Sabtu, 04 Februari 2017

Sekelumit Cerita tentang Perjalanan ke Bantaeng & Makassar (Part 1)

Menepati janji, menulis cerita perjalanan ke Bantaeng & Makassar, Sulawesi Selatan. Baiklah untuk pembaca, harap maklum atas runtutan cerita dan banyak curhatan saya didalamnya. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca.
Bersama Ibu tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin

Perjalanan saya menuju Bantaeng, Sulawesi Selatan merupakan perjalanan yang awalnya tidak diagendakan. Setelah mendapatkan kabar dari keluarga calon suami bahwa adik kandung perempuan calon suami saya Mbak Risma akan menikah. Apalagi keluarga mengharapkan saya hadir di pernikahan. Bahagia akhirnya saya bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar di Bantaeng. Memang semua sudah diatur oleh Allah SWT, karena bertepatan dengan jadwal cuti dan  acara pernikahan.  Akad nikah akan diadakan pada 17 Januari 2017, dan resepsi 20 Januari 2017. Baiklah, saya menyanggupi datang tanggal 19 Januari 2017. Karena saya juga sedang mempersiapkan pernikahan , saya membagi waktu cuti 3 hari di Malang, dan 4 hari di Makassar. Keberangkatan saya ke Bantaeng tentu saja tidak sendiri tapi mengajak turut serta Ibu dan tante saya. Sebelum saya menikah dan hidup merantau bersama suami tentu lebih baik mengajak ibu jalan – jalan dulu. Ya semoga nanti juga bisa selalu bepergian dengan keluarga walaupun sudah berumahtangga. Amin.
Kamis, 19 Januari 2017
          Saat bepergian alangkah baiknya kita mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk memulai perjalanan mengingat waktu tempuh dan kondisi cuaca. Saya memilih penerbangan pagi dengan maskapai Sriwijaya air pukul 06.00 WIB, karena hujan sering terjadi pada siang hari di Jawa Timur dengan harapan tidak delay. Belum lagi masalah waktu tempuh dari Makassar menuju Bantaeng dengan perjalanan darat +  3 - 4 jam. Memasuki Bandara Internasional Juanda di pagi hari, waow, ternyata sudah sibuk dengan ramainya pengguna jasa penerbangan yang di dominasi penerbangan menuju Indonesia Timur. Tepat pukul 06.00 WIB pesawat lepas landas memulai perjalanan ke Pulau Sulawesi. Perjalanan ditempuh selama 1 jam 20 menit. Alhamdulillah sepanjang perjalanan lancar, sempat sesekali mengalami goncangan ketika melintasi awan. Awan – awan putih mendominasi pemandangan selama perjalanan dan sinar matahari dengan lembut menyapa dibalik jendela pesawat. Ohya , saya juga menyempatkan membawa buku sebagai bahan bacaan untuk mengusir rasa bosan di perjalanan. Saat akan mendarat menuju bandara Internasional Hasanuddin Makassar, kita pasti disuguhi pemandangan kota yang berbeda.  Yang paling menarik mata kita yaitu atap  rumah di Makassar yang terbuat dari Besi (biasa disebut seng) , bukan seperti di pulau Jawa yang semua kompak beratap genting dari tanah liat. Nah pasti itu ada filosofinya, mengapa atap rumah di Makassar menggunakan bahan besi tidak menggunakan bahan dari tanah liat. Saya pernah mendengar penyampaian alasan penggunaan atap rumah berbahan besi bukan tanah liat hal itu dikarenakan manusia berasal dari tanah dan ketika meninggal akan kembali ke tanah. Jadi bagaimana mungkin manusia yang masih hidup tinggal dengan beratap tanah yang berarti dianggap seperti sudah meninggal. 
           Pukul 08.20 WITA akhirnya tiba juga di bandara Internasional Hasanuddin Makassar dan sudah dijemput om tante serta keponakan dari keluarga Bantaeng. Mulailah perjalanan ke Bantaeng yang terlebih dulu melewati Takalar dan Jeneponto. Tentu saat kami menyempatkan menikmati kuliner Makassar yaitu Sop Saudara dan Ikan Bandeng Bakar di Gowa (kalau tidak salah, hehe). Makassar kota terbesar di wilayah Indonesia Timur tampak sekali tingkat kemajuan pembangunannya, aktivitas penduduknya yang tinggi, kemacetan dialami sehari – hari di Makassar. Tapi yang belum kita temui saat berkunjung di Makassar adalah kereta api. Saat ini jalur kereta api Trans-Sulawesi sedang dalam proses pembangunan yang akan menghubungkan Makassar hingga Parepare, targetnya akan menghubungkan Makassar hingga Manado sepanjang 2000 km. Tentu saja pembangunan transportasi ini kabar baik yang harus segera diwujudkan di 3 pulau besar Indonesia lainnya yaitu Sumatera, Kalimantan & Papua.   Tepat pukul 13.00 WITA, akhirnya kami sampai di Bantaeng tepatnya di Desa Bonto Rita, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Sepanjang perjalanan menuju Bantaeng kita disuguhi pemandangan perbukitan, sawah, dan tampak garis pantai di kejauhan. Yapp, topografi Kab. Bantaeng memang dilatar belakangi oleh pegunungan dan berteraskan lautan. Kesibukan di rumah menjelang resepsi pernikahan sungguh terasa. Keluarga besar dari calon suami saya menyambut dengan suka cita. Wah, satu persatu saya bersalaman dan memperkenalkan diri. Payahnya saya tentu tidak langsung menghapal nama satu persatu anggota keluarga. Ampun deh. Sambil mengenalkan saya, Calon Ibu mertua saya berkata “ Ini Puput, calon Istrinya Indar dari Jawa”. Mereka semua tersenyum dan menyambut saya dan keluarga dengan hangat. Tepat sekali, saya akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Karena sesungguhnya pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan manusia dalam ikatan pernikahan tetapi sesungguhnya kita menyatukan kedua keluarga. Baik dari pihak saya dan abang, tentu pernikahan kami nanti menjadi sejarah dalam keluarga, karena dari dua suku yang berbeda yaitu Jawa dan Makassar. 

Seingat saya nama kudapannya "Hercules" hehe
Kesibukan menjelang resepsi pernikahan mulai dari memasak sajian makanan, dekorasi pelaminan, dan rangkaian upacara adat sungguh terasa. Tentu sajian makanan berbeda sekali dengan di Jawa, sajian kudapan yang disajikan terasa manis dan lagi – lagi saya lupa nama kudapannya tapi ingat sekali rasanya (pssst, saya memang penyuka manis). Hehe. Lebih baik waktu itu saya catat ya. Lalu dilanjutkan perbincangan hangat dengan keluarga. “Nanti malam acaranya “Mappaci” mbak put,” Ucap Mbak Risma,. 
Saya dan Mbak Risma dalam acara Mappaci


Apa itu Mappaci ?  Googling deh akhirnya saya dan membaca di blog tentang tradisi Mappaci Bugis Makassar. Tujuan dari mappaci adalah untuk membersihkan jiwa dan raga calon pengantin sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.  Acara mappaccing dihadiri oleh segenap keluarga untuk meramaikan prosesi yang sudah menjadi turun temurun ini. Dalam prosesi mappaccing, terlebih dahulu pihak keluarga melengkapi segala peralatan yang harus dipenuhi, seperti; Pacci (salahsatu jenis tumbuhan yang disebut tumbuhan pacar yang ditumbuk halus kemudian disebut pacci dikaitkan dengan kata “Paccing” dalam bahasa bugis disebut suci/bersih), daun kelapa, daun pisang, bantal, sarung sutera, lilin, dll. Mappaccing lebih sering dikaitkan dengan salah satu rangkain kegiatan dalam proses perkawinan masyarakat Bugis - Makassar . Mappaccing lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu syarat yang wajib dilakukan oleh mempelai perempuan, terkadang sehari, sebelum pesta walimah pernikahan. Saat acara mappacing, nenek memimpin acara dengan menggunakan bahasa Makassar serta diiringi dengan tabuhan alat musik seperti gendang. Saya juga sempat berpartisipasi dalam mappacing dengan memberikan sentuhan di dekat mata dahi, leher kepada mempelai perempuan yang sebelumnya pada jari tangan saya mengambil seperti tumbukan beras, rempah terdapat pada nampan kemudian diakhiri dengan memberikan hadiah serta pelukan dan doa agar mempelai hidup berbahagia. Saya dan mbak Risma kontan menangis terharu. Ohh rasanya. bahagia sekaligus ada perasaan sedih karena berpisah dengan keluarga. 
  

To be continued… Part 2

Serangkaian acara Mappaci.


Source :



2 komentar:

  1. Keren... Siap menyatukan Nusantara mbak... Kunjungi juga http://m.kompasiana.com/nawawimnoer/merekontruksi-pemikiran-tentang-pemberantasan-ilegal-fishing_58929975b49273a50e490709

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas awi terimakasih sudah membaca tulisanku...
      Baik mas awi

      Hapus

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...