Senin, 05 Februari 2018

Perempuan (wajib) Melek Finansial

         Setelah menikah dan kesibukan di ranah domestik menuntut saya dan perempuan lainnya yang sudah berganti status sebagai "istri dan ibu" memiliki beragam profesi sekaligus. Menjadi manajer keuangan, chef, ahli gizi, guru,  baby sitter, guru mengaji dan masih banyak lainnya seorang ibu dan istri dituntut untuk menguasai beragam peran tersebut. Menjelang usia satu tahun pernikahan kami, saya menyadari peran saya sebagai seorang istri dan insya allah segera menjadi Ibu masih belum optimal. Obrolan sore itu dengan ibu saya via telepon yang mengingatkan bahwa kita sebagai manajer keuangan keluarga haruslah pandai dan bijak mengatur keuangan keluarga. Karena bagaimanapun kesejahteraan keluarga terletak dari pengaturan keuangannya. Nah, inilah kelemahan saya yang saya akui masih amburadul urus keuangan keluarga. 

        Jujur saja, saya sendiri baru memulai laporan keuangan bulanan. Hahaha. Yaa baiklah lebih baik terlambat memulai daripada tidak memulai sama sekali bukan. Setelah mendapatkan pengalaman pengaturan keuangan ala Ibu saya, langsung deh jelajah google dengan kata kunci "melek finansial ibu rumah tangga". Selama kurang lebih satu jam membaca beragam artikel membuat saya mengganggukkan kepala dan berkata ya ya ya itu benar tanda sepakat dengan isi tulisan tersebut.

Berikut poster idealnya kita mengatur pendapatan bulanan. 


sumber : brighterlife.co.id


Gaji bulanan kita terbagi untuk 

1. Pos pengeluaran rutin (kebutuhan mendasar seperti makan, listrik, transportasi, telepon dan internet) sebesar 40% 
2. Pos cicilan (cicilan rumah, kendaraan yang wajib dibayarkan tiap bulan) sebesar 20%
3. Pos investasi (tabungan, investasi, dan kebutuhan jangka menengah atau panjang) sebesar 10%
4. Pos asuransi (keperluan asuransi untuk melindungi anda dan keluarga) sebesar 10%
5. Pos dana darurat (untuk pengeluaran - pengeluaran yang tidak terduga) sebesar 5%
6. Pos sosial (kepentingan sosial, memberi santunan kepada mereka yang membutuhkan)
sebesar 5%


Detail Ilustrasi peruntukkan gaji bulanan untuk tiap pos pengeluaran

Lantas apa sih maksud dari Melek Finansial?
Mampu membaca, memahami dan mengatur hal - hal yang berhubungan dengan masalah keuangan.

Bagaimana kondisi "Melek Finansial" bagi perempuan di Indonesia?
Pada tahun 2016, survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia hanya sebesar 25%, sementara laki - laki sebesar 33%. Padahal 75% keuangan rumah tangga dikelola perempuan. 

         Ketika status masih single dan bekerja, saya sendiri cenderung menghabiskan sebagian dari penghasilan untuk kebutuhan dasar dan gaya hidup. Ya intinya untuk kesenangan diri sendiri. Hehe. Setelah berumah tangga, skala prioritas penghasilan dipergunakan untuk keperluan rumah tangga. Apalagi kami akan segera dikaruniai anak yang menjadi tanggung jawab dan amanah yang diberikan Allah untuk kita. Mulai dari sekaranglah kami sebagai orangtua merencanakan dan mengatur keuangan dengan bijak dan tepat. 

Alhasil bukan saatnya lagi kita berfoya - foya tapi mengencangkan ikat pinggang. 


       Sebagai orang tua tentu kita menginginkan dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk kehidupan anak - anak. Seperti dalam hal pendidikan, dimana dan seperti apa pendidikan yang kelak akan mereka dapatkan. Pendidikan biasa saja atau yang terbaik ? Akankah kami sebagai orangtuanya bisa memenuhinya ? Itu semua bergantung pada pilihan dan upaya kita. Karena kami berdua meyakini bahwa bekal ilmu akan lebih kekal dan bermanfaat dalam kehidupan dibandingkan dengan bekal harta kekayaan. Apalagi kehidupan di masa depan tidak bisa kita prediksi, yang dimana mana semua keluarga selalu mengharapkan, mengupayakan dan berdoa agar keluarganya selalu sejahtera. 

Untuk itu persiapan dana pendidikan anak lebih baik dipersiapkan semenjak dari kelahirannya. Waoww, apa itu nggak terlampau jauh dan cepat?! Bagi saya tidak, malah baik jika bisa dipersiapkan sedari awal. Anak usia sekolah misalkan Sekolah Dasar, tapi dana pendidikan sudah dicicil dari umur 0 bulan tentu lebih ringan menabungnya dibanding harus keteteran nabung setahun sebelum bersekolah. Nggak percaya ? Yuk kita hitung dulu :)

Plan A (menabung dana pendidikan anak sejak 0 bulan - 7 tahun)
Misalkan kita sisihkan gaji tiap bulan untuk dana pendidikan anak sebesar Rp 200.000 x 84 bulan = Rp 16.800.000. 

Plan B (menabung dana pendidikan anak umur 6 tahun)
Untuk memenuhi target Rp 16.800.000 : 12 bulan = Rp 1.400.000/bulan uang yang harus kita sisihkan. 

Hmmm... lebih berat yang plan B untuk dilaksanakan yaa... kecuali kita ada pendapatan tambahan selain mengandalkan gaji bulanan seperti penghasilan dari usaha sampingan. Nominal dana pendidikan yang kita alokasikan fleksibel semakin besar yang kita sisihkan tentu saja besar pula nominal akhirnya. Yang terpenting disini adalah konsisten dan komitmen untuk selalu "memaksa diri" menabung tiap bulan dan nggak boleh diambil untuk pendanaan yang lain yaa :))). Ketika anak kita bersekolah dasar, kita punya waktu untuk menabung dana pendidikan untuk sekolah menengahnya dan berikut seterusnya menabung untuk dana kuliah. Ini ilustrasi untuk anak satu, kalau anak lebih dari satu otomatis nih berlipat alokasi dana tabungan pendidikan. Hehehe. 


Langkah apa saja yang akan saya lakukan untuk mengatur keuangan rumah tangga?

1. Buat laporan keuangan rumah tangga tiap bulan 
2. Alokasikan dana tabungan pada awal bulan 
3. Pisahkan uang sesuai dengan pos pengeluaran 
4. Atur skala prioritas dalam kegiatan belanja dan gaya hidup

Yuk sharing gimana cara teman - teman mengatur keuangan rumah tangga ? Supaya saya juga bisa belajar dari pengalaman kalian. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ...


With Love,
Puput



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Ibu

  Perempuan memiliki fitrah untuk menjadi seorang ibu, tapi saya sendiri pun menyadari bahwa saya terlahir pada generasi perempuan yang tida...