Selasa, 07 Februari 2017

Siapkah saya untuk menikah ?



“Sudah siapkah saya menjadi seorang istri ?”
“Sudah siapkah saya menjadi seorang ibu ?”

Pertanyaan yang akhir – akhir ini terngiang di pikiranku. Saya siap menjadi seorang istri dan ibu. Tapi sudahkah saya memantaskan diri untuk menjadi seorang istri dan ibu nantinya ? Di tengah kesibukan kerja dan harus meluangkan waktu untuk persiapan pernikahan, jujur saja begitu banyak keresahan yang melintas di hati. Pantaskah, siapkah saya menjadi sosok istri dan ibu ? Membayangkan hidup bersama suami dan anak – anak kelak. Ahh, rasanya seperti permen nano – nano.  Bahagia, sedih, galau, perasaan udah campur aduk. Bagi saya, menikah bukan hanya mengubah status dua insan manusia dalam ikatan pernikahan. Menikah, juga bukan masalah siapa yang lebih dulu menikah tapi siapa yang paling lama mempertahankan kebahagiaan. Nah ini nih (kebahagiaan) yang sulit dan menantang dalam pernikahan. Menikah tidak hanya melulu tentang kesiapan materi, tapi sesungguhnya menikah harus memiliki kesiapan IQ, ESQ dan EQ (kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosi) dalam membangun rumah tangga.
Saat log in di sosial media seperti facebook, sungguh ada perasaan iri terselip di hati, melihat sahabat – sahabat saya telah memajang foto maupun video aktivitas bersama istri atau suaminya beserta anak – anak yang cerdas dan lucu. Ya Allah…. Dari media sosial itu saya terinspirasi bagaimana sahabat – sahabat saya dalam mendidik putra – putrinya. Karena mereka begitu rajin membagikan aktivitas yang akan dilakukan bersama buah hatinya. Membagikan berbagai kisah inspiratif tentang perempuan, tak lupa juga berbagi resep masakan. Mereka telah menggunakan media sosial dengan bijak, sehingga saya menjadi terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Salut.
Profesi mulia bagi seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Saya sangat menyadari kodrat seorang perempuan adalah melahirkan generasi emas. Seorang ibu kodratnya bukan hanya “macak” (dandan), masak, dan “manak” (memiliki anak). Sosok seorang Ibu harus siap menjadi madrasah pertama untuk putra – putrinya. Mendidik putra – putrinya dengan budi pekerti, ditempa dengan ilmu agama dan diperkaya ilmu pengetahuan. Seperti kutipan oleh Dian Sastrowardoyo, “Entah akan berkarir atau ibu rumah tangga, seorang wanita  berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu – ibu cerdas akan menghasilkan anak – anak cerdas”. Eitsss, terus bagaimana sosok Ayah dalam keluarga ? Tentu untuk menghasilkan anak – anak cerdas bukan melulu semua tanggung jawab Ibu. Sosok suami atau ayah juga turut menyumbang kecerdasan putra – putrinya kelak. Saya percaya, keluarga hebat itu haruslah diciptakan dengan hadirnya Ibu dan Ayah dalam mendidik generasinya.

Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi perasaan penat saya dalam mempersiapkan pernikahan.

Saya terkesan santai dalam mempersiapkan pernikahan, karena memang nggak pengen semua terlalu dipikirkan dan dibuat stress. Dinikmati saja. Kebayang dong repotnya saya mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan di Malang, sedangkan saya sendiri bekerja di Probolinggo dan calon suami bekerja di Bitung, Sulawesi Utara. Hehe. Ya begitulah, harus dijalani. Yang penting kuncinya komunikasi. Selama komunikasi antar calon pengantin dan keluarga terjalin dengan baik, tentu semuanya dapat terlaksana dengan baik. Tentu saya juga mengalami permasalahan dalam mempersiapkan pernikahan. Bahkan saya sampai nangis saking dilemanya. Duh cengeng, udah  mau nikah masih aja mewek. Hehe. Wajarlah, pada saat itu perasaan saya lagi baper – bapernya, pusing, dan stress mikirin ini itu.   Lagi – lagi, persiapan mental sebelum menikah itu penting ya guys. Ojo baperan kayak aku, yess. Toh akhirnya masalah itu udah mendapatkan solusi terbaik.
Lho, terus sekarang sudah sejauh mana persiapan untuk pernikahanmu ? Tentu, sejauh ini masih sesuai dengan perencanaan yang telah aku agendakan. Agar tidak pontang – panting urus ini dan itu dengan waktu yang mepet, sangat membantu lho buat “time schedule”. Apalagi untuk capeng pejuang LDR (Long Distance Relationship), harus bijak memanfaatkan waktu libur kerja dalam mempersiapkan pernikahan. Hmm, tentu sudah buat perencanaan mulai dari budgeting anggaran, konsep pernikahan, urus administrasi, dekorasi, rias pengantin sampai banyak hal kecil yang harus saya lakukan. Memang belum semua selesai dilaksanakan. Prinsipnya dijalani, dinikmati dan serahkan semuanya kepada Allah SWT. Insya allah, semua baik – baik. Sekian dulu curhatan saya, terima kasih sudah membaca.
                                                                                                                With ❤ 
                                                                                                                 Puput






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...