinspirasi dari rutinnya sahabat saya Dwi Rohma yang memposting kegiatan belajar bersama putri kecilnya yang bernama Ilma di facebook membuat saya tergerak ingin tahu metode mendidiknya. Seru sekali melihat balita perempuan itu aktif belajar dari berbagai materi yang disajikan ibunya setiap sore. Dwi Rohma sebagai ibu muda tidak hanya mengembangkan minat membaca putri kecilnya, tapi membuat sendiri berbagai media belajar dari benda – benda yang mudah didapatkan di lingkungan rumah. Tentu hal itu mendorong perasaan suka belajar pada anak. Karena belajar bukan hanya tentang pandai  calistung (baca, tulis dan hitung). Ilma, tumbuh menjadi anak yang suka belajar dan akhirnya memahami. Tugas orang tua dan guru bukan hanya dituntut untuk bisa, tapi bagaimana anak itu menyukai belajar dengan berbagai macam ilmu. Ketika anak - anak tertarik dan menyukai belajar karena metode belajar yang berbeda dengan konvensional maka bukan hanya bisa tapi mereka bisa memahami dan mengembangkan ilmu itu. Ketertarikan saya berlanjut dengan perbincangan dengan Dwi via whatsapp. Ternyata Dwi telah bergabung aktif di Institut Ibu Profesional (IIP) yang membuatnya terlihat berbeda dari kebanyakan Ibu dalam mendidik anaknya. Saya sendiri insya allah bergabung di IIP batch V pada bulan September 2017. Jadi, apa sih Institut Ibu Profesional (IIP)? Rasanya saya sendiri belum pantas menjawabnya karena belum tergabung pada komunitas tersebut. Alangkah baiknya pertanyaan itu dengan menggali lebih jauh tentang IIP via internet ya, bisa googling atau menengok videonya di youtube.
Mirisnya saat ini terlihat lumrah saja, balita asik bermain sebuah telepon genggam atau tab. Karena disadari atau tidak kita membuat karakter anak menjadi apatis terhadap lingkungan. Sebagai orangtua seyogyanya bisa mendampingi dan memberikan batasan pada anak untuk bermain dengan gadget. Faktanya penelitian dari Universitas Leeds dan Universitas Manchester and Institute of Cancer Research menyatakan bahwa penggunaan gadget utamanya telepon genggam yang mengeluarkan radiasi microwave dapat menghancurkan sel – sel otak balita. Selain itu, menyebabkan menurunnya kemampuan interaksi anak terhadap lingkungan, kurang berminat bermain di alam, merusak penglihatan dan menganggu perkembangan psikologis anak.
Saya adalah anak yang dibesarkan pada generasi era tahun 90-an yang notabene masih banyak didominasi dengan aktivitas permainan tradisional tanpa gadget, mengaji dan aktivitas lainnya. Berbeda halnya dengan anak yang dibesarkan di era milenial ini, gadget seperti kebutuhan utama dalam aktivitas keseharian. Tidak lagi suara riuh ramai di lapangan sepakbola, taman, bahkan mushola untuk mengaji. Ingatan saya kembali ke masa kanak – kanak. Kenapa saya suka membaca buku? Ternyata hal itu tidak serta merta instan saya dapatkan. Aktivitas membaca itu telah lebih dulu dilakukan ibu saya semenjak saya balita. Teringat sebelum tidur, ibu saya dengan telaten membacakan berbagai buku dongeng. Saya mungkin waktu itu hanya tertarik dengan gambar dan suara ibu saya. Menginjak usia sekolah, orangtua saya rutin membelikan majalah bacaan anak – anak seperti Bobo dan Mentari. Hayo, pasti anak generasi 90-an pasti familiar lah dengan majalah Bobo. Ingat pasti dengan berbagai tokoh karakter bergambar kelinci dengan berbagai konten yang sangat pas dibaca oleh anak – anak. Saat ini sudah banyak sekali alternatif buku bacaan dengan konten berkualitas untuk anak – anak.
Selain itu saat saya terima rapor, saya selalu diajak kedua orangtua saya ke Gramedia. Bebas memilih buku yang saya suka. Lantas perlahan semua itu terakumulasi, semenjak SMP saya rajin mengunjungi perpustakaan umum di Kota Malang untuk meminjam buku. Tidak hanya buku pelajaran, novel, pengetahuan umum say baca. perbedaan cara mendidik ibu saya terlihat pada adik laki – laki saya. Yang sedari kecil tidak dibiasakan membaca buku seperti saya. Tampak nyata, dia jarang sekali membaca bahkan menyukai membaca buku teks seperti saya. Sampai saat ini, saya selalu menyempatkan untuk membeli dan membaca buku.  Tidak hanya itu, aktivitas membaca saya terakumulasi dengan kesukaan saya dalam menulis. Sebagai orang tua kita harus kreatif untuk memberikan berbagai aktivitas dalam mendidik anak yang berpengaruh pada kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional.  Namun semua itu kembali kepada pilihan dan komitmen orangtuanya.
Saat ini saya juga sudah menjadi seorang ibu. Dalam KBBI, ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang, sebutan untuk wanita yang sudah bersuami, dan panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun belum. Ya saya termasuk pada pengertian ibu yang kedua dan ketiga. Kita sebagai perempuan, tidak harus menunggu untuk menikah dan memiliki anak untuk memantaskan diri sebagai ibu. Lebih cepat kita belajar memahami peran kita sesungguhnya dalam kehidupan menjadi lebih baik. Saya sadar ilmu mendidik anak itu tidak instan. Tidak bisa serta merta disamaratakan pola mendidik anak seperti mendidik anak di zaman dulu kita dibesarkan. Karena dunia terus berubah. Suka ataupun tidak, anak – anak kita nantinya akan hidup di zamannya yang akan berbeda jauh dengan zaman ini. Sudah siapkah kita menjadi individu pembelajar ? sudah cukupkah ilmu kita ? saya sebagai individu manusia, menyadari saya hanyalah manusia yang harus terus belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.
 Sudah saatnya kita sebagai perempuan, harus menuntut ilmu sebagai bekal dalam universitas kehidupan. Dari ilmu yang kita pahami itu, maka kita bisa mendidik kepada anak – anak kita. Masa iya sih, kita mengajarkan hal – hal biasa seperti yang kita dulu kita terima. Kita dulu terbiasa untuk menerima informasi menelannya mentah – mentah. Begitu saja mempercayainya, tanpa pernah tertarik untuk bertanya. Sudah seyogyanya kita berubah, membiasakan untuk menggali ilmu dibalik berbagai pengetahuan. 5W 1H (What, Why, When, Where, Who dan How)  itu yang harus kita pelajari dan pahami. Karena anak – anak kita berhak mendapatkan pendidikan terbaik dari ibunya. Harapan setiap ibu, anak – anak kita nantinya lebih baik dalam segi karakter, cara berpikir dan bertindak.  Sebelum mendidik anak, seorang ibu harus mendidik dirinya sendiri. Saya terus meyakinkan diri bahwa saya bisa. Belajar tidak ada kata terlambat bukan? Semangat put!. Mendidik ibu, mendidik satu generasi.  

Good is never enough, be different !
                                                                                                                       With Love,
                                                                                                                        Puput



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...