Minggu, 11 Februari 2018

NICE HOMEWORK #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

           Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) batch 5 yang memasuki pekan ketiga makin membuat saya baper (terbawa perasaan). Semakin seru tema yang diangkat dan akhirnya membawa kami anggota grup berdiskusi hangat walaupun hanya dengan perantara aplikasi whatsapp dan koneksi internet. Semoga Allah SWT membersamai kami dalam menjadi ibu profesional. Berikut sekilas tentang materi ketiga dengan tema "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah"

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya. 

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.


Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “*misi spesifiknya*”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “*peran spesifik keluarga*” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.



Darimana kita harus memulainya?

*PRA NIKAH*

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA  KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*

*NIKAH*

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

*ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a.    Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b.   Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c.    Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan  di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

_It Takes a Village to Raise a Child_

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NICE HOMEWORK #3
Badge tepat waktu "Peradaban dari Dalam Rumah"

NIKAH
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Di dalam surat cinta saya menyampaikan perasaan bangga dan bahagia saya karena dia menjadi suami dan ayah dari anak - anak saya. Mengungkapkan terimakasih atas segala usahanya dan kasih sayangnya untuk keluarga kami dan tak lupa saya meminta maaf jika belum menjadi istri yang masih jauh dari kata sempurna. Semoga keluarga kami selalu diridhai Allah SWT hingga ke jannahNya. Aamiin

Tantangan membuat surat cinta ini memang menguras emosi karena selama menikah belum pernah membuat ungkapan perasaan tertulis kepada suami. Akhirnya surat cinta itu terbaca ketika suami pulang dinas keluar kota. Maklum aja kami masih menjalani LDM (Long Distance Marriage) ya walaupun tiap weekend pasti ketemu sih.

Respon suami setelah membaca surat cinta
Tersenyum dan mengatakan "mantap" . Hahaha :D kami berdua akhirnya tertawa. Ya begitulah pak suami memang sulit untuk romantis untuk berkata - kata. Beliau lebih meresponnya melalui tindakan untuk menyampaikan rasa sayangnya....


b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Alhamdulillah saat ini saya sedang hamil anak pertama kami yang insya allah akan lahir pada akhir bulan Februari 2018. Mohon doanya semoga persalinan berjalan dengan lancar, ibu dan bayi sehat. Saya berdoa semoga dianugerahi putra - putri yang sehat, sholeh/sholehah, cerdas. dan berakhlak mulia. Semoga Allah SWT meridhaiNya... Aamiin

Semoga saya dan suami diberikan kemampuan dan kekuatan dalam mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak - anak kami. Aamiin




c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

- Ketika saya bekerja di ranah publik pekerja keras inilah salah satu kelebihan yang diakui rekan kerja saya. Karena saya tipikal orang yang totalitas dalam bekerja. Dengan memiliki kelebihan ini saya juga harus bisa membawa keluarga yang produktif.
- Mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru, tidak sulit bagi saya untuk berbaur dengan orang dan lingkungan yang baru sehingga ini membantu saya di perantauan.
- Menyukai membaca dan menulis di blog, merupakan aktivitas me time yang harapannya kedepannya selalu konsisten dan membuat saya produktif sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik. Selalu mengembangkan wawasan dan daya berpikir.
- Saya termasuk tipikal orang yang penyayang dan perhatian, yang bisa memaksimalkan peran sebagai perempuan, istri dan ibu

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Saat ini saya masih tinggal bersama dengan mertua dan menjalani LDM (long distance marriage), alhamdulillah keluarga kami selalu baik dan hidup rukun. Menurut saya lingkungan di tempat saya tinggal sebenarnya saya dikelilingi orang - orang baik. Hanya saja saya merasa tidak cocok dengan pola asuh dan mendidik anak - anaknya. Seperti perlakuan ibu yang terang - terangan membentak dan terkadang main tangan (memukul) ketika anak - anaknya sulit diatur, bertindak agresif, atau sekedar bertengkar dengan temannya. Jadi tak perlu kaget ketika anak - anak usia 1,5 - 4 tahun bisa bertindak sangat manja, agresif, berteriak, gampang menangis, dan bahkan memukul. Padahal usia 0 - 6 tahun pertama kehidupan anak dikenal sebagai "golden age" (usia emas) yang akan menentukan masa depannya. Pada usia emas ini, setiap informasi yang baik dan buruk akan diserap dan membentuk karakter, kepribadian dan kemampuan kognitif anak. Seharusnya mereka mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, agama, moral dan sosio emosional.

Saya tidak nyaman karena dulu sewaktu kecil tidak pernah diasuh dan didik dalam keluarga dan lingkungan saya seperti itu. Bagaimanapun karakter anak selain dari faktor genetik tapi juga dibentuk dari lingkungannya. Ahh... Jujur saja, saya khawatir sekali nanti karakter anak - anak saya malah dominan dibentuk dari lingkungannya. Padahal Bapak dan Ibunya "mati - matian" memberikan teladan yang baik untuk mereka. Apalagi amanah sebagai orangtua menyiapkan buah hati agar mampu menjalani kehidupan dalam lingkungannya di masa mendatang yang amat sangatlah berbeda dengan saat ini.

Selain itu, pemenuhan gizi bagi anak di usia emas di lingkungan tinggal saya masih saya nilai kurang baik. Memang hal ini dipengaruhi dari faktor ekonomi, tapi sebenarnya pemenuhan gizi tidak perlu bahan makanan yang mahal yang penting mudah dan murah didapatkan di lingkungan sekitar, bergizi, serta bervariasi sesuai panduan pedoman gizi seimbang. Jika pemenuhan nutrisi dapat terpenuhi dengan baik, pola asuh dan mendidik diperbaiki serta ditunjang pemenuhan psikologis anak tentu akan membantu mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik. Inilah salah satu tantangan bagi saya jika masih tinggal di rumah mertua. Karena bagaimanapun juga, kami sebagai orangtuanya sudah menyepakati bagaimana pola asuh dan mendidik anak - anak.

Saya meyakini semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, untuk saat ini saya masih tinggal di rumah mertua dengan tantangan lingkungan yang dihadapi nantinya ketika mendidik anak tentu dibutuhkan perjuangan yang harus dimulai dari lingkup keluarga terkecil kami. Dengan memberi teladan dalam mendidik dan pemenuhan gizi anak semoga keluarga yang lain dapat melihat dan perlahan meniru. Membutuhkan pendekatan yang baik dan perlahan untuk mengubah mindset ibu - ibu dalam mendidik dan pemenuhan gizi anak. Saya di sini juga masih belum memiliki komunitas bersama perempuan yang produktif. Untuk itu, saya bergabung di Institut Ibu Profesional dengan harapan bertemu dengan perempuan - perempuan pembelajar yang bisa mengembangkan potensi dari diri saya.

Selain itu, suami saya di masa mendatang berkeinginan untuk kembali memakmurkan masjid di lingkungan tempat tinggal. Bahwa masjid tidak hanya dipergunakan sebagai tempat beribadah tetapi juga "dihidupkan" melalui kegiatan sosial sehingga masyarakat sekitarpun selain bisa meningkatkan ibadah dan aktif berkegiatan sosial di masjid kampung.


With love,
Puput
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...