Jumat, 27 Maret 2015

MUSEUM IKHTIOLOGI INDONESIA ( Sekedar Impian ataukah Bisa menjadi Nyata?)



Oleh : Restu Putri Astuti
Ikan Coelancanth (Ikan Purba) yang dipajang di museum
            Ikhtiologi. Apa itu ikhtiologi?! Tidak banyak orang awam yang mengenal istilah perikanan yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan dan segala aspek kehidupannya. Ikhtiologi merupakan bidang ilmu dasar yang harus dipahami oleh mahasiswa perikanan. Karena dengan mempelajari dan memahami ikhtiologi kita dapat mengenal distribusi ikan, morfologi dan anatomi ikan, sistem organ dan klasifikasi ikan.  Saya begitu tergugah dengan kekayaan hayati Indonesia terutama spesies ikan yang diperkirakan 8.500 jenis ikan hidup di perairan Indonesia, namun sampai saat ini Indonesia belum memiliki museum sekelas American Museum of Natural History (AMNH). Minimnya pengetahuan kekayaan sumberdaya ikan terlihat dari masih terfokusnya pemerintah pada konservasi spesies, ekosistem dan genetik. Seperti pada Museum Zoology Bogor baru memiliki koleksi 68% dari jumlah ikan air tawar dan ikan laut yang masih sangat sedikit. Selain itu, Bukankah ada Sea World di Jakarta ataupun Museum Satwa di Kota Batu?! Lantas apa bedanya. Kita sudah punya ! Menurut saya keduanya masih belum bisa disetarakan sebagai museum sekelas NNMH. Keduanya masih sama peruntukkannya, untuk wisata pendidikan. Coba saja tengok di youtube, betapa tergiurnya hasrat saya saat melongok via online seperti apa NNMH. Begitu besar peranan museum bagi kemajuan pemikiran dan pengetahuan di suatu negara. Begitu banyak ahli yang terlibat sebagai kurator dan peneliti ikan. Dan bayangkan ada + 300.000.000 koleksi ikan dari penjuru dunia memenuhi museum NNMH. Waaw,
Kita manusia Indonesia masih saja memandang, museum adalah tempatnya barang kuno bertemu, membosankan, dan tidak berdampak apapun untuk kehidupan kita. Jujur saja, mungkin tiap dari kita tidak lebih dari 5 kali dalam hidup kita mengunjungi museum. Entah karena enggan atau memang tidak ada museum yang menarik untuk kunjungi. Tren masyarakat lebih menyukai tempat yang bisa dijadikan spot untuk bergroufie dan selfie ria. Nah memang selfie dan groufie dengan ikan tidak bisa?! Hehe. Memang di beberapa universitas dengan jurusan perikanan di Indonesia memiliki berbagai koleksi jenis ikan dalam bentuk awetan. Namun tentu, itu hanya koleksi untuk kalangan sendiri.
Sayang, ditengah hiruk pikuknya manuver pembangunan, aspek pengembangan ilmu pengetahuan belum menjadi prioritas. Urgensi keberadaan Museum Ikhtiologi Indonesia (MII) adalah begitu sporadisnya kerusakan ekosistem yang mengancam keanekaragaman hayati Indonesia. Belum lagi masalah perubahan iklim dan kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada pengembangan ilmu pengetahuan lewat museum. Perlu dilakukan segera kegiatan eksplorasi dan ekspedisi tentang ikan – ikan Indonesia tidak hanya di pulau utama, tapi hingga ke pulau kecil. Belum lagi, masih terbatasnya sumberdaya manusia di bidang ikhtiologi yang selalu penemuan ikan didominasi oleh peneliti asing. Seperti Kottelat dkk (1993) yang telah mempublikasikan 75 jenis ikan baru perairan tawar khususnya Sulawesi dan Allen (1993) ikan papua. Baru – baru ini, ada seorang ahli ikhtiologi Indonesia Kadarusman,PhD yang dikenal kiprahnya karena telah menemukan ikan rainbow papua bersama tim peneliti Prancis.
Seperti halnya yang saya pikirkan, tentang keberadaan Museum Ikhtiologi Indonesia. Museum yang terdiri dari ratusan ribu koleksi ikan seluruh Indonesia, ditangani oleh peneliti ikhtiologi, dan tiap tahunnya selalu dikunjungi jutaan orang. Bukan sekedar tempat wisata biasa. Museum Ikhtiologi Indonesia (MII) diharapkan menjadi pusat pengetahuan tentang ikan dan segala aspek kehidupannya. Bukan hanya tempat awetan ikan, tapi menjadi database dan brankas DNA ikan Indonesia. Museum Ikhtiologi Indonesia menjadi tempat riset, pendidikan, dan wisata. Tentu jika Museum Ikhtiologi Indonesia ini bisa diwujudkan bisa dipastikan membuka peluang kerja baru bagi sarjana perikanan sebagai “ichthyologist” atau ahli ikhtiologi. Tidak hanya itu, tentu dengan dibukanya MII membuka lapangan pekerjaan lainnya dan menggerakkan perekonomian dari sektor wisata. MII pasti menjadi daya tarik baru bagi kerjasama riset negara lain yang lebih pioneer di bidang ikhtiologi. MII menjadi tempat transfer ilmu dan keahlian. Hmm hanya dengan membayangkan saja menyenangkan, apalagi bisa diwujudkan. Bahagianya. MII, investasi masa depan Indonesia untuk menjaga keanekaragaman hayati terutama ikan. Ketika nanti kelak anak cucu kita bertanya tentang ikan coelacanth itu seperti apa. Kita tinggal mengajak mereka mengunjungi Museum Ikhtiologi Indonesia dan menemukan berbagai koleksi ikan yang bisa kita ceritakan. Saya pun berharap dengan adanya MII kita sebagai ahli ikhtiologi maupun pemerhati perikanan dapat mempelajari berbagai perubahan (evolusi) dan distribusi ikan di masa mendatang akibat faktor alam seperti global warming. Bukankah itu penting bagi kehidupan kita manusia yang dianugerahi akal dan nurani.
            Satu hal terakhir yang perlu dipastikan, siapakah investor yang berminat mewujudkan gagasan saya? J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...